Travel and Share

Tiket media trip overland selama dua minggu penuh dari Sawarna, Bromo, Alas Purwo, hingga Pulau Komodo memang belum menjadi rezeki saya. Dua lucky bastard sobat saya Harris Maulana dan Bambang Priadi berhasil mengamankan dua dari lima tiket yang tersedia. Namun, dalam gathering kemarin banyak hal menarik yang bisa kami pelajari tentang travel writing.

Dalam sharing session sekitar 30 menit tersebut Marischka Prudence banyak berbagi tentang kaidah penulisan perjalanan. Tulisan perjalanan yang menarik tidak hanya menyajikan cerita, tetapi juga informasi penting yang dibagikan kepada pembaca. Penulis juga bisa berbagi opini sehingga dalam cerita yang ditulis memiliki “rasa”. Tidak hanya jurnal perjalanan, tetapi ada personal experience di sana.

Salah satu media yang bisa digunakan untuk mempublikasikan tulisan perjalanan adalah blog. Sebagai media pribadi yang bisa diakses siapa pun, blog tidak terikat pada koridor yang kaku terkait penulisannya. Yang perlu diperhatikan adalah, blogger harus memastikan bahwa informasi yang disajikan valid dan tidak asal-asalan. Sebelum berangkat jalan-jalan, ada baiknya blogger melakukan riset untuk mencari data lengkap tentang suatu destinasi. Ketika sudah berada di destinasi, blogger dapat melengkapi data tersebut. Tidak jarang akan muncul cerita unik atau informasi menarik yang tak terduga.

Pertanyaan yang sering muncul adalah, mana yang lebih penting, foto atau tulisan? Saat ini kita hidup di era yang memanjakan indera visual. Pembaca lebih mudah tertarik pada tulisan yang dilengkapi foto-foto berkualitas. Namun bukan berarti tulisan boleh seadanya. Foto dan tulisan dalam sebuah travel blog seperti musik dan lirik pada sebuah lagu. Keduanya harus saling mendukung dan memiliki sudut pandang yang sama. Foto untuk membangun visualisasi dan tulisan untuk menggoda imajinasi. Jika jeda waktu antara traveling dan penulisan cukup lama, foto akan sangat membantu untuk membangkitkan memori dan impresi atas suatu tempat.

Be unique. Blogger harus memunculkan keunikan yang dimiliki. Menulislah dengan gaya sendiri. Tidak perlu memaksakan menulis seperti blogger idola. Dengan memainkan kreativitas, blogger akan menemukan fokus baru terhadap suatu destinasi. Tulisan juga harus jujur. Deskripsi yang hiperbolis tentang keindahan atau keunikan destinasi akan membuat pembaca malas meneruskan membaca hingga akhir. Keunikan dapat dibangun dari diferensiasi dan orisinalitas tulisan.

Tidak hanya pernikahan yang membutuhkan komitmen. Mengelola sebuah blog pun demikian. Posting tulisan diusahakan teratur. Jangan sampai blog dibiarkan berminggu-minggu tidak terurus. Hal itu akan membuat pengunjung yang sudah sering mampir bisa jadi tidak lagi rutin mengakses blog kita. Tulisan-tulisan yang ada dalam blog hendaknya memiliki konsistensi dari segi konten. Jika memang sejak awal dimaksudkan untuk membangun travel blog, rasanya tidak perlu menulis tentang bidang lain seperti kesehatan bayi atau pergerakan saham.

Konten yang berkualitas tidak serta merta membuat blog ramai pengunjung. Ada beberapa kiat untuk meningkatkan traffic blog. Salah satunya dengan promosi melalui semua elemen social media yang dimiliki. Pasang link tulisan baru di timeline Twitter atau dinding Facebook. Jika blogger cukup percaya diri, bisa juga cantumkan signature berupa alamat blog di setiap email yang dikirim. Dalam setiap postingan baru, jangan lupa tuliskan tag dan label. Cari kata kunci yang sesuai dengan isi tulisan. Gunakan juga tag dalam bahasa Inggris. Visitor dari Amerika Serikat, Jepang, dan Rusia adalah contoh visitor luar negeri  yang memiliki rasa keingintahuan lebih tentang Indonesia. Sedikit tips, traffic potensial dapat diperoleh pada periode waktu setelah jam 12 malam atau pada saat jam-jam kemacetan lalu lintas. Pada waktu-waktu itu orang lebih banyak bengong bingung mau ngapain. Jadi link apapun yang muncul di timeline socmed kemungkinan besar akan dibaca.

Luangkan waktu untuk melakukan analisis sederhana terhadap statistik blog. Bagaimana karakteristik visitors, di mana sebaran visitors, kapan prime time pembaca, atau topik apa yang menjadi favorit pengunjung. Analisis tersebut akan membantu blogger dalam mengembangkan blognya. Dengan begitu akan ada progres peningkatan jumlah visitor dari waktu ke waktu. Kata Prue di akhir sesi : Be a pro. Get the best benefit. Share your thoughts. Build your own “company”. Travel and share. Get paid to travel. Anda tertarik?

Saya ingin mengutip pendapat Agustisnus Wibowo, travel writer tangguh yang sudah memberikan warna baru dalam penulisan perjalanan di Indonesia melalui buku Garis Batas dan Selimut Debu. Menurutnya, travel writer yang baik bukanlah penulis perjalanan yang tulisannya mampu mendorong pembaca untuk mendatangi tempat-tempat yang ditulis. Travel writer yang baik adalah seorang penulis perjalanan yang mampu menggambarkan perasaan atau feeling ketika melakukan perjalanan dan merefleksikan perasaan tersebut dalam tulisan sehingga seolah-olah pembaca merasakan sendiri perjalanan yang diceritakan.

Selamat menulis!

 

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

2 Comments

  1. Hmm.. Jadi kalok udah jd travel writer ga bole nulis galo di blog ya Dhi? Xixixi

    • wiih..nulis galau itu kebutuhan,mbak..he5
      sesekali perlu juga lho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *