Menebus Utang kepada Bumi

Pada prinsipnya kegiatan pertambangan adalah mengambil sesuatu dari Bumi. Alam yang ditambang tak lagi bisa kembali seperti semula. Material bernilai ekonomis diambil, sementera materi yang tak bermanfaat akan ditinggalkan. Ibarat dua sisi mata uang, isu kerusakan lingkungan selalu ada bersamaan dalam setiap kegiatan pertambangan. Menjadi penting bagaimana suatu perusahaan tambang memperlakukan Bumi setelah memperoleh keuntungan darinya.

cover05

Sumbawa siang itu sedang panas terik. Seolah matahari berada lebih dekat dengan bumi. Debu-debu beterbangan saat truk-truk raksasa melintas di jalur yang menghubungkan lokasi tambang ke pabrik pengolahan. Tak main-main. Sekali angkut, sekitar 240 ton batuan terbawa. Lubang perut Bumi yang digali lebih dahsyat lagi. Lubang tambang yang disebut pit itu memiliki diameter mencapai 2,4 kilometer dengan kedalaman mencapai 540 meter. Miris juga melihat lubang sebesar itu. Setiap hari batuan yang ditambang berkisar 100.000 hingga 140.000 ton.

Realita itulah yang kami lihat secara langsung saat berkunjung ke lokasi tambang Batu Hijau di Sumbawa Barat. Tambang yang dikelola oleh PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) itu menghasilkan tembaga dan emas. Hitungan kasarnya, setiap ton batuan yang ditambang akan menghasilkan lima hingga sepuluh kilogram tembaga dan setengah gram emas. Dengan skala penambangan yang begitu masif, pertanyaan tentang pengelolaan lingkungan lantas menyeruak. Bagaimana alam dipulihkan setelah diambil manfaatnya harus terjawab secara jelas dan transparan.

Kontrak karya PT NNT dengan pemerintah Indonesia disetujui pada tahun 1986. Sebagai salah satu syaratnya, PT NNT harus memiliki AMDAL atau Analisis Mengenai Dampak Lingkungan sebelum memulai operasi. Semua potensi dampak pertambangan terhadap tanah, air, udara, sumber-sumber biologis dan sosial harus dapat dipetakan, baik sebelum, selama, hingga sesudah kegiatan pertambangan selesai dilakukan. Pengelolaan dan pemantauan harus dilakukan untuk meminimalisasi potensi dampak negatif terhadap lingkungan.

Dalam perencanaan pertambangan, kegiatan penambangan di Batu Hijau terbagi dalam tujuh fase yang dimulai sejak tahun 2000. Tahun 2016 ini penambangan sudah memasuki fase keenam. Rehabilitasi dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan. Jika suatu fase penambangan sudah selesai, penambangan akan berlanjut ke fase berikutnya. Area yang sudah tidak lagi ditambang akan segera direklamasi. Dalam proses penambangan, yang diambil adalah batuan dengan kandungan mineral. Lapisan tanah yang ada di atasnya diambil lalu disimpan di tempat yang disebut soil stockpile. Material tanah itulah yang digunakan untuk reklamasi.

Dinding pit diratakan dengan tanah hingga mencapai kemiringan tertentu yang memungkinkan bisa menyimpan air dan tanaman dapat tumbuh. Lapisan tersebut kemudian dipadatkan. Setelah lahan siap, berikutnya dilakukan revegetasi atau penanaman kembali. Bibit yang ditanam adalah jenis tanaman yang dapat membentuk vegetasi rapat sehingga bisa mengembalikan kondisi menyerupai hutan seperti semula. Saat mengunjungi area reklamasi dalam rangkaian kegiatan bootcamp, peserta diajak melakukan revegetasi. Bibit yang ditanam adalah pohon ipil. Pohon ini dapat mencapai usia hingga lebih dari 100 tahun. Hingga akhir Februari 2016, bibit yang disemai sebanyak 42.000. Target reklamasi lahan tahun ini adalah 35 hektar. Reklamasi dianggap berhasil jika dalam setiap hektar area dapat tumbuh 625 pohon besar. Hingga tahun 2016, keseluruhan lahan yang sudah direklamasi adalah 799 hektar.

Perkembangan reklamasi lahan dari tahun ke tahun

Perkembangan reklamasi lahan dari tahun ke tahun

Selain reklamasi lahan, aspek yang tak kalah penting adalah penanganan air tambang. Di dasar pit terdapat genangan air yang cukup luas dan dalam. Saat musim penghujan tiba, volume genangan air tersebut akan meningkat. Jika dipandang dari jauh, genangan air tambang itu memang tampak mempesona. Warnanya hijau toska, sekilas seperti kawah Danau Kelimutu di Flores. Namun, air tambang tersebut berbahaya karena mengandung mineral terlarut yang bersifat asam. Tingkat pH air tambang tersebut mencapai 2 sampai 3.

PT NNT membuat suatu sistem tertutup untuk mengelola air tambang. Air tersebut dipompa melalui pipa dari dasar pit menuju kolam-kolam katala. Di kolam tersebut kandungan mineral yang terlarut dalam air diendapkan. Selanjutnya, air dialirkan ke dam penampung. Ada tiga dam, yaitu Santong I, Santong II, dan Santong III. Air tambang ditampung secara bertahap di tiga dam tersebut dan dipantau kualitasnya. Apabila kondisi air sudah memenuhi baku mutu, barulah air tersebut dialirkan keluar dari area tambang ke lingkungan bebas. PT NNT juga membangun saluran pengalih di sekeliling area Batu Hijau. Saluran tersebut berfungsi memisahkan air alami yang meresap dari hutan atau pegunungan agar tidak tercampur air dari dalam lokasi tambang.

Air terdampak tambang ini dialirkan di saluran pengalih agar tidak bercampur dengan air bersih dari luar tambang

Air terdampak tambang ini dialirkan di saluran pengalih agar tidak bercampur dengan air bersih dari luar tambang

Isu paling krusial dalam hubungan pertambangan dengan lingkungan adalah tentang pembuangan tailing. Dalam setiap aktivitas pertambangan, tailing adalah sesuatu yang pasti dihasilkan dan tidak bisa dieliminasi. Tailing merupakan produk akhir dari proses pertambangan yang memiliki karakteristik dasar serupa dengan bijih maupun konsentrat. Namun, tailing tidak lagi mengandung mineral bernilai ekonomis. PT NNT menggunakan metode fisika dalam mengolah bijih. Unsur kimia yang digunakan hanyalah reagen sebagai pengubah sifat permukaan bijih. Reagen mudah terurai. Berdasarkan hasil pengujian berkala yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Oceanografi LIPI, tailing yang dihasilkan dari tambang Batu Hijau tidak mengandung unsur yang beracun.

Ada dua alternatif dalam mengelola tailing. Pertama, tailing ditempatkan di darat dengan membuat dam penampungan. Kedua, tailing dialirkan ke laut menuju palung yang ada di selatan Sumbawa. Jika tailing ditempatkan di darat, lahan yang dibutuhkan untuk membuat dam adalah sekitar 2.100 hektar. Pembangunan dam seluas itu dapat menggusur hutan dan lahan pertanian produktif. Tingkat curah hujan di area Batu Hijau sekitar 2.500 milimeter per tahun. Hal tersebut akan membuat air di dalam dam penampung sulit dikelola. Selain itu, Sumbawa berada di lempeng tektonik yang rawan gempa. Apabila dinding dam retak akibat gempa dan tailing mengalir ke area pemukiman warga, dampak negatif yang ditimbulkan akan sangat besar.

Dengan berbagai pertimbangan teknis dan ilmiah, dipilih alternatif kedua. Tailing dari pabrik pengolahan dialirkan melalui pipa menuju palung laut di Teluk Senunu. Ujung pipa berada 125 meter dari permukaan laut dan berjarak 3,2 kilometer dari tepi pantai. Berat jenis tailing lebih besar dibanding air laut sehingga secara alami tailing akan mengendap di dasar palung dengan kedalaman 4.000 meter. Metode penempatan tailing ini dikenal dengan istilah Deep Sea Tailing Placement. Metode ini juga digunakan dalam aktivitas pertambangan di Inggris, Perancis, Cile, Norwegia, dan Turki.

Area yang menjadi lokasi penempatan tailing ini dipetakan secara presisi dan diberi kode zona A. Zona tersebut dipantau secara ketat dan berkala. Pemantauan dilakukan oleh pihak internal PT NNT melalui Departemen Environment maupun pihak eksternal yang independen seperti Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization (CSIRO) dari Australia dan peneliti dari Indonesia. Objek penelitian meliputi mutu air, sedimen, dan ikan di sekitar Teluk Senunu hingga perairan Lombok dan Selat Alas. Hasil kajiannya, kandungan mineral terlarut di semua lokasi dan semua kedalaman berada di batas aman serta tidak mencemari air laut.

Jalur pipa saluran tailing menuju laut

Jalur pipa saluran tailing menuju laut

Peserta bootcamp dilibatkan dalam pemantauan rutin yang dilakukan oleh Departemen Environment PT NNT. Dengan menaiki kapal riset Tenggara Explorer, mereka berlayar hingga lebih dari dua jam menuju lepas pantai Teluk Senunu. Di beberapa titik yang ditentukan, mereka menurunkan alat yang disebut rosette sampler ke kedalaman laut tertentu untuk mengambil sampel air dan sedimen. Sampel tersebut akan diteliti serta sebagian lagi dikirimkan ke laboratorium independen di luar perusahaan untuk mendapatkan hasil pengujian yang lebih valid dan objektif.

Bisnis pertambangan adalah bisnis yang melibatkan banyak pemangku kepentingan. Dengan menerapkan standar tinggi dalam pengelolaan tailing, sebenarnya PT NNT bertaruh dengan reputasinya sebagai perusahaan berkelas dunia. Apabila terkuak bahwa ada prosedur yang dilanggar sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan, ada bermacam konsekuensi yang akan dihadapi PT NNT. Dari penghentian izin operasi oleh pemerintah, kehilangan pembeli produk di pasar dunia, hingga menurunnya goodwill perusahaan.

Beberapa hari berada di area tambang Batu Hijau membuat kami tahu bahwa proses reklamasi lingkungan menjadi aspek yang tidak kalah penting dari proses pengambilan hasil tambang dari perut bumi. Dua hal tersebut saling mempengaruhi. Pelanggaran prosedur di salah satu aspek akan berdampak pada aspek lainnya. Perut bumi yang digali harus segera direklamasi. Tidak perlu menunggu hingga deposit mineral berharga menipis baru bertindak. Pemulihan lingkungan memang sudah seharusnya dilaksanakan secara berkesinambungan.

(AK)

Satwa endemik seperti elang kembali berhabitat di lahan reklamasi

Satwa endemik seperti elang kembali berhabitat di lahan reklamasi

Rerumputan di area tambang Batu Hijau

Rerumputan di area tambang Batu Hijau

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

16 Comments

  1. Informative.

    • Siap, Bli..

  2. Kece badai tulisan ini. Bravo Mas Adhi :)

    • Terima kasih, Bu Evi. Terinspirasi dari tulisan-tulisan Bu Evi juga

  3. Newmont Nusa Tenggara telah melakukan kewajiban dgn mengembalikan fungsi alam sbnrnya setelah penambangan. Salut

    • Iya, Mas Didik. Berupaya mengembalikan alam seperti semula, meski tidak akan lagi sama.

  4. Mas, kasih resep rajin nulis sna berbobot gini dong….

    • Biar bisa mengulas kisahnya Pak Markus, Bu Donna..wkwkwk

  5. Pencapaiannya jelas ya dan terukur. Di lapangan terlihat kondisi sebenarnya. Mengambil dari alam dan mengembalikannya dalam bentuk manfaat kepada manusia dan alam itu sendiri

    • Iya, Bu Donna. Selama ini kadang kita melihatnya hanya dari sisi pengerukan sumber daya alamnya saja. Proses reklamasi dan pengelolaan lingkungan seolah tidak kita simak lebih dalam. He5

  6. wooowww, tulisannya inspiratif dan informatif sekali Mas Adhi.. Kereeennzz, jadi tau info bahwa masih ada perusahaan besar yang benar-benar peduli dengan lingkungan, bukan hanya mementingkan keuntungan perusahaan saja..

    • Terima kasih, Mbak kurnia
      Perusahaan berskala internasional biasanya memiliki standar tinggi dalam menjalankan operasinya, termasuk dalam hal pelestarian lingkungan. Ada prosedur dan baku mutu yang harus terpenuhi.

  7. gambarnya bagus mas adhi #salahfokus… tulisannya bagus juga #jempol…
    kontrak sampai tahun 2035 itu mencakup berapa hektare tanah dari awal kontrak dulu mas adhi? pertambangannya itu cukup disatu area atau jika dirasa kandungan tembaga dan emas berkurang di area tersebut maka akan dilakukan pertambangan di area yang berbeda? sori, saya masih belum paham pertambangan… ^_^…

    • Kalau Batu Hijau saja, luasnya sekitar 37.730 hektar. Kontrak karya PT NNT beserta prospeknya sekitar 66.422 hektare berdasarkan nota kesepakatan dengan pemerintah Indonesia pada 9 September 2014. Itu termasuk juga area lain di luar Batu Hijau, seperti Lunyuk, Elang, dan Rinti. Di tempat-tempat itu saat ini sedang diteliti kandungan mineralnya. Kalau dianggap cukup menguntungkan, tambang akan dibuka juga di daerah itu.

      Betul, Sis. Jika kandungan mineral di Batu Hijau habis, pertambangan akan dilakukan di area yang berbeda.

  8. Kalau dilihat dari keuntungan yang didapat oleh PT.NNT selama ini, apakah “pembayaran hutang” untuk mengembalikan kondisi alam sudah sepadan?

    • “Pembayaran utang” itu dilakukan dengan cara mereklamasi lahan bekas area tambang secara berkesinambungan. Jadi sebelum kontrak karya berakhir, reklamasi sudah mulai dijalankan. Pengelolaan tailing dilakukan sesuai standar yang ditetapkan pemerintah. Dari tahun 2002 hingga 2015, Kementerian Lingkungan Hidup memberikan predikat biru dan hijau kepada PT NNT, artinya semua kriteria pelestarian lingkungan sudah dijalankan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *