Melawan Keterbatasan dengan Secercah Harapan

Belum meratanya kualitas pendidikan Indonesia adalah sebuah keniscayaan. Ketimpangan tersebut tidak hanya terjadi di pelosok-pelosok negeri atau pulau-pulau terluar nusantara. Tak sampai 200 kilometer dari ibu kota negara, masih dapat kita jumpai sekolah dengan fasilitas yang serba minimalis. Ruang kelas yang terbatas, buku-buku pelajaran yang tidak memadai, alat peraga yang seadanya, hingga tenaga pengajar yang masih kurang adalah masalah yang setiap hari harus dihadapi.

Profil seperti itu ada pada SDN Banyuasih 3. Sekolah ini terletak di ujung barat Pulau Jawa, tepatnya di Kecamatan Cigeulis, Pandeglang, Banten. Akses jalan raya dari kota kecamatan menuju tempat ini cukup memprihatinkan. Jalan beraspal hanya ada hingga gerbang masuk kawasan wisata Tanjung Lesung. Selanjutnya, medan berupa jalan tanah berbatu dengan kontur naik turun sudah menanti. Jalur ini hanya bisa dilewati saat kemarau. Pada musim hujan, warga yang ingin melintas harus memutar mencari jalur lain karena jalanan menjadi berlumpur dan susah dilalui.

Pak Sudirman, sang kepala sekolah, mengisahkan bahwa di tengah segala keterbatasan tersebut, masa depan bagi 124 muridnya berada. SDN Banyuasih 3 hanya memiliki tiga ruang kelas yang dipakai bersama-sama oleh siswa kelas I hingga kelas VI serta satu ruangan tambahan yang disekat-sekat menjadi perpustakaan, ruang guru, ruang tamu, sekaligus gudang. Jumlah guru belum ideal untuk mengajar. Hanya ada tiga guru tetap sehingga Pak Sudirman harus mencari tambahan tenaga honorer. Buku-buku teks pelajaran yang mengacu pada kurikulum terbaru pun sangat terbatas. Pihak sekolah harus memfotokopi sendiri buku-buku tersebut agar bisa dipakai bersama oleh para siswa. “Seperti inilah kondisi di sekolah kami. Seadanya”, ujar Pak Sudirman. Pria yang sudah mengabdi lebih dari 20 tahun di pedalaman Pandeglang itu menghadapinya dengan senyuman. Seolah masalah-masalah tersebut adalah bagian dari kesehariannya.

Menyelenggarakan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa adalah kewajiban negara. Pun mendapatkan pendidikan yang layak. Itu adalah hak setiap anak Indonesia. Namun pemerintah memiliki keterbatasan dalam memenuhi hal tersebut. Meski sudah mengalokasikan 20% dana APBN untuk bidang pendidikan, belum semua anak Indonesia memiliki akses dan kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang layak. Dengan realita tersebut, bisa saja kita menyalahkan pemerintah atas ketidakmampuan memenuhi amanat konstitusi. Namun, selalu ada pilihan. Daripada terus mengutuki kegelapan, lebih baik mencari lilin lalu nyalakan api. Daripada terus memaki keadaan, lebih baik turun tangan dan lakukan tindakan nyata.

Dompet Dhuafa melakukan hal tersebut. Melalui jejaring pendidikan yang dimilikinya, organisasi nirlaba ini memberikan kontribusi nyata bagi pendidikan di tanah air. Di tempat-tempat yang belum terjangkau sepenuhnya oleh pemerintah, Dompet Dhuafa hadir melalui program Sekolah Guru Indonesia (SGI). SGI mengirimkan guru-guru terbaik ke penjuru negeri. Para sarjana perguruan tinggi ternama itu telah melewati proses seleksi ketat. Setelah mendapatkan pelatihan dan melakukan persiapan, mereka lantas ditugaskan untuk mengajar selama setahun penuh. Tak sebatas mengajar, sosok-sosok terpilih juga membaur dengan masyarakat setempat.

Dalam menentukan sekolah tujuan, Dompet Dhuafa telah melakukan profiling yang ketat. Sekolah yang menerima bantuan harus merupakan sekolah yang benar-benar membutuhkan. Dana berasal dari umat sehingga pengelolaan harus transparan dan akuntabel. Khusus untuk program SGI, pendanaan bersumber dari zakat sehingga kriteria sekolah penerima bantuan harus sesuai dengan konsep penerima zakat. Misalnya, 75% siswa berasal dari keluarga tidak mampu. SDN Banyuasih 3 memenuhi semua kriteria yang disyaratkan untuk menerima bantuan sehingga program SGI dapat dijalankan di sana. Tahun 2014 ini program SGI memasuki tahun kelima dan telah menjangkau daerah-daerah seperti Nunukan, Sambas, Kubu Raya, Halmahera Utara, hingga Rote Ndao.

Siap mengabdi untuk negeri

Beberapa waktu lalu, saya bersama rekan-rekan relawan Komunitas Filantropi Pendidikan (@relawan_kfp) mendapat kesempatan mengunjungi SDN Banyuasih 3. Selama dua hari di sana, kami melakukan berbagai jenis kegiatan bersama murid-murid. Rangkaian kegiatan diawali dengan penyerahan buku-buku donasi dari Asia Foundation. Setiap siswa mendapat satu paket buku yang dikemas dalam tas punggung. Bingkisan sederhana itu mampu memantik keceriaan dan semangat mereka.

Berbagi keceriaan

Keceriaan berlanjut saat para relawan memperkenalkan diri dan menceritakan profesi masing-masing. Kebanyakan murid berasal dari keluarga petani dan nelayan sehingga hanya dua profesi itu saja yang familiar bagi mereka. Mereka begitu antusias menyimak saat kami bercerita mengenai keseharian seorang pegawai negeri, fotografer, blogger, konsultan komunikasi, hingga travel writer. Sesuatu yang barangkali belum mereka kenal. Melalui kisah-kisah itu kami menantang agar berani melempar cita-cita jauh ke luar kotak yang selama ini mereka tempati.

Salah seorang rekan relawan mengenalkan kamera pada murid yang berani maju mengucapkan Dasa Dharma Pramuka

Dengan alat peraga pendidikan yang terbatas, para relawan dan guru-guru SGI mengajak murid-murid membuat sendiri instrumen itu. Setiap kelas diberi kesempatan mengkreasikan sendiri ide masing-masing. Didampingi para guru dan relawan, murid-murid asyik membuat alat peraga seperti peta Indonesia, diorama kebun binatang, simulasi bangun datar, hingga membuat origami. Mereka dilatih untuk berproses. Tidak sekedar menerima sesuatu setelah berupa barang jadi. Hasilnya, tampak wajah-wajah penuh kepuasan manakala hasil karya mereka dipajang.

Menggambar diorama kebun binatang

Dari sisi akademis, sebetulnya prestasi murid-murid SDN Banyuasih 3 terbilang lumayan. Dalam beberapa tahun terakhir tingkat kelulusan dalam ujian nasional sudah mencapai 100% meski nilai rata-ratanya belum mencapai 7. Di tengah segala keterbatasan yang ada, tentu pencapaian tersebut adalah sesuatu yang menjanjikan.

Di sisi non akademis, ternyata murid-murid SDN Banyuasih 3 telah menorehkan prestasi yang luar biasa. Mereka sanggup meraih juara dalam kompetisi atletik tingkat provinsi dan nasional. Bahkan, pernah suatu ketika salah seorang murid mampu menembus kejuaraan atletik tingkat ASEAN. Mereka adalah atlet-atlet didikan alam. Kecepatan, kekuatan, dan ketangkasan mereka adalah berkah yang diperoleh dari beratnya alam di sekitar mereka.

Masalah utama yang terjadi di SDN Banyuasih 3 dan juga sekolah dasar lain di daerah sekitarnya adalah masih rendahnya kesadaran orang tua mengenai pendidikan. Bagi sebagian besar orang tua, setelah lulus sekolah dasar anak-anaknya akan didorong untuk bekerja. Baik sebagai buruh pabrik di kawasan industri berikat yang ada di sekitar Cilegon maupun diajak melaut dan bertani. Bagi siswa perempuan, selepas SD adalah waktu yang jamak untuk dinikahkan. Dengan kondisi tersebut, tentu sulit bagi mereka untuk menjaga asa agar cita-citanya tetap menyala. Ada banyak tantangan yang harus mereka lawan.

Selalu ada asa untuk mereka

Kedatangan para relawan yang hanya dua hari bersama anak-anak itu barangkali tidak serta merta dapat menyelesaikan masalah yang ada. Mungkin juga bantuan yang diberikan belum dapat menghilangkan beban mereka. Namun kami percaya, semangat mereka harus terus dijaga. Mereka perlu diyakinkan dan dipacu bahwa mereka bisa. Keterbatasan yang ada pada mereka harus dilawan dengan menjaga lilin harapan agar tetap menyala. Dengan hadir di sekolah mereka dan mengajak mereka bermain, kami ingin memberitahukan bahwa akan selalu ada perhatian untuk mereka, anak-anak yang kurang beruntung. Dengan bercerita tentang profesi, kami ingin berbagi inspirasi bahwa masa depan mereka masih panjang dan begitu menjanjikan.

Mencerdaskan kehidupan bangsa memang tugas negara. Namun, kita pun memiliki tanggung jawab serupa. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Berbagi dan terus berupaya. Untuk masa depan anak-anak Indonesia yang lebih cemerlang.

Memberikan paket bantuan buku-buku kepada Pak Sudirman

Bersama-sama membuat prakarya

Simulasi membuat peraga bangun datar

Membimbing murid-murid menyiapkan alat peraga pendidikan

Mewarnai masa depan

Bangga akan hasil karya sendiri

Keterbatasan bukan menjadi alasan untuk menyerah, mereka membuat sendiri alat peraga untuk di kelas

Teriakkan cita-citamu

Mari bersama-sama kita jaga agar semangat mereka tetap menyala

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *