Kisah tentang Bukit di Belakang Sekolah

Dalam animasi Doraemon, diceritakan bahwa Nobita dan teman-temannya memiliki sebuah tempat persembunyian yang sempurna. Tempat itu berupa puncak bukit yang terletak di belakang sekolah. Jika ingin membolos sekolah, mereka memilih untuk bersembunyi di tanah lapang di puncak bukit itu. Dari sana, pemandangan seantero kota dapat terlihat jelas.

Dalam dunia nyata, saya dan teman-teman di pecinta alam SMA juga memiliki semacam ikatan tersendiri dengan sebuah gunung kecil tak jauh dari sekolah. Gunung Ungaran namanya, terletak di Kabupaten Semarang Jawa Tengah. Hampir sepuluh tahun yang lalu di tempat ini kami menjalani pendidikan dasar sebagai seleksi masuk organisasi pecinta alam. Kegiatan yang dulu sangat menguras fisik dan mengintimidasi mental itu kini menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk diingat.

Beberapa minggu yang lalu saat pulang kampung, saya dan beberapa teman menyempatkan mendaki Gunung Ungaran. Sekedar sebagai pelepas penat hari-hari di ibukota sekaligus mengobati sakau setelah lama tidak mendaki. Sekarang untuk mencapai basecamp pendakian Gunung Ungaran relatif mudah. Sudah ada jalan beton yang bisa dilalui mobil dan motor untuk menghubungkan desa terdekat dengan basecamp Mawar, sebutan untuk pos yang biasa digunakan untuk registrasi sebelum pendakian. Jaman kami dipelonco dulu, basecamp Mawar hanya bisa dicapai dengan melintasi jalan berbatu yang lumayan terjal.

Panorama dari basecamp Mawar

Setelah mendaftar dan menitipkan motor kepada petugas basecamp, pagi itu kami memulai pendakian. Mentari belum sepenuhnya naik, sisa embun dan kabut masih terlihat. Dulu di sekitar basecamp Mawar masih dipenuhi pohon-pohon pinus berukuran besar. Saat ini rimbunan pinus sudah jauh berkurang, berganti dengan lahan perkemahan dan perluasan kawasan wisata. Industri wisata memang dilematis. Di satu sisi dapat memberdayakan perekonomian warga lokal, di sisi lain ada bagian kelestarian alam yang harus dikorbankan.

Bertahun-tahun tidak menjelajahi lereng Gunung Ungaran tidak menghilangkan ingatan kami akan rute pendakian. Kami melibas jalur trekking dengan lancar meski nafas terengah-engah. Usia rupanya tidak bisa dibohongi. Di tengah jalur, ada aliran sungai dengan air sangat jernih. Beningnya air memecah lembut di antara bebatuan. Rumpun bunga liar tumbuh di sela-sela bebatuan itu. Kami menghabiskan waktu cukup lama di tempat ini. Membasuh muka dengan dingin air pegunungan memberi impresi mendamaikan.

Aliran air di lereng Gunung Ungaran

Sekitar sejam dari basecamp Mawar, kami sampai di perkebunan teh yang dikelola PTPN setempat. Ada persimpangan, ke utara menuju Desa Promasan dan ke selatan menuju puncak Ungaran. Desa Promasan terletak di tengah-tengah hamparan perkebunan teh. Ada mata air di pinggir desa yang sanggup menyuplai kebutuhan air penduduk. Tak jauh dari mata air, terdapat goa Jepang dengan panjang kurang lebih 150 meter. Saat pendidikan dasar dulu, kami ditantang untuk caving di goa Jepang ini dengan perlengkapan sangat terbatas. Simulasi survival selama beberapa hari juga dilaksanakan di areal perkebunan teh di sekitar Promasan.

Sejenak beristirahat di kebun teh, kami melanjutkan pendakian menuju puncak. Trek pendakian yang kami hadapi jauh berbeda dengan trek dari basecamp. Jalur menanjak dengan elevasi lebih dari 45 derajat. Tak jarang kami harus berjibaku menerobos batang pohon yang menutupi jalur. Summit attack menuju puncak Ungaran memiliki karakter unik yang berbeda dengan gunung lain. Di beberapa bagian, jalur terblokir oleh tebing batu sehingga kami harus mengeluarkan usaha lebih untuk memanjatnya. Batuan yang tersusun estetis menambah keindahan panorama menuju puncak.

Menjelang tengah hari kami mencapai titik tertinggi di Gunung Ungaran. Di beberapa referensi, puncak Ungaran berada pada ketinggian 2.050 meter di atas permukaan laut. Namun, altimeter yang kami bawa menunjukkan ketinggian hanya 1.932 meter. Puncak Ungaran adalah tempat terbaik untuk melihat lanskap kota-kota di sekitarnya. Dari tempat ini, terlihat samar garis pantai Laut Jawa. Saat mengedarkan pandangan ke sisi selatan, terlihat secara utuh Rawa Pening. Dari puncak Ungaran pula dapat dilihat puncak-puncak gunung lain seperti Gunung Merbabu, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, hingga Gunung Lawu nun jauh di tenggara.

Desa Promasan dari kejauhan

Siang itu cuaca cerah dengan selingan balutan kabut yang datang silih berganti. Awan menggantung rendah memayungi Desa Promasan dan perkebunan teh di sekelilingya. Pendakian yang lumayan menguras tenaga selama hampir empat jam terlunasi dengan kepuasan mencapai puncak. Bukit belakang sekolah ini masih memberikan ketenangan seperti dulu.

Puncak Merbabu dari balik kabut

Pulang. Terimakasih.

2 Comments

  1. Adhi, trims ya sudah bikin tulisan ini. Dulu aku pernah diajak sama teman2 (apa kamu ikut juga ya?) ke Gn Ungaran. It was my first time and unforgettable high school experience! Pendakian ke Gn Ungaran dulu itu benar2 membekas sampai sekarang. Habis baca tulisan kamu ini, aku jadi punya rencana ke sana habis Lebaran besok. Adhi trims ya. Salam.

    • Halo, Yod. Makasih udah mampir. Gunung ini memang punya semacam kenangan tersendiri buat anak-anak Jaga Bhumi, makanya aku nulis tentang ini. Setelah Lebaran aku juga ada rencana naik gunung, sekitar Salatiga juga sih. Merapi atau Merbabu. Bisa di-set naik bareng kah? ngajak temen2 yang lain juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *