Ngapain Aja di Raja Ampat

Waktu lima hari empat malam sebetulnya masih kurang untuk menjelajahi Raja Ampat. Bentangan pulau-pulau karang dan pesona bawah lautnya tak henti mengundang decak kagum yang berujung rasa syukur. Tak hanya island hopping dan snorkeling, ada banyak hal yang bisa kita lakukan di sana. Setidaknya, kami melakukan hal-hal berikut selama berada di Raja Ampat.

Susur Gua

Hempasan ombak selama ribuan tahun yang menghantam dinding karang menciptakan gua-gua alami di beberapa pulau. Di Kawerwer kami menemukan banyak gua di sekeliling laguna. Kawerwer memang merupakan laguna yang terkurung pulau karang. Karena dikelilingi pulau, air laut di laguna ini sama sekali tidak berombak. Dengan airnya yang tenang, Kawerwer lebih mirip danau. Sesekali tampak hiu-hiu kecil berseliweran. Hiu-hiu itu berukuran kecil sehingga sekilas mirip ikan lele.

Di beberapa gua, ada stalaktit yang menggantung di mulut gua. Bentuk tonjolan stalaktit ini mirip dengan phallus atau alat kelamin pria. Warga menyebut gua ini dengan nama Gua Kemaluan. Saat air surut, kita bisa masuk ke dalam dan menyusuri dinding gua.

Ada pula gua yang menjadi habitat kelelawar. Untuk memasuki gua itu, kami harus merayap melewati mulut gua yang rendah. Setelah berada di dalam gua barulah kami bisa menegakkan badan. Kami mengarahkan senter ke dinding dan atap gua. Ratusan kelelawar tampak menggantung terbalik di sana.

Di mulut gua kelelawar

Bird Watching

Di pulau-pulau seperti Mansuar atau Gam, warga setempat bisa menjadi pemandu yang menunjukkan pepohonan yang biasa didatangi cendrawasih. Burung berjuluk bird of paradise ini memang selalu mengundang rasa penasaran. Menyaksikan secara langsung mereka beraktivitas di alam bebas adalah pengalaman yang layak diusahakan. Bird watching biasanya dimulai sebelum subuh ketika hari masih gelap. Pemandu akan membawa kita ke semacam rumah pohon yang tersamarkan sehingga tidak mengusik cendrawasih yang dating saat pagi menjelang.

Pada musim kawin, cendrawasih jantan akan sering terlihat sedang menarik perhatian betinanya. Aktivitas ini membuat cendrawasih jantan memperlihatkan daya tariknya berupa bulu-bulu berwarna cerah yang memikat. Sayang, kami datang pada bulan Desember. Pada bulan ini dan bulan Februari, cendrawasih berada pada masa bertelur sehingga lebih sering mendekam di sarang-sarangnya.

Mancing Mania

Sewaktu hendak menjemput kami, Pak Hengky iseng memasang umpan di ujung kail yang dia ikat di perahu. Hasilnya tidak main-main. Seekor ikan tenggiri sebesar lengan orang dewasa berhasil dipancing. Ikan yang berakhir sebagai santap siang kami itu bisa didapat dengan mudah di perairan Raja Ampat yang memang kaya potensi.

Ada suatu teknik unik dalam memancing yang digunakan penduduk lokal Raja Ampat. Lazimnya, kita memancing dengan memasang umpan pada ujung kail yang berbentuk melengkung. Ikan yang dipancing memakan umpan tersebut, mulutnya akan tersangkut di kail sehingga bisa kita tarik ke atas. Namun di sini, berlaku teknik yang sama sekali berbeda. Kail yang dipakai bercabang empat dengan ujung runcing, masing-masing sepanjang jari kelingking. Tidak perlu memasang umpan di kail. Cara memancingnya, kail dilempar ke kerumunan ikan. Setelah kail berada di tengah-tengah gerombolan ikan, kail disentak dengan cepat sehingga mata kail mengenai tubuh ikan. Jadi, kail akan menancap di tubuh ikan, bukan di mulut. Ikan yang ditangkap bisa saja tersangkut kail di bagian perut, ekor, atau bahkan sirip.

Ikan ini berakhir di perut kami sore harinya

Slowspeed Photography

Pada malam terakhir berada di homestay, kami ngobrol hingga larut malam. Kebetulan saat itu bulan sabit baru muncul selewat tengah malam. Bulan muncul dari horizon timur di sudut rendah, lalu perlahan naik. Langit malam itu cerah. Sinar bulan tampak benderang seperti halnya matahari pagi. Dengan perangkat seadanya, kami mencoba menangkap momen syahdu itu.

Bulan tenggelam di wajahmu #eh

Bulan sabit melengkungkan senyummu #eh

Pasar malam

Mendayung Perahu

Keluarga Pak Hengky menyediakan sebuah perahu lesung khas Papua yang bisa digunakan bergantian oleh tamu homestay. Perahu itu terbuat dari sebatang kayu yang dilubangi bagian tengahnya. Di kanan kiri perahu dipasangi cadik untuk menjaga keseimbangan perahu. Di samping homestay yang kami tempati, ada sederet homestay lain yang ditempati para pejalan dari Jerman dan Swedia. Setiap sore menjelang senja biasanya mereka mendayung perahu hingga ke tengah laut.

Di hadapan homestay kami ada lima pulau karang yang menahan arus ombak sehingga perairan di sekitar homestay tidak begitu berombak dan aman untuk diarungi. Saya penasaran ingin mencoba berperahu hingga ke tengah. Kampung saya di Jawa Tengah berada dekat sekali dengan sebuah rawa, tetapi saya belum pernah sekalipun mencoba mendayung perahu.

“Do you know how to swim? Can you use this paddle? The boat is not safe, there are a lot of holes on its bottom”, cecar si pria Swedia saat saya mau mendorong perahu ke air. Sambil bercanda saya bilang kalau nenek moyang orang Indonesia adalah pelaut. Sejak lahir kami sudah bisa mendayung perahu.
Senja itu pertama kalinya saya mengayuh dayung untuk melajukan perahu. Hasilnya? Saya mendapat view sunset yang lain dari sore-sore sebelumnya karena kali ini saya melihat sunset dari tengah laut dengan latar Pulau Kordiris.

Golden moment

The Art of Doing Nothing

Homestay yang kami tempati berada di pinggir pantai landai berpasir lembut di Pulau Kordiris. Tepat di belakang homestay berbatasan dengan hutan yang masih rapat. Bangunan homestay terbuat kayu dan beratap anyaman daun kelapa. Sederhana, tetapi berkarakter. Homestay ini diberi nama Kerui Rim.

Pak Hengky dan keluarganya mengelola Kerui Rim secara swadaya. Jika ada tamu yang akan menginap di homestay-nya, Pak Hengky akan menjemput di Dermaga Waisai. Sang istri yang pintar mengolah masakan menjamin ketersediaan makanan selama tamu berada di homestay. Anak Pak Hengky yang bernama Yunus berperan sebagai guide yang mengantar tamu.

Home sweet home di Kordiris

Di Kordiris seakan waktu berputar lebih lambat. Setelah lelah seharian jalan-jalan, biasanya kami leyeh-leyeh saja di beranda homestay. Ngobrol ngalor ngidul, gak ngapa-ngapain. Ritme hidup serba terburu-buru yang biasa kami jalani di ibukota sejenak hilang. Setiap pagi saat mandi di kamar mandi outdoor kicauan burung liar terdengar bersahutan. Listrik yang cuma ada saat malam dan sinyal seluler yang timbul tenggelam menjauhkan kami dari gadget. Seringkali kita lebih intim terpaku menatap layar smartphone daripada berinteraksi secara langsung dengan orang-orang yang nyata hadir di sekeliling kita.

The art of doing nothing. Seperti balapan mobil F1, pembalap perlu sejenak berhenti di pit stop untuk mengisi bahan bakar dan mengganti ban. Dalam keseharian kita pun kadang kala kita perlu sejenak merenung. Istirahat untuk mengumpulkan kembali semangat dan energi. Di Kerui Rim kami mendapatkan kembali suntikan semangat dan energi.

The survivor of Kordiris

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *