Komodo, Naga yang Tersisa dari Jaman Purba

Di sebelah barat Flores terbentang gugusan pulau berbukit nan eksotis. Pulau-pulau ini merupakan habitat bagi komodo (Varanus komodoensis). Bentuk morfologis komodo yang memiliki kesamaan dengan makhluk mitikal dari daratan Tiongkok yang bersayap dan dapat menyemburkan api lantas membuat reptil ini dijuluki sang naga. Satwa langka yang hingga kini masih bertahan dari zaman Tertiarum ini memang menjadi alasan bagi banyak orang untuk berkunjung. Taman Nasional Komodo melindungi komodo dari kepunahan. Ekosistem yang masih terjaga dan panorama menawan lantas membuat destinasi ini menjadi destinasi vakansi bagi pejalan tanah air maupun mancanegara.

flo02 cov

Speedboat yang kami tumpangi bertolak dari dermaga Labuan Bajo. Perlahan speedboat menyeberangi perairan dengan tebaran pulau-pulau kecil. Cuaca yang cerah dan gelombang laut yang tidak begitu tinggi membuat kami bisa menikmati perjalanan. Kapten kapal begitu lihai mengendalikan laju speedboat, menghindari pusaran air yang memang cukup kuat di kawasan pertemuan arus dari Pasifik dan Hindia itu. Kurang dari dua jam kami sudah merapat di dermaga Loh Liang di Pulau Komodo.

flo01

Setelah melapor ke pos registrasi, kami segera memulai penjelajahan dengan dipandu dua orang jagawana. Berada di habitat asli sang naga tentu menuntut kewaspadaan ekstra. Komodo adalah karnivora yang sangat agresif. Binatang ini sensitif terhadap gerak-gerik yang tiba-tiba dan sanggup mencium bau darah mangsanya dari jarak berkilo-kilo meter. Jagawana yang menemani kami senantiasa mengingatkan agar kami tidak keluar dari jalur trekking demi menghindari kemungkinan serangan komodo.

Sebagai predator, komodo memiliki gigi dan cakar yang tajam untuk melumpuhkan mangsanya. Binatang buruan yang sudah ditaklukkan tidak langsung dimakan, tetapi dibiarkan membusuk dan baru dilahap beberapa hari kemudian. Air liur komodo yang mengandung puluhan jenis bakteri adalah racun yang sangat efektif dan mematikan. Racun inilah senjata utama komodo dalam berburu.

flo06

“Saya pernah diserang komodo. Paha kanan saya sampai terkoyak. Saya segera mencari daun sesu lalu meremas-remas dan membalurkannya di luka gigitan komodo jadi nyawa saya masih tertolong”, cerita salah seorang jagawana kepada kami. Sesu adalah sejenis tanaman semak berdaun lebar. Daun sesu memiliki kandungan antibiotik sebagai pertolongan pertama yang dapat mencegah bakteri di air liur komodo menyebar dengan cepat.

Dalam rimbunan hutan di Pulau Komodo, ada sebuah tempat yang diberi nama dragon nest. Di area ini terdapat belasan lubang berkedalaman sekitar 2 meter. Di situlah para induk komodo meletakkan telur-telurnya sekaligus mengamankannya dari predator seperti babi hutan, elang laut, bahkan komodo lain. Dalam sekali bertelur seekor komodo akan menghasilkan 15 hingga 35 butir. Dari jumlah sebanyak itu, hanya 3 sampai 4 saja yang menetas. Komodo yang bisa bertahan hidup hingga dewasa jauh lebih sedikit.

Di salah satu sisi Pulau Komodo, ada segaris pantai dengan pasir berwarna kemerahan. Pink Beach, demikian pantai itu biasa disebut. Pecahan koral dan alga yang berwarna merah muda tersapu ke pantai dan bercampur dengan pasir. Hal itu membuat pantai dari kejauhan berwarna merah muda. Pink Beach adalah salah satu spor snorkeling favorit. Kondisi terumbu karang masih terjaga. Berbagai spesies ikan dan biota laut lainnya hidup nyaman di tempat itu.

flo07

Selepas dari Pulau Komodo, kami melanjutkan penjelajahan menuju ke Pulau Rinca. Penjelajahan di Pulau Rinca dimulai dari dermaga Loh Buaya. Sepanjang jalur trekking kami banyak menjumpai komodo yang sedang berjemur. Binatang berdarah dingin ini biasanya setiap pagi dan sore keluar dari sarangnya untuk mencari kehangatan dari sinar matahari. Komodo membutuhkan waktu berhari-hari untuk mencerna mangsa yang dimakannya sehingga daging mangsa yang ada di perut harus dijaga agar tidak membusuk dengan cara berjemur.

Selain Pulau Rinca dan Pulau Komodo, kawasan lain yang menjadi konservasi komodo adalah pulau Nusa Kode dan Gili Motang. Populasi komodo di keempat pulau tersebut mencapai 5.370 ekor. Beberapa tahun belakangan ini jumlah populasi komodo cenderung stagnan. Dengan tingkat reproduksi yang tergolong rendah, kelestarian komodo harus benar-benar dijaga.

flo08

Taman Nasional Komodo memiliki bentang alam yang unik. Kontur perbukitan dan jenis pepohonan yang tumbuh seolah membawa kami ke masa purba. Ada sebuah puncak bukit yang disebut Sulphurea Hill. Dari tempat ini pengunjung dapat melepaskan pandangan jauh ke sekeliling pulau dan menikmati panorama taman nasional. Tak jarang beberapa komodo dewasa melintasi kawasan ini sembari menjulurkan lidah bercabangnya untuk melacak aroma mangsa di kejauhan.

Taman Nasiona Komodo sudah mendapat pengakuan internasional sebagai tempat konservasi satu-satunya reptil purba yang masih hidup. Kebanggaan yang sekaligus memberikan tanggung jawab bagi Indonesia untuk menjaga kelangsungan kawasan ini. Sebagai pelancong, sudah seharusnya kita tidak hanya sekedar menikmati keunikan hayati dan keindahan alamnya. Kita bisa ambil peran positif dalam melestarikan taman nasional dengan cara mematuhi semua peraturan dan tidak merusak habitat komodo selama berkunjung ke sana. Alam akan tetap berada dalam keseimbangan selama manusia tidak berbuat melebihi batas.

Terima kasih.

flo09

flo05


Tulisan ini merupakan bagian dari promosi pariwisata Pesona Indonesia. Seluruh rangkaian perjalanan diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *