The Panoramic Townside of Bukittinggi

Terletak di antara Gunung Marapi dan Gunung Singgalang, membuat Bukittinggi memiliki iklim sejuk cenderung dingin. Poin tambahan untuk kota yang memperkenalkan diri sebagai kota wisata itu. Beberapa spot panoramic pun tersebar di penjuru kota. Mulai dari bentang alam yang menawan, taman kota yang monumental, hingga bangunan-bangunan unik yang menjadi landmark kota.

Bukittinggi

Illustrated Valley

Saya tidak sengaja menemukan litografi Ngarai Sianok. Dalam litografi yang dirilis oleh Tropen Museum, Belanda itu digambarkan suasana ngarai sekitar tahun 1870-an. Ilustrasi visual Ngarai Sianok memperlihatkan patahan permukaan bumi dengan dasar berupa aliran sungai yang membelah lembah. Lukisan sketsa tersebut memberikan kesan dramatis dan sedikit mistis. Ngarai Sianok adalah bagian dari Patahan Semangko yang terbentuk akibat aktivitas geologis. Patahan ini memanjang dari ujung utara hingga selatan Pulau Sumatera dimulai dari Aceh hingga Teluk Semangka di Lampung.

Litografi yang ditampilkan oleh Troppen Museum. Sumber : wikipedia

Litografi yang ditampilkan oleh Troppen Museum. Sumber : wikipedia

Begitu sampai di lembah Ngarai Sianok, sejenak saya melongo melihat dinding-dinding batu yang begitu tinggi dan kokoh membentang. Rumpun pepohonan yang tumbuh sela-sela dinding tampak hijau menyejukkan. Di beberapa tempat lapisan batuan terlihat jelas dengan guratan-guratan yang membentuk pola vertikal. Ilustrasi dari Tropen Museum tentang ngarai ini memang benar adanya, panoramic!

Di dasar ngarai mengalir sungai Batang Sianok dengan airnya yang bening. Kebetulan saat itu debit air sedang rendah sehingga saya bisa mencapai sisi lain lembah dengan jalan kaki saja menyeberangi sungai. Sungai ini dimanfaatkan warga untuk mengairi persawahan di sepanjang jalur ngarai yang panjangnya mencapai 15 kilometer. Ada juga truk-truk yang mengangkut pasir kali yang ditambang dari sungai.

Back to childhood happiness to enjoy Sianok, maka ketika ada keluarga dengan tiga anak bermain lempar batu di sungai, saya iseng bergabung. Mereka mencari batu berbentuk pipih lalu dilemparkan secara horizontal ke permukaan sungai. Jika teknik lemparan benar, maka batu akan memantul hingga tiga atau empat kali di permukaan air. Namun jika tekniknya salah, batu akan langsung tenggelam ke sungai, seperti hasil lemparan saya. Amatir.Sawah berlatar tebing batu Sawah berlatar tebing batu[/caption]

Great Wall wanna be

Sensasi mendaki bukit melewati lembah dengan bangunan tembok besar tidak hanya bisa dirasakan di The Great Wall of China nun jauh di Asia Tengah sana. Di salah satu sisi Ngarai Sianok kita akan menemukan versi replikanya yang disebut Janjang Koto Gadang. Situs ini berupa tanggul yang bagian atasnya difungsikan sebagai jalur treking. Panjang keseluruhan tanggul yang dibangun dari susunan batako ini sekitar 1,7 kilometer. Dengan bentuk berkelok-kelok dan dipagari tembok setinggi dada membut arsitektur Janjang Koto Gadang sekilas mirip Tembok Besar Cina. Jika Tembok Besar Cina dibangun untuk melindungi wilayah kekaisaran Cina dengan agar tidak mudah diserang tentara Mongol, Janjang Koto Gadang dibangun untuk menghubungkan wilayah Bukittinggi dengan Kabupaten Agam yang terpisah ngarai.

Treking diawali dengan turunan yang berkelok menuju tepian ngarai. Di ujung bagian ini, dibangun jembatan gantung dari struktur baja berkawat untuk menghubungkan kedua sisi ngarai. Perlu keberanian ekstra untuk menyeberangi jembatan yang akan terus bergoyang ketika dilewati ini. Setelah berhasil menyeberangi jembatan bukan berarti kesulitan berakhir. Tanjakan curam dengan puluhan anak tangga siap menguras tenaga pengunjung. Bagian tertinggi dari Janjang Koto Gadang memang ada di ujung tanjakan ini. Di sini biasanya pengujung beristirahat sambil mengambil foto Ngarai Sianok.

Sayang, di beberapa bagian tembok terdapat coretan usil yang sangat mengganggu. Bekas goresan spidol dan semprotan cat semprot jelas mengurangi nilai estetika bangunan yang sebetulnya didesain dengan unik.

Pola yang mengikuti bentuk Tembok Besar China

Pola yang mengikuti bentuk Tembok Besar China

Iconic Buildings

Bukittinggi memiliki beberapa bangunan dengan gaya beragam. Vihara Buddha Sasana yang terletak di Jalan Ahmad Yani misalnya, arsitekturnya kental dengan nuansa Tionghoa. Sekitar 300 warga keturunan Tionghoa yang tinggal di Bukittinggi sering berkumpul di tempat ini meskipun memiliki latar belakang agama yang berbeda. Perayaan tahunan seperti Imlek menjadi ajang berkumpul sekaligus melaksanakan kegiatan sosial. Di seberang vihara, berderet-deret ruko menyesaki kawasan Pecinan di Bukittinggi.

Di ujung jalan berdiri Hotel The Hills yang bergaya Eropa dengan sedikit paduan Minang. Meskipun baru dibangun pada tahun 1995, bangunan ini seolah-olah berasal dari jaman kolonial. Tingkat okupansi hotel ini termasuk tinggi karena sepanjang tahun menjadi tujuan utama tamu berbudget tebal yang tertarik dengan keunikannya.

Panoramic view dari Jembatan Limpapeh

Panoramic view dari Jembatan Limpapeh

Tempat terbaik untuk melihat view Bukittinggi adalah Jembatan Limpapeh. Jembatan ini adalah penghubung Kebun Binatang Bukittinggi dengan taman kota yang menyatu dengan kompleks Benteng Fort de Kock.Dari jembatan hampir keseluruhan kota berbukit-bukit tampak jelas. Bangunan-bangunan tampak kecil dengan Gunung Singgalang dan Gunung Marapi sebagai latarnya. Jalanan kota yang berpangkal di depan Hotel The Hills disesaki mobil dan motor yang hendak berputar menuju Jam Gadang.

Sedikit berbeda dengan kota-kota wisata lain di Indonesia, jarak antardestinasi di Bukittinggi bisa dibilang dekat. Jika saya hitung Jam Gadang sebagai titik nol, tidak sampai radius dua ratus meter saya sudah bisa mencapai Pasar Atas, kawasan Pecinan, Kebun Binatang Bukittinggi, Jembatan Limpapeh, dan Benteng Fort de Kock. Lanjut berjalan lebih jauh ke utara, saya akan sampai di kompleks Lubang Jepang. Pintu keluar Lubang Jepang dekat sekali dengan gerbang masuk Janjang Koto Gadang sehingga bisa dilanjutkan trekking ke sana. Jadi, meskipun lumayan susah menemukan rental motor di Bukittingi, saya tidak perlu gundah tidak bisa muter-muter naik motor untuk bisa keliling kota. Cukup dengan berjalan kaki semua destinasi tadi akan tuntas dalam sehari. Jadi, jangan lupa siapkan kamera untuk meng-capture spot-spot panoramic yang ada di penjuru Bukittinggi.

Santai sejenak di halaman depan Gua Jepang

Santai sejenak di halaman depan Gua Jepang

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *