Menyimak Biodiversitas Belantara Sulawesi

Berada dekat dengan garis Wallace yang merupakan pembatas fauna bertipe Asia dan Australia membuat Sulawesi memiliki banyak fauna endemik. Keanekaragaman hayati ini menjadi daya tarik yang tak lekang ditelusuri. Salah satu yang paling menarik adalah tarsius, si primata terkecil.

Jangan sebut Taman Nasional Tangkoko kepada penduduk lokal jika ingin bertanya bagaimana rute menuju ke sana. Dari tiga orang yang saya tanya, semuan menyebut arah yang berbeda. Orang pertama menunjukkan sebuah kebun binatang mini di tengah kota, orang kedua menunjukkan sebuah terminal angkot, dan orang ketiga malah menunjukkan arah menuju kantor polisi. Barulah dari seorang aparat di kantor polisi itu saya mendapat penjelasan rinci menuju taman nasional. Warga lokal lebih mengenal Taman Nasional Tangkoko dengan sebutan Objek Wisata Batu Putih. Memang di ujung kawasan taman nasional tersebut ada segaris pantai dengan pasir berwarna hitam pekat dan pecahan karang berwarna putih.

Taman nasional yang memiliki luas lebih dari 8.000 hektar ini terletak di Bitung, sebuah kabupaten yang terletak di sisi timur Sulawesi Utara. Perlu waktu sekitar 3 jam menyusuri jalur menantang sejauh 90 kilometer dari pusat Kota Manado. Hutan di Tangkoko terbilang lebat dengan vegetasi rapat. Setidaknya ada tiga gunung yang menjadi penyangga kawasan ini, yaitu dua puncak Gunung Dua Saudara, Gunung Tangkoko, dan Gunung Batuangus. Sejak tahun 1919, pemerintah kolonial Hindia Belanda sudah menetapkan wilayah ini sebagai kawasan konservasi yang dilindungi.

Fauna endemik yang berhabitat di sini antara lain burung maleo, babirusa, kera hitam yang disebut yaki, paniki atau kelelawar raksasa, dan si imut tarsius. Fauna terakhir inilah yang menjadi pemantik rasa penasaran para peneliti dan pejalan untuk datang ke Tangkoko. Tarsius memiliki dimensi tubuh paling kecil di antara primata lain. Ukurannya tak lebih dari segenggam tangan orang dewasa.

Di seluruh dunia ada 9 jenis tarsius yang masih bertahan hingga saat ini. Tujuh di antaranya terdapat di kepulauan Indonesia bagian tengah. Jenis yang paling terkenal adalah Tarsius spectra atau dalam bahasa lokal disebut tangkasi. Kata tarsius yang digunakan untuk menamai binatang ini berasal dari kata tarsal. Tarsius memang memiliki tulang tarsal atau kaki belakang yang panjang dan ramping. Dengan anatomi kaki seperti ini, tarsius sanggup melompat sejauh 3 meter atau sekitar 20 kali panjang tubuhnya.

Trekking untuk bertandang ke “rumah” tarsius biasanya dimulai pukul 17.00 dari pos masuk taman nasional. Dengan dipandu oleh petugas jagawana, pengunjung akan sampai di area pengamatan selewat petang hari. Tarsius adalah binatang nocturnal. Dia baru keluar dari sarang setelah hari gelap. Petugas akan memancing tarsius keluar dari sarang dengan menebar umpan berupa belalang, serangga mangsa favorit tarsius.

Tarsius hidup dalam kelompok kecil yang tinggal dalam pohon besar. Di kerimbunan Tangkoko, ada sebuah pohon beringin besar berjenis ficus yang menjadi tempat tinggal tarsius. Di rongga-rongga beringin itulah tarsius bersarang. Satu kelompok tarsius biasanya terdiri dari empat hingga enam individu, berbeda dengan primata lain yang hidup komunal dalam kelompok besar.

“Jangan mengarahkan kilat kamera ke arah tarsisus”, cerita seorang petugas taman nasional kepada saya. Tarsius memiliki mata lebar yang peka terhadap cahaya. Jika terkena cahaya terang secara tiba-tiba, tarsius secara reflek akan diam mematung selama beberapa saat. Hal ini jika terjadi berulang akan membuat tarsius stres dan terganggu.

Alfred Russel Wallace pernah singgah di Tangkoko pada tahun 1861. Naturalis berkebangsaan Inggris itu ingin memetakan keanekaragaman hayati dan mencari contoh spesimen spesies endemik seperti kuskus, anoa, babirusa, dan burung maleo. Dengan banyaknya fauna endemik Sulawesi yang tidak bisa ditemukan di tempat lain di muka Bumi, Wallace berargumen pulau ini telah terpisah dari daratan utama sejak jutaan tahun lalu.

Dari penjelajahan itu pula dicetuskan garis imajiner yang kita kenal dengan garis Wallace. Garis ini memisahkan jenis fauna bertipe Asia dan Australia. Garis Wallace melintas tepat di jantung belantara Sulawesi. Pulau ini memang menjadi endemik nyaman bagi binatang bertipe peralihan.

Tak hanya fauna, Tangkoko juga memiliki keanekaragaman flora yang cukup tinggi. Bentang alamnya menyajikan pengelompokan yang cukup lengkap. Di bagian yang dekat dengan pantai, dapat dijumpai hutan khas dataran rendah dengan pepohonan yang berukuran besar. Semakin mendekati kawasan puncak gunung, rimbunan pepohonan berganti dengan lembabnya hamparan lumut. Tumbuhan insektivora seperti kantong semar hidup di sini.

Di gerbang masuk taman nasional dibangun banyak penginapan yang menampung wisatawan dan peneliti asing yang berkunjung ke Tangkoko. Ada pusat informasi yang bisa dimanfaatkan untuk bertanya seputar biodiversitas di sana.Ketika banyak peneliti asing yang datang jauh-jauh ke Indonesia untuk belajar, sayang jika kita sebagai pewaris alam nan kaya ini tidak menaruh ketertarikan pada potensi itu. Maka menyimak keanekaragaman hayati di Tangkoko bisa menjadi alternatif untuk mulai belajar dan peduli.

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *