Menelusuri Kejayaan Kereta Api Uap Ambarawa

Judul Blog 01

Kereta api telah menjadi bagian dari bangsa Indonesia sejak satu setengah abad lalu. Ada banyak kisah dan beragam cerita menarik di dalamnya. Ambarawa, kota kecil yang berada di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah adalah tonggak penting dalam sejarah perkeretaapian nusantara. Kita dapat membuka kembali lembaran-lembaran kisah masa lalu sekaligus berwisata dengan berkunjung ke Museum Kereta Api Ambarawa.

Membuka Lembaran Sejarah

Keberadaan kereta api di Ambarawa tak bisa dilepaskan dari Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), jawatan kereta api pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Perusahaan itu kali pertama membangun jaringan rel kereta api di Semarang pada tahun 1864 dengan rute Stasiun Semarang menuju Stasiun Tanggung sejauh 25 kilometer. Rute ini dibangun untuk mengangkut komoditas pertanian dan perkebunan dari Jawa bagian selatan seperti Surakarta dan Yogyakarta untuk selanjutnya dikirim ke Eropa melalui pelabuhan. Hampir satu dekade berselang, NISM membuka rute Ambarawa-Kedungjati sejauh 37 kilometer. Jalur rel Semarang-Tanggung-Kedungjati-Ambarawa ini adalah rute pertama dalam sejarah perkeretaapian Indonesia.

Untuk kepentingan militer pasukan militer Belanda, NISM membangun rel lanjutan dari Ambarawa mengarah ke Secang dan Magelang. Dengan adanya jalur ini, militer Belanda saat itu dapat menghubungkan pos-pos pertahanan yang tersebar dari Semarang, Magelang, hingga Yogyakarta. Mobilisasi pasukan dan logistik perang pasukan Belanda menjadi lebih mudah dan cepat. Stasiun Ambarawa yang dikenal juga dengan nama Stasiun Willem I memiliki peran vital karena lokasinya berdekatan dengan banteng pertahanan Belanda.

Lokomotif di halaman museum

Lokomotif di halaman museum

Topografi di Ambarawa dan sekitarnya yang berbukit-bukit membuat para insinyur Belanda memutar otak, memikirkan cara jitu agar mampu membangun rel yang bisa dilalui kereta api dengan aman. Lalu ditemukanlah teknologi rel kereta api narrow gaude dengan lebar 1067 milimeter. Selain menekan biaya pembangunan, rel yang dilengkapi gerigi di tengahnya ini dapat membantu lokomotif melaju dengan aman di medan yang berat.

Di dunia, rel bergerigi macam ini hanya dapat ditemukan di tiga negara, yaitu Swiss, India, dan Indonesia. Swiss memiliki jalur kereta api bergerigi bernama Brunig Line. Jalur ini menghubungkan Interlaken dan Giswil yang mengular di sepanjang pegunungan Alpen. Sementara di India rel semacam ini terdapat di Rewari. Di Indonesia, rel unik ini bisa kita jumpai di Ambarawa dan Sawahlunto, Sumatera Barat.

Seiring berjalannya waktu, Belanda mengembangkan wilayah Ambarawa dan sekitarnya sebagai area perkebunan. Wilayah ini memiliki tanah yang subur dan suhu udara yang cocok untuk tanaman industri seperti kopi, merica, dan cengkeh. Jalur kereta api Ambarawa selanjutnya digunakan juga untuk mengangkut hasil perkebunan itu.

Setelah republik ini merdeka, pengelolaan atas infrastruktur perkeretaapian dikuasai sepenuhnya oleh pemerintah Indonesia. Rute Ambarawa-Kedungjati pernah mengalami kejayaan pada kisaran 1960-an. Pada saat itu dalam satu hari ada empat kali pemberangkatan kereta api. Selain untuk transportasi penumpang, kereta api di rute ini berperan penting dalam distribusi berbagai komoditas ekonomi seperti hasil pertanian, peternakan, hingga balok-balok kayu jati.

Namun, memasuki dekade 1970-an, kejayaan kereta api Ambarawa itu perlahan meredup. Angkutan kereta api saat itu kalah bersaing dengan angkutan jalan raya seperti mobil, bus, atau truk. Penumpang kereta terus menurun jumlahnya. Fungsi sebagai jalur mobilisasi militer juga tak lagi berjalan. Pengangkutan hasil kebun beralih ke truk karena lebih cepat. Tepat pada 6 Oktober 1976 Stasiun Ambarawa dialihfungsikan menjadi museum kereta api. Kereta api pun berhenti beroperasi melayani rute Ambarawa-Kedungjati. Jaringan rel yang dulu membentang dari Semarang hingga Yogyakarta, perlahan menyusut hingga menyisakan rute Ambarawa-Bedono dan Ambarawa-Tuntang saja.

Kejayaan yang Kembali Bangkit Melalui Pariwisata

Cerita tentang sejarah perkeretaapian Indonesia bisa disimak di Museum Kereta Api Ambarawa. Museum ini memiliki setidaknya 26 koleksi lokomotif tua beragam jenis. Ada banyak kisah yang tersimpan di lokomotif-lokomotif tua itu. Lokomoif berkode C-28 misalnya, lokomotif buatan Jerman itu menarik gerbong yang ditumpangi Presiden Soekarno, Wakil Presiden Hatta, serta para menteri kabinetnya dari Jakarta ke Yogyakarta pada masa revolusi kemerdekaan tahun 1946 untuk menghindari serbuan tentara Sekutu yang telah menguasai ibukota. Ada juga cerita tentang lokomotif D5106. Lokomotif ini dulu digunakan untuk mengangkut jemaah haji dan logistik tentara Turki di jalur Hedjaz Railway yang menghubungkan Damaskus dengan Madinah.

Dari koleksi lokomotif tersebut, terdapat tiga lokomotif uap yang masih dapat beroperasi dengan baik hingga sekarang. Satu lokomotif uap dengan seri 5112 buatan pabrik Hanomagg and Hartman, Jerman tahun 1900. Dua lagi adalah lokomotif uap buatan Maschinefabriek Esslingen yang telah berusia lebih dari satu abad. Kedua lokomotif yang diberi kode B2502 dan B2503 ini spesial. Pasalnya, mereka adalah lokomotif uap yang memiliki teknologi khusus berupa gerigi untuk melibas jalur tanjakan.

Cara kerja lokomotif uap ini sama dengan lokomotif bermesin uap pertama yang dibuat George Stephenson, sang Bapak Kereta Api Dunia. Sistem penggerak lokomotif bermula dari air yang dialirkan ke ketel uap lalu dipanaskan dengan bahan bakar kayu. Bahan bakar yang dipakai adalah kayu jati karena mampu menghasilkan panas dengan optimal. Air yang sudah panas akan menghasilkan uap. Uap tersebut menggerakkan piston pada roda lokomotif. Semakin kuat uapnya, semakin kencang kereta api akan melaju. Sayang, onderdil asli lokomotif ini sudah tidak diproduksi lagi. Jadi, lokomotif harus benar-benar dirawat dengan telaten.

Lokomotif uap yang berusia lebih dari satu abad dan masih bertahan hingga kini

Lokomotif uap yang berusia lebih dari satu abad dan masih bertahan hingga kini

Museum Kereta Api Ambarawa dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia. Beberapa tahun lalu, PT KAI melakukan renovasi besar-besaran. Tata letak lokomotif yang tersebar di halaman museum dirombak, infrstruktur pendukung wisata dibangun, barang-barang koleksi ditata dengan apik, serta pelayanan kepada pengunjung ditingkatkan. Perjalanan kereta api wisata dibuat terjadwal dan tersedia dalam dua rute, Ambarawa-Tuntang serta Ambarawa-Bedono. Dengan wajah baru yang lebih segar dan menarik ini, wisatawan yang datang semakin banyak.

Pasca renovasi, saya beberapa kali berkunjung ke Museum Kereta Api Ambarawa. Suatu waktu, saya naik kereta api wisata dengan rute Ambarawa-Tuntang. Ada tiga jadwal pemberangkatan untuk rute sejauh 12 kilometer ini, saya memilih pemberangkatan paling pagi saat pengunjung belum terlalu banyak. Tiket rute ini dibanderol dengan harga Rp50.000 per orang sekali jalan.

Tepat pukul 10.00 peluit panjang berbunyi, saatnya kereta berangkat. Sebuah lokomotif berkelir hijau tua-kuning perlahan menarik tiga gerbong kayu berwarna senada. Untuk rute Ambarawa-Tuntang, lokomotif yang digunakan memang bukan lokomotif bertenaga uap, melainkan lokomotif diesel hidrolik. Lokomotif yang berkode D30023 ini buatan pabrik Fried Krupp, Jerman. Usianya setengah abad lebih. Rangkaian kereta bergerak membelah pedesaan di pinggir Ambarawa. Di sisi kanan kereta, tampak pemandangan menawan. Persawahan yang membentang hijau berbatasan langsung dengan permukaan air Rawa Pening. Di kejauhan, Gunung Merbabu dan Telomoyo menjulang gagah seolah memagari lanskap ini.

Panorama yang dilihat dalam perjalanan menuju Tuntang

Panorama yang dilihat dalam perjalanan menuju Tuntang

Perjalanan menuju Stasiun Tuntang memakan waktu kurang lebih setengah jam. Sesampai di Tuntang, sembari menunggu lokomotif berpindah posisi, saya berkeliling di sekitar stasiun. Kembali aktifnya jalur Ambarawa-Tuntang merupakan hasil revitalisasi yang dilakukan PT KAI. Sebelumnya, banyak bagian besi rel dan kayu bantalan rel yang dicuri. Saat ini pemerintah tengah melanjutkan revitalisasi rel dari Stasiun Tuntang melintasi Stasiun Kedungjati hingga Stasiun Tawang di Semarang. Jika revitalisasi ini berhasil, kelak kereta api dari Jakarta dapat mencapai Ambarawa.

Dari Stasiun Tuntang, kereta wisata kembali bertolak ke Stasiun Ambarawa. Waktu tempuhnya hampir sama dengan saat berangkat. Rupanya, lokomotif diesel dan gerbong kayu yang saya naiki itu adalah rangkaian kereta yang sama yang dulu pernah beroperasi pada tahun 1960-an melayani rute Ambarawa-Kedungjati.

Saat kereta akan sampai Stasiun Tuntang, penumpang dapat melihat pemandangan Rawa Pening dari dalam gerbong

Saat kereta akan sampai Stasiun Tuntang, penumpang dapat melihat pemandangan Rawa Pening dari dalam gerbong

Kembali menuju Ambarawa dari Tuntang

Kembali menuju Ambarawa dari Tuntang

Di lain waktu, saya berkesempatan mencoba perjalanan kereta wisata rute Ambarawa-Bedono. Rute ini istimewa sebab lokomotif yang digunakan untuk menarik gerbong adalah lokomotif uap bergerigi. Berbeda dengan perjalanan Ambarawa-Tuntang yang tersedia tiket regular yang dapat dibeli perorangan, perjalanan kereta wisata Ambarawa-Bedono menerapkan sistem paket sewa. Kereta uap ini disewakan dengan harga Rp 15 juta untuk tiga gerbong dengan kapasitas 120 penumpang. Lumayan mahal memang, tetapi setara dengan pengalaman yang didapat.

Asap putih pekat keluar dari cerobong lokomotif menandai keberangkatan saya menaiki kereta uap legendaris itu. Rangkaian ular besi bergerak ke barat membelah hamparan sawah, pedesaan, dan perkebunan menuju Stasiun Bedono. Kereta bergerak dengan kecepatan tak lebih dari 20 kilometer per jam. Angin sepoi-sepoi masuk ke dalam gerbong kayu berpadu dengan aroma kayu jati yang khas yang berasal dari dapur pembakaran lokomotif.

Setelah menempuh perjalanan sekitar enam kilometer, rangkaian kereta tiba di Stasiun Jambu. Di tempat ini lokomotif bertukar posisi ke belakang gerbong. Lokomotif tak lagi menarik rangkaian tetapi mendorong dari belakang. Rel di jalur ini dilengkapi dengan gerigi di tengahnya untuk membantu kereta mengatasi momentum tanjakan. Medan tanjakan sepanjang empat kilometer yang curam dari Jambu menuju Bedono disiasati dengan cara itu.

Stasiun Bedono yang merupakan titik akhir perjalanan ini adalah stasiun tua. Stasiun ini mulai beroperasi sejak awal tahun 1905. Setelah berhenti sejenak di Stasiun Bedono, rangkaian kereta kembali ke Stasiun Ambarawa. Perjalanan kereta wisata ini total berdurasi hampir dua jam.

Wisatawan menikmati pengalaman dengan gerbong kayu

Wisatawan menikmati pengalaman perjalanan dengan gerbong kayu

Tiba di Stasiun Ambarawa, saya melanjutkan wisata sejarah ini dengan melihat koleksi benda-benda jadoel yang berhubungan dengan dunia kereta api. Di ruangan display museum saya melihat jam dinding kuno, peluit dan papan penanda keberangkatan kereta, mesin sinyal wesel, telepon antik, dan foto-foto dokumentasi perkembangan kereta api dari jaman kolonial Belanda hingga kini. Di halaman depan museum, terdapat tulisan ikonik I Ambarawa yang mengingatkan saya akan tulisan I Amsterdam di depan bandara Schiphol, Belanda.

Museum Kereta Api Ambarawa adalah salah satu pesona Kabupaten Semarang yang tak hanya populer di kalangan wisatawan dalam negeri. Tak jarang, serombongan turis mancanegara bertetirah ke tempat ini dan bernostalgia piknik naik kereta api uap. Bagi saya, berkunjung ke Museum Kereta Api Ambarawa tak hanya tentang berwisata atau jalan-jalan semata. Ada kisah sejarah dan pengingat kejayaan masa lalu kereta api di tempat ini.

Koleksi lokomotif di Museum Kereta Api Ambarawa

Koleksi lokomotif di Museum Kereta Api Ambarawa

Tampilan koleksi museum menjadi lebih menarik pasca renovasi

Tampilan koleksi museum menjadi lebih menarik pasca renovasi

Sang legenda

Sang legenda

(Tulisan ini mendapat apresiasi sebagai Juara II dalam Lomba Blog Pesona Kabupaten Semarang)

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *