Sang Pemanggil Badai

Kadang, saat datang ke suatu daerah, ada mitos lokal yang dipercaya warga setempat. Jika kita melakukan ini maka implikasinya adalah itu. Mitos itu hidup dan dipelihara. Awalnya kami tidak ambil pusing dengan mitos itu, hingga kami mengalaminya sendiri.

Suatu siang selepas dari Holgam, Yunus dan Yoris memacu perahu menuju Teluk Kabui. Untuk ke sana kami mengikuti jalur pelayaran yang memang sering dilalui perahu nelayan lokal maupun kapal wisata. Jalur ini merupakan titik persimpangan bagi mereka yang akan menuju destinasi lain seperti Wayag atau Pianemo.

Karena bahan bakar di tangki mesin berangsur habis, Yunus yang saat itu memegang kemudi menepikan perahu ke sebuah pulau kecil tak berpenghuni. Belakangan kami tahu pulau itu bernama Ketang Kenari. Sementara Yoris sibuk mengisi solar, Yunus menyiapkan makan siang untuk kami. Lantas kami duduk berderet di tepi pantai melahap makan siang sambil melepas pandangan jauh ke cakrawala. Cerah berawan.

Isi ulang bahan bakar

Aroma ikan goreng yang ada dalam menu kami rupanya mengundang seekor kucing mendekat. Kami heran, mengapa di pulau kosong seperti ini ada kucing. Badannya kecil dan bulunya belang coklat. Teman-teman bergantian memberi makan si belang dengan sisa makan siang kami. Kucing itu rupanya tahu kalau dia mendadak menjadi idola.

Seperti karakter Puss in Boots dalam serial Shrek, dia memasang muka memelas yang mengundang rasa iba. Makan siang usai, kami bersiap melanjutkan perjalanan. Kali ini rombongan kami bertambah karena kami mengajak si belang turut serta.

Awalnya Yoris dan Yunus keberatan dengan anggota baru kami itu. Namun bujukan Nika dan Ayu, dua cewek rekan seperjalanan kami, terlalu berat untuk diabaikan. “Kan kasihan kalau kucingnya ditinggal sendirian. Siapa yang mau kasih makan dia”.

Jadilah si belang menjadi hiburan di perahu. Tingkahnya kocak. Sesekali dia keluar masuk geladak sambil memainkan sandal. Jika terkena cipratan air, dia langsung menggoyang-goyangkan badannya. Seolah tak sudi air laut membasahi bulu-bulunya.

Saat memasuki kawasan Teluk Kabui, langit yang sejak pagi cerah perlahan gelap. Sepertinya awan sepakat bergerak lalu berkumpul di satu lokasi. Perahu menepi ke sebuah pulau karang. Ketika kami ingin mendaki ke puncak batunya, mendadak angin berhembus kencang disusul hujan deras. Lautan di sekitar pulau ikut bergejolak. Ombak tiba-tiba bergulung lumayan tinggi. Membaca keadaan seperti itu, Yoris buru-buru mengajak kami beralih. Pulau itu terlalu kecil dan tidak ada celah yang bisa kami gunakan untuk berlindung.

Di balik rinai hujan kami melihat ada sebuah pondok kayu sekaligus dermaga di ujung pulau lain. Yunus mengarahkan perahu ke sana. Pemilik pondokan, kami memanggilnya Om San, mengizinkan kami berteduh. Kebetulan ruang utama pondok sedang digunakan oleh penyelam mancanegara yang tengah beristirahat. Kami memilih dapur untuk menghangatkan badan sekaligus mengeringkan pakaian di atas perapian.

Badai mulai mendekat

Pulau karang di depan pondok kayu

Hujan-hujanan di laut, seru (ngeri) juga

Tidak begitu lama berteduh, hujan berhenti dan ombak mulai tenang. Kami memutuskan melanjutkan perjalanan. Kami ingin segera kembali ke homestay di Pulau Kordiris. Saat kami mulai menaiki perahu, tiba-tiba Om San berseru. “Kenapa kalian bawa lagi kucing itu?”

Lalu dia melanjutkan, “Tahu kalian kenapa tadi tiba-tiba datang badai? Itu karena kalian bawa kucing itu di perahu”. Kami masih belum paham.

“Orang sini percaya, membawa binatang hidup di perahu ke Teluk Kabui bisa mendatangkan badai. Tadi di sini cerah. Begitu kalian datang membawa kucing, Kabui jadi hujan badai. Sudah, tinggal saja kucingnya di sini”, saran Om San. Pantas saja kami menemukan si belang sendirian di Ketang Kenari. Barangkali majikannya terdahulu juga terkena badai lalu meninggalkan si belang di sana.

Kami ragu mau meninggalkan si kucing di pondok atau membawanya bersama kami. Hingga akhirnya Yoris mantap bilang,”Kita bawa saja sudah, niat kita baik. Semoga tidak terjadi apa-apa”.

Benar saja. Tidak sampai sepuluh menit kami bertolak dari dermaga pondok, hujan lebat kembali turun. Kami mengambil rute memutari pulau untuk menghindari kawasan berbadai. Namun anehnya, hujan seakan mengikuti ke mana kami pergi. Begitu keluar dari kawasan Teluk Kabui, hujan semakin deras dan angin semakin kencang. Entah kenapa mesin perahu beberapa kali mati. Saya panik karena saat itu kami berada di laut lepas di luar kepungan pulau-pulau.

Kami berusaha bertahan di tengah badai. Tujuan kami hanya satu, secepatnya mencapai homestay. Si belang kami masukkan ke drybag agar tidak kena air. Sekitar satu setengah jam melawan tempias hujan, kami merapat ke Kordiris. Begitu mencapai pantai, kami menurunkan si belang dan melepasnya ke pekarangan homestay. Perlahan hujan reda hingga akhirnya langit kembali cerah. Percaya atau tidak, tetapi seperti itulah yang terjadi.

Malamnya kami sepakat memberi nama baru kepada si belang. Kami memanggilnya Badai. Saat kami hendak pulang meninggalkan homestay, tampaknya Badai sudah berkeliaran bersama ayam-ayam peliharaan. Perjalanan kembali ke Waisai kami lalui dengan lancar. Kali ini tanpa hujan atau pun badai karena Si Badai tidak turut serta.

Badai pasti berlalu, pose selewat badai

Tersangka utama : Si Badai (foto oleh @nikkapuspita)

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *