Pulang

Setelah mengarungi samudera luas, ikan salmon akan selalu berenang kembali ke hulu sungai di mana dia menetas. Begitu pula dengan manusia. Kaum perantau akan senantiasa merindukan waktu untuk pulang dan kembali ke akarnya. Pulang. Sepotong kata yang membuat petualang mana pun menjadi rindu akan rumah dan keluarga. Dalam budaya Indonesia kita mengenal istilah mudik. Perjalanan pulang menuju kampung halaman dan bersua dengan kerabat.

Indonesia terdiri dari beragam suku yang berasal dari seluruh pelosok negeri. Bentuk geografis berupa negara kepulauan dengan pembangunan yang belum merata, menyebabkan beberapa daerah dengan geliat ekonomi yang lebih pesat menjadi tujuan bagi banyak orang untuk mengadu nasib. Tak jarang para perantau itu membutuhkan waktu bertahun-tahun hingga akhirnya memiliki kesempatan untuk sejenak pulang ke daerah asal. Tradisi pulang ke kampung halaman ini lantas terasimilasi menjadi budaya mudik yang menyatu dengan perayaan Lebaran setiap tahunnya.

Perayaan Idul Fitri atau Lebaran di Indonesia berkembang tidak hanya menjadi milik umat muslim saja. Lebaran adalah momentum untuk pulang dan menjaga silaturahmi dengan famili. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat komunal yang masih mengutamakan kebersamaan. Budaya mudik menguatkan tradisi itu dan selalu menjadi ritual yang ditunggu setiap tahun.

Beberapa referensi menyebutkan, mudik bermula dari tradisi para petani Jawa yang berkembang sejak jaman Kerajaan Majapahit. Petani-petani penggarap yang bercocok tanam di luar wilayah asalnya itu memiliki kebiasaan pulang ke desanya untuk membersihkan makam leluhur. Tradisi ini memiliki maksud agar mereka diberi keselamatan di tanah rantau serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketenteraman dan kecukupan. Hingga saat ini kebiasan mengunjungi makam keluarga dan leluhur saat Lebaran masih bertahan di beberapa daerah di Jawa.

Dalam masyarakat Jawa ada istilah mangan ora mangan asal kumpul, yang mengandung makna kebersamaan dan kerukunan antar anggota keluarga adalah yang utama. Hal itu tersimbolkan melalui ketupat, hidangan Lebaran ala Jawa berupa olahan beras berbungkus anyaman janur kelapa. Anyaman ketupat menunjukkan struktur masyarakat Jawa yang saling terikat satu sama lain. Ketupat yang sudah ada sejak masa kepemimpinan Raden Patah di Demak pada awal abad 15 ini mengajarkan nilai penting untuk tetap menjaga silaturahmi tanpa melihat perbedaan status sosial.

Bagi masyarakat Minang, budaya mudik Lebaran terangkum dalam tradisi pulang basamo. Keluarga-keluarga yang berasal dari daerah atau nagari yang sama pulang ke kampung halaman dalam satu rombongan besar secara terkoordinasi. Tak tanggung-tanggung, peserta bisa mencapai puluhan hingga ratusan orang. Saat para perantau itu tiba, mereka akan disambut dengan arak-arakan keliling kampung diiringi berbagai macam kesenian adat. Pulang basamo menunjukkan keterikatan yang masih terjalin antara para perantau dengan daerah asalnya meski sudah meninggalkan nagari demikian lama. Warga desa menyambut para perantau seperti orang tua menyambut anaknya yang lama tidak pulang. Para perantau yang secara finansial lebih mapan biasanya menghimpun dana bantuan untuk memberdayakan ekonomi masyarakat di daerah asal.

Sedikit berbeda dengan suku lain di Indonesia, puncak kepulangan bagi warga Madura yang merantau justru terjadi saat Idul Adha, bukan Idul Fitri. Tradisi ini disebut toron. Tradisi ini bertujuan membangun kembali silaturahmi antar keluarga dan kerabat sesama orang Madura di tanah kelahirannya. Tradisi yang hampir bersamaan dengan periode pelaksanaan ibadah Haji ini sekaligus menjadi kesempatan untuk menjaga kearifan lokal sebagai orang Madura.

Jika kita cermati, tradisi pulang dari tanah rantau semacam ini tidak hanya berkembang di Indonesia. Di Tiongkok misalnya, kaum urban akan berbondong-bondong pulang ke kampung halaman pada saat perayaan tahun baru Imlek. Peristiwa yang bertepatan dengan awal musim semi itu identik dengan kembali mekarnya kehidupan dan tumbuhnya harapan akan hidup yang lebih baik di tahun mendatang. Di negara dengan masyarakat yang lebih maju dan individualis seperti Amerika Serikat, tradisi mudik terwujud pada budaya Thanksgiving. Pada perayaan di bulan November ini orang-orang di sana akan pulang ke kota asal untuk berkumpul dengan orang tua dan keluarga besarnya. Bandara dan stasiun mendadak ramai, harga tiket berbagai moda transportasi pun melangit. Budaya yang dibawa dari Irlandia ini merupakan bentuk syukur dan terima kasih atas penghidupan dan kesempatan yang baik.

Tanpa kita sadari, tujuan utama setiap kali kita traveling sebenarnya adalah kembali ke rumah. Sejauh apapun kita melangkah, kaki akan membawa kita pulang ke rumah. Dalam roadtrip panjang menjelajahi tempat-tempat nan eksotis, kita pasti akan mencapai titik kulminasi. Di mana keindahan suatu lanskap atau keunikan budaya masyarakat setempat tidak lagi menarik minat. Hati dan pikiran sudah rindu pada satu tempat, yaitu rumah.

Lin Yutang, seorang sastrawan Tiongkok pernah berujar, no one realize how beautiful it is to travel until he comes home. Maka, rumah adalah sebaik-baik tempat untuk pulang. Kembali ke akar kita dan mengumpulkan makna dari setiap perjalanan yang telah kita selesaikan.

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *