Menyikapi Persoalan Tambang dan Kelestarian Lingkungan secara Bijak

Masih lekat dalam ingatan kita tragedi Salim Kancil di Lumajang, Jawa Timur pada September tahun lalu. Salim dibunuh dengan keji oleh sekelompok mafia tambang yang terusik oleh sikap kritisnya dalam menolak aktivitas penambangan pasir besi di desanya. Penambangan pasir besi yang dilakukan di daerah pesisir pantai membuat air laut merembes ke lahan pertanian warga sehingga merusak tanaman yang dibudidayakan. Salim bersama petani lain menunjukkan sikap tegas menolak kegiatan penambangan di desanya. Tragis, perlawanan itu berujung maut.

Sementara itu, warga desa di sekitar perbukitan karst Watuputih di deretan Pegunungan Kendeng Utara, Rembang, Jawa Tengah tengah berjuang menghadapi pembangunan pabrik semen di sana. Salah satu korporasi besar di republik ini berencana menambang batuan kapur untuk diolah menjadi bahan baku semen. Warga khawatir, eksploitasi tambang akan merusak kelestarian sumber daya air yang selama ini menjadi sandaran dalam bertani dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kala kemarau datang, air dari Pegunungan Kendeng memang menjadi andalan bagi masyarakat Rembang dan sekitarnya.

Kita juga belum lupa bagaimana lumpur panas Lapindo telah mengubah hidup sebagian warga Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Sudah hampir satu dasawarsa berlalu tetapi semburan lumpur panas itu masih saja meninggalkan banyak masalah. Hak warga yang belum terbayar, infrastruktur layanan publik yang rusak, hingga tarik-menarik kepentingan politik dengan biaya yang tentu tidak murah. Lingkungan yang terdampak lumpur Lapindo tidak lagi layak ditinggali maupun dijadikan lahan pertanian karena mengandung material yang berbahaya bagi makhluk hidup.

Penurunan kualitas lingkungan adalah konsekuensi logis dari aktivitas penambangan. Perut bumi yang digali maupun kawasan hutan yang digunduli untuk tambang tidak akan bisa kembali seperti semula sehebat apapun upaya rehabilitasi yang dilakukan untuk memulihkannya. Pasti ada bagian yang terdegradasi.

Lalu, apakah aktivitas tambang harus dihentikan seluruhnya? Begitu besarkah efek destruktif tambang terhadap kelestarian lingkungan? Bagaimana kita dapat menyikapi dilema pertambangan secara bijak dan berimbang?

Salah satu pasal dalam konstitusi republik ini menyebutkan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pertambangan untuk mengambil material dari alam dan diolah menjadi komoditas bernilai ekonomi termasuk dalam lingkup yang diatur pasal tersebut. Kegiatan pertambangan dapat dilakukan, tentu dengan menempatkan kemakmuran rakyat sebagai prioritas, bukan kepentingan pihak-pihak tertentu. Tidak dapat dipungkiri, sektor pertambangan menjadi salah satu sumber penerimaan bagi negara. Sektor ini menyerap banyak tenaga kerja serta menopang perekonomian nasional untuk terus berputar.

Namun, pengelolaan lingkungan yang seharusnya menjadi prioritas seakan terabaikan. Pemulihan lingkungan setelah ditambang mestinya menjadi bagian yang terintegrasi dalam keseluruhan aktivitas pertambangan. Material tambang seperti minyak bumi, gas, emas, timah, tembaga, batu bara serta jenis mineral lainnya adalah sumber daya yang tidak terbarukan atau unrenewable resources. Material tersebut suatu saat akan habis dan pertambangan akan dihentikan karena tidak ekonomis lagi. Banyak terjadi kasus di mana setelah pertambangan berakhir, bekas lokasi tambang dibiarkan begitu saja tanpa ada upaya pemulihan lingkungan. Seharusnya, kawasan dan sumber daya alam yang terdampak kegiatan pertambangan dikembalikan ke kondisi aman dan produktif melalui rehabilitasi.

United Nations Environment Programme, badan PBB di bidang lingkungan hidup, mengklasifikasikan dampak kegiatan pertambangan terhadap lingkungan hidup menjadi 22 jenis. Klasifikasi tersebut antara lain kerusakan habitat dan biodiversitas pada lokasi pertambangan, perubahan lanskap dan kehilangan penggunaan lahan, limbah tambang dan pembuangan tailing, pelumpuran dan perubahan aliran sungai, perubahan air tanah dan kontaminasi, serta perubahan iklim. Perlu upaya serius dan berkelanjutan untuk mereduksi dampak-dampak tersebut agar lingkungan pulih.

Secara umum, kegiatan pertambangan terdiri dari 6 tahap, yaitu eksplorasi, ekstrasi dan pembuangan limbah batuan, pengolahan bijih dan operasional, penampungan tailing berikut pengolahan dan pembuangannya, pembangunan infrastruktur jalan akses dan sumber energi, serta pembangunan lokasi kerja dan kawasan pemukiman. Eksplorasi merupakan rangkaian kegiatan survei dan studi pendahuluan yang dilakukan sebelum berbagai kajian kelayakan.

Lokasi pertambangan terbuka di Indonesia

Lokasi pertambangan terbuka di Indonesia (foto oleh Griska R. Gunara)

Setelah melalui tahap eksplorasi, setiap tahapan berikutnya harus lulus kajian studi amdal atau analisis mengenai dampak lingkungan. Kajian amdal penting karena merupakan bentuk upaya menjaga lingkungan dari operasi tambang yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Kajian ini berisi informasi awal mengenai lingkungan yang akan ditambang, kerangka acuan kerja, analisis dampak lingkungan, rencana pemantauan lingkungan, serta rencana pengelolaan lingkungan. Dengan kajian yang memadai, amdal dapat menjadi pedoman dalam upaya penjagaan agar kegiatan tambang tidak memberikan dampak buruk bagi lingkungan.

Pengelolaan dan pembuangan tailing merupakan tahap kegiatan pertambangan yang menimbulkan dampak lingkungan sangat besar. Tailing biasanya berbentuk lumpur di mana 40-70% komposisinya berupa cairan. Kegagalan dalam pengelolaan dan pembuangan tailing merupakan petaka bagi lingkungan hidup di sekitar tambang. Masing-masing daerah tambang memiliki kondisi alam dan karakteristik yang berbeda. Pengelolaan tailing pada tambang yang terletak di pegunungan tentu berbeda dengan tambang yang berada di dekat pantai. Perusahaan tambang harus memperhatikan hal tersebut sehingga dapat menyiapkan desain pengelolaan dan pembuangan tailing yang tepat. Limbah yang dihasilkan dari proses tambang bervariasi, antara 10% hingga hampir 99% dari total bahan yang ditambang. Itulah mengapa aspek pengelolaan limbah atau tailing menjadi aspek vital dalam dunia pertambangan.

Rehabilitasi terhadap lingkungan hidup tidak hanya dilakukan saat penambangan telah usai. Dalam setiap tahap proses pertambangan, harus selalu ada rehabilitasi terhadap alam. Rehabilitasi merupakan kegiatan yang terus menerus dan berkelanjutan selama perusahaan tambang beroperasi hingga pasca penutupan operasi tambang. Jangan sampai masyarakat tidak lagi dapat bertani akibat tanah dan air di sekitar area pertambangan tercemar. Begitu pula dengan ekosistem hutan. Flora dan fauna jangan sampai kehilangan habitat alaminya.

Masyarakat perlu mendapatkan edukasi yang memadai tentang pengelolaan tambang dan dampaknya terhadap lingkungan hidup. Masyarakat harus tahu apa saja kewajiban perusahaan tambang dalam melestarikan lingkungan. Dengan pengetahuan yang dimiliki, akan tumbuh kesadaran dan sikap kritis masyarakat terhadap aktivitas pertambangan. Sikap kritis tersebut dapat berfungsi sebagai kontrol atas usaha pertambangan di Indonesia.

Dalam menjalankan program corporate social responsibility (CSR) di bidang lingkungan, perusahaan tambang perlu melibatkan masyarakat. Sinergi positif antara perusahaan tambang dan masyarakat dapat membuat upaya rehabilitasi lingkungan mencapai hasil yang lebih optimal. Bibit tanaman yang ditanam di lahan reklamasi bekas galian tambang dapat berkembang menjadi hutan apabila masyarakat ikut menjaga dan memelihara.

Aktivitas operasional pertambangan (foto oleh Griska R. Gunara)

Aktivitas operasional pertambangan (foto oleh Griska R. Gunara)

Upaya PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) menghelat Sustainable Mining Bootcamp merupakan langkah positif dalam memperkenalkan dunia pertambangan kepada publik. Belum banyak perusahaan tambang yang bersedia membuka diri kepada masyarakat untuk melihat secara langsung apa saja yang dilakukan di lokasi pertambangan. Selama ini mining site seolah seperti benteng tak tertembus. Masyarakat tidak memiliki akses informasi untuk mengetahui apa yang terjadi di balik pagar pembatas lokasi pertambangan dengan dunia luar. Keterbatasan informasi terkadang justru memunculkan dugaan yang keliru tentang dunia tambang dan membentuk citra negatif bagi publik.

Melalui kegiatan bootcamp, NNT memberikan kesempatan bagi mereka yang ingin tahu tentang seluk beluk dunia pertambangan dalam kaitannya dengan pengelolaan lingkungan. NNT memulai operasional tambang Batu Hijau di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat sejak tahun 2000. Material yang ditambang adalah tembaga dan emas sebagai mineral ikutan. Adalah sebuah pengalaman menarik dapat mendatangi secara langsung lokasi tambang serta melihat aktivitas penambangan di sana. Informasi yang memadai dan perspektif yang berimbang akan membuat masyarakat memiliki penilaian yang tepat terhadap dunia tambang.

Isu tentang pengelolaan lingkungan akan selalu muncul mengiringi berlangsungnya aktivitas penambangan. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Perusahaan tambang yang memiliki value positif bagi publik tentu adalah perusahaan yang menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan dan menempatan pengelolaan lingkungan sebagai prioritas. Perusahaan yang tidak hanya beroritentasi pada pencapaian profit semata, tetapi juga turut menjaga keseimbangan lingkungan dan kelestariannya secara berkesinambungan.

Tabik.

Tulisan ini dibuat untuk disertakan dalam Kompetisi Menulis bertema “Tambang dan Pengelolaan Lingkungan” yang diselenggarakan oleh PT Newmont Nusa Tenggara dan Metro TV

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

2 Comments

  1. Penasaran juga proses tailing ini 😀
    Semoga nanti di Bootcamp bisa lihat prosesnya langsung..

    • Iya, Dee. Ada satu hari di rangkaian bootcamp yang emang khusus bahas tailing dan pengelolaannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *