Pesan dari Sekongkang

Kehidupan tambang Batu Hijau menyimpan banyak cerita, baik di dalam maupun dari luarnya. Berada langsung di tengah-tengah masyarakat lingkar tambang memberikan kami perspektif lebih luas mengenai manfaat dan masalah yang timbul. Begitu pula dengan kesempatan dan tantangan yang menghadang.

nnt_01cover

“Dulu bapak saya pernah bilang, saya disekolahkan untuk jadi guru, bukan jadi karyawan tambang. Saat Newmont mulai konstruksi tahun 1997, saya sempat perang batin. Apakah mau mendaftar jadi karyawan Newmont, atau meneruskan pekerjaan saya sebagai guru yang sudah saya jalani sejak tahun 1986. Namun, pesan mendiang ayah saya tadi membuat saya mantap berkarir di dunia pendidikan,” tutur Pak Suhardi. Sore itu saya bersama beberapa peserta Sustainable Mining Bootcamp berkunjung ke rumah Pak Suhardi yang berada di Kecamatan Sekongkang. Bersama anggota keluarga yang lain, pria berusia setengah abad itu bercerita tentang kehidupan masyarakat di kawasan lingkar tambang.

Pak Suhardi adalah contoh warga Sekongkang yang mengalami masa-masa di mana PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) belum beroperasi. Saat itu Sekongkang dan wilayah lain seperti Maluk dan Jereweh berada di lokasi yang terisolasi. Akses jalan menuju kota saat itu belum ada. Untuk menuju Taliwang, kota terdekat, mereka harus naik kuda selama sehari melewati perbukitan. Saat tambang Batu Hijau dibuka, turut dibangun juga infrastruktur jalan di daerah lingkar tambang yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Di bidang pendidikan, Pak Suhardi mengapresiasi program corporate social responsibility yang diberikan PT NNT dalam bentuk pembangunan ruang kelas. Sebagai praktisi pendidikan, Pak Suhardi berharap bantuan juga diberikan dalam bentuk buku-buku pelajaran yang sesuai kurikulum terbaru. Siswa akan lebih semangat belajar dengan berbekal buku-buku referensi yang berkualitas. Ilmu yang mereka dapatkan juga semakin luas. “Kami selalu menanamkan kepada anak-anak didik, fokuslah mencari ilmu. Berbekal ilmu kita bisa hidup dengan baik”, kata Pak Suhardi.

Namun, ada ganjalan di benak Pak Suhardi terkait program beasiswa yang diberikan PT NNT kepada para pelajar, baik lingkungan lingkar tambang maupun di wilayah lain. Murid-murid dari Sekongkang hanya sedikit yang menerima beasiswa pendidikan. Sementara, murid-murid dari wilayah yang jauh dari tambang seperti Bima dan Mataram justru lebih banyak yang mendapatkan beasiswa itu. Berbagai persyaratan untuk mendapatkan beasiswa sudah terpenuhi, tetapi murid yang berhasil mendapatkan beasiswa hanya sedikit. Pak Suhardi berharap, proses pemeringkatan untuk menentukan penerima beasiswa dilakukan secara terbuka dengan melibatkan perwakilan dari guru atau sekolah-sekolah yang mengajukan usulan beasiswa.

Selain berupa beasiswa pendidikan, program CSR yang dilakukan PT NNT juga meliputi pemberian pelatihan keterampilan bagi para pemuda Sekongkang. Mereka dikirim ke Mataram dan diberikan berbagai training seperti perbengkelan atau permesinan. Setelah menguasai keterampilan tertentu, para pemuda itu kembali ke Sekongkang. Namun, lapangan kerja yang tersedia belum dapat menyerap tenaga kerja produktif tersebut. Hal ini menjadi permasalahn yang cukup pelik. Tenaga kerja produktif siap pakai semakin bertambah setiap tahun, tetapi dunia kerja belum bisa menyerap mereka. Pak Suhardi ingin agar PT NNT dapat turut membantu menyalurkan tenaga-tenaga terampil itu untuk bekerja ke mitra usaha PT NNT.

“Saat bertanya kepada murid-murid saya mereka ingin jadi apa, saya cukup terkejut. Mereka menyebut profesi seperti dokter atau polisi. Dulu, hampir semua murid bercita-cita ingin menjadi karyawan tambang”, kisah Pak Suhardi. Pola pikir generasi muda Sekongkang saat ini sudah mulai beralih dari yang semula berorientasi bekerja di tambang menjadi lebih terbuka dengan lapangan kerja di luar tambang. “Kami mengarahkan, bekerja di Newmont itu memang bagus, tetapi pekerjaan bukan hanya di situ saja. Ada banyak pekerjaan bagus di luar sana”, lanjut Pak Suhardi.

Cerita senada juga kami jumpai saat kami datang ke SMA Negeri 1 Sekongkang. Kami mendapat kesempatan mengajar selama setengah hari di kelas XII yang sebentar lagi akan menyelesaikan masa studi putih abu-abu. Hampir semua siswa berkeinginan melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi. Bidang yang ingin mereka dalami beragam, justru hanya sedikit yang ingin kuliah di jurusan pertambangan. Bidang-bidang yang banyak diminati antara lain pendidikan, kesehatan, dan pertanian. Mereka ingin menjadi guru, dokter, bidan, hingga tenaga penyuluh pertanian. Semangat mereka untuk maju begitu tinggi.

Selama berada di Sekongkang kami menginap di rumah Pak Husni Thamrin. Pensiunan pekerja tambang itu adalah kepala desa pertama yang dipilih warga untuk memimpin Desa Kemuning. Desa ini merupakan desa pemekaran yang dibentuk pada tahun 2009 lalu. Saat ini ada enam desa di Kecamatan Sekongkang. Tambang Batu Hijau dengan segala aktivitasnya telah membuat wilayah ini semakin ramai dan didatangi kaum perantau. Pemukiman semakin padat hingga diperlukan pemekaran desa baru.

Setelah tidak lagi bekerja di PT NNT, kini Pak Husni menjalankan aktivitas utamanya sebagai kepala desa. Banyak hal yang perlu diurus. Salah satunya mengenai kepedulian warga terhadap kegiatan sosial kemasyarakatan. Dalam beberapa tahun ini Pak Husni merasakan partisipasi warga dalam kegiatan kerja bakti semakin menurun. Saat ada kerja bakti pembersihan gorong-gorong misalnya, hanya segelintir orang yang datang. Padahal musim hujan sudah datang. Pembersihan gorong-gorong mendesak untuk dilakukan. Pak Husni sampai harus membayar kuli.

“Sebagian besar warga Sekongkang bekerja di tambang Batu Hijau, baik sebagai karyawan Newmont atau pekerja kontraktor yang bermitra dengan Newmont. Jadwal kerja mereka padat. Waktu dan tenaga habis di tambang. Saat pulang ke rumah, mereka lebih memilih untuk beristirahat. Interaksi antarwarga jadi berkurang”, cerita Pak Husni.

Keberadaan PT NNT diakui Pak Husni telah memberikan pengaruh bagi masyarakat Sekongkang. Perekonomian jadi lebih bergairah dan berputar dengan cepat. Mereka yang bekerja di tambang secara ekonomi mengalami peningkatan kesejahteraan. Kesibukan kerja mereka juga semakin padat. Pola kerja dan tuntutan pekerjaan membuat waktu para pekerja itu lebih banyak digunakan di tambang. Dengan terbatasnya waktu santai, hubungan sosial di masyarakat jadi renggang. Interaksi antarwarga menjadi kurang intensif.

Obrolan santai bersama Pak Husni

Obrolan santai bersama Pak Husni

Dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat, harga-harga barang secara umum di Sekongkang lebih mahal disbanding tempat lainnya. Hal tersebut cukup menjadi kendala bagi Pak Husni dalam melaksanakan kegiatan pembangunan fisik di desanya. Saat hendak membangun jalan, anggaran dari pemerintah diberikan sesuai standar biaya umum. Padahal harga material bangunan di Sekongkang lebih mahal dari standar tersebut. Pak Husni berupaya mengelola dana yang terbatas untuk menyelesaikan proyek pembangunan itu. “Jangankan harga semen, harga pisang goreng di Sekongkang lebih mahal dari harga di Mataram”, katanya sembari terkekeh.

Hal lain yang menyita perhatian Pak Husni adalah mengenai ketimpangan kelas ekonomi warganya. Mereka yang bekerja di PT NNT rata-rata memiliki penghasilan tinggi. Sementara, mereka yang tidak bekerja di tambang, memiliki kemampuan ekonomi pas-pasan. “Mas perhatikan saja, kalau ada rumah tingkat gedongan dengan mobil di garasinya, pasti itu punya orang Newmont. Tapi kalau rumah panggung dari kayu, bukan orang Newmont”, kata Pak Husni. Dia berharap ketimpangan tersebut tidak memicu permasalahan di aspek kemasyarakatan lain.

Kami juga berkesempatan berbincang dengan seorang anggota DPRD Kabupaten Sumbawa Barat. Pak Abidin namanya. Dia baru saja menyelesaikan program pascasarjana di IPB. Dalam penelitian untuk tesisnya, dia mengulas pemberdayaan perekonomian di Sumbawa Barat setelah berakhirnya kontrak karya PT NNT pada tahun 2038 kelak. Selama ini Sumbawa Barat terlalu bergantung pada keberadaan perusahaan itu. Saat PT NNT berhenti beroperasi salama tiga bulan pada tahun 2014 lalu, dampak kepada masyarakat begitu terasa. Geliat perekonomian melambat. Banyak karyawan dirumahkan. Pemerintah daerah belum siap dengan ketiadaan PT NNT.

“Kami akui kami belum memiliki rencana jangka panjang untuk menyiapkan Kabupaten Sumbawa Barat ini pasca penutupan Newmont kelak. Pemerintah bersama-sama Newmont perlu duduk bersama untuk menyusun blueprint dan bersiap dari sekarang”, papar Pak Abidin. Dalam tesisnya, dia mengusulkan pengembangan sektor pariwisata berbasis syariah dan pertanian sebagai tulang punggung Sumbawa Barat setelah PT NNT tidak lagi ada.

Dari penuturan Pak Suhardi, Pak Husni, dan Pak Abidin kami mendapat perspektif lebih luas mengenai kehidupan masyarakat di lingkar tambang. Di satu sisi, keberadaan PT NNT menghadirkan banyak manfaat dan kesempatan. Di sisi lain, tantangan yang menghadang juga tak kalah kompleks. Pemerintah, PT NNT, juga masyarakat lingkar tambang perlu menjalin komunikasi dan saling bekerja sama untuk menghadapi tantangan tersebut bersama-sama. Mereka berada dalam posisi yang saling mempengaruhi satu sama lain. Sinergi adalah kunci untuk mengakomodasi kepentingan masing-masing pihak.

(AK)

Bersama murid-murid SMA  Negeri 1 Sekongkang

Bersama murid-murid SMA Negeri 1 Sekongkang

Berbincang dengan Pak Suhardi

Berbincang dengan Pak Suhardi

8 Comments

  1. Memang harus sinergi. Masalahnya CSR perusahaan, disadari atau tidak,sering dimanfaatkan oleh Pemda untuk melepas kewajiban yg semestinya menjadi bagian mereka..di berbagai daerah inilah yg terjadi.

    • Di situlah peran penting masyarakat. Mereka bisa menempatkan diri sebagai pengawas. Apalagi saat ini masyarakat sudah semakin pintar dan kritis. Perusahaan dan pemda dapat duduk bersama untuk menyusun perencanaan agar dapat melaksanakan program dengan baik. Tujuan akhir CSR tersebut untuk masyarakat.

  2. Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah janji republik ini. Janji dan bukan cita-cita. Cita2 bisa direvisi, tapi janji cuma satu penyelesaiannya, DILUNASI.

    Lalu siapa yg harus melunasi? Mereka yg lebih dahulu merasakan nikmatnya keterdidikan, termasuk mereka yg memanfaatkan apa yg ada diperut bumi Indonesia dengan keterdidikannya itu.

    Perusahaan tambang, bukanlah kolonial yg bisa seenaknya mengambil tanpa meninggalkan apa-apa. Bagaimanapun, sedikit banyak mereka harus turun tangan meninggalkan harta karun terbesar bagi masyarakat sekitar, bukan raja brana atau emas permata, namun sebuah kata yg masih mahal dan tak semua orang bs mencicipinya, KETERDIDIKAN!!!

    Nice share gan!

    • Pemberdayaan masyarakat lingkar tambang di bidang pendidikan bisa jadi solusi jangka panjang, gan. Banyak program dan kegiatan yang sudah dilaksanakan. Masukan dari masyarakat Sekongkang bisa menjadi bahan pertimbangan bagi PT NNT dalam memberikan bantuan pendidikan agar lebih tepat sasaran. Benar kata mas rifky, pendidikan adalah harta karun terbesar bagi masyarakat setelah PT NNT tak lagi beroperasi pada 2038 mendatang.

  3. “Sinergi adalah kunci untuk mengakomodasi kepentingan masing-masing pihak”. Nice conclusion.

    • Yap. Agar tercapai tujuan bersama memang setiap pihak yang terlibat mau bekerja sama.

  4. Setelah kepo-kepo tulisan tentang tambang yang agan tulis, penasaran saya terjawab.
    Yaitu tentang adanya ketimpangan ekonomi antara ‘orang Newmont’ sama ‘non Newmont’. Meski disebutkan bahwa 99% SDM dalam negeri.
    Mungkin sebaiknya perusahaan sebagai ‘penggerak’ para karyawannya untuk bersama membangun lingkungan di sekitar tambang, baik sosial, budaya dan ekonomi.
    Karna percuma saja perusahaan bergerak tapi karyawan hanya ‘sibuk’ dengan kehidupan sendiri. Bekerja, gaji tinggi, semua kebutuhan terpenuhi tanpa meluhat kanan kiri masih berumah kayu.
    *just my opinion

    • Di masyarakat, ketimpangan itu sangat terasa. Mereka yang bekerja di Newmon, memiliki rumah bagus dengan fasilitas bagus, sementara yang bekerja di luar tambang, tinggal di rumah sederhana. Kondisi ini perlu disikapi dengan tepat agar tidak muncul masalah sosial di masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *