Tambora yang Menggetarkan Dunia

Pertengahan April 1815, letusan Gunung Tambora di ujung Sumbawa mengguncang dunia. Tak hanya di Nusantara, efek letusan tersebut juga terasa hingga Eropa bahkan Amerika. Letusan itu mengakibatkan perubahan iklim, suhu, dan cuaca di seluruh dunia. Bumi mengalami tahun tanpa musim panas. Material vulkanik yang dikeluarkan Tambora menyebabkan penurunan temperatur global selama beberapa tahun pascaletusan. Kini hampir dua abad berlalu. Tambora tertidur panjang. Kami mendaki hingga ke puncak kaldera Tambora untuk menyimak apa yang tersisa dari letusan terbesar dalam sejarah modern itu.

Minibus renta yang kami tumpangi berjalan terseok-seok. Tampaknya penumpang dan barang muatan yang diangkut sudah melebihi kapasitas. Tas-tas carrier berukuran besar dijejalkan di atap bus. Bahkan beberapa rekan kami harus rela duduk berhimpitan di atap bus agar tetap bisa terangkut. Untunglah, perjalanan panjang dari Dompu adalah tur safari alam liar khas Sumbawa nan memukau. Hamparan padang rumput mahaluas dengan kawanan kuda liar dan binatang ternak yang sedang merumput melayangkan imaji ke sabana liar Afrika. Tujuan kami hari itu adalah Desa Pancasila, sebuah desa kecil di kaki Tambora yang menjadi pintu masuk pendakian.

Meski tidak setenar Rinjani di Lombok atau Cartenz Pyramid di Papua yang reputasinya sudah mendunia, Tambora memiliki daya pikat sendiri. Banyak ilmuwan dan petualang yang penasaran dengan letusan fenomenal tahun 1815 itu sehingga mau bersusah payah mendaki Tambora.

“Hati-hati di atas. Hutan masih rapat dan banyak jalur yang tertutup semak. Jangan kaget kalau nanti banyak lintah yang nempel di kaki kalian”, pesan Syaiful Bachri. Petugas jagawana Tambora ini juga mengingatkan bahwa kabut dan badai bisa datang kapan saja.

Kopi di sepanjang jalur pendakian

Perkebunan kopi milik warga menyambut kami di jalur awal pendakian. Abu vulkanik membawa kesuburan bagi tanah di sekitar Tambora sehingga menjadi sandaran hidup bagi masyarakat lokal yang berkultur agraris. Selepas perkebunan kopi kami memasuki kawasan pintu rimba. Vegetasi hutan lebat dengan semak belukar yang rapat menjadi ciri khas jalur pendakian Tambora. Beberapa batang pohon tumbang yang melintang di jalur pendakian cukup menghambat perjalanan kami. Menjelang petang kami mencapai Pos III. Kami mendirikan tenda dan beristirahat untuk mempersiapkan summit attack menuju puncak keesokan harinya.

Kabut tebal yang berganti hujan lebat terjadi pada dini hari. Pemandu kami, Kodratullah, merekomendasikan untuk menunda perjalanan ke puncak hingga pagi datang. Trek menuju puncak didominasi oleh jalur berpasir yang dibatasi jurang menganga sehingga hanya bisa ditempuh saat cuaca benar-benar mendukung. Saat mentari mulai naik, kami bergegas menjejak langkah. Perjalanan kami terhambat di beberapa bagian akibat jalur pendakian terpotong olah jurang-jurang yang terbentuk oleh pelapukan batuan dan terjangan cuaca. Kami berpacu dengan waktu karena angin kencang mulai berhembus dan kabut perlahan mulai naik.

Menuju puncak Tambora

Menjelang tengah hari altimeter yang melekat pada kamera yang saya bawa menunjukkan angka 2.751 meter. Kami berhasil mencapai Puncak Embun, titik tertinggi di Tambora. Panorama yang tersaji di depan mata membuat saya tertegun. Kawah kaldera raksasa dengan diameter delapan kilometer terbaring dalam diam. Tak terbayang betapa dahsyat letusan yang terjadi. Sebelum erupsi, Tambora memiliki ketinggian 4.200 meter. Letusan itu menghancurkan hampir separuh tubuh Tambora. Ledakan terdengar hingga ke Sumatera dan menghembuskan awan panas piroklastik setinggi 43 kilometer ke udara.

Puncak Tambora!

Di dasar kaldera, Doro Afi Toi yang dalam bahasa Bima berarti gunung api kecil mengeluarkan asap tipis. Rupanya, Tambora tidak pernah benar-benar tidur.

Seperti letusan Gunung Vesuvius yang begitu melegenda mengubur peradaban Pompeii, letusan Tambora mengubur kehidupan tiga kerajaan. Kerajaan Tambora, Kerajaan Sanggar, dan Kerajaan Pekat yang berada di sekeliling Tambora merasakan dampak langsung letusan dahsyat itu. Puluhan ribu manusia meregang nyawa akibat muntahan material vulkanik. Ratusan ribu lainnya meninggal beberapa saat berselang akibat penyakit dan bencana kelaparan. Tak hanya di Indonesia, masa paceklik juga dirasakan di daratan Eropa dan sebagian Amerika. Letusan Tambora tercatat sebagai letusan paling besar dalam sejarah manusia modern.

Dasar kawah Tambora

Tidak banyak waktu yang kami habiskan di puncak Tambora. Angin yang berhembus semakin kencang dan kabut yang semakin tebal memaksa kami segera turun.

Bulan April ini tepat 200 tahun Tambora meletus. Pemerintah berkolaborasi dengan berbagai organisasi tengah mengadakan hajatan besar bertajuk Tambora Menyapa Dunia. Event berskala internasional ini diikuti oleh peserta dari belasan negara. Kegiatan ini menjadi kesempatan tepat untuk mengenalkan kepada dunia bahwa Indonesia juga memiliki potensi wisata ekologi yang menarik. Ada banyak kisah yang belum terungkap yang masih terkubur bersama artefak-artefak peninggalan peradaban Kerajaan Tambora, Sanggar, dan Pekat. Kisah tentang Tambora, Pompeii dari Timur.

Tabik.

Pulang

Menembus lebatnya hutan di lereng Tambora

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

2 Comments

  1. Wah Kak, harusnya kakak aktif di Instagram juga nih. Gambar-gambarnya dahsyat gitu. Selebgram, bisa jadi…..

    • waduh kak..masih belum pede kak kalo mau ngeksis di instagram..di blog aja sering bolong-bolong gini kak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *