Mereka yang Memilih Mandiri dan Terus Berkarya

Teks dan foto oleh Adhi Kurniawan

Mandiri dan terus berkarya

Mandiri dan terus berkarya

Kekayaan sumber daya alam ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, sumber daya alam menyumbang pundi-pundi kemakmuran bagi suatu daerah. Namun di sisi lain, daerah memiliki ketergantungan yang begitu tinggi terhadap sumber daya alam tersebut dalam menggerakkan roda perekonomiannya. Kondisi seperti ini dapat kita temui di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Kabupaten yang baru dibentuk pada tahun 2003 ini memiliki kekayaan mineral berupa emas yang terkandung dalam tambang Batu Hijau. Keseluruhan aktivitas ekonomi dari tambang yang dikelola oleh konsorsium perusahaan multinasional itu memiliki kontribusi hampir 95% terhadap Pendapatan Domestik Bruto Kabupaten Sumbawa Barat.

Tambang Batu Hijau menyerap banyak tenaga kerja masyarakat lokal, baik sebagai karyawan yang terlibat langsung dalam operasional pertambangan maupun tenaga kontrak yang bekerja pada perusahaan-perusahaan rekanan tambang seperti katering, jasa transportasi, atau alat berat. Kemilau emas memang begitu menarik. Perputaran uang di bidang tambang sangat besar. Perlahan namun pasti, ketergantungan ekonomi terhadap pertambangan semakin tinggi. Ketergantungan itu terlihat jelas ketika operasional tambang Batu Hijau dihentikan selama beberapa bulan pada tahun 2013 lalu. Banyak tenaga kerja yang dirumahkan, aktivitas ekonomi di Kabupaten Sumbawa Barat lesu, hingga munculnya benih-benih masalah sosial.

Tambang Batu Hijau

Tambang Batu Hijau

Perlu disadari, mineral tambang adalah sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. Ada masa di mana kandungan mineral akan habis dan kegiatan pertambangan akan terhenti. Berdasarkan kajian, kandungan emas di tambang Batu Hijau akan habis pada tahun 2038. Dua dasawarsa bukanlah waktu yang lama untuk mempersiapkan kemandirian daerah dan masyarakat yang telah terbiasa sejak lama bergantung pada aktivitas tambang.

Sumbawa Barat memerlukan pionir-pionir yang menciptakan inovasi daerah. Paradigma yang selama ini menjadikan tambang sebagai satu-satunya sandaran ekonomi perlu dikoreksi. Beruntunglah, ada kabar baik dari sana. Sumbawa Barat memiliki sosok-sosok tangguh yang membuka jalan untuk perubahan yang lebih baik. Saat berkunjung ke Sumbawa Barat beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan para inspirator itu. Berikut senarai kisah inspiratif mereka.

Virgin Coconut Oil, Komoditas Lokal Nan Menjanjikan

Perkebunan kelapa milik masyarakat Jereweh

Perkebunan kelapa milik masyarakat Jereweh

Saya menuju Jereweh, salah satu kecamatan di Sumbawa Barat, untuk menyimak penjelasan Pak Suhardi mengenai proses pembuatan virgin coconut oil (VCO). Bersama kelompok usaha yang beranggotakan 15 orang, Pak Suhardi merintis usaha pembuatan VCO sejak awal tahun 2016. Sebelumnya, mereka telah memperoleh pelatihan cara memproduksi VCO yang berkualitas.

VCO atau minyak kelapa murni ini merupakan bahan dasar dalam pembuatan beragam produk kosmetik maupun obat-obatan. Selama ini Jereweh dikenal sebagai daerah penghasil kelapa di Kabupaten Sumbawa Barat sehingga prospek pengembangan usaha VCO di tempat ini cukup menjanjikan. Apalagi dalam waktu dekat akan ada sebuah manufaktur kosmetik yang beroperasi di sana. Usaha VCO ini adalah langkah jeli dalam menyambut peluang ekonomi.

Bahan baku berupa buah kelapa segar dibeli dari petani lokal dengan harga Rp 1.000 per buah di pohon atau Rp 2.200 per buah siap antar hingga lokasi pengolahan. Untuk membuat setiap liter VCO diperlukan setidaknya 30 buah kelapa. Dalam satu minggu, mereka sanggup menghasilkan sekitar 26 liter VCO dengan harga jual Rp 60.000 per liter. Sampel produk VCO dari kelompok usaha di Jereweh ini telah dikirim ke laboratorium IPB untuk diuji kualitasnya. Sebagai contoh, kadar air maksimal yang ditoleransi adalah sektar 0,2%. Jika lolos uji, kelompok usaha tersebut akan memperoleh sertifikasi mutu sehingga bisa memproduksi VCO dalam skala lebih masif.

VCO dikemas dalam jerigen berukuran 5 liter

VCO dikemas dalam jerigen berukuran 5 liter

Saat nanti pabrik kosmetik di Jereweh sudah mulai beroperasi, kebutuhan bahan baku berupa VCO akan semakin tinggi. Hal ini merupakan peluang ekonomi yang bagus. Produksi VCO rumahan dapat dikembangkan secara masif. Masyarakat mendapatkan kesempatan untuk memperoleh penghasilan dari sektor ini. Bersama kelompok usahanya, Pak Suhardi terus berusaha mengembangkan produksi VCO. Ketika permintaan bahan VCO semakin banyak beberapa tahun ke depan, mereka sudah siap menjawab tantangan itu dengan menyediakan VCO kualitas terbaik.

Bank Sampah Lakmus, From Trash to Cash

Buku tabungan nasabah bank sampah

Buku tabungan nasabah bank sampah

Dari Jereweh, saya beralih ke Maluk. Saya berkunjung ke Bank Sampah Lakmus (BSL). Bidang usaha yang sebelumnya tidak terpikirkan adalah pemanfaatan sampah. Apabila dikelola dengan cerdas, sampah yang semula dipandang sebelah mata dan dibuang begitu saja, dapat diubah menjadi rupiah. Sesuai dengan tagline yang terpasang di depan kantornya, from trash to cash, Bank Sampah Lakmus (BSL) berhasil memberi nilai tambah kepada masyarakat dalam menyikapi sampah.

BSL juga mengedukasi masyarakat untuk peduli dengan kebersihan lingkungan. Edukasi dilakukan melalui kegiatan di posyandu dan acara-acara PKK. Tim BSL tak segan mendatangi sekolah-sekolah untuk membangun kesadaran sejak dini kepada anak-anak dalam mengelola sampah.

Menurut penjelasan Pak Taufikurrahman, sang penggagas BSL, hingga saat ini tercatat ada 710 nasabah yang secara rutin menyetorkan sampah. Nasabah tersebut mayoritas berasal dari Maluk dan Jereweh. Untuk menampung minat warga di wilayah lain terhadap program ini, tahun lalu BSL mulai membuka cabang di daerah lain. Setiap bulannya rata-rata BSL sanggup mengumpulkan hingga 1,5 ton sampah kertas. Jenis sampah lain yang banyak terkumpul adalah sampah plastik dan sampah logam. Sampah yang sudah disortir akan dijual ke pengepul di Lombok. Dari hasil penjualan itulah nasabah akan mendapatkan uang, baik dalam bentuk tunai maupun tabungan.

Bu Jum, salah seorang pekerja di Bank Sampah Lakmus

Bu Jum, salah seorang pekerja di Bank Sampah Lakmus

Manfaat secara ekonomi tidak hanya dirasakan para nasabah BSL. Kegiatan pengelolaan sampah juga membuka lapangan pekerjaan bagi Amin dan Bu Jum. Amin, pemuda asal Jereweh, bekerja sebagai kurir yang mengumpulkan sampah dari rumah para nasabah. Sementara Bu Jum, perantau dari Jawa, bertugas memilah sekaligus mengelompokkan sampah berdasarkan jenis dan kualitasnya. Selain Amin dan Bu Jum, ada 3 orang lainnya yang bekerja di BSL.

Apa yang dilakukan Pak Taufikurrahman dan tim BSL membuktikan bahwa dengan kreativitas dan semangat tinggi, barang yang seolah sudah tidak berguna ternyata masih dapat diolah dan memiliki nilai ekonomis. Di BSL, sampah bisa diubah menjadi berkah.

Menjaring Rezeki dengan Coconet

Para pekerja di pabrik coconet

Para pekerja di pabrik coconet

Masih di Maluk, selanjutnya saya menyambangi pabrik coconet. Coconet adalah jaring-jaring yang terbuat dari anyaman serat sabut kelapa dengan lebar 2 meter dan panjang 15 meter. Coconet berfungsi sebagai penutup lapisan reklamasi area tambang agar tidak erosi sekaligus media tanam bagi benih yang disebar. Sebelum menggunakan coconet, tambang Batu HIjau menggunakan serat ijuk yang disebut juknet untuk menutup lapisan reklamasi. Juknet dibeli dari supplier di Surabaya.

Untuk memberdayakan warga lokal dan mendukung perekonomian setempat, Ridho Bersama mengembangkan pabrik coconet ini. Ridho Bersama merupakan sentra pemberdayaan masyarakat yang ada di Kabupaten Sumbawa Barat.

Bekerja sama membuat coconet

Bekerja sama membuat coconet

Coconet merupakan industri padat karya, yaitu jenis industri yang menyerap banyak tenaga kerja. Ada sekitar 52 karyawan yang bekerja di pabrik seluas 4 are itu. Mayoritas dari mereka adalah ibu rumah tangga. Dalam sehari mereka mampu memproduksi hingga 20 unit coconet. Setiap lembar coconet dihargai Rp 100.000. Dalam satu bulan, karyawan menerima penghasilan rata-rata sekitar Rp 2,9 juta hingga Rp 3,2 juta. Selain dijual untuk memenuhi kebutuhan tambang Batu Hijau, hasil produksi coconet dikirim juga ke Dompu untuk memenuhi permintaan konsumen di sana.

Rumput Laut Kertasari yang Penuh Potensi

Rumput laut Kertasari

Rumput laut Kertasari

Rumput laut adalah salah satu komoditas andalan Kabupaten Sumbawa Barat. Desa Kertasar, yang berada di pesisir Taliwang merupakan setra budidaya rumput laut dengan kualitas tinggi. Menurut salah seorang petani rumput laut yang saya jumpai, Pak Abdul Hamid, jenis rumput laut yang dibudidayakan di Kertasari adalah Eucheuma cottonii. Jenis ini biasanya dimanfaatkan untuk bahan baku kosmetik, obat-obatan, dan makanan.

Rata-rata sekali siklus masa tanam rumput laut adalah satu hingga satu setengah bulan. Dalam setahun para petani bisa panen sekitar 5 kali. Ada periode di mana mereka tidak menanam rumput laut, misalnya pada bulan April saat peralihan menuju angin timur atau bulan Oktober saat peralihan menuju angin barat. Pada masa pancaroba tersebut, arus laut cenderung lemah sehingga batang rumput laut akan cenderung tidak bergerak dan lama kelamaan tertutup pasir atau kotoran lalu mati. Rumput laut memang membutuhkan arus yang kuat agar batangnya senantiasa bergoyong sehingga terbebas dari kotoran. Para petani mengikat rumput laut dalam seutas tali sepanjang 10 hingga 12 meter yang dikenal dengan satuan ris. Tiap ris akan menghasilkan 1 kg rumput laut. Setiap keluarga umumnya membudidayakan setidaknya 300 ris. Setiap anggota keluarga, termasuk anak-anak, terlibat dalam proses budidaya rumput laut di lahan keluarga.

Hasil panen rumput laut dari para petani Kertasari ditampung dalam gudang penyimpanan yang disediakan oleh pemerintah daerah. Hal tersebut untuk menjaga stabilas harga jual rumput laut. Harga transaksi yang digunakan oleh para pengepul dan petani didasarkan pada harga pasar. Jika harga sedang bagus, setiap kuintal rumput laut kering dibanderol hingga Rp 1 juta. Akan tetapi, ketika kondisi sedang kurang bagus, harga bisa merosot sampai Rp 700.000 per kuintal. Seringkali fluktuasi harga membuat petani merugi karena biaya produksi tidak tertutupi dari penjualan hasil panen.

Kondisi itulah yang mendorong Ade Putra Maulana untuk merintis usaha pengolahan rumput laut menjadi aneka makanan ringan. Dengan diolah menjadi makanan ringan, nilai jual rumput laut akan meningkat dibanding dijual sebagai bahan mentah. Jenis jajanan yang pertama dia coba buat dari rumput laut adalah dodol. Setelah menyelesaikan studinya di Universitas Muhammadiyah Mataram, Ade memantapkan langkahnya berwirausaha mengolah rumput laut.

Untuk membantu menjalankan usahanya, Ade mempekerjakan 2 orang warga lokal. Mereka sanggup memproduksi 60 kotak dodol rumput laut dalam sehari. Selain dodol, mereka juga memproduksi snack stick dan tortila dengan bahan dasar rumput laut. Ade menggunakan merk dagang “Maulana” untuk memasarkan produknya. Merk tersebut sudah mendapat sertifikasi dari dinas kesehatan setempat. Pemasaran “Maulana” sudah sampai mataram. Dalam waktu dekat, produk itu akan dipasarkan dalam sebuah jaringan minimarket. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, Ade berniat memasarkan produknya secara online. Semangat seperti yang ditunjukkan Ade inilah diharapkan dapat menggerakkan masyarakat Kertasari untuk memberi nilai tambah pada rumput laut hasil budidaya mereka.

Itulah kisah yang saya peroleh dari perjalanan saya ke Sumbawa Barat.

Inspirasi bisa datang dari mana saja. Apa yang sudah dilakukan Pak Suhardi, Pak Taufikurrahman, Ade Putra Maulana, serta sosok-sosok lain di Sumbawa Barat yang mulai membangun kemandirian adalah inspirasi bagi para penyulut asa di daerah lain. Mereka tidak bergantung pada kondisi yang sudah ada. Alih-alih mengeluh, mereka memilih untuk mandiri dan terus berkarya. Mereka melakukan tindakan nyata dan menebar manfaat untuk sekitarnya.

Tentu ini adalah kabar baik untuk Indonesia. Negeri ini tidak pernah kekurangan penggerak. Yang kita butuhkan adalah sinergi. Salah satu cara paling sederhana dalam bersinergi adalah dengan terus menyebarkan kabar baik tentang Indonesia ke seluruh penjuru tanah air. Hal ini akan memotivasi kita untuk terus berkarya dan memberikan yang terbaik untuk Indonesia.

Anak-anak Sumbawa Barat

Anak-anak Sumbawa Barat

Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahkuhttps://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *