Selalu Ada Alasan untuk Kembali Berwisata ke Karimunjawa

Teks dan foto oleh Adhi Kurniawan

Beberapa anak buah kapal KM Siginjai masuk ke kabin penumpang dengan tergesa. Mereka berjibaku menutup jendela yang dihempas angin dari arah kiri kapal. Bagian dalam kabin tempias oleh air hujan yang turun dengan deras. Nakhoda sepertinya melambatkan laju kapal yang mulai oleng digoyang ombak besar. Saya merapal doa dalam hati, semoga kami diberi keselamatan dalam penyeberangan enam jam dari Jepara ini. Waktu seperti berjalan lambat hingga petugas mengumumkan bahwa kapal akan segera merapat ke dermaga Karimunjawa. Saya menghela napas. Lega sekaligus antusias. Sebentar lagi saya akan kembali menjejakkan kaki di destinasi bahari Jawa Tengah ini.

“Gimana ombaknya, Mas? Di sini hujan angin dari pagi,” sapa Mas Popo begitu kami bertemu di dermaga. Pemuda lokal berkulit gelap ini menjadi pemandu saya dan teman-teman selama kami liburan di Karimunjawa. Rupanya, periode Januari hingga Maret adalah musim angin barat. Penat dengan rutinitas Jakarta ditambah euforia datangnya libur kuliah membuat kami ingin segera bervakansi sehingga lupa mempertimbangkan faktor cuaca.

“Nikmati saja, Mas. Semoga besok cerah,” pungkas Mas Popo menenangkan kami.

Karimunjawa tampak lebih semarak dibanding saat saya kunjungi tahun 2010 lalu. Aktivitas di pelabuhan lebih sibuk. Selain KM Siginjai yang secara reguler melayani penyeberangan dari Jepara, ada beberapa kapal cepat yang membuka rute dari Jepara maupun Semarang. Sebuah operator selular membangun menara pemancar sehingga sinyal bukan perkara sulit di sini. Jika wisatawan hendak melakukan penarikan tunai, tersedia layanan ATM yang bisa diakses kapan saja. Fasilitas dan layanan publik lain pun lebih lengkap. Sayang, listrik belum tersedia 24 jam. Pembangkit listrik tenaga disel yang disediakan pemerintah daerah hanya mampu menyuplai listrik dari pukul 18.00 hingga 05.00.

Mengintip Karimunjawa dari balik jendela KM Siginjai

Mas Popo mengarahkan kami ke homestay milih warga, tempat tinggal kami selama di Karimunjawa. Seiring meningkatnya kunjungan wisatawan, semakin banyak warga yang membuka homestay di rumahnya. Lelah setelah menempuh perjalanan panjang dari ibukota membuat kami terkapar di kamar. Rehat sejenak sekaligus mempersiapkan diri menjelajahi eksotisme kepulauan yang berjarak sekitar 45 mil dari daratan Jawa ini.

Keesokan harinya kapal yang akan membawa kami island hopping sudah menunggu di dermaga. Mas Popo mengajak dua rekannya menemani kami. “Hari ini kita ke gugus kepulauan timur dulu ya, Mas”, ujarnya. Untuk memudahkan penjelajahan saat island hopping, pulau-pulau kecil di sekitar Karimunjawa dibagi menjadi gugus timur dan gugus barat.

Destinasi pertama yang kami tuju adalah Pulau Gosong Tengah. Pulau pasir ini hanya tampak saat laut surut. Kapal tidak bisa mendekat karena dangkalnya perairan di sekitar pulau. Karena ingin segera menjejak lembutnya pasir Pulau Gosong Tengah, kami tidak keberatan untuk berbasah-basahan berjalan sekitar 400 meter. Pasir yang putih dan bebas sampah membuat siapa pun tidak tahan untuk tidak berfoto. Kami bertemu dengan rombongan turis asal Korea, Perancis, dan Kanada. Tak hanya di kalangan wisatawan domestik, tampaknya Karimunjawa mulai dikenal oleh wisatawan mancanegara. Pagi itu cuaca cerah. Birunya langit dipantulkan air laut menjadi hijau turqoise yang meneduhkan pandangan.

Bersiap menuju Pulau Gosong Tengah. Berdua.

Tongsis. Benda ketiga yang paling dibutuhkan manusia modern setelah handphone dan charger.

Tak jauh dari Pulau Gosong Tengah, kapten kapal menambatkan kapal di area snorkeling. Agar tidak merusak terumbu karang, awak kapal menyelam lantas mengikatkan tambang ke karang keras di dasar laut. Bayangan schooling ikan di antara koral membuat saya tak sabar segera menceburkan diri. Mas Popo memberi arahan singkat do and don’t selama snorkeling. Sebagai pemandu dia bertanggung jawab atas keselamatan dan kenyamanan kami, sekaligus kelestarian koral agar tidak rusak saat kami dekati.

Selepas tengah hari, kapal merapat ke Pulau Tengah. Pulau privat ini biasanya digunakan untuk singgah sekaligus istirahat makan siang. Mas Popo segera menyiapkan hidangan makan siang. Dengan cekatan dia membersihkan ikan-ikan segar yang baru ditangkap dan membakarnya di atas bara sabut kelapa. Cara memasaknya mirip dengan ikan bakar ala Makasar. Ikan dibakar tanpa bumbu, hanya diolesi minyak kelapa agar tidak lengket. Setelah matang, ikan bakar disajikan dengan sambal pulau. Ini adalah sambal khas Karimunjawa yang diracik dari potongan cabai dan tomat, irisan bawang merah, kacang tanah sangrai yang ditumbuk kasar, siraman kecap manis, dan perasan air jeruk. Mantap disantap dengan nasi putih.

Bersiap santap siang

Rumah apung di Pulau Tengah

Cuaca yang semula cerah berubah cepat. Laut bergejolak saat kami sedang dalam perjalanan pulang menuju dermaga Karimunjawa. Hujan disertai angin membuat perahu terombang-ambing cukup kuat. Keadaan ini memaksa kapten kapal menepikan kapal dan berlindung di balik tebing. Hampir satu jam kami menunggu hingga laut kembali tenang dan melanjutkan perjalanan pulang.

Hari berikutnya cuaca tidak kunjung membaik. Hujan gerimis dan angin kencang sejak tengah malam hingga pagi tidak berhenti. Kami yang sudah siap di dermaga pun memutuskan kembali ke homestay. Mungkin lebih baik bersantai saja seharian. Saat mulai membagi kartu poker, tiba-tiba masuk pesan singkat dari Mas Popo. “Ayo berangkat, Mas. Badai sudah lewat”.

Gugus barat Karimunjawa memiliki terumbu karang yang lebih cantik dengan variasi ikan yang lebih beragam dibanding gugus timur. Kapal bersandar ke Pulau Gosong Barat untuk memberi kesempatan kami memasang snorkel set dan bersiap dengan aktivitas bawah air. Benar saja. Baru beberapa meter beranjak dari pantai saya menjumpai taman koral yang riuh oleh schooling ikan. Kawanan ikan bergerak dinamis di antara aneka rupa terumbu karang yang sehat dan berwarna-warni.

Spot snorkeling yang menjadi destinasi favorit di gugus barat adalah area di sekitar Pulau Cemara Besar dan Pulau Cemara Kecil. Arus yang tidak terlalu kuat dan dasar laut yang tidak terlalu dalam membuat wisatawan betah berlama-lama di sini. Mas Popo mengajak kami berfoto di bawah air. Dia baru saja menemukan anemon dan sepasang clown fish di dalamnya. Dia menginstruksikan agar kami tidak memegang anemon apalagi sampai mengusik ikan yang menggemaskan itu.

Mencari kawan..

Sudah menemukan kawan

Balai Taman Nasional Karimunjawa menyebutkan bahwa terumbu karang yang ada di wilayah ini terdiri dari terumbu karang pantai (fringing reef), terumbu penghalang (barrier reef), dan terumbu karang pata (patch reef). Tumbuhnya kesadaran warga dan pelaku wisata di Karimunjawa terhadap kelestarian terumbu karang berdampak positif. Sejak tahun 2004, area yang tertutup terumbu karang terus meluas. Wilayah ini adalah habitat yang ideal bagi sekitar 355 spesies ikan karang. Beberapa jenis hiu hidup di sekitar perairan Karimunjawa. Penyu hijau dan penyu sisik pun dapat dijumpai di sini. Penyu-penyu tersebut secara berkala mendarat dan bertelur di Pulau Sintok dan Pulau Menjangan Besar. Biota laut lain seperti kima, sejenis kerang raksasa, mudah dijumpai di sekitar Pulau Kembar dan Pulau Cemara Besar. Kawanan lumba-lumba juga sering terlihat melintas di perairan Karimunjawa. Dengan kondisi tersebut, biodiversitas Karimunjawa tergolong tinggi dibandingkan wilayah perairan lain di Pulau Jawa.

Habitat yang nyaman bagi ikan-ikan karang


Hello, Nemo..

Bagi pecandu diving, Karimunjawa memiliki banyak spot menyelam yang menawan. Taka Menyawakan adalah salah satunya. Perairan berarus kencang ini hampir seluruhnya tertutup koral dan dengan mudah dapat dijumpai kawanan ikan barakuda, batfish, skipjack tuna, penyu, dan kima. Di Gosong Cemara, penyelam dapat menemukan kombinasi koral lunak dan koral keras yang ditumbuhi kipas lautsberukuran besar. Yang unik adalah Torpedo Reef, spot berupa sisa-sisa torpedo dan granat perang yang berserakan di dasar laut. Di sela-sela serpihan tersebut tumbuh koral dan bunga karang yang mekar. Jika beruntung, di spot-spot itu penyelam dapat menjumpai spesies langka seperti crocodile fish, leafy scorpion fish, cuttle fish, hingga hiu bambu.

Penyelam yang ingin memacu adrenalin dengan menyusuri bangkai kapal karam dapat mencoba spot Wreck of Indonoor. Pada tahun 1963, sebuah kapal uap berbendera Belanda bernama Indonoor sedang melintas di Laut Jawa. Saat itu di pesisir Semarang sedang terjadi kebakaran hebat yang melalap gudang-gudang pelabuhan. Kapten kapal mengira cahaya itu berasal dari mercusuar sehingga dia memacu kapal dengan kecepatan tinggi tanpa menyadari keberadaan karang-karang di sekitarnya. Lambung kapal membentur karang dan menimbulkan lubang besar yang membuat kapal karam. Saat ini bangkai kapal sudah ditumbuhi terumbu karang dan menjadi habitat bagi beragam jenis ikan.

Panorama yang membuat betah berlama-lama di bawah air

Kelestarian terumbu karang harus terus dijaga

Warna-warni bawa laut

Daya tarik Karimunjawa tidak hanya ada pada keindahan alam bawah lautnya saja. Daratan Karimunjawa juga memiliki potensi alam dan budaya yang sayang dilewatkan.

Saya pernah trekking menuju makam Sunan Nyamplungan. Sang sunan adalah ulama yang dipercaya sebagai orang yang pertama babat alas atau membuka hutan di Karimunjawa sehingga bisa ditinggali pengikutnya. Petilasan ini berada di puncak bukit, berdampingan sebuah mata air yang bening. Wisatawan dapat menikmati suasana hutan tropis Karimunjawa yang menjadi habitat bagi flora endemik seperti pohon dewandaru. Tanaman yang biasa dimanfaatkan warga untuk membuat tasbih dan aneka cinderamata ini hanya ada di hutan Karimunjawa.

Ada pula Bukit Joko Tuwo. Mas Popo mengajak kami mengunjungi kompleks taman yang dibuat atas inisiatif warga ini. Taman dilengkapi beberapa gazebo untuk nongkrong. Di salah satu gazebo, dipajang kerangka ikan paus raksasa yang dulu terdampar di pesisir Karimunjawa. Dari Bukit Joko Tuwo, terlihat lanskap perkampungan warga, pelabuhan, dan pulau-pulau kecil di sekitar Karimunjawa. Bukit Joko Tuwo adalah tempat terbaik untuk menikmati momen matahari terbenam di Karimunjawa.

Menanti sunset di Bukit Joko Tuwo

..menanti kepastian

Di sebelah utara Karimunjawa, terdapat Pulau Kemojan. Pulau yang dipisahkan rawa-rawa bakau dengan daratan Karimunjawa ini memiliki sejumlah kampung adat. Suku Bugis dan Suku Buton yang dikenal sebagai pengelana lautan pernah singgah di sini. Beberapa orang memutuskan untuk menetap di Kemojan. Di kampung Bugis terdapat rumah adat yang menarik dan fotogenik. Ketika ada warga kampung Bugis yang menyelenggarakan hajatan pernikahan, upacara adat perkawinan suku Bugis yang unik dan penuh makna bisa menjadi atraksi budaya yang menarik diikuti. Begitu pula saat ada kapal yang selesai dibuat. Warga akan menghelat upara peluncuran kapal. Kapal baru tersebut akan didorong beramai-ramai ke pinggir pantai dan dilepas hingga dapat mengapung di laut. Ritual ini mirip dengan upacara adat yang sering dilakukan di Bulukumba untuk melepas phinisi.

Sempatkan waktu untuk menyambangi pantai-pantai keren di sepanjang pesisir Karimunjawa. Pantai Koin misalnya. Pantai ini memiliki pasir putih dan batu-batu granit berukuran raksasa sehingga sejenak saya merasa seperti sedang berada di Belitung. Pantai Lagon Bajak yang ada di sisi timur pulau memiliki kisah historis karena dipercaya sebagai tempat pertama kali Sunan Nyamplungan mendarat di Karimunjawa. Di ujung barat laut Karimunjawa, ada Pantai Tanjung Gelam. Pantai yang dipagari deretan pohon kelapa ini menjadi favorit wisatawan untuk menunggu sunset sembari menikmati kelapa muda.

Tanjung Gelam kala senja


Purnama

Berkunjung ke Karimunjawa tidak melulu tentang wisata. Dengan menginap di rumah warga, kami dapat berbaur dengan aktivitas mereka sehari-hari. Keramahan masyarakat Karimunjawa membuat kami betah tinggal. Sebagai tamu, wisatawan perlu membawa diri dengan baik. Hal sederhana seperti senyuman atau obrolan ringan di warung dapat menciptakan keakraban sekaligus menunjukkan respek terhadap warga lokal. Karena sering ngobrol dengan mbak-mbak penjaga warung makan, kami jadi tahu informasi terkini jadwal keberangkatan kapal ferry setelah beberapa hari batal berangkat akibat cuaca buruk. Dari informasi itu kami dapat bersiap lebih awal ke pelabuhan dan mengantre sejak subuh sehingga tidak kehabisan tiket.

Menjadi seorang responsible traveler juga dapat ditunjukkan dengan tidak meninggalkan sampah sembarangan di pulau-pulau. Tak jarang ada beberapa rombongan wisatawan yang meninggalkan gelas plastik air mineral dan sampah sisa makanan begitu saja.

Menjadi pejalan yang bertanggung jawab

Pariwisata telah menjadi tumpuan hidup sebagian besar warga Karimunjawa. Geliat ekonomi masyarakat mengandalkan sektor ini. Semakin banyak warga yang membuka homestay dan menyediakan jasa-jasa pendukung seperti persewaan sepeda atau sepeda motor, persewaan perlengkapan snorkeling dan diving, hingga membuka toko atau warung makan. Warga yang berprofesi sebagai pemandu wisata juga bertambah. Menurut cerita Mas Popo, saat ini ada sekitar 100 orang yang tergabung dalam paguyuban pramuwisata Karimunjawa. Secara berkala anggota paguyuban mendapat pelatihan dari beberapa instansi pemerintahan untuk mengembangkan pariwisata di Karimunjawa. Mereka menyisihkan sebagian penghasilan yang diperoleh dari jasa tur. Uang tersebut dikelola secara transparan untuk berbagai kegiatan. Saat angin timur dan angin barat berakhir, pulau-pulau kecil di sekitar Karimunjawa biasanya dipenuhi sampah yang terbawa arus laut. Paguyuban akan bergotong royong membersihkan sampah tersebut.

Pramuwisata, pilihan profesi bagi sebagian besar warga Karimunjawa

Potensi pariwisata di Karimunjawa mampu mengundang investor untuk menanamkan modal. Dalam beberapa tahun terakhir, muncul resort-resort mewah baru. Beberapa lahan milik warga yang berada di lokasi strategis mulai dibeli oleh para investor. Ada baiknya pemerintah daerah sebagai pengambil kebijakan belajar dari fenomena kapitalisasi wisata di daerah-daerah lain di nusantara. Seringkali warga lokal terpinggirkan manakala pemodal besar mulai masuk dalam bisnis wisata. Masyarakat setempat harus dirangkul dan diberikan akses untuk ikut mengelola pariwisata di sana.

Tepat hari keempat kami mengakhiri trip Karimunjawa dan bertolak ke Jepara. Kali ini cuaca cerah dan laut tenang. Sembari bersantai di ruang terbuka di dek paling atas saya mengirim pesan singkat ke Mas Popo.

“Mas, maturnuwun. Tripnya asyik. Kalau ada waktu, saya dan teman-teman pengen main lagi ke Karimunjawa”.

Meskipun kami datang ke Karimunjawa saat musim badai, selalu ada alasan untuk kembali bertandang ke sana. Pesona alam bawah laut Karimunjawa tak kalah dengan Sabang, Ujung Kulon, Derawan, Wakatobi, Pulau Komodo, Togean, atau Raja Ampat. Terumbu karang yang masih terjaga kelestariannya, keragaman biota lautnya, bentang alam daratan yang menawan, hingga keramahan masyarakatnya menjadi alasan untuk memasukkan Karimunjawa dalam itinerary jalan-jalan. Kami akan kembali pada periode April hingga Juni atau Oktober hingga Desember saat cuaca sedang bagus. Mungkin, sambil menjelajahi sudut-sudut lain Jawa Tengah yang memiliki banyak destinasi wisata yang penuh pesona.

Tabik.

We will be back again. Soon.

Post Scriptum:
Berikut saya cantumkan itinerary dan estimasi pengeluaran selama trip Karimunjaawa. Asumsinya, trip berlangsung selama 4 hari 3 malam dan diikuti 10 orang. Bagi teman-teman yang ingin mengadakan jalan bareng, barangkali informasi ini dapat menjadi referensi.

Itinerary untuk trip 4 hari 3 malam. Dimulai dan berakhir di Pelabuhan Kartini, Jepara.


Jadwal keberangkatan kapal menuju dan dari Karimunjawa dapat dicek di sini

Estimasi pengeluaran, bisa lebih mahal maupun lebih murah.


.
.
.
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog “Blog Competition #TravelNBlog 3“ yang diselenggarakan oleh @TravelNBlogID

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

2 Comments

  1. duh belum pernah ke karimun jawa :(

    • wajib mampir, mas..
      banyak spot oke buat hunting foto
      buat menggalau juga
      wkwkwk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *