Les Miserables, Ariah

Saat membahas kisah epik Betawi, selama ini mungkin kita hanya mengenal tokoh Pitung atau Jampang. Dua jagoan Betawi yang melegenda dan diceritakan turun-temurun. Barangkali pula jarang di antara kita yang mengenal Ariah. Sosok wanita pembawa perubahan dan pencerahan bagi kaumnya yang saat itu hidup dalam penindasan. Perempuan Betawi yang berjuang mempertahankan martabat dan kehormatannya.

ariah1

The Great Showtime

Adalah seniman kenamaan Atilah Soeryadjaja dan Jay Subiyakto yang menggagas pertunjukan drama tari dan musik kolosal berjudul Ariah. Rupanya keberhasilan Atilah dan Jay dalam mementaskan drama tari Matah Ati di Jakarta dan Solo tahun lalu menarik minat Jokowi untuk mementaskan pertunjukan serupa di Monas sebagai perayaan ulang tahun Jakarta ke 486 yang lalu. Proyek prestisius yang melibatkan sekitar 200 penari dan 120 musisi ini tentu perlu persiapan panjang dan kerja sama tim yang prima.

Saya lumayan beruntung bisa mendapatkan tiket lesehan Ariah untuk pementasan hari kedua. Pertunjukan yang berlangsung tiga hari ini menyediakan dua jenis tiket, yaitu tiket di tribun dan tiket lesehan yang dibagikan gratis. Dengan duduk lesehan tepat di depan panggung saya justru bisa melihat penari dan musisi di panggung dengan lebih dekat dibanding penonton yang di tribun.

Saya yang baru pertama kali melihat sendratari secara live seperti ini dibuat takjub dengan musik pembuka yang dimainkan para musisi di panggung depan. Saat musik masih dimainkan, puluhan penari berkostum warna-warni cerah khas Betawi muncul di panggung utama membentuk formasi memanjang. Panggung sengaja dibangun miring membentuk bukit-bukit bertingkat ke belakang dan melebar ke samping. Opening menjadi semakin impresif dengan laser mapping yang ditembakkan ke arah panggung. Cahaya laser yang beraneka warna membentuk pola-pola animasi sehingga membuat panggung tampak lebih hidup. Sebuah pembuka pentas yang menantang.

Drama tari kolosal ini berkisah tentang perjuangan hidup seorang perempuan Betawi bernama Ariah. Ariah yang hidup bersama ibu dan kakaknya adalah seorang gadis cantik yang disukai banyak orang. Dia menjadi sosok sentral bagi orang-orang di sekitarnya. Dia mengajak teman-teman seusianya untuk belajar silat sebagai bentuk bela diri karena kondisi sosial jaman itu yang berada pada masa kolonial tidak berpihak kepada rakyat kecil. Masyarakat tidak hanya menghadapi penindasan penjajah tetapi juga penindasan dari bangsa sendiri yang dimunculkan melalui sikap arogan para tuan tanah dan centeng-centengnya.

Konflik dimulai saat Tuan Mandor, pemilik rumah tempat Ariah dan keluarganya menumpang hidup, memaksa menikahi Ariah sementara dia sendiri adalah pria beristri. Di sisi lain, Ariah jatuh hati kepada Bang Juki, seorang jawara silat yang menyelamatkan Ariah dan teman-temannya dari serangan centeng-centeng kasar. Muncul pula tokoh Oey Tambah Sia, seorang kaya raya keturunan Tionghoa yang juga jatuh hati kepada Ariah.

Kisah cinta segiempat ini ditampilkan dengan apik pada suatu babak di mana Tuan Mandor, Oey Tambah Sia, dan Bang Juki tampil bersamaan di panggung. Mereka berdiri terpisah di ujung-ujung panggung lalu menyanyi bersahutan, mengungkapkan rasa cinta mereka masing-masing kepada Ariah. Lalu di sela-sela nyanyian, Ariah muncul di tengah panggung dan menari dengan gemulai seirama musik pengiring.

Meski berkisah tentang kepahlawanan, pementasan ini sepertinya lebih menonjolkan sisi romantisme kehidupan cinta Ariah. Adegan demi adegan kisah cinta Ariah lebih sering muncul daripada adegan perlawanan masyarakat kepada para tuan tanah atau penjajah. Namun ini yang membuat penonton ikut menyatu dalam jalan cerita Ariah. Kita lebih mudah terhanyut dalam cerita sedih di mana tokoh utamanya mengalami banyak tragedi dalam hidup. Hal ini terwakili dalam diri Ariah. Hidup sebagai seorang yatim, tertindas di bawah tekanan tuan tanah tempat dia menumpang hidup, dan lika-liku asmara yang penuh rintangan. Sekilas hampir mirip cerita klasik dari Perancis berjudul Les Miserables yang dikemas ulang oleh Hollywood dalam film opera di mana sepanjang adegan film percakapan diganti dengan nyanyian. Mirip dengan pementasan Ariah.

Di jeda pertunjukan, muncul tiga orang pelawak yang menceritakan narasi singkat tentang Ariah. Banyolan-banyolan mereka mampu memancing tawa penonton dan membuat suasana lebih meriah. Di sela-sela banyolan disisipkan pesan moral tentang toleransi dalam keragaman hidup di Jakarta. Bahwa Jakarta tidak hanya tentang etnis Betawi, tetapi juga tentang suku Batak, Ambon, Jawa, Papua dan etnis lain. Jakarta adalah representasi Indonesia. Penampilan khusus dari seorang penari dari Sorong yang memadukan gerakan Papua yang lincah dan cepat dengan tarian gemulai nan rancak khas Betawi mampu menunjukkan bahwa keragaman itu bisa menjadi indah jika disikapi dengan tepat.

Pertunjukan mencapai klimaks pada babak di mana Ariah harus bertarung melawan para centeng Oey Tambah Sia. Centeng-centeng itu berniat menculik Ariah untuk diserahkan kepada juragan mereka. Sebagai seorang wanita, Ariah berjuang mempertahankan martabat dan harga dirinya agar tidak jatuh ke lelaki yang tidak dicintainya. Kisah ini mengambil sad ending di mana Ariah lebih memilih mati membela kehormatannya. Ending menjadi semakin sendu ketika lampu yang menyorot panggung dipadamkan dan cahaya lasar diarahkan ke permukaan Tugu Monas menggambarkan animasi seorang wanita berbaju merah melayang ke atas lalu menghilang.

Tata panggung yang super

Tata panggung yang super

Di Balik Panggung Pentas

Pertunjukan Ariah malam tadi adalah sesuatu yang layak mendapat apresiasi tinggi. Tanpa kerja keras dan dedikasi tinggi dalam berkarya, tidak mungkin tercipta pertunjukan yang mampu membuat penonton terkagum-kagum selama 90 menit Ariah dipentaskan dan memberikan standing applause panjang di akhir pertunjukan. Dengan waktu riset yang relatif singkat, sang sutradara, Atilah Soeryadjaya menulis naskah dan lagu yang menajadi roh pada seluruh jalan cerita. Jay Subyakto pun mampu menghadirkan tata panggung yang megah dan imajinatif. Bagaimana tidak, bentuk panggung miring dan berbukit-bukit dengan tiga level ketinggian adalah sesuatu yang tidak biasa. Erwin Gutawa bersama tim orkestra dengan sangat baik mampu mengiringi jalan cerita dengan nada lagu dan musik yang indah. Tim koreografer pun sanggup mengkreasikan bentuk koreografi yang dinamis sepanjang pertunjukan sehingga penonton tidak bosan.

Menari sambil menyanyi lalu harus berlarian di panggung yang miring tentu membutuhkan stamina lebih. Apalagi beberapa kali para pemeran utama harus berdialog dan menyanyi sambil terus menari dan menampilkan gerak silat. Napas lebih cepat habis dan tenaga lebih cepat terkuras. Salut untuk para pemain yang memberikan penampilan terbaiknya.

Kredit lebih saya berikan kepada tim kreatif yang menciptakan laser mapping untuk mendukung visualisasi Ariah di panggung. Teknologi ini adalah sesuatu yang masih baru bagi dunia pertunjukan di Indonesia dan belum banyak digunakan. Tim kreatif mampu memanfaatkan konstruksi Tugu Monas yang menjulang tinggi tepat di belakang tengah panggung untuk menampilkan kreasi hebat mereka. Dengan sinar laser yang berwarna-warni, mereka menciptakan ilustrasi gradial yang ditembakkan ke permukaan panggung. Citra visual yang ditembakkan ke permukaan panggung terus berubah-ubah mengikuti suasana jalan cerita. Beragam animasi pun ditampilkan bergantian di dinding Tugu Monas untuk menguatkan cerita yang sedang dipentaskan di panggung.

Kombinasi hebat antara gerak tari kontemporer yang dinamis, tata panggung yang megah, musik pengiring yang indah, dan teknologi laser yang superkreatif, mampu memuaskan para penikmat seni yang sengaja datang ke silang Monas. Seseorang yang awam terhadap seni seperti saya pun sangat mengapresiasi apa yang ditampilkan dalam pentas Ariah. Bukankah salah satu bentuk keberhasilan pentas seni bagi penampilnya adalah ketika semua penonton pulang ke rumah dengan kegembiraan dan perasaan puas atas apa yang baru disaksikannya. Selamat untuk tim Ariah.

Ariah

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *