Menyimak Jejak Sejarah di Semarang

Semarang memiliki peran vital sepanjang sejarah kota ini ada. Letaknya yang berada di pesisir Laut Jawa membuat kota ini menjadi pintu masuk utama jalur perdagangan para saudagar Tiongkok dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Pulau Jawa. Saat nusantara ada dalam penguasaan kolonial, Semarang adalah salah satu kota penting. Asimilasi dan akulturasi dari beragam budaya menyatu dalam setiap jejak sejarah Kota Atlas ini. Bangunan-bangunan bergaya klasik masih berdiri kokoh, menjadi saksi betapa dinamisnya kehidupan dan perubahan di kota ini.

smg04 cov

Klenteng Sam Poo Kong

Pada abad ke-15, seorang panglima angkatan perang dari Tiongkok bernama Laksamana Cheng Ho memulai perjalanan mengelilingi dunia. Dia memimpin ratusan armada kapal. Perjalanan itu merupakan misi damai, bukan untuk berperang atau perebutan wilayah. Saat melintasi Laut Jawa, salah seorang anak buahnya sakit dan harus mendapatkan perawatan. Laksamana Cheng Ho memutuskan untuk berlabuh di sebuah daerah di pesisir utara Jawa. Tempat di mana sang laksamana singgah itu lantas dibangun tempat untuk beribadah dan ziarah.

Kini, petilasan itu dikenal dengan nama Klenteng Sam Po Kong. Kompleks itu terletak di daerah Simongan, Semarang. Oleh warga lokal, klenteng ini dikenal juga dengan nama Gedung Batu karena dulunya tempat ini berupa gua besar yang berada di tebing batu.

Berada di halaman klenteng membuat saya merasa seolah sedang berkunjung ke negeri tirai bambu. Ada 4 bangunan utama dengan arsitektur bergaya Tiongkok. Setiap bangunan memiliki fungsi masing-masing. Klenteng Thao Tee Kong misalnya. Bangunan ini merupakan tempat pemujaan Dewa Bumi untuk memohon berkah dan keselamatan hidup. Ragam ornamen khas Tiongkok dan warna dominan merah semakin meneguhkan kesan megah pada keseluruhan bangunan klenteng.

smg05

Pada salah satu sisi bangunan, terdapat relief yang menceritakan perjalanan Laksamana Cheng Ho dari daratan Tiongkong hingga sampai di Jawa Tengah. Laksaman Cheng Ho adalah seorang muslim. Dalam perjalanan itu, dia juga berdakwah tentang ajaran Islam di daerah-daerah yang dikunjunginya. Tidak hanya asimilasi budaya, Klenteng Sam Po Kong juga menunjukkan kerukunan antar umat beragama. Tempat petilasan seorang laksamana beragama muslim bisa berdampingan dengan rumah ibadah umat konghucu.

Lawang Sewu yang Tak Seseram Ceritanya

smg01

Apa yang pertama kali terlintas dalam pikiran anda ketika mendengar nama Lawang Sewu?

Hampir setiap orang yang saya tanya dengan kalimat di atas sepakat menjawab bahwa Lawang Sewu lekat dengan kata horor. Ada banyak mitos dan urban legend tentang Lawang Sewu. Banyak yang percaya bahwa ruang bawah tanah bangunan ini adalah penjara sekaligus tempat penyiksaan tawanan pada jaman kolonial. Pernah suatu ketika sebuah stasiun televisi swasta menyiarkan tayangan yang memperlihatkan dengan jelas ada hantu di ruang bawah tanah tersebut. Bahkan beberapa warga yang tinggal di sekitar Lawang Sewu mengaku pernah melihat penampakan Nona Helena, sosok noni Belanda dengan pakaian serba putih.

Bagaimanapun, semua mitos dan urban legend tersebut mungkin saja hanya cerita dari mulut ke mulut. Kebenaran cerita tersebut belum bisa dikonfirmasi kebenarannya.

Yang pasti, Lawang Sewu adalah sebuah mahakarya arsitektur yang masih kokoh berdiri hingga hari ini. Lawang Sewu dibangun pada tahun 1904 oleh Netherlandsch-Indische Spoorweg Maatscappij (NIS) untuk dijadikan kantor bagi perusahaan kereta api itu. Bangunan gedung ini terinspirasi oleh bentuk gerbong kereta api. Antar ruangan dibuat menyambung sejajar dan terhubung dengan pintu yang bagian atasnya berupa lengkungan, seperti pintu gerbong kereta. Material bangunan yang digunakan adalah material berkualitas wahid. Batu bata yang berusia lebih dari satu abad masih tampak kokoh. Rangka cor bangunan terbuat dari batangan rel kereta api. Di lobi utama, terdapat hiasan berupa kaca patri bernilai seni tinggi. Tangga lingkar di ruangan itu terbuat dari besi tebal yang didatangkan langsung dari Den Haag.

smg02

Saat ini Lawang Sewu dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia sebagai pemilik aset. Kondisi bangunan terawat dengan baik. Renovasi dan perawatan dilakukan secara berkala menjadikan kesan angker mulai pudar. Ruangan-ruangan di Lawang Sewu dimanfaatkan sebagai museum yang menyimpan berbagai dokumen, foto-foto kuno, dan memorabilia perkeretaapian di Indonesia.

Gereja Blenduk dan Kawasan Kota Lama

Seperti halnya kawasan Kota Tua di Jakarta, Semarang memiliki kawasan di mana berdiri bangunan-bangunan lawas bergaya kolonial. Kawasan ini bernama Kota Lama. Tak kurang dari 40 bangunan kuno ada di sini, baik yang masih terawat dan digunakan untuk aktivitas sehari-hari maupun yang tinggal puing-puingnya saja. Salah satu bangunan yang masih dalam kondisi prima adalah Gereja Blenduk.

Gereja Blenduk adalah gereja protestan pertama yang dibangun di Semarang. Reverend J. Lipsus membangun gereja ini pada tahun 1750 dan direnovasi oleh W. Westmaas dan H.P.A de Wilde pada tahun 1794. Jika dilihat dari atas, Gereja Blenduk memiliki bentuk segi delapan beraturan yang disebut oktagon. Di bagian tengah terdapat ruang induk.

Saat ini Gereja Blenduk masih berfungsi sebagai tempat ibadah seperti saat pertama kali dibangun. Desain arsitekturnya yang unik membuat icon Kota Lama ini sering dijadikan lokasi pemotretan pre-wedding maupun sasaran hunting foto. Tepat di samping gereja, ada sebuah taman dengan pepohonan besar. Taman Srigunting namanya. Ketika petang tiba, di tepi taman ada semacam lapak barang antik. Para pedagang menggelar aneka kamera tua, kaset tape, koin antik, hingga perabot rumah tangga kuno.

smg07

smg08

Semarang memiliki lembaran sejarah yang menarik untuk disimak. Selain keragaman alam dan budaya, kisah sejarah juga juga merupakan salah satu Pesona Indonesia. Pada masa kejayaannya, Semarang adalah kota kosmopolitan yang menjadi inspirasi bagi Batavia, Soerabaia,dan Bandoeng.

Terima kasih.

smg06

smg03


Tulisan ini merupakan bagian dari promosi pariwisata Pesona Indonesia. Seluruh rangkaian perjalanan diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *