Merekam Jejak Sejarah Bukittinggi

Bukittinggi tidak bisa dipisahkan dari perjalanan panjang Indonesia. Ada banyak tempat, tokoh, dan peristiwa penting yang menyusun rangkaian utuh sejarah republik ini. Mengunjungi Bukittinggi adalah saat yang tepat untuk mengingat kembali puzzle itu.

Situs Historis

Pada masa kolonial Belanda, Bukittinggi merupakan salah satu pusat pemerintahan di wilayah Sumatera. Dengan perannya yang strategis inilah Belanda memiliki kepentingan untuk dapat mempertahankan Bukittinggi selama terjadi Perang Paderi. Alasan tersebut mendorong Belanda membangun Benteng Fort de Kock pada tahun 1825 setelah sebelumnya membangun Benteng Fort van der Capellen di Batusangkar. Basis perlawanan kaum Paderi pada saat itu memang berpusat di Bukittinggi dan Batusangkar.

Bukittinggi

Keberhasilan pasukan Belanda menguasai Bukittinggi dalam waktu yang cukup lama membuat Ratu Belanda memberikan apresiasi kepada controleur Fort de Kock saat itu. Maka dikirimlah hadiah istimewa berupa jam mekanik raksasa langsung dari Rotterdam. Lalu dibangun menara dengan biaya fantastis untuk meletakkan jam ini agar menjadi simbol kejayaan Belanda masa itu. Saat ini kita mengenal menara jam itu sebagai Jam Gadang. Jam dengan mesin mekanik seperti ini hanya ada dua di dunia, Jam Gadang di Bukittinggi dan Big Ben di London.

Ketika kekuasaan berpindah ke pasukan Jepang, dibangun lubang pertahanan di Bukittinggi. Strategi bertahan dengan membuat gua bawah tanah semacam ini memang model khas tentara Jepang. Tenaga romusha yang dikerahkan menggali tanah dan membangun bunker ini sengaja didatangkan dari Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi untuk menjaga kerahasiaan gua ini dari penduduk lokal. Teknik konstruksi yang digunakan Jepang cukup unik, dinding gua dilapisi jenis tanah yang jika terkena air justru membuat dinding semakin kokoh.

Dengan panjang keseluruhan mencapai 1400 meter, gua ini dilengkapi ruang pengintaian, ruang amunisi, ruang sidang, gudang senjata, dan dapur. Jepang dapat memaksimalkan fungsi gua ini untuk bertahan sekaligus menyerang.

Mereka yang Berpengaruh bagi Republik Ini

Ranah Minang melahirkan putera-putera terbaik yang menorehkan catatan penting dalam sejarah Indonesia. Salah satunya Haji Agus Salim. Diplomat terbaik yang pernah dimiliki Indonesia ini lahir di Koto Gadang, Bukittinggi pada tahun 1884. Pengalamannya sebagai jurnalis dan aktif di beberapa organisasi membuat Agus Salim mampu menguasai 9 bahasa dengan sempurna, baik menulis maupun berbicara. Jauh hari sebelum bangsa Barat bicara tentang hak asasi manusia, Agus Salim sudah menyinggungnya dalam perjuangan menuntut kemerdekaan sebagai hak segala bangsa. Ide itu tercantum dalam salah satu paragraf Pembukaan UUD 1945.

Pada jaman pergerakan nasional, negeri ini mengenal sosok tangguh bernama Muhammad Hatta. Lahir di Bukittinggi, Hatta kecil tumbuh dan dibesarkan di lingkungan religius yang memiliki karakter kuat ala orang Minang. Dasar kepribadian inilah yang membentuk kualitas diri seorang Hatta selama memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Selama kuliah dan berjuang di Belanda maupun saat dikirim ke pengasingan di Digul dan Banda Neira, Hatta dikenal tegas dan berani melawan. Hingga akhirnya kemerdekaan republik ini diproklamirkan, kita semua mengakui peran besar Hatta bagi Indonesia.

Salah seorang karib Hatta, Sutan Syahrir, adalah tokoh kelahiran Padang Panjang, tak jauh dari Bukittinggi. Syahrir dikenal sebagai politisi yang mengambil jalan perjuangan yang berbeda dengan Soekarno. Saat Soekarno menerapkan sikap kooperatif terhadap Jepang, Syahrir memilih perjuangan bawah tanah untuk mencapai kemerdekaan. Di masa pasca proklamasi kemerdekaan, Syahrir diangkat menjadi perdana menteri pertama Indonesia.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih akrab kita kenal sebagai Buya Hamka berasal dari Agam, kota kecil di sebelah utara Bukittinggi. Dia dikenal sebagai ulama besar, sastrawan, sekaligus negarawan. Karyanya tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga masyhur hingga ke luar negeri.

Bukittinggi dan Kelangsungan NKRI

Barangkali kita mencatat hanya dua kota yang pernah menjadi pusat pemerintahan Indonesia, yaitu Jakarta dan Yogyakarta. Namun, ada yang tidak boleh dilupakan. Bukittinggi pernah menjadi ibukota republik ini. Saat terjadi agresi militer pada 1948, Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda. Soekarno, Hatta, dan Syahrir ditahan Belanda. Dalam situasi kekosongan pemerintahan itulah Hatta mengirim telegram ke Bukittinggi yang isinya memerintahkan Syafrudin Prawiranegara yang saat itu menjabat Menteri Kemakmuran untuk mendirikan Pemerintah Darurat Republik Indonesia.

Pemerintahan darurat itu memiliki arti penting bagi eksistensi Indonesia di mata dunia. Secara de facto memang Belanda berhasil menguasai ibukota negara, tetapi secara de jure pemerintahan masih terus berlangsung. Keberadaan PDRI menunjukkan bahwa Indonesia masih ada dan berdaulat. Selama 207 hari pemerintahan darurat itu bisa bertahan hingga memaksa Belanda menyetujui Perjanjian Roem Royen yang salah satu isinya mengakui kembali kedaulatan Indonesia.

Jejak yang Tertinggal

Kami sengaja memilih Bukittinggi sebagai semacam camp site selama tiga hari karena letaknya yang berada di persilangan daerah-daerah lain yang ada dalam itinerary perjalanan kami selama di Sumatera Barat. Jadi kami bisa menelusuri jejak sejarah yang tertinggal di sela-sela trip ke destinasi di luar Bukittinggi.

Sisa benteng Fort de Kock yang berupa sebuah bangunan persegi setinggi dua lantai ini masih bisa dijumpai di kompleks Taman Kota. Dengan menyeberangi Jembatan Limpapeh yang membelah jalan utama Bukittinggi, kita bisa mencapai benteng dari Kebun Binatang Bukittinggi. Sebetulnya sisa benteng tersebut lebih menyerupai menara penampung air dibanding bangunan pertahanan. Namun, sejarah tetaplah bermakna bagaimanapun bentuknya. Di dalam kesederhanaan bengunan bercat putih itu terekam kisah masa lalu Bukittinggi pada jaman Belanda.

Sisa bangunan Fort de Kock, lebih menyerupai menara penampung air

Sisa bangunan Fort de Kock, lebih menyerupai menara penampung air

Lubang Jepang yang berada di seberang Ngarai Sianok sudah dikelola dengan baik oleh pemerintah setempat. Setelah direhabilitasi, gua bawah tanah tersebut dibuka untuk umum dan menjadi salah satu andalan wisata Bukittinggi. Saat ini dasar gua sudah dilapisi paving block dan dilengkapi lampu penerangan di sepanjang jalur sehingga pengunjung dapat lebih nyaman menjelajahi gua. Dinding gua masih dipertahankan dalam bentuk bentuk aslinya yang berupa tanah agar pengunjung masih bisa mendapatkan feel yang hampir sama dengan kondisi gua pada jaman penjajahan. Bilik-bilik di dalam gua diberi keterangan berupa papan kecil yang menjelaskan fungsi bilik tersebut.Di pintu masuk lubang, terpampang denah lengkap gua dengan keterangan rute dan arah. Sebelum masuk ada baiknya sejenak menyimak peta tersebut agar tidak nyasar saat menjelajah gua.

Lorong menuju gudang amunisi

Lorong menuju gudang amunisi

Semua sepakat bahwa landmark Bukittinggi adalah Jam Gadang. Menara Jam Gadang adalah titik nol kilometer yang menjadi pusat kota sekaligus pusat keramaian. Bentuk arsitektur Jam Gadang yang kita kenal saat ini berbeda dengan bentuk asli ketika pertama dibangun. Ketika awal dibangun, atap Jam Gadang berbentuk bulat dan dilengkapi penunjuk arah berupa patung ayam jago yang menghadap ke timur. Khas arsitektur gaya Eropa. Saat Jepang mengambil alih kekuasaan, bentuk atap Jam Gadang dirombak dan dibangun menyerupai klentheng, rumah ibadah Kong Hu Chu. Barulah setelah Indonesia merdeka, atap Jam Gadang diubah menjadi bentuk atap gonjong. Bentuk atap melengkung dengan ujung lancip sebagai identitas adat Minangkabau.

Agak disayangkan, lingkungan di sekitar Jam Gadang kurang mendukung keberadaan bangunan ini sebagai situs sejarah. Situasi sekitar terkesan kotor dan kurang tertata. Saat siang sekitaran Jam Gadang menjadi tempat ngetem delman. Pedagang kaki lima yang mangkal di sana pun menambah semrawut suasana.

Dari beberapa situs sejarah tersebut, yang paling menarik bagi saya adalah Rumah Kelahiran Bung Hatta. Di rumah inilah Hatta dilahirkan dan melewatkan masa kecilnya. Rumah kayu ini terdiri dari dua lantai. Di lantai bawah ada kamar milik kakek dan nenek Hatta serta ruang tamu yang cukup luas. Sementara di lantai atas ada kamar saudari-saudari Hatta. Sebagaimana lazimnya anak laki-laki di keluarga Minang, Hatta tidak memiliki tempat di rumah utama. Kamar Hatta ada di belakang, terpisah dari bangunan utama. Di kamar Hatta tersimpan sebuah sepeda onthel.

Saat ini Rumah Hatta dikelola oleh kerabat Hatta bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bukittinggi. Rumah tersebut dibuka untuk umum setiap hari mulai pukul 08.00. Pengunjung dapat melihat banyak memorabilia di rumah yang sekaligus berfungsi seperti museum pribadi tentang Hatta. Suasana rumah yang adem dan homey membuat pengunjung betah berlama-lama belajar sejarah di sini.

edit04a

Sebelum ke Bukittinggi, saya kurang begitu minat dengan sejarah. Kurikulum sekolah jaman saya SD hingga SMA seolah mengajarkan bahwa sejarah hanya berkutat pada tokoh dan angka tahun. Jadi pelajaran sejarah menjadi membosankan dan kurang menarik. Saya pikir sebetulnya ada cara yang lebih seru dan asyik untuk mempelajari dan menikmati sejarah. Dengan traveling ke kota yang memiliki banyak historical site misalnya. Atau ngobrol dengan orang-orang sepuh yang pernah terlibat langsung dengan peristiwa tertentu. Hal-hal tadi akan memancing rasa penasaran kita untuk mencari informasi lebih lengkap tentang sejarah.

Setidaknya, jejak-jejak yang tersebar di berbagai tempat di Bukittinggi menumbuhkan ketertarikan saya untuk kembali belajar dan menikmati sejarah. Lebih jauh lagi, sejarah akan menjadi pengingat bagi kita bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar.

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *