Mari Berkunjung ke Lampung

lpg01

Bagi sebagian orang, barangkali Lampung bukan destinasi wisata favorit layaknya Bali, Lombok, atau Yogyakarta. Begitu pula dengan saya yang hanya bisa menyebutkan Way Kambas jika ditanya apa saja tempat plesir di Lampung. Namun, rupanya provinsi yang terletak di ujung selatan Sumatera ini menyimpan banyak cerita dan pesona.

Pada tahun 1905, Lampung menjadi daerah tujuan transmigrasi pertama dalam sejarah Indonesia. Pemerintah kolonial Belanda memindahkan penduduk dari daerah Bagelen, Jawa Tengah menuju daerah yang bernama Gedong Tataan. Mereka membuka lahan perkebunan sekaligus membangun jaringan jalan. Sejak saat itu, gelombang transmigrasi dari Jawa terus berdatangan menuju daerah lain di Lampung. Ketika Gunung Agung di Bali meletus pada tahun 1963 hingga 1964, penduduk Bali juga bertransmigrasi ke Lampung untuk membangun kehidupan baru. Kaum pendatang ini tidak menanggalkan identitas tanah kelahirannya, terlihat dari cara mereka menamakan daerah yang ditempati. Nama-nama seperti Desa Jogja, Desa Tulungagung, Kecamatan Pekalongan, hingga Kampung Balinuraga dapat dijumpai di Lampung. Di daerah-daerah tersebut, kesenian kuda lumping atau upacara adat ngaben juga masih lestari hingga kini.

Menelusuri pesona sejarah dan budaya Lampung dapat dimulai dari Bandarlampung. Ibukota Lampung ini dulunya adalah kota kembar, yaitu Tanjung Karang dan Teluk Betung. Saat terjadi erupsi Krakatau pada Agustus 1883, energi vulkanik yang ditimbulkan memicu terjadinya tsunami. Ombak setinggi 40 meter menghempas kota ini dan meluluhlantakkan kehidupan yang ada. Sebuah suar laut, semacam penanda keberadaan karang yang memandu kapal agar tidak mendekat, terdampar jauh ke daratan hingga sampai di depan kantor residen. Di tempat tersebut dibangun Monumen Tsunami sebagai pengingat bahwa pernah terjadi bencana dahsyat di sana.

Vihara Thay Hin Bio juga turut menjadi saksi salah satu bencana vulkanik terbesar dalam sejarah manusia itu. Vihara yang berusia lebih dari satu setengah abad ini harus dibangun ulang setelah diguncang gempa dan tsunami. Sekarang, vihara ini tidak hanya difungsikan sebagai rumah ibadah. Wisatawan yang berkunjung diperbolehkan masuk dan menikmati keindahan ornamen di dalamnya. Vihara ini berada di kawasan pecinan yang dijejali bangunan-bangunan lawas. Berada di kawasan ini membuat wisatawan seperti kembali beberapa dekade ke masa lampau.

Monumen Tsunami di Bandarlampung, area ini dikenal juga dengan Taman Dipangga

Monumen Tsunami di Bandarlampung, area ini dikenal juga dengan Taman Dipangga

Suasana di dalam Vihara Thay Hin Bio, didominasi warna merah

Suasana di dalam Vihara Thay Hin Bio, didominasi warna merah

Soal kuliner, Lampung memiliki banyak makanan nan nikmat. Seruit adalah salah satu andalan kuliner daerah ini. Sajian berupa sambal yang dibuat dari bahan dasar tempoyak, cabe, bawang, dan garam ini dipadukan dengan berbagai lalapan dan sayuran seperti mentimun serut, terong bakar, kacang panjang, daun singkong rebus, selada, dan kemangi. Seruit dihidangkan dengan aneka rupa lauk seperti ayam goreng, pepes ikan, dan tahu tempe goreng. Bagi warga Lampung, menyantap seruit bukan hanya tentang mengisi perut. Seruit sudah menjadi bagian dari pergaulan dan kehidupan sosial. Muncul istilah “nyeruit”, yaitu kebiasaan untuk menikmati seruit beramai-ramai dengan keluarga, teman kuliah, hingga rekan kerja yang dapat menjalin keakraban dan mempererat persaudaraan.

Ragam kuliner Lampung lainnya dapat ditemukan dalam semangkuk taboh iwa tapa semalam. Gulai ikan ini terbuat dari ikan asap segar dan kuah kaya rempah. Ada pula cubik kemas, yaitu ikan mas bakar dengan siraman sambal kental dari cabai giling dan irisan daun jeruk purut. Makanan lain yang tak kalah unik adalah pandap. Makanan ini berisi potongan daging ikan yang dikukus berbalut daun talas dengan bumbu parutan kelapa di dalamnya. Bagi penyuka jajanan pasar, ada banyak makanan ringan khas Lampung yang menggoda selera. Sebut saja buak tat, semacam lemang ketan yang disajikan dengan tape uli, atau cucok mandan, yaitu jajanan mungil manis kecoklatan serupa kue cucur.

Sebagai daerah penghasil kopi berkualitas, minuman khas Lampung tentu tidak bisa dipisahkan dari biji robusta itu. Ada sebuah sajian unik yang dikenal dengan kopi jelly. Serbuk kopi diolah menjadi jelly lalu dipotong dadu. Dalam penyajiannya, potongan jelly tadi dicampur dengan segelas susu manis dan es batu. Sajian ini biasanya hadir hanya dalam acara keluarga sehingga masih belum banyak dijumpai di pasaran.

Seruit disajikan bersama nasi putih hangat, lalapan, dan lauk pilihan

Seruit disajikan bersama nasi putih hangat, lalapan, dan lauk pilihan

Cerita dan pesona tersebut bisa menjadi alasan untuk memasukkan Lampung dalam itinerary wisata berikutnya. Beberapa tahun terakhir, pariwisata Lampung semakin semarak. Dari 15 kabupaten dan kota yang ada, masing-masing berupaya memberdayakan potensi yang dimiliki. Hampir semua kota menyelenggarakan festival budaya secara tahunan. Festival Bambu Nusantara misalnya. Festival yang digelar di Kabupaten Pringsewu ini memamerkan beragam produk kriya berbahan bambu dan alat musik dari bambu. Di Kabupaten Liwa, pada hari kedua Idul Fitri selalu diadakan Festival Topeng Sekora. Festival ini berupa pawai budaya dan pesta adat. Ada pula lomba permainan rakyat seperti panjat pinang. Keragaman budaya Lampung ini merupakan salah satu Pesona Indonesia yang menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke tanah Sai Bumi Ruwa Jurai.

Terima kasih

Kain tapis dengan tenunan motif etnis, pas untuk cenderamata dari Lampung

Kain tapis dengan tenunan motif etnis, pas untuk cenderamata dari Lampung


Post scriptum:
Tulisan ini merupakan bagian dari upaya mempromosikan branding Pesona Indonesia sebagai daya tarik pariwisata Indonesia

2 Comments

  1. Wah ternyata kamu ahli sejarah ya mas?! Kereeen hihi
    Lampung kurang bakso Sonynya aja yaaaa?! huhuuu

    • yang aku nangkep cerita dr Pak Sami pas beliau bahas soal transmigrasi itu, Put..hahaha
      Justru krn kemarin belum keturutan bakso sony, moga2 ada kesempatan lagi ngetrip ke Lampung..aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *