Wonderful Indonesia : Alam dan Budaya Raja Ampat nan Memikat

Teks dan foto oleh Adhi Kurniawan

Raja Ampat, destinasi yang menjadi impian bagi pejalan manapun. Bagaimana tidak, kepulauan yang masuk dalam kawasan world coral triangle ini memiliki daya pikat maksimal. Keindahan alam bawah laut serta kemegahan hamparan karst-karstnya berpadu dengan kebudayaan dan kearifan lokal yang masih bertahan hingga kini. Jangan mati dulu sebelum ke Raja Ampat, demikian sebagian orang berkata. Dulu aku hanya bisa berandai-andai mengunjungi pulau-pulau di Raja Ampat atau menyelami keindahan bawah lautnya. Suatu hari, mimpi itu terjawab. Aku memiliki kesempatan berkunjung ke Raja Ampat. Sebuah majalah menugasiku ke sana untuk mengumpulkan cerita tentang keindahan alam dan keelokan budaya Raja Ampat. Ibnu Batuta, sang penjelajah legendaris, pernah berujar, “Traveling. It leaves you speechless, then turns you into storyteller”. Maka aku ingin mengisahkan kembali perjalananku selama berada di kepulauan di ujung kepala Cendrawasih itu.

Kabupaten Raja Ampat memiliki tidak kurang dari 2.500 pulau dengan empat pulau terbesarnya yaitu Waigeo, Misool, Salawati, dan Batanta. Waigeo yang merupakan pulau terbesar menjadi pusat aktivitas di kabupaten yang baru dibentuk pada tahun 2003 ini. Sebelum menuju pulau-pulau kecil yang menjadi primadona wisata, Waigeo menjadi dermaga sandar bagi kapal penyeberangan yang mengangkut penumpang dari Sorong.

Belajar dari Desa-Desa Adat di Raja Ampat

Dermaga Waisai di kala senja, kapal cepat yang membawaku dari Sorong

Dermaga Waisai berangsur sepi. Sopir taksi dan tukang ojek yang sedari tadi membujuk kami menggunakan jasa mereka juga tak tampak lagi. Matahari sudah lama terbenam tetapi Pak Hengky, local host kami selama berada di Raja Ampat, tak kunjung menghampiri. Pemilik warung tempat kami singgah pun sudah kehabisan bahan obrolan. Malam sudah benar-benar pekat ketika sebuah perahu merapat ke dermaga untuk menjemput kami. Pak Hengky datang juga. Dia mengajak kami bermalam di kampungnya yang berada di Pulau Friwen.

Desa Friwen, begitulah desa yang berada di Distrik Waigeo Selatan ini diberi nama. Tak kurang dari tiga puluh keluarga tinggal di sini. Sebagian besar warga menggantungkan hidup dari kemurahan alam dalam menyediakan ikan. Nelayan menjadi pilihan utama di Friwen. Pagi itu kami ikut bergabung di dermaga kayu bersama warga Friwen. Biasanya setiap pagi warga berkumpul di dermaga, ngobrol sambil memancing ikan. Aku berdiri di ujung dermaga mengedarkan pandangan ke dasar laut. Schooling ikan tampak begitu banyak hingga tampak pekat menutupi dasar laut. Ribuan ikan bergerak berputar seirama di antara tiang kayu dermaga. Dengan ikan sebanyak itu tentu mudah sekali menangkapnya dengan menggunakan jala. Sekali lempar jala, puluhan ikan pasti didapat.

Bercengkrama bersama warga di dermaga Friwen

“Di sini kami sepakat untuk tidak menjala ikan. Hanya boleh memancing,” cerita seorang warga kepadaku. Kesepakatan yang memiliki makna mendalam. Ikan memang melimpah. Namun itu bukan alasan untuk serakah. Ambil seperlunya saja.

Warga tidak mengizinkan wisatawan yang hendak berenang atau snorkeling di sekitar dermaga. Ada tiga hiu langka yang biasa berkeliaran di sekitar dermaga. Hiu-hiu itu amat sensitif dengan keberadaan manusia. Warga khawatir keberadaan manusia yang berenang atau snorkeling di sekitar dermaga akan mengusik hiu-hiu itu.

Mayarakat Raja Ampat masih memegang teguh tradisi sasi. Sasi adalah tradisi yang melarang warga untuk menangkap ikan dan aneka hewan laut dalam periode tertentu. Tak lain tradisi ini bertujuan menjaga keseimbangan alam sekaligus mempertahankan harmoni kehidupan manusia dengan bumi di mana mereka tinggal.

Menuju Pulau Arborek

Beranjak dari Friwen, kami menyeberang ke pulau lain. Pulau Arborek namanya. Berbeda dengan warga Friwen yang mayoritas bekerja sebagai nelayan, warga Arborek memilih pariwisata sebagai lahan mencari nafkah. Arborek dikenal sebagai desa paling bersih di seantero Raja Ampat.

Tak sampai setengah jam berjalan kaki untuk berkeliling di Arborek. Rumah-rumah warga berderet rapi sejajar jalan desa, lengkap dengan pagar dan tempat sampah di tiap rumah. Pepohonan peneduh ditanam di sepanjang pantai. Di beberapa tempat dipasang papan informasi yang berisi keterangan tentang wisata dan slogan persuasif untuk bersama-sama menjaga kebersihan Arborek.

Merapat ke pulau terbersih se Raja Ampat : Arborek

Sebagian warga Arborek terampil membuat beragam kerajinan tangan seperti gelang, tas anyaman, hingga topi etnik bermotif ikan pari. Barang-barang kerajinan tangan itu dijual di kios-kios di sekitar dermaga. Sayang, saat itu kios-kios tutup. Jika buka, kami bisa berbelanja souvenir sekaligus melihat proses pembuatan kerajinan tangan khas Arborek.

Di kerimbunan pohon di ujung desa, beberapa bocah kecil tampak sedang asyik bermain ayunan. Kami mendekat. “Aku Liz. Ini Ikke. Om siapa?” tanya salah seorang gadis mungil sambil menarik-narik tanganku. Remah-remah jajanan belepotan menempel di pipinya. Sambil bercerita tentang sekolahnya yang sedang libur dia minta difoto. Ya, cukup minta difoto. Sama sekali tidak merajuk meminta permen apalagi uang. Rupanya kesadaran tentang pariwisata sudah ditumbuhkan sejak kanak-kanak.

Senyum manis bocah setempat

Selain Friwen dan Arborek, aku juga berkunjung ke Desa Sawingrai. Dari kejauhan desa ini sudah tampak mencolok dengan adanya rumah panggung yang dibangun di ujung dermaga. Pondokan yang dikelola oleh warga lokal ini selain disewakan kepada wisatawan juga digunakan sebagai tempat sandar perahu. Banyak wisatawan menyempatkan singgah karena dermaga Sawingrai dikenal sebagai habitat aneka rupa ikan karang.

Dermaga Desa Sawingrai

Dulu, warga Sawingrai mencari ikan dengan menggunakan bom. Amunisi itu mereka lemparkan ke karang-karang untuk membunuh ikan agar lebih mudah ditangkap. Saat itu mereka tidak menyadari bahwa dengan cara itu, terumbu karang rusak sehingga ketersediaan ikan pada masa depan akan jauh berkurang.

Namun kini, warga Sawingrai telah berubah. Mereka memiliki kesadaran tinggi untuk menjaga kelestarian lingkungan. Saat mencari ikan, mereka memilih menjauh ke tengah laut agar karang-karang cantik di sekitar Sawingtai tidak terinjak. Karang yang indah dan biota laut yang lestari akan mengundang pelancong untuk singgah ke desa mereka. Tentu hal itu berdampak positif terhadap pengembangan perekonomian lokal dari sektor pariwisata.

Kearifan warga lokal dalam menjaga kelestarian lingkungan menjadi daya tarik tersendiri bagiku. Di desa-desa yang tersebar di Raja Ampat aku belajar bagaimana seharusnya berinteraksi dengan alam.

Tak Ada Wayag, Holgam dan Kabui pun Jadi

Menelusuri labirin Kabui

Saat memasukkan nama Raja Ampat ke mesin pencari, seketika halaman internet akan menunjukkan foto gugusan pulau karang berbukit dengan latar laut berwarna hijau toska. Itulah Wayag. Belum sah ke Raja Ampat jika belum mengunjungi Wayag. Sama seperti belum ke Paris jika belum berfoto di Menara Eiffel. Namun sayang, saya datang ke Raja Ampat ketika kawasan Wayag sedang ditutup karena suatu alasan.

“Jangan kecewa. Besok kita ke Holgam dan Kabui. Tidak kalah indah dari Wayag”, kata Yunus, anak sulung Pak Hengky. Pemuda belasan tahun ini menjadi pemandu kami selama berada di Raja Ampat. Ajakan Yunus tak urung memantik semangatku yang sempat redup saat tahu Wayag tidak bisa dikunjungi.

Jadilah kami menyusuri gugusan pulau di Holgam. Di salah satu pulau, kami melihat ada tangga kayu yang dipasang. Sepertinya pulau ini sering didaki pengunjung yang ingin melihat keindahan Holgam dari ketinggian. Kami harus menerobos semak-semak yang cukup rapat untuk mencapai tebing yang biasa digunakan untuk melihat sekeliling Holgam. Sesekali tajamnya karang menggores bagian kaki yang tidak tertutup sandal. Perlu perjuangan yang tidak mudah memang.

Dari puncak tebing, laut dangkal di sekitar Holgam tampak seperti kolam renang. Nyaris tanpa ombak dan sangat jernih hingga dasarnya terlihat. Birunya langit yang cerah dipantulkan menjadi hijau toska oleh air laut. Pulau-pulau karst di kejauhan seakan membatasi Holgam dari dunia luar. Imaji tentang foto-foto keindahan khas Raja Ampat kembali muncul. Tempat yang sebelumnya hanya bisa aku bayangkan, sekarang benar-benar bisa aku datangi.

Kami melanjutkan penjelajahan. Longboat Papua Gamsio yang dikemudikan Yunus membelah labirin pulau karang menuju lautan terbuka. Kali ini tujuan kami teluk Kabui. Hampir dua jam kami terayun-ayun di perahu sambil menahan terik matahari.

Serupa dengan Holgam, gugusan pulau di Kabui juga didominasi dinding-dinding karang. Bedanya, karang di Kabui jauh lebih tinggi dan jumlah pulaunya lebih banyak. Beberapa kali Yunus mencari pulau karang yang bisa didaki tetapi tak kunjung menemukan tempat yang aman untuk didaki. Kami memutari pulau satu ke pulau yang lain hingga akhirnya menemukan sebuah pulau karang yang bisa didaki. Dari pulau ini, kami bisa mengedarkan pandangan ke sekeliling Kabui. Waktu seperti melambat. Pesona Holgam menyihir kami.

Lanskap yang membuat waktu melambat

Alam Papua memang susah diprediksi. Cuaca cerah begitu cepat berganti. Langit mendadak gelap. Air laut yang semula tenang tiba-tiba bergejolak. Kami membatalkan rencana untuk menyusuri gua bawah air yang ada di salah satu pulau. Di Kabui kami dihajar hujan badai. Angin yang bertiup kencang dan arus yang tidak bersahabat memaksa Yunus mengarahkan perahu ke pondokan kecil di tepi pulau. Kami menepi sekaligus berlindung dari badai.

Sekitar satu jam kami berteduh menanti badai berlalu. Hujan mulai reda meninggalkan kabut yang melingkupi pulau. Perlahan kabut tersibak ibarat tirai pertunjukan yang dibuka. Pulau-pulau karst yang semula tertutup kabut mulai menampakkan diri. Tak perlu jauh-jauh ke Halong Bay Vietnam untuk merasakan sensasi kekaguman melihat sosok-sosok raksasa batu karang bermunculan dari balik kabut.

Tentang badai ini, aku punya cerita unik. Saat datang ke suatu daerah, kadang ada mitos lokal yang dipercaya warga setempat. Percaya atau tidak, tetapi hal itu nyata terjadi. Awalnya kami tidak ambil pusing, hingga kami mengalaminya sendiri.

Saat mengunjungi Teluk Kabui, kami membawa serta seekor kucing belang yang kami temukan di Pulau Ketang Kenari. Sepertinya kucing itu tertinggal sendirian di pulau tak berpenghuni itu sehingga kami bawa pulang ke penginapan agar bisa dipelihara.

Begitu memasuki kawasan Teluk Kabui, langit yang sejak pagi cerah perlahan gelap. Sepertinya awan sepakat bergerak lalu berkumpul di satu lokasi. Perahu menepi ke sebuah pulau karang. Ketika kami ingin mendaki ke puncak batunya, mendadak angin berhembus kencang disusul hujan deras. Lautan di sekitar pulau ikut bergejolak. Ombak tiba-tiba bergulung tinggi. Di balik rinai hujan kami melihat ada sebuah pondok kayu sekaligus dermaga di ujung pulau lain. Yunus mengarahkan perahu ke sana. Pemilik pondokan, kami memanggilnya Om San, mengizinkan kami berteduh.

Saat hujan berhenti dan ombak mulai tenang. Kami memutuskan melanjutkan perjalanan. Saat kami mulai menaiki perahu, tiba-tiba Om San berseru. “Kenapa kalian bawa lagi kucing itu?”. Lalu dia melanjutkan, “Kalian tahu kenapa tadi tiba-tiba datang badai? Itu karena kalian bawa kucing itu di perahu. Orang sini percaya, membawa binatang hidup di perahu ke Teluk Kabui bisa mendatangkan badai. Tadi di sini cerah. Begitu kalian datang membawa kucing, Kabui jadi hujan badai. Sudah, tinggal saja kucingnya di sini. Biar saya pelihara”, saran Om San. Pantas saja kami menemukan si belang sendirian di Ketang Kenari. Barangkali majikannya terdahulu juga terkena badai lalu meninggalkan si belang di sana.

Tenggelam dalam Pesona Bawah Laut Raja Ampat

Alam bawah laut nan memikat

Jika para pendaki gunung memiliki Puncak Everest sebagai kiblat, maka para penyelam memilih Raja Ampat sebagai situs impian yang harus dikunjungi. Kekayaan bawah laut Raja Ampat sudah diakui dunia. Tidak sedikit diver mancanegara yang mau bersusah payah datang jauh-jauh ke sini untuk menyelami keindahan bawah laut Raja Ampat. Tak kurang seorang ahli biologi sekelas Gerry Allen pun berujar tentang Raja Ampat, “Inilah surga penyelaman dan laboratorium eksplorasi biota laut”.

Menyelam adalah aktivitas wajib di Raja Ampat. Namun, diving license yang tak kunjung jadi dan keterbatasan budget membuatku harus menunda keinginan itu. Kali ini, cukuplah snorkeling menjadi cara memuaskan keinginan itu. Aku sengaja membawa sendiri google, snorkel, dan fin jauh-jauh dari Jakarta demi menyaksikan keindahan bawah laut Raja Ampat.

Pak Hengky mengajak kami berperahu menuju spot snorkeling di Friwen Mondai. Saat mulai merapat ke pulau, dari atas perahu dasar laut sudah terlihat jelas. Segera kami mengenakan perlengkapan snorkeling. Tanpa buang waktu aku segera menceburkan diri. Hamparan koral langsung tersaji di depan kami. Beragam bentuk terumbu karang tumbuh di sana sini. Semua dalam kondisi sehat dan utuh. Hal seperti inilah yang susah didapat di spot snorkeling di tempat lain. Ikan-ikan berseliweran dalam jumlah yang sangat banyak. Aku sampai bingung mau memotret kelompok yang mana.

Slope di perairan Friwen Mondai

Kontur bawah laut sekitar Friwen Mondai memungkinkan kami untuk menyaksikan variasi bentuk terumbu karang. Dasar laut yang dekat dengan pulau memiliki kedalaman sekitar 3 hingga 4 meter. Tak jauh dari situ, langsung beralih menjadi slope atau tebing dengan kedalaman belasan meter. Beragam karang lunak dengan aneka warna tumbuh dengan posisi vertikal. Sinar mentari yang menembus ke dalam air memancar menjadi berkas-berkas ray of light.

Friwen Mondai diakui sebaga salah satu spot diving kelas premium di Raja Ampat. Cerita seorang teman yang pernah menyelam di sini, saking banyaknya penyelam yang nyebur kadang lokasi di Friwen Mondai mendadak menjadi seperti pasar bawah air. Ramai dan semarak. Beruntung kami datang saat tidak ada pengunjung lain. Bawah laut Friwen Mondai serasa milik pribadi.

Selain Friwen Mondai, pesona bawah laut Raja Ampat dapat juga dijelajahi di sekitar Mioskon, Cape Kri, Kabui, dan tentu saja Wayag. Biasanya wisatawan menyewa kapal phinisi untuk digunakan dalam pelayaran live on board berhari-hari ke beberapa destinasi tadi. Pada tahun 2013 National Geographic menempatkan Raja Ampat dalam daftar 20 destinasi wisata terbaik dunia. Tiga perempat jenis terumbu karang dunia tumbuh di sini. Keanekaragaman terumbu karang ini membuat Raja Ampat menjadi kawasan maritim yang kaya kehidupan.

Clown fish di antara anemon

Sebuah NGO internasional mencatat, Raja Ampat memiliki terumbu karang dan jenis ikan terbanyak di dunia. Tak kurang dari 1.309 spesies ikan, 537 spesies terumbu karang, dan 699 spesies moluska hidup sehat di kawasan ini. Topografi bawah laut Raja Ampat berbentuk hamparan terumbu karang dangkal, wall, slope, dan ada beberapa gua bawah laut. Ada satu spesies endemik yang membuat Raja Ampat semakin dikenal di dunia. Makhluk ini bernama Wobbegong atau disebut juga carpet shark. Salah satu jenis hiu ini berbentuk pipih melebar yang bergerak seperti berjalan di dasar lautan.

Arus di perairan Raja Ampat relatif kuat. Saat turun untuk menyelam atau sekedar snorkeling, sebaiknya wisatawan dipandu oleh warga lokal yang lebih paham mengenai karakter perairan di sana. Beberapa kali kami snorkeling dengan diikuti perahu untuk antisipasi jika kami terseret arus. Meskipun berarus kuat, terumbu karang di Raja Ampat bisa tetap dijelajahi dengan kedalaman yang tidak terlalu ekstrim. Koral di kedalaman 3 meter pun sudah sangat bagus. Kami tetap dapat melihat pesonanya tanpa perlu menyelam.

Aku merasakan pengelaman yang memacu adrenalin di Manta Point. Lokasi penyelaman yang menjadi habitat manta ini berada di Selat Dampier, tak jauh dari Pulau Arborek. Bersama Yunus, aku diajak free dive di area itu untuk melihat manta dari jarak dekat. Awalnya aku ragu. Namun demi sebuah pengalaman tak terlupakan, aku nekad memberanikan diri.

Sekitar sepuluh menit berenang di sekitar Manta Point, dari kedalaman laut muncul sosok hitam itu. Semakin lama semakin dekat. Olala..ternyata makhluk itu besar sekali. Snorkel sampai terlepas dari mulutku saat manta itu mendekat.

Dengan rentang sayap lebih dari 3 meter, manta itu membuatku terpaku beberapa saat. Aku bingung hendak berbuat apa. Belum hilang keterkejutanku, dari arah lain muncul sekaligus tiga ekor manta dengan ukuran yang lebih besar. Mereka berenang seirama sambil bermanuver naik turun dengan gerakan gemulai. Ketakutan yang sedari tadi kutahan perlahan berubah menjadi kekaguman.

Kepakan sayap manta

Manta yang hidup di perairan Raja Ampat adalah spesies Manta birostris. Ukuran maksimal tubuhnya bisa mencapai 6-7 meter dengan berat ratusan kilogram. Makhluk raksasa ini hidup secara berkelompok di daerah berarus deras. Manta berbentuk pipih lebar dengan ekor panjang menjuntai. Tubuh bagian atasnya dilapisi kulit berwarna hitam legam, sementara bagian bawah tubuh berwarna putih dengan beberapa guratan gelap. Manta memiliki sepasang mata yang terletak di tepi cephalic lobe, semacam moncong kembar yang berfungsi menyaring air saat menelan mangsa.

Aku beruntung. Siang itu kawanan manta beraksi di dekat permukaan air. Cuaca cerah sehingga visibilitas di dalam air cukup bagus. Aku tidak perlu menyelam hingga ke dasar laut untuk melihat tingkah polah manta. Biasanya, diver harus meluncur turun hingga kedalaman 15 meter. Lokasi ini dikenal sebagai cleaning station. Di situlah mereka membersihkan diri dari kotoran yang menempel di terburu ikan.

Semakin lama kami berada di Manta Point, semakin banyak manta yang muncul. Tak kurang dari belasan manta berenang di sekeliling kami. Beberapa dari mereka bergerak seperti manuver pesawat tempur. Tiga manta membentuk formasi bersusun vertikal. Mereka berenang mendekat lalu dengan kecepatan tertentu tiba-tiba mereka mengubah barisan menjadi horizontal. Kibasan sayap manta menimbulkan gelombang air yang terasa hingga ke wajah kami. Beberapa kali mereka melintas begitu dekat dengan tubuhku. Aku menahan napas saat ekor manta berada kurang dari satu meter. Merinding membayangkan jika ekor itu dikibaskan ke arahku. Syukurlah tidak berujung tragis seperti kisah Steve Irwin. Pecinta binatang asal Australia ini meninggal disengat sting ray, saudara dekat manta, saat memandu salah satu episode The Crocodile Hunter pada September 2006.

Berburu makan siang

Di bawah sana seekor manta membuka mulutnya lebar-lebar. Dia mengikuti gerombolan butterfly fish. Lalu hap, dalam sekali telan, ikan-ikan lucu berwarna kuning strip biru itu berakhir di perut manta sebagai santapan makan siang. Lalu manta itu membuka rongga mulut lagi, kali ini memperlihatkan tulang lunak yang menyusun ruang di lambungnya.

Parade manta

Manta-manta di perairan Raja Ampat ini tidak agresif. Mereka seolah tahu betul bagaimana menyajikan pertunjukan yang membuatku terkesima. Manta-manta itu berenang, sekilas muncul lalu menghilang, meluncur dengan gerakan anggun, dengan kepakan sayapnya mereka seperti mengajak kami menari bersama. Pementasan kabaret manta ini menjadi salah satu momen tak terlupakan bagi kami.

Mungkin berbeda dengan daerah lain di nusantara. Nelayan di Raja Ampat tidak memburu manta untuk dikonsumsi. Warga setempat menyadari potensi ekonomi yang bisa dikembangkan di sektor pariwisata dengan keberadaan manta di habitatnya. Mereka membiarkan manta-manta itu tetap hidup tenang di sekitar Manta Point, menari dengan riang mengundang para penyelam untuk datang.

Sail Raja Ampat 2014 merupakan upaya yang dilakukan pemerintah untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia. Sebelumnya, telah diselenggarakan kegiatan serupa yaitu Sail Bunaken pada 2009, Sail Banda pada 2010, Sail Wakatobi-Belitong pada 2011, Sail Morotai pada 2012, serta Sail Komodo pada 2013. Hajatan bahari berkelas internasional ini merupakan kesempatan bagus untuk semakin menggaungkan Indonesia di seluruh dunia. Tidak hanya pesona pulau-pulau dan daya tarik alam bawah lautnya, tetapi kekayaan budaya dan kearifan lokal Raja Ampat adalah pusaka nusantara yang harus senantiasa kita jaga. Potensi luar biasa yang dapat meningkatkan perekonomian dan memberikan manfaat bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat. Aku berharap, kegiatan seperti ini tidak hanya berhenti pada kegiatan seremonial saja, tetapi dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi dunia wisata nusantara. Semoga.

Pulau Waigeo tampak dari ketinggian

Senja di balik Pulau Kordiris

Menelusuri keindahan alam dan budaya Raja Ampat dengan perahu Papua Gamsio

Raja Ampat, impian bagi petualang mana pun

Tulisan ini diikutsertakan dalam Sail Raja Ampat 2014 Blogging & Foto Contest yang diselenggarakan oleh Indonesia.Travel

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

1 Comment

  1. Spesial!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *