Kisah di Balik Pembuatan Phinisi Bulukumba

Suara palu yang beradu dengan pasak kayu terdengar ritmis. Deru gergaji mesin bersahutan dengan desingan bor listrik. Sesekali terdengar teriakan orang-orang dengan penekanan nada tinggi di akhir kalimat. Seakan menonton orkestra, saya menyimak dengan penuh perhatian para maestro pembuat kapal phinisi sedang bekerja. Kapal yang mereka buat belu sepenuhnya jadi. Serbuk kayu dan bekas serutan papan tersebar di mana-mana. Potongan pasak kayu pun masih berserakan di dasar lambung kapal.

Desa Tanah Lemo yang berada di Kecamatan Bonto Bahari memang dikenal sebagai sentra pembuatan kapal rakyatdi Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Perlu waktu sekitar lima jam melalui jalur darat untuk mencapai desa ini dari Makassar. Tidak hanya di tanah air, reputasi Bonto Bahari sebagai pembuat phinisi berkualitas tinggi sudah mahsyur hingga ke Eropa, Amerika, bahkan Afrika.

Lagu Nenek Moyangku Seorang Pelaut agaknya terinspirasi oleh sepak terjang suku Bugis. Suku ini memiliki sejarah panjang sebagai suku bahari, suku yang dekat dengan kehidupan maritim. Selain dikenal sebagai pelaut tangguh yang sanggup menjelajah separuh dunia, mereka juga hebat dalam membuat kapal. Dalam kitab epik La Galigo, sejak abad ke 15 mereka sudah mampu membuat kapal yang digunakan untuk berlayar ke Tiongkok. Keberadaan jejak kebudayaan mereka di Madagaskar juga dipercaya erat kaitannya dengan petualangan mereka di masa lalu.
Kemampuan membuat kapal phinisi diwariskan secara turun temurun antar generasi. Teknik pembuatan kapal tersebut tidak didokumentasikan secara tertulis. Namun hebatnya, hingga saat ini mereka mampu membuat kapal dengan detail dan spesifikasi yang sama.

“Kapal ini baru lima bulan dibuat. Kalau sudah jadi nanti panjangnya 30 meter dan lebarnya 8 meter. Dipesan orang dari Surabaya”, ujar seorang pekerja sembari melubangi papan lambung kapal untuk memasang pasak kayu. Dengan dipimpin oleh seorang kepala proyek, sebuah kapal dibuat secara berkelompok yang terdiri dari 5 hingga 10 orang. Yang saya kagumi dari metode pengerjaan kapal di Tanah Lemo ini adalah mereka tidak memerlukan cetak biru gambar konstruksi kapal dan perhitungan matematis rumit seperti halnya pengerjaan kapal-kapal modern. Para ahli kapal ini lebih mengandalkan intuisi dan talenta warisan leluhur dalam mereka-reka bentuk kapal. Titik kritis dalam membuat kapal ada pada kemampuan menentukan keseimbangan. Setiap komponen dipasang satu persatu dengan ketelitian tinggi agar terbentuk bangun kapal yang mengapung stabil di perairan.

Untuk membuat kapal yang kuat dan tahan lama, diperlukan bahan baku kualitas nomor satu. Kayu yang biasa digunakan adalah kayu besi. Kayu ini memiliki karakteristik unik. Semakin lama terendam air, kayu besi akan semakin kuat. Kayu-kayu terbaik didatangkan dari daerah Kendari, Sulawesi Tenggara. Tak jarang kayu didatangkan jauh-jauh dari pedalaman Papua.

Karena memerlukan biaya yang lumayan tinggi untuk suatu proyek pembuatan kapal, biasanya para pengusaha kelas menengah di Tanah Lemo meminta uang muka atau down payment kepada pemesan. Selain untuk membeli bahan baku, uang tersebut juga digunakan untuk menggaji pekerja yang membuat perahu dalam selama berbulan-bulan. Tanpa uang muka, pengusaha tentu kesulitan dalam menutup biaya operasional dalam pembuatan kapal.
Namun, lain cerita untuk pengusaha dengan skala besar di daerah Kaluku. Di pantai yang terletak tak jauh dari Tanah Lemo itu juga terdapat bengkel pembuatan kapal. Pengusaha yang sudah memiliki jaringan luas dan kapasitas usaha besar seperti Haji Baso atau Andi Ariawan tidak perlu meminta uang muka kepada pemesan. Mereka sanggup membuat phinisi tanpa pesanan. Sebelum phinisi jadi, bisa dipastikan ada pembeli yang sanggup menebus kapal tersebut. Phinisi berukuran jumbo yang siang itu saya naiki deknya memang baru setengah jadi. Ruang mesin dan dek belum terbentuk. Namun siapa sangka jika kapal itu sudah dibayar lunas oleh seorang juragan asal Sumatera. Tak tanggung-tanggung, dua kapal sekaligus dia pesan.

Menurut keterangan seorang narapraja pajak di daerah Bulukumba, margin keuntungan yang diterima seorang pengusaha phinisi bisa mencapa sepersepuluh dari keseluruhan harga jual kapal. Phinisi ukuran medium dengan panjang 30 meter dan lebar 8 meter seperti yang banyak dijumpai di Tanah Lemo dibanderol dengan harga 1 hingga 1,5 milyar rupiah. Sementara phinisi jumbo di Kaluku yang besarnya hampir tiga kali phinisi medium dihargai tidak kurang dari 6 milyar rupiah. Jangan heran jika di halaman rumah-rumah panggung sederhana di daerah Bonto Bahari terparkir mobil-mobil SUV merk ternama keluaran terbaru.

Kapal phinisi yang dihasilkan oleh pengusaha di Bulukumba bisa digunakan untuk beberapa keperluan. Selain dipesan untuk kapal penumpang, beberapa pembeli memesan phinisi untuk digunakan sebagai kargo pengangkut barang. Ada pula phinisi yang dipesan sebagai kapal pesiar yang lazim digunakan untuk wisata live on board. Kapal semacam ini lazim berlayar di kawasan wisata seperti kawasan Pulau Komodo atau Raja Ampat.

Proyek pengerjaan kapal berada tepat di bibir pantai. Sebelum kapal mulai dibuat selalu diawali dengan ritual khusus. Ritual ini menandai pemasangan lunas perahu. Lunas adalah kayu utama yang dipasang di haluan guna menyatukan lembaran-lembaran papan untuk membentuk lambung kapal. Pemasangan lunas pada kapal adalah ibarat peletakan batu pertama pada proses pembangunan gedung. Awalan yang prima akan mempengaruhi keseluruhan pengerjaan. Ritual kembali dilakukan ketika kapal sudah selesai dikerjakan dan siap dilarung ke laut. Dipimpin oleh seorang pemuka agama, ritual pelepasan kapal menjadi momen yang ramai dan ditunggu warga setempat.

Kapal-kapal phinisi produksi Bulukumba sudah berlayar jauh melintasi samudara. Negara-negara yang sering memesan phinisi ini antara lain Italia, Perancis, Amerika Serikat, dan Jepang. Bahkan, pernah ada pesanan personal dari Amerika Serikat yang secara khusus meminta agar kapal dikerjakan di sana. Seluruh bahan baku dan peralatan dikirim dari Bulukumba ke negeri Paman Sam dalam kontainer kapal. Para pekerja dikontrak enam bulan penuh untuk menyelesaikan proyek tersebut.

Para seniman kapal di kampung pembuat kapal ini terbuka menyambut pengunjung yang ingin tahu proses pembuatan kapal. Ada unsur seni dan kearifan lokal dalam setiap pasak yang dipaku dan setiap lembaran papan yang dipasang. Mereka dengan senang hati mengizinkan pengunjung untuk melihat-lihat bahkan naik ke kapal yang sedang mereka kerjakan. Jika anda sedang berada di sekitar Bulukumba atau ada perjalanan melintasi daerah itu, sempatkan untuk mampir sejenak dan ngobrol dengan mereka. Kisah menarik di balik pembuatan phinisi yang mereka ceritakan akan mengingatkan kita bahwa Indonesia memiliki suku penjelajah samudara yang hebat.

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

4 Comments

  1. keren nih mas artikel n fotonya

    • saya coba menulis sesuai saran mas yudasmoro di buku Travel Writer yang happening itu
      he5

      makasih buat share ilmunya, mas..

  2. Saya amat tertarik untuk membacanya, foto-fotonya juga keren :)

    • terima kasih sudah singgah, mas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *