Tak Ada Wayag, Holgam dan Kabui pun Jadi

Saat memasukkan nama Raja Ampat ke mesin pencari, seketika halaman internet akan menunjukkan foto gugusan pulau karang berbukit dengan latar air laut berwarna hijau toska. Itulah Wayag. Belum sahih ke Raja Ampat jika belum mengunjungi Wayag. Sama seperti belum ke Paris jika belum berfoto di Menara Eiffel.

Namun sayang, saya datang ke Raja Ampat ketika kawasan Wayag sedang ditutup. Rupanya warga lokal sedang bersengketa dengan pemerintah daerah terkait pengelolaan Wayag sebagai destinasi wisata. Warga merasa bagi hasil dari pengelolaan dana itu tidak sampai ke mereka. Untuk berkunjung ke Wayag, wisatawan harus membeli pin Wayag dengan harga Rp 250.000 per buah untuk pelancong domestik dan Rp 1.000.000 untuk pelancong mancanegara. Dari pendapatan yang cukup besar ini, warga tidak merasakan manfaat ekonomis baik secara langsung maupun tidak. Karena masalah ini belum terselesaikan, warga menutup akses menuju puncak Wayag.

Kabupaten Raja Ampat memiliki tidak kurang dari 2.500 pulau dengan empat pulau terbesarnya yaitu Waigeo, Misool, Salawati, dan Batanta. Waigeo yang merupakan pulau terbesar menjadi pusat aktivitas di kabupaten yang baru dibentuk pada tahun 2003 ini. Sebelum menuju pulau-pulau kecil yang menjadi primadona wisata, Waigeo menjadi dermaga sandar bagi kapal penyeberangan yang mengangkut penumpang dari Sorong.

“Jangan kecewa. Besok kita ke Holgam dan Kabui. Tidak kalah indah dari Wayag”, kata Yunus suatu malam. Pemuda belasan tahun ini menjadi guide kami selama berada di Raja Ampat. Yunus adalah anak Pak Hengky, pemilik homestay tempat kami tinggal selama lima hari di sana. Ajakan Yunus tak urung memantik semangat yang sempat redup saat tahu Wayag tidak bisa dikunjungi.

Perjalanan menuju Holgam dan Kabui

Bersama sepupunya yang bernama Yoris, Yunus mengarahkan perahu menyusuri celah-celah karang hingga kami sampai di sebuah laguna. Di salah satu sisi laguna ada gua yang menjadi sarang kelelawar-kelelawar raksasa. Kami memberanikan diri mendekat meski hanya sampai di mulut gua. Di langit-langit gua yang berbentuk kubah tampak ratusan paniki atau kelelawar berukuran super itu menggantung terbalik. Saya jadi teringat makhluk jadi-jadian penghisap darah dari daratan Transylvania.

Hampir satu jam kami menyusuri labirin Holgam. Di salah satu pulau, kami melihat ada tangga kayu yang dipasang. Sepertinya pulau ini sering didaki pengunjung yang ingin melihat keindahan Holgam dari ketinggian. “Hati-hati, batu karangnya tajam. Pakai sandalnya”, seru Yunus mengingatkan saat kami hendak mendaki tangga menuju puncak. Kami harus menerobos semak-semak yang cukup rapat untuk mencapai tebing yang biasa digunakan untuk melihat sekeliling Holgam. Sesekali tajamnya karang menggores bagian kaki yang tidak tertutup sandal. Perlu perjuangan yang tidak mudah memang.

Dari puncak tebing, laut dangkal di sekitar Holgam tampak seperti kolam renang. Nyaris tanpa ombak dan sangat jernih hingga dasarnya terlihat. Birunya langit yang cerah dipantulkan menjadi hijau toska oleh air laut. Pulau-pulau karst di kejauhan seakan membatasi Holgam dari dunia luar. Imaji tentang foto-foto keindahan khas Raja Ampat kembali muncul. Tempat yang sebelumnya hanya bisa kami bayangkan, sekarang benar-benar bisa kami kunjungi.

Laguna dari puncak karang

Kolam renang pribadi

Puas memanjakan indera di Holgam, kami melanjutkan penjelajahan. Longboat Papua Gamsio yang dikemudikan Yunus membelah labirin pulau karang menuju lautan terbuka. Kali ini tujuan kami Kabui. Hampir dua jam kami terayun-ayun di perahu sambil menahan terik matahari.

Serupa dengan Holgam, gugusan pulau di Kabui juga didominasi dengan dinding-dinding karang. Bedanya, karang di Kabui jauh lebih tinggi dan jumlah pulaunya lebih banyak. Beberapa kali Yunus mencari pulau karang yang bisa didaki tetapi tak kunjung menemukan tempat yang aman untuk didaki. Kami memutari pulau satu ke pulau yang lain hingga akhirnya menemukan sebuah pulau karang yang bisa didaki. Dari pulau ini, kami bisa mengedarkan pandangan ke sekeliling Kabui. Sayang, lanskap yang menawan terganggu adanya sebuah bendera salah satu partai politik berukuran jumbo yang dipasang di puncak karang.

Alam Papua memang susah diprediksi. Cuaca cerah begitu cepat berganti. Langit mendadak gelap. Air laut yang semula tenang tiba-tiba bergejolak. Kami membatalkan rencana untuk menyusuri gua bawah air yang ada di salah satu pulau. Di Kabui kami dihajar hujan badai. Angin yang bertiup kencang dan arus yang tidak bersahabat memaksa Yunus mengarahkan perahu ke pondokan kecil di tepi pulau. Kami menepi sekaligus berlindung dari badai.

Badaaiiiiiii. Bersiap melawan angin

Dihajar badai di Kabui

Sekitar satu jam kami berteduh menanti badai berlalu. Hujan mulai reda meninggalkan kabut yang melingkupi pulau. Perlahan kabut tersibak ibarat tirai pertunjukan yang dibuka. Pulau-pulau karst yang semula tertutup kabut mulai menampakkan diri. Tak perlu jauh-jauh ke Halong Bay Vietnam untuk merasakan sensasi kekaguman melihat sosok-sosok raksasa batu karang bermunculan dari balik kabut.

Dalam perjalanan pulang dari Kabui kami menyadari satu hal. Keindahan bentang alam Raja Ampat tidak hanya terwujud oleh gugusan karst Wayag saja. Ada banyak keindahan lain yang menyusun mozaik kekaguman kita akan nirwana di timur Indonesia ini. Keindahan yang sepatutnya kita syukuri dengan cara menjadi traveler yang bertanggung jawab saat mengunjungi pulau-pulau di Raja Ampat.

Holgam : pelipur lara tidak bisa merapat ke Wayag

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

10 Comments

  1. wuih, produktif banget jalan-jalannya Dhi……

    • sebelum larut dengan kesibukan perkuliahan, mas :)

  2. ajib! wis tekan raja ampat ik..

    penggunana kata “nirwana” dan “puas memanjakan indera” coba bandingkan dg yang ada di sini gan https://id.wikipedia.org/wiki/Nirwana gan.. wkwk.

    • wiih..masukan yang mantap gan..bisa jadi bahan koreksi buat tulisan berikutnya
      :)

  3. di foto terahir ga ana neng foldeerrr
    aku njaluk dong

    • karena masalah administrasi sudah beres semua, silahkan copy sepuasnya #eh hahahah

  4. top!

    • markotop.. :)

  5. wahh,,mantab banget dk jalan2e :)
    nek moco tulisanmu marai mupeng thok

    • halo Mbak Eni..mari jalan-jalan lagi :) sesekali perlu dolan bareng mbak, ben gak stres ning ibukota he5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *