Memantau Reefball, Mengagumi Pesona Bawah Air Teluk Benete

Siang itu ombak di Teluk Benete tidak begitu besar. Cuaca di ujung barat Pulau Sumbawa itu sedang bagus. Saya terapung di permukaan laut dengan seperangkat self-contained underwater breathing apparatus terpasang di badan. Bersama tim dari PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT), saya bersiap menyelam di teluk yang juga menjadi dermaga bongkar muat barang. Kami dijadwalkan melakukan pemantauan reefball atau terumbu karang buatan yang ditempatkan di dasar laut.

DCIM132GOPRO

DCIM132GOPRO

Ada tiga peserta bootcamp yang mendapat kesempatan menyelam bersama para dive master dari Departemen Environment PT NTT, yaitu saya, Danang, dan Bram. Danang bergabung dengan tim pertama bersama Pak Mukhlis sebagai dive master. Sementara saya dan Bram dipimpin Pak Hidayat sebagai dive master tim kedua. “Kosongkan udara di BCD, kita turun perlahan sesuai aba-aba saya,” Pak Hidayat memberi instruksi kepada kami. BCD atau buoyancy control device adalah semacam rompi dengan kantung udara yang bisa diisi atau dikosongkan sehingga berfungsi sebagai alat pengendali saat menyelam, apakah ingin terapung atau tenggelam.

Saya berusaha mengosongkan BCD, tetapi tak kunjung membuat saya tenggelam. Sementara rekan setim sudah tidak terlihat lagi di permukaan. Berbulan-bulan tidak menyelam membuat saya gagap dengan teknik penyelaman. Rupanya Pak Hidayat tanggap dengan kondisi saya. Dia segera menarik saya dan membantu saya turun perlahan hingga kedalaman 12 meter. Setelah membantu saya menstabilkan posisi, dive master yang sudah memiliki jam puluhan tahun itu menanyakan kondisi saya dengan isyarat tangan. Saya membalas dengan melingkarkan jari telunjuk ke ibu jari sementara tiga jari lainnya mengarah ke atas, kode bahwa semua baik-baik saja.

Kami berada di lokasi penyelaman yang diberi nama Reefball Point. Di area inilah sejak tahun 2004 PT NNT menempatkan reefball. Sebagian besar penampang dasar laut Teluk Benete berupa pasir. Ada dua koloni terumbu karang alami yang terpisah oleh penampang pasir tersebut. Tujuan dari penempatan reefball di lokasi ini adalah sebagai penghubung antar koloni terumbu karang alami. Dengan terhubungnya koloni terumbu karang alami tersebut, luas tutupan terumbu karang akan bertambah. Reefball membentuk ekosistem terumbu karang baru dan merupakan habitat ideal bagi beragam biota laut. Diharapkan populasi biota laut tersebut terus bertambah dengan penempatan reefball ini.

Memantau kondisi reefball

Memantau kondisi reefball

Reefball terbuat dari beton yang dibentuk setengah bola dengan diamter satu hingga dua meter. Ada ruangan di dalam reefball dengan beberapa lubang untuk sirkulasi air sekaligus tempat keluar masuk ikan. Berat setiap reefball lebih dari 100 kg. Perlu kerja keras ekstra untuk menempatkan reefball di lokasi-lokasi yang ditentukan.

Pak Hidayat yang berada di depan memandu saya mengelilingi area reefball. Setelah lebih dari satu dekade sejak ditempatkan, kini permukaan reefball sudah nyaris tertutup seluruhnya oleh terumbu karang, baik jenis soft coral maupun hard coral. Beberapa kali kami menjumpai kawanan ikan melintas di sekitar area reefball. Aneka rupa alga dan seafan tumbuh subur di sela-sela reefball.

Saat mengecek tekanan udara di regulator, rupanya monitor sudah menunjukkan angka 45 bar. Saya melewati batas aman yang ditoleransi, yaitu 50 bar. Saya segera memberikan kode ke Pak Hidayat dengan mengacungkan ibu jari seperti simbol likes di media sosial. Itu artinya aba-aba untuk kembali ke permukaan. Kandungan oksigen di tabung sudah menipis. Perlahan kami naik ke permukaan sembari memberi kesempatan tubuh untuk beradaptasi dengan tekanan air.

Setelah sampai di permukaan, kami mendekat ke kapal cepat Tenggara Dua. Kapal inilah yang membawa kami dari dermaga menuju area penyelaman. Rekan-rekan dari tim pertama sudah lebih dulu berada di kapal. Penyelaman akan dilanjutkan ke spot berikutnya. Untuk alasan prosedur keamanan dalam penyelaman, antara satu penyelaman dengan penyelaman lain harus diberi jeda 30 hingga 45 menit. Jeda itu merupakan kesempatan bagi tubuh untuk mengeluarkan kadar nitrogen yang dihirup dari tabung SCUBA selama penyelaman.

Spot berikutnya yang kami tuju adalah Monkey Beach. Lokasi ini berada di sisi yang berseberangan dengan dermaga. Arus di area ini lebih deras dibandingkan dengan Reefball Point. Pak Hidayat meminta kami bersiap. Lantas kami bergantian meninggalkan kapal dengan cara giant step, yaitu membuka langkah lebar-lebar dan langsung menceburkan diri ke laut. Pada sesi kedua ini saya lebih lancar dalam menjalankan prosedur penyelaman.

Kondisi bawah laut di Teluk Benete

Kondisi bawah laut di Teluk Benete

Area Monkey Beach memiliki kedalaman bervariasi, dari 12 hingga 20 meter. Terumbu karang alami menutupi dasar laut di area ini. Rimbunnya anemon bergerak lembut mengikuti arus laut. Di sela-selanya, sepasang ikan badut berenang bersisian. Pak Hidayat yang menunjukkan jalan menuju terowongan terumbu karang. Saya diberi aba-aba menyelam hingga ke dasar terowongan agar bisa melihat dengan jelas apa yang ada di sana.

Saya terdiam cukup lama. Apa yang tersaji di depan mata sungguh luar biasa. Terumbu karang membentuk semacam kanopi dengan lorong besar di bawahnya. Beragam jenis ikan aneka bentuk dan warna bergerak dinamis. Kondisi terumbu karang yang sehat membuat mereka nyaman berada di sekitar terowongan. Area Monkey Beach ini berada tak jauh dari dermaga untuk bongkar muat barang sekaligus tempat berlabuh kapal. Pabrik filtrasi konsentrat berikut gudang penyimpanannya juga berada di sekitar teluk. Namun, kondisi terumbu karang dan kehidupan biota laut di area Moneky Beach ini tampak begitu terjaga dan alami.

Penyelaman kedua berlangsung lebih singkat, hanya sekitar 40 menit. Tekanan udara yang mulai menipis serta kondisi tubuh yang sudah lelah membuat kami mengakhiri sesi penyelaman lebih cepat. Kami mengulangi prosedur yang sama menuju permukaan dan merapat ke kapal.

Selain di kawasan Teluk Benete, PT NNT juga melakukan penempatan reefball di lokasi lain seperti Pulau Kenawa, Pantai Maluk, dan Pantai Lawar. Perusahaan juga bekerja sama dengan Universitas Mataram memasang reefball di Gili Trawangan dan melakukan riset di sana. Reefball yang ditempatkan di Pantai Lawar berfungsi memulihkan kerusakan akibat aktivitas bomb fishing oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Hingga tahun 2016 ini, jumlah reefball yang ditempatkan di kawasan perairan Sumbawa Barat mencapai 1.564 buah.

Seafan dalam kondisi baik

Seafan dalam kondisi baik

Tim dari Departemen Environment PT NNT secara berkala melakukan pemantauan kondisi terkini reefball dan terumbu karang di sekitarnya. Biota laut lain seperti ikan, lobster, dan alga juga turut diteliti. Objek penelitian meliputi pertumbuhan terumbu karang, komposisi spesies biota laut yang hidup di sekitar terumbu karang, serta kondisi perairan di sana. Secara umum, indikator pemantauan menunjukkan hasil bahwa ekosistem bawah laut di sekitar Tambang Batu Hijau berada dalam kondisi baik.

Kapal cepat Tenggara Dua membawa kami kembali ke dermaga. Teluk Benete yang berada di dekat pusat aktivitas pertambangan ternyata masih memiliki pesona. Kawasan itu tidak rusak atau tercemar oleh aktivitas pertambangan. Berada di area objek vital nasional yang tidak bisa dimasuki sembarang orang, ternyata memiliki dampak positif bagi lingkungan bawah laut Teluk Benete. Selama menyelam, saya tidak menjumpai karang yang patah ataupun sampah layaknya di objek wisata. Aktivitas manusia yang terbatas memberi kesempatan terumbu karang dan biota laut di dalamnya untuk hidup lebih nyaman tanpa gangguan.

(AK)

Terumbu karang di area Monkey Beach

Terumbu karang di area Monkey Beach

Clown fish di balik anemon. Cantik bukan.

Clown fish di balik anemon. Cantik bukan.

Post scriptum: Foto-foto oleh Danang Dhave dan Pak Fauzi dari Supply Chain Management Marine PT NNT

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

2 Comments

  1. Tulisan yang bagus. Jadi ingat perkataan Presiden Soekarno:

    “Aku tinggalkan Kekayaan alam Indonesia, biar semua negara besar dunia iri dengan Indonesia, dan aku tinggalkan hingga bangsa Indonesia sendiri yang mengolahnya.”

    • Hampir 99% SDM di PT NNT adalah orang Indonesia, sebagian besarnya adalah warga lokal di sekitar tambang Batu Hijau. Para senior analis, metalurgis, dll juga orang-orang Indonesia. Pekerja asing dibutuhkan pada bagian-bagian tertentu yang memang belum bisa ditangani oleh pekerja Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *