Memacu Adrenalin dengan Paralayang di Puncak

prly15a

Ada banyak cara untuk menikmati lanskap kawasan Puncak, Bogor. Dari yang sederhana saja hingga sesuatu yang tak biasa. Melayang bebas di ketinggian lebih dari 1.500 kaki dengan hanya menyandarkan keselamatan pada beberapa utas tali dan seperangkat parasut adalah sesuatu yang layak dicoba.

Setelah menempuh perjalanan hampir 4 jam dari Jakarta, siang itu saya tiba di perkebunan teh Gunung Mas. Di salah satu bagian perkebunan tersebut dibangun kompleks agrowisata yang menawarkan beragam aktivitas luar ruang. Salah satu kegiatan yang membuat saya penasaran adalah paralayang. Olahraga dirgantara ini dalam beberapa tahun terakhir memang menjadi atraksi yang diminati para wisatawan yang berakhir pekan di kawasan Puncak.

Meski cuaca agak berkabut, antrean wisatawan yang ingin mencoba paralayang sudah mulai mengular. Saya segera mendekati loket registrasi. Karena belum memiliki lisensi terbang, untuk mencoba paralayang saya harus terbang tandem bersama seorang penerbang yang sudah berlisensi. Lantas saya diberikan disclaimer letter yang berisi pernyataan bahwa peserta terbang dengan paralayang atas keinginan sendiri dan siap menanggung segala risiko kecelakaan. Hmm, adrenalin saya mulai menggelegak saat menandatangani secarik kertas itu.

Paralayang sepenuhnya mengandalkan tenaga angin sebagai penggerak karena tidak ada mesin sebagai alat bantu. Penerbang memanfaatkan angin sebagai daya angkat parasut sehingga bisa melayang di udara dan mencapai target lokasi yang dituju hingga mendarat dengan selamat. Di sinilah sang penerbang dituntut bisa membaca arah angin dan mengendalikan parasaut sehingga bisa melayang dengan baik dan tetap memperhatikan faktor keselamatan. Kecepatan angin yang ideal untuk paralayang adalah 0-20 kilometer per jam. Lebih dari itu, sebaiknya penerbangan ditunda.

Seorang petugas membantu saya memasang harnest atau tali pengaman yang mengikat badan saya ke flight suit. Flight suite ini berbentuk seperti tas ransel berukuran besar dan berfungsi sebagai tempat duduk saat paralayang mulai mengudara. Saya dipasangkan dengan seorang penerbang senior, Opa David namanya. Pria asal Timor itu dibantu beberapa rekannya membentangkan parasut di tanah dan merapikan tali penghubung ke flight suite. Berbeda dengan terjun payung di mana parasut terlipat rapi di dalam tas dan baru dibuka setelah lompat dari pesawat dan melayang bebas di udara, pada olahraga paralayang parasut sudah dibuka sejak awal saat hendak take-off.

“Pada hitungan ketiga kita mulai lari dan di ujung landasan angkat kaki tinggi-tinggi”, Opa David memberi instruksi. Dia berkomunikasi melalui handy talkie dengan petugas yang berwenang memberi ijin take-off. Petugas tersebut memeriksa kecepatan dan arah angin untuk memastikan keselamatan penerbangan. Setelah semua oke, petugas tersebut memberi isyarat dengan mengacungkan ibu jari.

Begitu diijinkan terbang, kami segera berlari ke ujung landasan. Harnest dan flight suit yang kami kenakan menarik parasut. Kami harus berlari agar parasut mengembang. Adrenalin semakin memuncak demi melihat posisi kami ada di bukit yang lumayan tinggi. Ketika kaki tak lagi menjejak tanah dan badan sepenuhnya berada di udara, ketakutan yang semula saya rasakan berubah menjadi ketakjuban.

prly09a

Paralayang bermanuver dengan cepat mengikuti arah angin. Semula miring ke kiri lalu dalam sekali ayunan yang kuat paralayang naik cukup tinggi. Setelah posisi stabil, Opa David mengizinkan untuk memotret. Saya segera mengeluarkan kamera yang sudah saya simpan di kantong flight suit. Saya ingin mencoba aerial photography dari paralayang. Mesjid At-Taawun yang menjadi landmark kawasan Puncak menjadi bidikan pertama saya. Menyenangkan sekali rasanya leluasa merekam keindahan bentang alam Puncak dari posisi vertikal. Dulu saat penggunaan drone dalam aerial photography belum marak seperti sekarang, para fotografer memanfaatkan paralayang untuk mengambil foto penginderaan dari udara.

Melihat lanskap kawasan Puncak dari ketinggian lebih dari 1.500 kaki sungguh memberikan sensasi yang luar biasa. Kontur perkebunan teh yang berbukit bukit tampak mempesona diselingi jalur berkelok Jalan Raya Pos atau Grote Postweg yang dibangun atas inisiatif Daendels dua abad silam. Bangunan villa dan hotel tampak seperti miniatur mainan rumah-rumahan. Di batas cakrawala tampak samar suasana perkotaan Bogor. Angin berhembus sepoi sehingga gerakan paralayang terasa halus.

Hampir 10 menit Opa David membawa saya bermanuver di udara. Saatnya melakukan pendaratan. Setelah berkoordinasi melalui handie talkie dengan petugas di landasan, Opa David mengarahkan paralayang sejajar dengan tanah lapang tempat kami akan mendarat. Perlahan dia mengurangi ketinggian. Beberapa meter sebelum menjejak tanah, kami mengangkat kaki agar tidak selip dan bertumpu pada bantalan flight suit untuk mendarat. Wuuss, paralayang mendarat dengan mulus di lapangan berumput. Mantap!

Menurut penuturan Opa David, pada tahun 1997 dia bersama rekan-rekannya dari Federasi Aero Sport Indonesia mulai memperkenalkan paralayang sebagai aktivitas olahraga sekaligus wisata di kawasan Puncak. Awalnya, hanya wisatawan dari Timur Tengah yang berminat mencoba. Memasuki tahun 2011 barulah wisatawan domestik mulai ramai bermain paralayang. Kini, selain sebagai atraksi wisata, berbagai event kejuaraan paralayang baik tingkat nasional maupun internasional sering diadakan di tempat ini.

Terkadang untuk memperoleh perspektif berbeda dalam menikmati sesuatu, dibutuhkan cara yang menguji nyali. Kita ditantang untuk menjajaki sejauh mana batas keberanian kita. Paralayang di Puncak Bogor adalah salah satunya. Anda tertarik mencoba?

02a

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *