Sepekan Pelesiran di Kampung Halaman

Judul Blog 02

Pulang ke Kabupaten Semarang selalu menjadi momen yang saya nantikan. Ada kerinduan yang wajib dituntaskan. Kabupaten dengan luas hampir satu setengah kali wilayah Singapura ini memiliki bentang alam yang menawan dan beragam pesona wisata. Saya memiliki waktu satu minggu penuh untuk menjelajahi Kabupaten Semarang. Saya menyusun itinerary jalan-jalan yang tepat agar bisa menikmati destinasi menarik yang tersebar di kabupaten ini. Saya ingin berbagi cerita mengenai sepekan pelesiran di Kabupaten Semarang saat saya mudik tempo hari.

Hari Pertama
Self-healing di Curug Lawe

Konon katanya, Gajah Mada menyepi dan bertapa di balik kesejukan Air Terjun Madakaripura setelah berseteru dengan Hayam Wuruk akibat konflik Perang Bubat. Di tengah gemericik air itulah Gajah Mada menemukan kedamaian. Bagi saya yang setiap hari terjebak dalam rutinitas kantor, kedamaian serupa saya temukan di Curug Lawe.

Air terjun ini berada di tengah rimbunnya hutan lereng Gunung Ungaran. Saya memulai trekking dari pintu masuk area wisata di Desa Kalisidi, Kecamatan Ungaran Barat. Setelah melewati hutan produksi yang ditumbuhi tanaman cengkeh, saya menyusuri jalan setepak yang sejajar dengan aliran sungai. Di beberapa tempat, medan cukup berbahaya dengan jurang dalam persis di sisi jalan. Untunglah pihak pengelola tanggap dengan keselamatan pengunjung. Mereka memasang papan peringatan agar pengunjung senantiasa berhati-hati.

Setelah satu jam menempuh jalur mendaki dan menurun yang lumayan melelahkan, saya sampai di Curug Lawe. Air terjun ini berada di dinding tebing batu yang berbentuk lengkung setengah lingkaran. Saya serasa berada di dasar gelas dengan air yang terus menerus jatuh dari atas. Pagi itu tidak banyak pengunjung yang berada di sekitar air terjun, hanya ada saya dan beberapa rekan seperjalanan.
Suara air terjun yang menghempas dasar tebing ditingkahi suara binatang liar yang bersahut-sahutan sungguh membuat hati merasa tenang dan damai. Penat akibat kesibukan pekerjaan luruh bersama aliran air. Saya menyebutnya self-healing. Udara yang sejuk dan bersih menjadi terapi bagi kesegaran tubuh. Pikiran pun kembali tenang dan rileks.

Saran saya, datanglah pagi-pagi sekali atau jangan di akhir pekan jika ingin menghindari keramaian di Curug Lawe ini. Pada hari Sabtu-Minggu atau hari libur nasional, Curug Lawe biasanya dipadati pengunjung. Destinasi ini memang menjadi salah satu tempat favorit untuk berakhir pekan. Tak jauh dari Curug Lawe, ada air terjun yang tak kalah menarik. Namanya Curug Benowo. Jika masih ada waktu dan belumt terlalu lelah, tak ada ruginya melanjutkan perjalanan ke sana. Jangan lupa bawa kembali sampah anda. Kebersihan objek wisata menjadi tanggung jawab kita bersama.

Jalur trekking menuju lokasi air terjun

Jalur trekking menuju lokasi air terjun

Wisatawan menikmati suasana di sekitar air terjun Curug Lawe

Wisatawan menikmati suasana di sekitar air terjun Curug Lawe

Air terjun Curug Benowo,  berada tak jauh dari Curug Lawe

Air terjun Curug Benowo, berada tak jauh dari Curug Lawe

Hari Kedua
Mendaki Bukit Lewati Lembah Gunung Ungaran

Saat SMA dulu, saya bergabung dalam organisasi pecinta alam di sekolah. Syarat untuk menjadi anggota organisasi itu terbilang berat. Saya dan kawan-kawan harus lulus pendidikan dasar dengan beragam tantangan. Dalam kegiatan itu, kami diuji dengan cara harus bisa bertahan hidup di gunung dengan logistik makanan yang sangat terbatas. Dengan bekal sekantong kecil beras dan sejumput garam untuk berlima, kami menerapkan teknik survival selama tiga hari di Gunung Ungaran. Kami memanfaatkan tumbuhan liar seperti pakis dan buah berry untuk makan. Aliran air yang berasal dari mata air cukup untuk memenuhi kebutuhan minum kami.

Saya ingin napak tilas petualangan itu, maka sebelum subuh saya berangkat menuju Gunung Ungaran. Pendakian bermula dari Basecamp Mawar. Setelah mendaftar dan membayar biaya masuk kepada pengelola, saya memulai melangkahkan kaki mengikuti jalan setapak yang membelah hutan pinus. Sekitar dua jam berjalan kaki, sampailah saya di kebun teh yang ada di lereng gunung. Hamparan pohon teh masih berselimut kabut tipis. Di kejauhan tampak rumah-rumah penduduk Desa Promasan, satu-satunya desa yang ada di tengah perkebunan teh itu. Tepat di pinggir desa ada sebuah gua peninggalan tentara Jepang. Gua itu digunakan untuk persembunyian dan gudang senjata pada masa perang.

Dari kebun teh, saya melanjutkan pendakian menuju puncak. Di sinilah tantangan sesungguhnya. Elevasi jalur pendakian mencapai lebih dari 70 derajat. Saya berjibaku mendaki di antara batu-batu besar. Keringat mengucur deras dan kaki sudah terasa pegal. Namun pelan-pelan saya berusaha untuk mencapai puncak.

Semua lelah dan keringat itu terbayarkan saat melihat panorama dari puncak Gunung Ungaran. Di ketinggian 2050 meter di atas permukaan laut itu samar-samar saya bisa melihat Laut Jawa di sisi utara. Di sisi barat, deretan puncak-puncak lainnyadi Jawa Tengah, yaitu Gunung Slamet, Gunung Sumbing, dan dataran tinggi Dieng tampak berselimut awan.

Menurut saya, jalur pendakian Gunung Ungaran termasuk di level menengah, tidak terlalu berat. Gunung ini cocok bagi bagi pendaki pemula atau pendakian untuk wisata.

Puncak Sindoro, Sumbing, dan dataran tinggi Dieng tampak dari titik tertinggi Gunung Ungaran

Puncak Sindoro, Sumbing, dan dataran tinggi Dieng tampak dari titik tertinggi Gunung Ungaran

Puncak Merbabu dan Merapi di sisi selatan Gunung Ungaran

Puncak Merbabu dan Merapi di sisi selatan Gunung Ungaran

Perjalanan pulang dari puncak

Perjalanan pulang dari puncak

Hari Ketiga
Belajar Sejarah di Candi Gedong Songo

Tak hanya bentang alam yang mempesona, Kabupaten Semarang juga memiliki peninggalan sejarah yang menarik untuk disimak, yaitu Candi Gedong Songo. Menurut referensi yang saya baca, kompleks candi yang berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut ini ditemukan oleh Sir Thomas Stamford Raffles pada tahun 1740. Candi bercorak Hindu ini dibangun pada masa Dinasti Sanjaya pada sekitar abad 8-9 dan memiliki banyak kesamaan dengan candi-candi di Dataran Tinggi Dieng.

Sesuai namanya, Candi Gedong Songo terdiri dari sembilan komplek candi. Namun, kini hanya tinggal lima komplek yang masih menyisakan bangunan candi yang utuh. Setiap komplek candi berada di pelataran yang terpisah dan memiliki jumlah bangunan candi yang berbeda-beda.

Dari komplek Candi Gedong I saya memulai penjelajahan cagar budaya ini. Antar komplek candi dihubungkan oleh jalan setapak yang bersih dan terawat. Jarak dari komplek satu dan lainnya lumayan jauh. Dengan kontur wilayah yang menanjak, memang lumayan melelahkan untuk menjelajahi setiap komplek. Sebenarnya wisatawan bisa menunggang kuda untuk menuju tiap komplek candi. Ada banyak penyedia jasa kuda sewaan. Namun saya memilih jalan kaki agar bisa lebih santai dan leluasa menjelajah.

Di antara komplek Candi Gedong III dan IV, saya melewati sumber air panas belerang. Masyarakat setempat mempercayai bahwa air yang keluar dari mata air itu berkhasiat menyembuhkan aneka rupa penyakit kulit, mungkin karena kandungan sulfur di dalamnya. Komplek Candi Gedong V berada di pelataran paling tinggi sekaligus akhir dari rute kunjungan.

Setelah lelah menanjak berjalan kaki, opsi terbaik untuk menutup perjalanan adalah dengan menikmati jajanan yang tersedia di area wisata. Ada banyak warung dengan aneka menu, seperti mie instan, nasi goreng, atau makanan khas setempat, yaitu sate kelinci. Saya memesan sepiring nasi goreng dan teh manis hangat untuk mengisi perut dan mengembalikan energi yang terkuras setelah menjelajahi Candi Gedong Songo.

Dua bangunan candi masih kokoh berdiri di antara reruntuhan

Dua bangunan candi masih kokoh berdiri di antara reruntuhan

Mata air panas dengan kandungan belerang

Mata air panas dengan kandungan belerang

Pelataran komplek candi

Pelataran komplek candi

Hari Keempat
Memacu Adrenalin dengan Flying Fox Umbul Sidomukti

Bagi penggemar permainan yang memacu adrenalin, area outbond Umbul Sidomukti menjadi destinasi yang wajib dikunjungi. Permainan andalan di tempat ini adalah flying fox. Tak sekedar flying fox biasa, lintasan yang harus dihadapi pengunjung terbentang dari satu bukit ke bukit lain dengan menyeberangi jurang di bawahnya. Saat mencoba permainan ini, saya terasa terbang meluncur dengan kecepatan tinggi. Adrenalin terpacu berpadu dengan jantung yang berdetak cepat.

Selain flying fox, tersedia beragam permainan seperti menyeberangi lembah dengan tali temali di marine bridge, melibas jalur offroad dengan mengendarai ATV, atau sekedar bersantai sambil berendam di kolam renang yang airnya bening dan dingin. Tersedia juga wahana permainan untuk anak-anak, misalnya mini wall climbing. Anak-anak juga bisa diajak jalan-jalan berkeliling area wisata dengan menunggang kuda sewaan.

Umbul Sidomukti menjadi pilihan bagi masyarakat Kabupaten Semarang dan sekitarnya untuk berlibur di akhir pekan. Destinasi ini memang cocok untuk kunjungan bersama keluarga.

Area outbond di Umbul Sidomukti

Area outbond di Umbul Sidomukti

Kuda sewaan untuk keliling area Umbul Sidomukti

Kuda sewaan untuk keliling area Umbul Sidomukti

Hari Kelima
Rawa Pening dan Legenda Baruklinting

Rawa Pening adalah danau alami yang erat dengan legenda Baruklinting. Berdasarkan cerita rakyat yang dikisahkan turun temurun, legenda ini merupakan asal usul terjadinya Rawa Pening. Baruklinting adalah seekor naga raksasa yang tengah bertapa untuk menemukan asal usul dirinya. Dalam usaha pencarian itu, sang naga berubah menjadi sesosok anak kecil. Sang anak berkelana dari desa ke desa untuk mencari orang tuanya. Suatu ketika dia singgah di desa yang warganya tengah mengadakan pesta dengan makanan melimpah. Didorong rasa lapar, si anak meminta sedikit makanan untuk mengganjal perut. Namun, tak satu pun warga desa yang peduli dengan permintaan anak itu, bahkan mereka mengusirnya dengan kasar.

Menanggapi perlakuan warga desa, si anak menancapkan sebatang lidi ke tanah lalu menantang seluruh warga desa. Jika ada yang mampu mencabut lidi itu, dia bersedia pergi. Singkat cerita, tidak ada yang bisa mencabut lidi itu. Akhirnya, si anak yang merupakan jelmaan Baruklinting mencabut lidi dengan satu tangan. Lalu, dari tanah muncul mata air yang mengeluarkan air dengan deras. Dalam waktu singkat, desa itu terendam oleh air dan berubah menjadi rawa, menenggelamkan desa seisinya. Rawa itulah yang saat ini dikenal sebagai Rawa Pening.

Terlepas dari legenda itu, Rawa Pening memiliki lanskap menawan. Tak hanya indah, Rawa Pening adalah tumpuan ekonomi bagi masyarakat sekitarnya. Rawa ini cocok untuk usaha perikanan air tawar. Eceng gondok yang tumbuh liar di permukaan rawa dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kerajinan tangan dan bahan pakan ternak. Sektor pariwisata Rawa Pening juga tengah digarap. Ada banyak objek wisata yang menyajikan keindahan rawa ini sebagai daya tariknya, seperti Resto Kampung Rawa, Desa Wisata Bejalen, Bukit Cinta, atau Jembatan Biru.

Saya memilih Jembatan Biru untuk menikmati panorama Rawa Pening. Pagi-pagi buta saya memacu motor menuju tempat itu. Saya ingin berburu sunrise. Nelayan yang mendayung perahu membelah rawa tampak menarik diabadikan dari balik lensa. Aktivitas petani yang menggarap sawah di tepi rawa atau pencari eceng gondok juga tak kalah seru untuk difoto. Jembatan Biru menjadi dermaga bagi perahu-perahu wisata yang dapat disewa pengunjung untuk menjelajahi Rawa Pening.

Sunrise di Rawa Pening

Sunrise di Rawa Pening

Nelayan setempat mencari ikan di Rawa Pening

Nelayan setempat mencari ikan di Rawa Pening

Berangkat mendayung perahu menuju Rawa Pening

Berangkat mendayung perahu menuju Rawa Pening

Hari Keenam
Menikmati Kopi Berkualitas Dunia

Indonesia memiliki banyak daerah penghasil biji kopi unggulan. Sebut saja Gayo, Sidikalang, Lampung, Kintamani, Flores, Toraja, atau Wamena. Daerah-daerah itu memiliki kopi single origin dengan citarasa khas dan karakteristik kuat yang tidak ditemukan di daerah lain. Kopi Flores misalnya, kopi ini memiliki aroma buah-buahan dan sedikit bau tembakau pada after taste-nya. Keunikan juga bisa ditemukan pada kopi Sidikalang bercitarasa unik dengan aroma rempah.

Ternyata, Kabupaten Semarang juga memiliki biji kopi yang khas dan berkualitas dunia. Kisah ini bermula dari perkebunan karet yang dibuka oleh perusahaan Belanda pada tahun 1911. Namun, berangsur-angsur tanaman karet digantikan dengan kopi. Kondisi tanah, iklim, dan lingkungan di sekitar kebun kopi ini mempengaruhi citarasa kopi yang dihasilkan. Setiap tahun perkebunan seluas 400 hektar yang kini dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara IX ini menghasilkan 700 ton kopi robusta. Masa panen kopi biasanya pada bulan Juli hingga September. Dulu ketika masih SMA setiap hari melewati kebun kopi ini saat berangkat dan pulang sekolah. Wanginya bunga kopi yang tengah mekar di pagi hari masih terkenang hingga kini.

Kopi yang telah dipanen lantas diolah dan diproses sebelum dipasarkan. Dari seluruh hasil panen tersebut, 90% biji kopi diekspor ke luar negeri dalam bentuk green bean, sisanya dipasarkan untuk konsumen dalam negeri. Salah satunya dijual di Kampoeng Kopi Banaran. Saya menyempatkan diri dolan ke resto ini untuk mencicipi kopi andalan Kabupaten Semarang.

Menurut salah seorang pengelola resto, kopi hasil perkebunan di Banaran ini memiliki cita rasa mocca. Single origin-nya dikenal dengan sebutan Java Mocca. Tipikal kopi ini adalah memiliki keasaman yang lebih rendah disbanding jenis arabika sehingga aman di lambung. Kawasan agrowisata Banaran berada di dataran tinggi. Udara sejuk dan segar membuatnya berbeda dari kopi robusta pada umumnya.
Bagi anda yang mengaku penggemar kopi, jangan lewatkan kesempatan untuk mampir dan mencoba kopi terbaik dari Kabupaten Semarang ini.

Biji kopi robusta yang mulai ranum

Biji kopi robusta yang mulai ranum

Proses roasting biji kopi

Proses roasting biji kopi

Hari Ketujuh
Berburu Makanan Enak dan Buah Tangan

Hari terakhir liburan saya manfaatkan untuk menikmati berbagai kudapan lokal. Warung favorit saya adalah Warung Makan Mbak Tun yang berada di seberang Pemandian Muncul, Kecamatan Tuntang. Menu yang disajikan di warung ini antara lain belut goreng, pecel keong, ikan goreng, rempeyek wader, aneka gorengan, dan kolak ketan. Ragam makanan seperti itu sulit didapat di daerah lain. Pagi itu saya memesan sepiring nasi putih hangat dengan lauk belut goreng lengkap dengan sambal terasi berikut lalapan dan pecel keong. Hidangan ndeso nan sederhana ini memiliki kenikmatan yang tak kalah dengan berbagai menu makanan kekinian.

Saya melanjutkan petualangan kuliner ke daerah Ngampin. Di tepi jalur raya Ambarawa-Magelang ini saya mencicipi serabi. Jajanan pasar ini terbuat dari adonan tepung beras yang dimasak di atas tungku kayu sehingga menghasilkan aroma khas. Serabi Ngampin tersedia dalam tiga varian rasa, yaitu pandan, coklat, dan original. Serabi ini disajikan dengan siraman kuah manis yang terbuat dari santan dan gula jawa.

Untuk makan siang, saya memilih menu bakaran ikan di pemancingan Suharno yang ada di daerah Jimbaran, Bandungan. Macam-macam ikan air tawar seperi gurami, nila, atau ikan mas menjadi andalan. Menyantap ikan bakar sembari menikmati pemandangan di sekitar pemancingan memberikan kenikmatan tersendiri. Tak heran jika tiap akhir pekan pemancingan-pemancingan di daerah ini selalu dipadati pengunjung.

Buah tangan, pilihan saya jatuh pada tahu bakso. Panganan ini seolah telah menjadi oleh-oleh wajib bagi mereka yang datang ke Kabupaten Semarang. Ada beberapa produsen tahu bakso dengan merek masing-masing. Favorit saya adalah tahu bakso Ibu Pudji, pioneer tahu bakso di Ungaran yang sudah memulai usahanya sejak dua dekade lalu.

Sebenarnya tidak cukup satu hari untuk berburu kuliner nikmat yang terdapat di Kabupaten Semarang. Masih banyak makanan bercita rasa lokal yang sayang dilewatkan seperti tumpang koyor, pecel, sate sapi Pak Kempleng, sate kelinci, tahu serasi, atau kelengkeng Bandungan.

Pecel pincuk

Pecel pincuk

Destinasi-destinasi wisata yang saya tulis di atas saya jelajahi selama seminggu. Namun bagi anda yang memiliki waktu libur terbatas, misalnya hanya Sabtu-Minggu atau pada long weekend saja, anda bisa menyusun ulang itinerary. Curug Lawe, Umbul Sidomukti, dan Candi Gedongsongo dapat dikunjungi sekaligus dalam sehari. Hari berikutnya anda dapat pergi ke Rawa Pening dan Kampoeng Kopi Banaran. Wisata kuliner dapat anda lakukan di sela-sela kunjungan ke destinasi wisata pilihan anda. Selain tempat jalan-jalan yang saya bahas dalam tulisan ini, Kabupaten Semarang masih punya banyak objek wisata menarik. Dalam beberapa tahun belakangan ini, banyak tempat plesiran yang baru dibuka, baik itu wisata alam, budaya, taman permainan, resto, maupun tempat hangout. Segera susun itinerary liburan anda, siapkan bekal, dan mari jalan-jalan menjelajahi beragam pesona Kabupaten Semarang.

(Tulisan ini mendapat apresiasi sebagai Juara II dalam Lomba Blog Pesona Kabupaten Semarang)

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

2 Comments

  1. Keren juga yah pemandangan dari Gunung Ungaran. Kukira gunungnya tinggi sehingga susah didaki, ternyata kok tidak terlalu menjulang. Bisa nih mlipir ke sana lain waktu. Nice share. ^^

    • Betul, Mas Halim. Gunungnya tidak terlalu tinggi, treknya juga tidak berat. Sekitar 2-3 jam perjalanan dari basecamp kita sudah sampai puncak dan bisa menikmati pemandangan elok. Terima kasih. Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *