The World Class Tea Leaves

edit12a

Predikat sebagai gunung vulkanik tertinggi di Indonesia tidak lantas membuat Gunung Kerinci menjadi daya tarik utama Kayu Aro di Provinsi Jambi. Teh hitam lah yang menjadi pesona sejati daerah ini.

Adalah kolonial Belanda yang kali pertama mengekspansi Kayu Aro. Melalui perusahaan yang bernama NV Handle Verininging Amsterdam, mereka membabat hutan di kaki Kerinci untuk dijadikan perkebunan teh pada tahun 1925. Pada waktu itu, untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di perkebunan teh, perusahaan mendatangkan para petani dari Jawa. Mereka dikontrak sebagai pekerja kasar untuk menggarap kebun teh. Para petani inilah yang menjadi generasi pertama komunitas Jawa di pedalaman Kerinci.

Ekspansi kolonial Belanda membuka perkebunan teh di Kayu Aro tidak lepas dari budaya minum teh para bangasawan di daratan Eropa. Ratu Wilhelmina, Ratu Beatrix, Ratu Juliana dan Ratu Elizabeth tidak mau begitu saja melewatkan sore tanpa bergosip sambil minum teh. Daratan Eropa tidak memiliki lahan yang cocok untuk menanam teh agar bisa tumbah dengan subur. Oleh karena itu, bangsa-bangsa Eropa memanfaatkan daerah koloninya sebagai lahan perkebunan teh. Inggris memiliki perkebunan teh di seantero India. Sementara Belanda, untuk memenuhi kebutuhan akan daun teh kelas premium, harus mencari lahan terbaik hingga ke pedalaman Sumatera.

Teh yang ditanam di perkebunan Kayu Aro adalah teh hitam atau dikenal pula dengan teh ortodox. Jenis ini berasal dari daerah Assam, India. Kayu Aro yang memiliki tanah berjenis andosol memang media yang tepat bagi teh jenis ini untuk tumbuh. Ditambah lagi dengan iklim sejuk khas kaki gunung, tanaman teh seperti dimanja tumbuh di daerah ini. Saat pagi menjelang, hamparan pucuk pohon teh diselimuti kabut tipis yang menguap dari halimun embun. Perkebunan teh Kayu Aro adalah salah satu perkebunan paling luas di dunia dalam satu hamparan. Luas perkebunan teh Kayu Aro hanya kalah dari perkebunan teh Darjeeling di kaki Himalaya.

Saat ini perkebunan teh di Kayu Aro dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara VI. Yang unik dari perkebunan ini, sampai sekarang pengolahan daun teh masih dilakukan dengan cara tradisonal. Persis dengan yang dilakukan sejak kali pertama pabrik pengolahan daun teh beroperasi pada jaman kolonial.

Setiap pagi, pekerja memetik pucuk teh untuk selanjutnya dikumpulkan di posko-posko pengepul. Untuk menjamin mutu, yang dipetik hanya dua pucuk daun yang paling atas. Setelah ditimbang, hasil petikan tadi dikirim ke pabrik yang ada di Desa Bedeng Delapan, Kayu Aro.

Di pabrik, daun teh dipanaskan hingga layu dalam bak penampungan beraliran uap panas. Daun yang sudah layu diangkut ke bagian penggilingan lalu digiling hingga halus. Dari sini daun teh yang sudah halus didiamkan di ruangan bersuhu kamar. Tahap berikutnya, daun teh dikeringkan dengan semacam mesin pengering. Terakhir, bubuk teh akan dipilah berdasarkan mutu hasil produksi. Proses pemilahan tadi menghasilkan tiga jenis teh : grade 1, grade 2, dan grade 3.

Teh grade 1 adalah teh kualitas premium, tidak ada ampas dan serbuknya. Hasil pengolahan daunnya pun lebih halus. Teh kelas inilah yang menjadi komoditas andalan untuk ekspor ke negara-negara Eropa, Amerika, dan Timur Tengah. Teh Kayu Aro yang diekspor ke Eropa biasanya dijadikan bahan dasar racikan teh kemasan pabrik-pabrik besar di sana. Pabrik teh sekelas Ty-Phoo di Inggris pun menggunakan daun teh Kayu Aro sebagai bahan baku produksinya.

Sayang, teh grade 1 tidak dijual di Indonesia. Yang dijual untuk konsumen dalam negeri hanya grade 2 dan grade 3. Level ini sudah tercampur dengan serpihan ranting daun dan daun yang agak tua.

Dari hasil obrolan dengan warga Kayu Aro, saya mendapat informasi jika pabrik biasanya membagi sampel teh grade 1 ke beberapa pemetik teh senior yang sudah lama bekerja. Karena penasaran, saya bersama seorang teman warga setempat berusaha mencari daun keramat itu. Kami mencoba hunting ke beberapa tempat. Namun sayang, seharian mencari kami tidak berhasil mendapatkannya.

Seduhan mantap daun teh kelas dunia

Seduhan mantap daun teh kelas dunia

Syukurlah, saya bisa mencoba minum teh Kayu Aro meskipun dengan grade terbawah. Ibu pemilik rumah yang saya tumpangi saat mendaki Kerinci berbaik hati membuatkan minuman hangat teh Kayu Aro. Ternyata, letak kenikmatan secangkir teh tidak hanya didasarkan pada bahan bakunya, melainkan juga dari cara penyajiannya. Daun teh harus diseduh dengan air yang sudah benar-benar mendidih dan jangan biarkan seduhan mengendap terlalu lama. Paling lama tiga menit, lalu disaring untuk memisahkan ampasnya. Nah, hasil saringan itulah yang disajikan dengan diaduk bersama satu atau dua sendok gula pasir. Sesuai selera.

Nikmat teh Kayu Aro terasa berbeda dengan teh yang biasa saya konsumsi. Dengan warna merah kecoklatan yang lebih pekat dari teh pada umumnya, rasa sepet khas daun teh tertinggal lebih lama di lidah. Citarasanya lebih tajam. Yang paling mencolok adalah aroma uap yang mengepul dari cangkir. Wangi! Saya bukan penikmat teh dan tidak begitu paham tentang teh, tetapi secangkir teh yang saya minum pagi itu meninggalkan kenangan tersendiri tentang daun teh Kayu Aro. Daun teh yang kualitasnya sudah diakui dunia.

The World-Class Tea Leaves.

edit15a

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *