Kisah di Balik Penjelajahan Terios 7 Wonders Hidden Paradise

Senja baru saja berlalu di Pink Beach, Pulau Komodo. Petang itu langit tampak begitu syahdu. Aku menyiapkan kamera lalu beranjak naik ke dek kapal. Guratan awan jingga menyatu dengan permukaan laut yang mulai gelap. Timeless. Momen seperti ini selalu bisa membuat petualang manapun terdiam dan bersyukur betapa Indonesia memiliki alam yang memukau. Aku jadi teringat dua sahabatku, Bambang dan Harris. Tahun lalu mereka melakukan perjalanan panjang menyusuri tempat-tempat nan eksotis dari Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, dan berujung di Pulau Komodo ini dalam petualangan bertajuk Terios 7 Wonders Hidden Paradise. Barangkali di tempat ini kami merasakan hal yang sama, yaitu rasa cinta yang semakin mendalam pada nusantara.

Rangkaian perjalanan Terios 7 Wonders Hidden Paradise menghadirkan banyak cerita. Tujuh destinasi yang dikunjungi serupa mozaik yang menyusun sebuah kisah utuh. Aku masih ingat betul cerita mereka tentang nirwana-nirwana tersembunyi itu…

Warna-Warni Sawarna

Melepas keberangkatan Tim Terios 7 Wonders Hidden Paradise (foto oleh @wiranurmansyah)

Mentari belum sepenuhnya beranjak ketika tim bertolak dari kawasan Sentul pada 30 September 2013. Tim yang terdiri dari tujuh mobil memulai perjalanan menuju hidden paradise pertama, Sawarna. Bentang alam menuju Sawarna membuat mata menjadi manja. Kombinasi sawah, bukit, dan laut lepas adalah lanskap yang menemani rombongan hingga mencapai Kecamatan Bayah, tempat di mana Desa Sawarna berada.

Masih banyak yang menganggap Sawarna adalah pantai. Sebetulnya, Sawarna adalah desa yang menjadi pintu gerbang menuju pantai-pantai cantik. Ada beberapa pantai tujuan di Sawarna. Sebut saja Ciantir, Karang Taraje, Laguna Pari, dan Tanjung Layar yang terkenal dengan karang tinggi besar menyerupai layar. Karang itulah yang menjadi ikon Sawarna.

Bagi pecandu fotografi lanskap, perjuangan berat menaklukan medan menuju Sawarna sebanding dengan apa yang didapatkan. Pantai-pantai di Sawarna diakui sebagai salah satu lokasi slowspeed photography terbaik di tanah air. Begitu juga dengan para pecandu petualangan alam liar. Gua-gua kapur dengan aliran sungai bawah tanah menanti untuk disusuri. Ada Gua Lawuk dan Gua Lalay di bukit karst di pinggiran desa.

Tak hanya pesona alamnya, keramahan penduduk Sawarna memberi perspektif menarik tentang desa ini. Lucia Nancy, travel blogger, sore itu bercengkrama dengan seorang perajin meubel dari kayu kelapa. Tidak hanya lihai mengelola pariwisata, warga Sawarna juga terampil membuat produk kriya yang sanggup menembus pasar Jakarta.

Tak salah memang jika Sawarna ditetapkan sebagai environmental village atau desa ramah lingkungan. Kombinasi pesona alam dan keramahan penduduknya adalah paket lengkap yang akan menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke sana.

Hidden Paradise #1 : Sawarna (foto oleh Adhi Kurniawan)

Perjalanan berlanjut. Konvoi diarahkan melibas jalur lintas selatan Jawa menuju Yogyakarta. Kali ini hidden paradise kedua yang akan dikunjungi adalah Desa Kinahrejo. Saksi bisu letusan Merapi ini menyimpan banyak kisah mengenai semangat hidup dan bertahan dalam keterbatasan.

Kinahrejo, Bertahan dan Terus Bertumbuh

Hidden Paradise #2 : Kinahrejo, Merapi (foto oleh Adhi Kurniawan)

Desa Kinahrejo tidak bisa dipisahkan dari Mbah Maridjan. Publik mengenal sosok itu sebagai kuncen Merapi yang menolak dievakuasi saat terjadi letusan. Letak Desa Kinahrejo tepat berhadapan dengan kawah. Saat Merapi kembali erupsi pada akhir 2010, Kinahrejo tersapu awan panas. Mbah Maridjan gugur sebagai abdi dalem yang dipercaya menjaga keharmonisan hubungan alam Merapi dan manusia di sekitarnya. Puluhan warga meninggal. Desa beserta isinya luluh lantak.

Irama rancak gamelan yang mengiringi tari jathilan menyambut Tim Terios 7 Wonders Hidden Paradise di Kinahrejo siang itu. Tim menapaki museum alam yang menyimpan kenangan atas bencana yang terjadi. Dahsyatnya letusan Merapi kala itu terekam jelas dalam Museum Sisa Hartaku. Kerangka mobil dan motor, sisa alat perabotan dapur, tulang belulang sapi, serta bangunan rumah yang roboh menjadi penanda betapa besar kerusakan yang ditimbulkan. Siapa pun yang singgah akan merenung tentang arti hidup dan rasa syukur tidak mengalami bencana sedahsyat itu. Sejenak mengingat agar senantiasa dekat dengan Sang Pencipta.

Puput Aryanto, seorang pejalan sekaligus penulis, memiliki ikatan emosional yang kuat dengan desa ini. Sebagai “anak gunung” kelahiran Jogja yang tumbuh dan besar di kota ini, dia kerap kali melakukan kegiatan outdoor seperti berkemah atau berlatih navigasi dan survival di lereng selatan Merapi ini.

Terios sanggup melibas medan ekstrim (foto oleh @wiranurmansyah)

Desa Kinahrejo sudah bangkit kembali dan mulai berbenah selepas bencana empat tahun lalu. Blessing in disguise. Warga mampu mengubah bencana menjadi berkah. Desa yang luluh lantak akibat terjangan lahar menimbulkan rasa penasaran wisatawan terhadap Kinahrejo dan Mbah Maridjan. Rasa penasaran itu wisatawan direspon menjadi paket lava tour yang dikelola secara mandiri oleh warga. Petualangan menumpang jeep four-wheel-drive atau mengendarai motor trail menjadi primadona di Kinahrejo.

Jalur yang biasanya hanya bisa dilewati jeep dengan empat roda penggerak ternyata mampu dilahap oleh konvoi Terios. Performa mobil yang tangguh di medan berat dan ditunjang skill handal para driver mampu melibas jalur ekstrim berpasir dengan jurang di sebelahnya. Tak hanya menjelajah desa, tim juga melakukan penanaman pohon dan memberikan beasiswa kepada anak-anak Kinahrejo yang berprestasi. Bantuan diharapkan mampu mendorong warga Kinahrejo untuk terus bangkit dan bertumbuh pasca letusan Merapi.

Lelah itu pasti. Namun, penjelajahan tidak boleh berhenti. Tim segera mamacu mobil menuju Jawa Timur. Hidden paradise ketiga harus disambangi. Selama perjalanan tim senantiasa mengutamakan aspek keselamatan seperti kondisi mobil yang prima, teknik mengemudi yang tepat, serta kepatuhan terhadap aturan lalu lintas. Barisan mobil diusahakan tidak sejajar dan diberi jarak aman beberapa meter untuk mengantisipasi agar tidak terjadi tabrakan beruntun jika salah satu mobil mengalami insiden. Perencanaan rute perjalanan yang tepat dan efisien juga menjadi kunci penting keberhasilan suatu perjalanan. Sebaiknya, batasi waktu mengemudi tidak lebih dari dua belas jam sehari. Akumulasi kelelahan dan rasa kantuk akibat lamanya waktu mengemudi jelas akan mengganggu konsentrasi driver sehingga berpotensi menimbulkan insiden.

Kearifan Lokal dalam Sebentuk Dapur di Tengger

Hidden Paradise #3 : Ranu Pani, Tengger (foto oleh Adhi Kurniawan)

Menjelang malam, Tim Terios 7 Wonder Hidden Paradise sampai di Desa Ranu Pani. Desa yang menjadi gerbang masuk pendakian Gunung Semeru ini ditinggali Suku Tengger. Udara malam yang menusuk tulang membuat seluruh anggota tim bergegas masuk ke rumah Mak Yem. Terletak pada ketinggian lebih dari 2000 meter di atas permukaan laut, tak heran udara di Ranu Pani begitu dingin. Langit pedesaan yang masih bersih didukung minimnya pencahayaan dari lampu menyajikan taburan bintang. Saat pagi menjelang, golden moment berupa matahari terbit dan kabut tipis yang melayang di permukaan danau menjadi hal yang dinanti.

Arsitektur rumah tradisional Tengger memiliki keunikan di mana ruang tamu disatukan dengan pawon atau dapur. Hal ini membuat tuan rumah dan tamu seakan tidak berjarak saat sama-sama duduk di sekeliling tungku perapian, mengusir hawa dingin sembari berbincang. Hangatnya perapian akan menciptakan keakraban dan rasa nyaman bagi para tamu. Rasa lapar anggota tim setelah menempuh perjalanan jauh dijinakkan oleh suguhan ala Tengger yang terdiri dari nasi putih, jagung, ubi rebus, sayur bunga kol muda, tahu-tempe goreng, ayam bakar, serta sambal plecing khas Ranu Pani.

Malam bertabur bintang di Ranu Pani (foto oleh @wiranurmansyah)

Allah Maha Adil. Di tempat sedingin Ranu Pani, Dia menciptakan kehangatan melalui keramahan warganya.

Tak hanya singgah di Ranu Pani, Tim Terios 7 Wonder Hidden Paradise memberikan bantuan berupa tong sampah lengkap dengan alat kebersihan. Kegiatan ini bertujuan menanggulangi sampah yang semakin menumpuk di Ranu Pani, berbanding lurus dengan bertambahnya volume pendakian ke Semeru. Seperti paparan Bambang Priadi, anggota tim yang juga pemerhati lingkungan, sampah selalu menjadi persoalan klasik yang tak kunjung usai. Sebaiknya wisatawan juga ikut bertanggung jawab dan peduli akan kelestarian lingkungan.

Setelah dipeluk dinginnya suasana pegunungan Ranu Pane yang hijau, Tim Terios 7 Wonders Hidden Paradise dihadang padang gersang. Hidden paradise keempat, Baluran, sudah di depan mata. Tim serasa berada di Afrika, padahal mereka masih berada di Indonesia. Taman nasional yang berada di ujung timur Jawa itu memang memiliki kemiripan ekosistem dengan padang Serengeti di benua hitam.

Alam Liar Baluran nan Menantang

Hidden Paradise #4 : Baluran (foto oleh Adhi Kurniawan)

Walaupun sampai di Baluran sudah larut malam, tidak lantas membuat anggota tim bisa merebahkan badan. Ajakan para jagawana Baluran untuk melakukan safari malam mampu mengenyahkan rasa lelah. Berbekal headlamp dan senter, mereka berjalan menembus malam untuk mengamati aktivitas hewan nocturnal di kawasan taman nasional. Sorot mata hewan dan gemerisik dari balik semak-semak memberikan sensasi petualangan alam liar.

Sabana terluas di Pulau Jawa ini merupakan habitat bagi beragam spesies fauna. Mulai dari aneka rupa kupu-kupu, ratusan jenis burung, hingga mamalia besar seperti rusa, kerbau liar, dan banteng. Tim datang ketika Baluran tengah mengalami musim kemarau. Hijaunya padang rumput di musim hujan berganti dengan semak belukar dan pohon-pohon kapasan. Selain padang rumput yang berlatar Gunung Baluran, taman nasional ini juga memiliki pesona underwater di sisi utara Pantai Bama. Keindahan koral dan kehidupan bawah lautnya masih menyimpan misteri untuk ditelusuri. Puluhan tahun yang lalu Baluran mencapai puncak kejayaannya. Tak kurang tokoh dunia macam Kaisar Jepang hingga Pangeran Phillip memilih Baluran sebagai tempat bertetirah.

Menembus jantung sabana Baluran (foto oleh @wiranurmansyah)

Konvoi Terios melaju membelah jantung Baluran dari kawasan Bekol. Mentari pagi yang baru terbit mengiringi tim meninggalkan Africa van Java untuk melanjutkan petualangan ke destinasi berikutnya.

Baluran menutup rangkaian penjelajahan di Pulau Jawa. Bukan perkara mudah untuk bisa bertahan dalam road trip panjang seperti ini. Pada hari ketujuh petualangan, odometer mobil sudah menunjuk angka 1785 kilometer. Baru separuh perjalanan. Perlu daya tahan tubuh yang prima dan kedisiplinan tinggi agar itinerary yang sudah disusun dapat berjalan sesuai rencana. Beberapa cara dilakukan Tim Terios 7 Wonders Hidden Paradise untuk bisa bertahan dalam perjalanan panjang ini. Media komunikasi berupa handy talkie yang ada di setiap mobil, selain digunakan untuk koordinasi selama perjalanan, juga difungsikan sebagai semacam broadcast radio pribadi di mana anggota tim saling melempar jokes atau guyonan. Humor adalah cara efektif membangun suasana akrab antar anggota tim. Tanah Jawa sudah terlewati. Selat Bali dan Selat Lombok sudah pula terseberangi. Saatnya menuju hidden paradise kelima. Desa adat Sade.

Tradisi Sade yang Melintasi Waktu

Hidden Paradise #5 : Sade Rembitan (foto oleh Adhi Kurniawan)

Desa Sade ada di kawasan Lombok Tengah. Desa adat ini dihuni oleh Suku Sasak yang masih mempertahankan pola hidup dan tata sosial yang diajarkan turun-temurun.

Diawali dengan penampilan Gendang Beleg, tim disuguhi beragam tarian adat. Tak lama kemudian anggota tim menjelajahi desa di mana rumah-rumah bale kokoh berdiri. Rumah adat yang disangga tiang kayu ini berdinding anyaman bambu dan beratap jerami atau daun kelapa. Untuk membuat lantai tanah menjadi sekeras semen dan tidak lembab, warga melapisinya dengan kotoran kerbau. Disgusting but it works. Ada kepercayaan bahwa rumah yang dibersihkan dengan kotoran kerbau akan terbebas dari gangguan roh jahat. Tradisi lain yang masih dipertahankan adalah kebiasaan menenun dengan alat tradisional yang dilakukan oleh para wanita Sade.

Penculikan yang mewarnai kisah asmara tidak hanya dialami sejoli Rama dan Shinta. Pemuda pemudi Sade pun memiliki romantisme serupa. Jika Rama harus menyelamatkan Shinta yang diculik Rahwana, lelaki Sade justru harus sanggup menculik gadis pujaan hatinya. Tentu yang dimaksud menculik bukanlah menculik dengan niat jahat. Sang penculik dan gadis yang diculik biasanya sudah lama menjalin hubungan dan saling suka. Menculik perempuan yang dicintai adalah pembuktian dari seorang lelaki bahwa di layak untuk mendapatkan perempuan itu dan sanggup menghidupinya. Sang ayah tidak memiliki pilihan lain kecuali menikahkan anak gadisnya dengan si penculik.

Warga Desa Sade (foto oleh @wiranurmansyah)

Selepas dari Desa Sade, tim menyepakati menambah dua destinasi di luar itinerary. Bukankah esensi perjalanan adalah menemukan hal dan pengalaman baru. Surga tersembunyi itu bernama Pantai Tangsi dan Pantai Selong Belanak. Pantai Tangsi, dinamakan demikian karena pada masa Perang Dunia II tempat ini dijadikan tangsi atau benteng pertahanan oleh tentara Jepang. Peninggalan sejarah itu terekam dalam terowongan dan sisa meriam yang mengarah ke laut. Pantai ini juga beken dengan sebutan Pink Beach Lombok karena serpihan pasir pantai yang berwarna merah muda akibat pecahan karang dan pantulan warna dari terumbu karang.

Menyeberang dari Lombok ke Sumbawa, tim melanjutkan ekspedisi ke hidden paradise keenam. Sumbawa memiliki padang luas di mana kuda-kuda liar merumput. Sumbawa memang dikenal sebagai penghasil susu kuda liar kualitas wahid. Ada sedikit perubahan rencana. Kunjungan yang semula dijadwalkan ke Kabupaten Dompu digeser ke Kabupaten Bima.

Balada Padang Rumput Sumbawa

Hidden Paradise #6 : Bima, Sumbawa (foto oleh Adhi Kurniawan)

Warga Bima memerah susu kuda liar untuk dikonsumsi karena memang kuda yang banyak hidup di sana. Sapi hanya ada sedikit. Kuda yang berukuran sedikit lebih kecil dari kuda Sumba ini seringkali dimanfaatkan sebagai kuda pacu. Kuda yang tidak dipakai sebagai kuda pacu digunakan sebagai kuda perah. Kuda Sumbawa sanggup menyuplai susu untuk kebutuhan konsumsi pribadi pemilik dan untuk dijual. Kuda dilepas di padang rumput pada pagi hari dan saat petang mereka akan kembali ke rumahp emiliknya. Kuda ini unik, dia mengenali siapa pemiliknya dan hanya “mau” diperah susunya oleh sang pemilik. Tidak beraroma amis seperti susu sapi, susu kuda liar Sumbawa lebih mirip santan encer.

Cara memerah susu kuda liar simpel saja, hampir mirip seperti memerah susu sapi. Salah satu kuda liar yang sengaja ditambatkan sore itu diperah susunya untuk selanjutnya disajikan kepada anggota tim. Perlu keberanian untuk mencicipi sesuatu yang baru. Salah satunya, meminum susu segar yang baru diperah dari kuda liar seperti yang dilakukan blogger Harris Maulana.

Kuda liar Sumbawa di sabana (foto oleh @wiranusrmansyah)

Alam Sumbawa adalah alam yang diciptakan untuk berpetualang. Dari ujung barat pulau hingga ujung timur dibangun jalan mulus beraspal yang sejajar dengan garis pantai. Bukit berpadang rumput luas di satu sisi berpadu dengan birunya air laut di sisi lain tentu memberikan sensasi petualangan yang memanjakan mata.

Tim berpacu menuju Pelabuhan Sape di ujung timur Sumbawa mengejar jadwal penyeberangan ke Labuhan Bajo. Momen emosional terjadi sore itu di Pelabuhan Sape. Satu mobil diangkut ke kapal ferry untuk menyeberang ke Labuhan Bajo. Enam mobil lainnya kembali ke Jakarta. Tim harus dipecah. Setelah senantiasa bersama dalam satu tim selama hampir dua minggu, sebagian besar driver dan anggota tim berpisah dengan tim kecil yang meneruskan perjalanan. Tidak saling mengenal di awal perjalanan, membangun kebersamaan sebagai keluarga selama perjalanan, dan harus berpisah saat perjalanan belum usai tentu bukan perkara mudah.

Mission must go on. Pada saat itu jarak sudah bukan lagi halangan bagi tim kecil yang menyeberang ke Labuhan Bajo. Tinggal selangkah lagi. Misi membawa Terios merapat di Pulau Komodo harus dituntaskan.

Itu Sudah!

Siang itu, Minggu 13 Oktober 2013, menjadi titik kulminasi road trip Terios 7 Wonders Hidden Paradise. Terios dengan kode T2 terparkir dengan manis di dek Kapal Phinisi Plataran Bali. Mobil ini membuktikan ketangguhannya dalam ekspedisi panjang melintasi Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, dan berujung di Pulau Komodo. Sengaja mobil tidak dikemudikan turun ke daratan Pulau Komodo demi alasan konservasi. Kendaraan bermotor memang dilarang hilir mudik Pulau Komodo agar udara tidak terkontaminasi asap kendaraan. Jadilah kapal merapat di Dermaga Loh Liang yang menjadi gerbang masuk Pulau Komodo. Mission totally complete. Tuntas sudah perjuangan fisik yang menguras emosi selama 14 hari melintasi jarak tak kurang dari 2.500 kilometer.

Terios berhasil merapat ke Pulau Komodo (foto oleh @wiranurmansyah)

Selebrasi atas keberhasilan Terios 7 Wonders Hidden Paradise (foto oleh @wiranurmansyah)

Komodo, World New 7 Wonders

Hidden Paradise #7 : Pulau Komodo (foto oleh Adhi Kurniawan)

Pantaslah Pulau Komodo dinobatkan sebagai World New 7 Wonders. Hidden paradise ketujuh ini menjadi habitat asli binatang purba yang masih bertahan ini tidak hanya menyajikan keajaiban di daratannya. Alam bawah laut Pulau Komodo adalah salah satu yang terbaik di Indonesia, bahkan dunia. Banyak wisatawan asing yang sengaja berlama-lama live on board untuk menjelajah alam bawah laut komodo.

Selain di Pulau Komodo, sang naga purba juga hidup di Pulau Rinca yang memang masih masuk dalam kawasan Taman Nasional Pulau Komodo. Trekking di habitat asli sang kadal raksasa juga memberikan pengalaman petualangan yang seru. Dipandu oleh dua orang ranger, tim menjelajahi Pulau Rinca. Jalur trekking paling pendek dipilih untuk efisiensi waktu. Komodo adalah predator yang berbahaya. Babi hutan, monyet, serta telur burung maleo adalah target buruan komodo. Penjelajahan di pulau di mana komodo berkeliaran harus dipandu atau ranger. Selain menguasai medan, ranger biasanya mengetahui di bagian pulau sebelah mana komodo bisa ditemukan. Dengan bentuan ranger, anggota tim menemukan beberapa komodo yang sedang berkeliaran.

Jangan pernah ke Pulau Komodo tanpa membawa diving lincense. Ada banyak spot menyelam di sekeliling Pulau Komodo yang bisa dijelajahi. Anggota tim yang memiliki lisensi menyelam bisa melanjutkan penjelajahan dengan dipandu dive master. Sementara yang tidak memiliki lisensi dapat melakukan discovery diving di perairan dangkal.

Malam datang namun aku masih belum beranjak dari dek kapal. Aku masik asyik meresapi makna perjalanan yang dilakukan para sahabatku dalam Terios 7 Wonders Hidden Paradise. Perjalanan bukan tentang keindahan alam, keunikan budaya, atau destinasi wisata semata. Namun juga tentang persahabatan yang terjalin. Perjalanan adalah bagaimana kita bisa sampai di tujuan dan belajar mendapatkan makna terdalam dari suatu penjelajahan. Bisa belajar untuk menjadi seseorang yang lebih peduli pada orang di sekitar dan menghargai alam. Belajar untuk berani keluar dari zona nyaman dan menyambut tantangan yang menghadang.

Setelah daratan Andalas diakrabi melalui ekspedisi 7 Wonders Coffee Paradise pada tahun 2012 lalu dilanjutkan dengan 7 Wonders Hidden Paradise yang melintasi Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, hingga Komodo, tahun ini petualangan berlanjut ke timur Indonesia. Sulawesi memiliki beragam pusaka budaya yang luhur. Alat musik tiup bambu khas Manado, keseharian Suku Bajo di Gorontalo, kain mandar ala Majene, upacara dan keriuhan pesta pemakaman yang hanya ada di Toraja, pembuatan kapal phinisi Bulukumba yang melegenda, kisah makam raja-raja Lamuru di Bone, serta tarian Suku Tolaki yang bernaa Tari Ma’Lulo. Semua warisan tak ternilai itu akan dijelajahi dalam Terios 7 Wonders Amazing Celebes Heritage. Ah, sebuah kesempatan langka yang begitu menggoda. Siapa yang tidak tertarik merasakan pengalaman berharga bersama sahabat-sahabat baru. Aku harus mempersiapkan diri untuk meraih kesempatan itu. Celebes, aku akan datang…

[Tulisan ini diikutsertakan dalam blog competition bertajuk Terios 7 Wonders Amazing Celebes Heritage]

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

2 Comments

  1. Foto-fotonya Wira emang cakep haha.

    • yang bikin tulisan ini juga gak kalah cakep lho, mas
      hahahaha

      maturnuwun sampun mampir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *