Mandiri Mengelola Potensi, Kolaborasi Mengembangkan Ekonomi

Tambang merupakan sumber daya alam yang bersifat tidak terbarukan. Mineral yang terkandung dalam perut Bumi suatu saat akan habis digali dan tidak bisa digantikan secara alami. Perekonomian yang berbasis pertambangan memiliki masa operasional yang terbatas. Selama ini Sumbawa Barat tengah menikmati manisnya geliat ekonomi dari dunia tambang. PT Newmont Nusa Tenggara yang beroperasi sejak tahun 2000 memberi kontribusi yang tidak sedikit dalam memutar perekonomian Sumbawa Barat. Namun, belum banyak yang menyadari bahwa pada tahun 2038 nanti kontrak karya perusahaan itu akan berakhir. Ketergantungan terhadap PT NNT harus mulai dikikis perlahan. Masyarakat lingkar tambang perlu bersiap dari sekarang. Basis ekonomi yang selama ini bertumpu pada kegiatan tambang, harus dialihkan ke sektor-sektor yang dapat terus dikembangkan secara berkesinambungan.

cover08

Pulau Sumbawa dikaruniai potensi alam yang luar biasa. Perlu kerja keras dan kemampuan melihat peluang untuk mengolah potensi tersebut menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi. Dalam beberapa tahun terakhir muncul rintisan usaha kecil dan menengah yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar tambang Batu Hijau, baik secara perorangan maupun kelompok. Usaha tersebut beraneka ragam, seperti pemanfaatan barang bekas, budidaya tanaman produktif, hingga produksi barang-barang untuk memenuhi kebutuhan operasional pertambangan.

PT NNT melalui unitnya yang disebut Communication dan Development (ComDev) melakukan pembibitan berbagai jenis tanaman. ComDev memiliki misi memberdayakan masyarakan di bidang agrikultur. Masyarakat didukung untung memanfaatkan lahan pertanian yang dimiliki secara produktif. Bentuk dukungan tersebut berupa pemberian bibit secara gratis dan pendampingan selama proses penanaman bibit. ComDev bekerja sama dengan Lembaga Pengembangan Pertanian dan Pesisir Sumbawa Barat (LP3SB) merintis area percontohan agrikultur bagi masyarakat lokal. Kondisi tanah dan cuaca di wilayah Sumbawa Barat memiliki karakter khusus sehingga tidak semua jenis tanaman bisa tumbuh dengan baik.

ComDev memiliki lahan seluas dua hektar di daerah Maluk. Di lokasi itulah tanaman yang cocok dengan kondisi alam Sumbawa Barat disemai hingga dihasilkan bibit-bibit unggulan. Tanaman yang sudah berhasil dibudidayakan antara lain jati, mahoni, nimba, mangga, kelengkeng, jambu biji, sirsak, dan buah naga. Bibit-bibit tersebut dibagikan kepada masyarakat, baik di wilayah lingkar tambang seperti Sekongkang, Maluk, dan Jereweh maupun ke wilayah lain seperti Sumbawa Besar. Masyarakat menyambut positif program ini. Mereka antusisas menanam bibit-bibit dari ComDev di lahan yang mereka miliki. Lahan yang semula terabaikan, kini sudah mulai ditumbuhi aneka rupa tanaman buah. Dalam beberapa tahun ke depan, tanaman-tanaman tersebut diperkirakan sudah bisa berbuah dan siap dipanen. Hasil panen tersebut diharapkan dapat menjadi sumber penerimaan masyarakat.

Area pembibitan di ComDev

Area pembibitan di ComDev

Selain dibagikan kepada warga, bibit tanaman dari ComDev dikirim juga ke hutan wisata yang berada di Sekongkang. Bibit-bibit itu lantas ditanam di lahan seluas 13 hektar di hutan wisata tersebut. Meski baru enam bulan mulai dikembangkan, area tersebut sudah tampak tertata. Konsep pengembangannya jelas. Ke depan, hutan wisata ini dijadikan destinasi wisata keluarga dan kegiatan luar ruang seperti bumi perkemahan dan area outbound. Saat ini sudah tersedia berbagai jenis wahana outbound seperti flying fox, spider web, jembatan keseimbangan, dan medan halang rintang. Di bagian tengah hutan wisata, dibangun waduk penampungan air. Rencananya, di waduk tersebut akan diisi air dan dijadikan arena permainan.

Pengembangan hutan wisata itu terkendala oleh kondisi cuaca di Sumbawa Barat. Dengan curah hujan yang rendah, penanaman bibit lebih optimal dilakukan pada musim penghujan saat ketersediaan air melimpah. Selain tanaman keras, pengelola hutan wisata juga membudidayakan tanaman hias dan apotik hidup. Melalui budidaya apotik hidup, pengunjung juga bisa memperoleh informasi edukatif mengenai khasiat aneka tanaman di sekitarnya bagi kesehatan keluarga.

Tak jauh dari lokasi hutan wisata, terdapat sebuah kebun jeruk yang dikembangkan secara mandiri oleh salah seorang warga setempat. Pak Miskun adalah sosok di balik keberhasilan budidaya di satu-satunya kebun jeruk di Sekongkang itu. Saat belum ada orang yang terpikirkan menanam jeruk, pria berusia 62 tahun itu sudah melihat peluang banyaknya permintaan jeruk di pasaran lokal.

Jeruk hasil kebun Pak Miskun

Jeruk hasil kebun Pak Miskun

Pak Miskum mendapat bantuan dari salah seorang pengusaha lokal yang terkesan dengan niat dan kerja keras pria asal Jember itu. Pada tahun 2011, dia mendapat pinjaman lahan dan modal usaha untuk membeli bibit dan kebutuhan berkebun. Bersama istrinya, Pak Miskun dengan telaten merawat kebun jeruknya. Pemupukan dilakukan tiga kali dalam setahun dengan jenis pupuk bervariasi sesuai kebutuhan. Kadang saat beban kerja sedang tinggi dan tidak sanggup ditangani berdua dengan sang istri, Pak Miskun mempekerjakan buruh untuk menyelesaikan pekerjaan tambahan seperti menyemprot pestisida atau membersihkan lahan dari tanaman pengganggu.

Lima tahun berselang, kini sudah tumbuh sekitar 360 pohon jeruk keprok siam dan jeruk Sunkis yang rutin berbuah. Jeruk dipanen sekali dalam setahun. Jika musim tanam sedang bagus, sekali panen dalam bisa mencapai hasil 17 ton. Pak Miskun tidak perlu susah payah dalam memasarkan hasil panennya. Para pedagang dari kota akan berdatangan ke kebunnya dan transaksi bisa dilakukan di tempat. Saat musim panen, banyak juga wisatawan yang datang dan berjalan-jalan ke kebun jeruk ini sekaligus membeli jeruk yang dipetik langsung.

Kisah inspiratif lain datang dari daerah Jereweh. Di daerah ini terhampar luas kebun kelapa milik masyarakat. Dalam waktu dekat, akan beroperasi sebuah pabrik kosmetik di Sumbawa Barat. Melihat peluang ini, Pak Suhadi bersama tiga kelompok usaha di Jereweh merintis industri rumahan mengolah kelapa menjadi minyak kelapa murni atau virgin coconut oil (VCO). VCO ini menjadi bahan dasar pembuatan kosmetik.

Pak Suhadi dan kelompok usahanya mendapatkan pelatihan mengenai cara memproduksi VCO yang berkualitas tinggi dan sesuai standar. Sebagai modal usaha, mereka mendapatkan bantuan berupa mesin parut, mesin peras, dan peralatan operasional lainnya. Untuk memproduksi satu liter VCO, setidaknya dibutuhkan 30 butir kelapa. Pasokan bahan baku kelapa diperoleh dari para petani kelapa di sekitar Jereweh. Dalam satu minggu, kelompok usaha ini mampu menghasilkan hingga 26 liter VCO dengan harga jual Rp 60.000 per liter.

Saat nanti pabrik kosmetik di Jereweh sudah mulai beroperasi, kebutuhan bahan baku berupa VCO akan semakin tinggi. Hal ini merupakan peluang ekonomi yang bagus. Produksi VCO rumahan dapat dikembangkan secara masif. Masyarakat mendapatkan kesempatan untuk memperoleh penghasilan dari sektor ini.

Tak hanya bagian daging buahnya, sabut kelapa rupanya juga bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Di Maluk, terdapat pabrik skala kecil yang menggunakan serat yang berasal dari sabut kelapa sebagai bahan baku membuat coconet. Coconet adalah jaring-jaring yang terbuat dari anyaman serat sabut kelapa dengan lebar 2 meter dan panjang 15 meter. Coconet berfungsi sebagai penutup lapisan reklamasi area tambang agar tidak erosi serta menahan benih tanaman yang disebar. Coconet hasil produksi pabrik ini dibeli oleh PT NNT. Dulu, perusahaan ini harus mendatangkan serat ijuk dari Surabaya untuk memenuhi kebutuhan akan penutup lahan reklamasi. Saat ini PT NNT menggunakan coconet produk lokal untuk mendukung perekonomian masyarakat. Selain dijual ke PT NNT, coconet dijual juga ke instansi pemerintahan seperti kantor polisi dan juga ke perusahaan manufaktur di Dompu.

Proses kerja di pabrik coconet

Proses kerja di pabrik coconet

Industri coconet di Maluk menyerap banyak tenaga kerja. Ada sekitar 52 karyawan yang bekerja di pabrik seluas 4 are itu. Sebagian besar dari mereka adalah ibu rumah tangga. Dalam sehari mereka sanggup memproduksi 24 lembar coconet. Setiap lembarnya dihargai Rp 100.000. Dalam satu bulan, karyawan bisa menerima penghasilan rata-rata Rp 2,9 juta hingga Rp 3,2 juta tergantung produktivitas masing-masing. Pabrik coconet sudah beroperasi selama tiga tahun. Upaya pemberdayaan ini dapat membantu masyarakat mendapatkan lapangan kerja sekaligus pendapatan yang lebih layak.

Bidang usaha yang sebelumnya tidak terpikirkan adalah pemanfaatan sampah. Apabila dikelola dengan cerdas, sampah yang semula dipandang sebelah mata dan dibuang begitu saja, dapat diubah menjadi rupiah. Sesuai dengan tagline yang terpasang di depan kantornya, from trash to cash, Bank Sampah Lakmus (BSL) berhasil memberi nilai tambah kepada masyarakat dalam menyikapi sampah. BSL juga mengedukasi masyarakat untuk peduli dengan kebersihan lingkungan.

Bu Jum, salah seorang pekerja di Bank Sampah Lakmus

Bu Jum, salah seorang pekerja di Bank Sampah Lakmus

BSL dirintis oleh Pak Taufikurrahman. Bersama timnya, dia mengajak masyarakat mengumpulkan sampah yang bisa didaur ulang. Sampah yang terkumpul akan ditukar dengan uang tunai maupun saldo tabungan. Hingga saat ini tercatat ada 710 nasabah dari daerah lingkar tambang seperti Sekongkang, Maluk, dan Jereweh yang rutin menyetorkan sampah. Selanjutnya, sampah yang terkumpul disortir dan dikelompokkan berdasar jenisnya, seperti kertas, plastik, dan logam. Setiap bulan, BSL sanggup mengumpulkan hingga 1,5 ton sampah kertas.

Keberadaan usaha-usaha mandiri seperti perkebunan jeruk Pak Miskun, produksi VCO, pabrik coconet, hingga pemanfaatan sampah menjadi barang bernilai ekonomis memberikan semangat baru bagi masyarakat lingkar tambang. Dukungan dari PT NNT melalui program yang dijalankan ComDev dan hutan wisata dapat memunculkan banyak kesempatan baru untuk maju. Masyarakat terinspirasi untuk mengelola potensi yang dimiliki secara mandiri. Masyarakat tidak bisa jalan sendiri. Harus ada kolaborasi dan sinergi dengan pemerintah dan PT NNT agar masyarakat bisa lebih berdaya.

(AK)

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

12 Comments

  1. Semoga masyarakat lingkar tambang ini siap menghadapi pasca tambang. Dan lingkar tambang ngak di tinggal begitu saja menjadi sebuah kota mati seperti yg di film2 tp geliat ekonomi terus berjalan.

    Banyak aspek yg bisa berjalan disana selain tambang, semoga terus dikembangkan

    • Sepakat, MasCum
      Mulai dari sekarang masyarakat lingkar tambang harus disiapkan dengan kondisi saat PT Newmont tidak beroperasi lagi, biar mereka bisa mandiri dan tidak berorientasi ke tambang. Pemerintah dan PT Newmont perlu duduk bersama untuk menyiapkan rencana strategisnya. Sumbawa Barat memiliki banyak potensi yang belum tergali.

  2. Wah lengkap sekali tulisan Mas Adhi. Detail dan sangat mendalam.
    Semoga seluruh stakeholder semakin concern memperhatikan masyarakat sekitar tambang dan memberikan pendidikan pengolahan sumber daya untuk menambah pendapatan bagi masyarakat.
    Sangat inspiratif Brooo.. Lanjutkan…

    • Iya, Mbak Kurnia.
      Pemerintah dan PT Newmont harus duduk bersama untuk menentukan rencana strategis untuk menghadapi 2038 saat tambang berhenti beroperasi. Potensi yang ada di Sumbawa Barat banyak sekali. Menunggu diolah dan dimanfaatkan.

  3. Sebagai penikmat visual….. foto km kurang bagus disini

    • Siap, Mas
      segera merapat ke kalimalang untuk belajar dengan ahlinya
      hahahahah

  4. Tulisan yang sangat bagus. Mungkin dilain kesempatan bisa digali lebih dalam lagi terkait program comdev PT.NNT lainnya, seperti: pembangunan infrastruktur, kesehatan masyarakat,
    dan pendidikan.

    • Program-program ComDev sebenarnya merupakan realisasi CSR perusahaan. Bidang-bidang yang mendapat perhatian utama adalah pendidikan, kesehatan, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.

  5. CSR perusahaan2 spt tambang, sawit, dan lainnya yg core business nya berhubungan langsung sama alam/lingkungan itu sebenarnya seperti dua sisi mata uang, tergantung dari mana melihatnya. Untuk yg pro akan melihatnya sebagai bentuk tanggung jawab / balas budi. Buat yang kontra akan dilihat sebagai ‘peredam’ gejolak yang mungkin hadir dari sebagian pihak yang tidak setuju dengan usaha mereka.

    • Iya, Mas. Ada juga gejolak dari pihak-pihak yang tidak mendapat bagian dana CSR yang memang lumayan banyak itu. Kadang hal-hal seperti itu dapat memicu gesekan di masyarakat. Dana yang besar memang harus dikelola dengan transparan dan tujuannya jelas. Bukan hanya sekedar kegiatan bagi-bagi uang saja atas nama CSR.

  6. Realisasi program CSR dari PT. NNT yang notabene merupakan kolaborasi perusahaan daerah dan swasta *cmiiw sudah sangat baik, seperti yg sudah ditulis dlm blog Mas Adhi. Tidak hanya pasif dengan hanya memberikan dana CSR kepada masyarakat, tetapi juga ikut aktif memberdayakan dan menggerakkan partisipasi masyarakat dalam berbagai bidang untuk kemashlahatan masyarakat daerah tersebut. Sudah seharusnya MNC-MNC yg melakukan aktivitas produksinya di Indonesia memberikan hal yg serupa agar tercipta keharmonisan serta pengaruh yg positif dengan masyarakat setempat.

    • Perencanaan strategis perlu juga untuk menghadapi 2038 saat tambang tak lagi beroperasi. Jadi dari sekarang kegiatan CSR dilakukan secara berkesinambungan dengan tujuan jangka panjang, bukan hanya setaun dua tahun saja. Untuk itu, memang perlu kerja sama yang bagus antara pemerintah, masyarakat, dan PT NNT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *