Kinahrejo, Semangat yang Tak Pernah Padam

Melibas jalur ekstrim bekas letusan Merapi (foto oleh @wiranurmansyah)

Jalur pasir berbatu menanti di depan mata. Tujuh mobil berkonvoi membentuk barisan sejajar. Medan yang seharusnya hanya bisa dilalui jip dengan empat roda penggerak, ternyata mampu dilibas oleh Terios. Siang itu Tim Terios 7 Wonders Hidden Paradise singgah di Desa Kinahrejo yang ada di lereng Merapi. Desa yang menjadi saksi bisu erupsi Merapi ini pernah luluh lantak disapu awan panas. Desa tinggal puing, harta benda pun musnah. Namun, warga Kinahrejo menolak menyerah. Bersama-sama, mereka bangkit dan membangun kembali desanya. Kini, Kinahrejo menjadi salah satu primadona wisata petualangan di tanah air.

Erupsi Merapi

Sesekali Merapi masih mengeluarkan asap putihnya (foto oleh Adhi Kurniawan)

Di antara gunung api lain di Indonesia, bisa dibilang Merapi adalah yang paling aktif. Gunung api muda ini mengalami perubahan perilaku dalam setiap erupsinya. Aktivitas Merapi tidak terpola dan susah diprediksi. Hal ini menarik minat para ahli vulkanologi untuk mengamati dan mempelajari Merapi.

Erupsi Merapi pada akhir tahun 2010 masih lekat dalam ingatan kita. Erupsi itu menewaskan puluhan warga. Merapi adalah city volcano, gunung berapi yang berada di tengah padatnya penduduk. Jarak antara puncak Merapi hingga pusat kota Yogyakarta relatif dekat. Erupsi Merapi selalu menyisakan cerita pilu.

Publik pasti mengenal sosok yang lekat dengan Merapi. Sosok itu adalah Mbah Maridjan. Sosok yang menolak dievakuasi ketika erupsi Merapi demi menjaga kesetiaan pada amanah sebagai juru kunci Merapi. Kinahrejo, desa tempat Mbah Maridjan tinggal, adalah desa yang memiliki sejarah panjang. Merapi dipercaya sebagai tempat tinggal leluhur Mataram dan menjadi bagian penting Keraton Yogyakarta. Ikatan itu dianggap sebagai penyelaras hubungan manusia dan alam. Kinahrejo sering dilalui utusan Keraton Yogyakarta yang akan mengantarkan sesaji ke Merapi. Oleh karena itu, pihak keraton merasa perlu mengangkat abdi dalem sekaligus juru kunci Merapi yang dipercaya untuk memimpin ritual.

Bangkit dan Bertumbuh

Erupsi Merapi tahun 2010 meninggalkan bekas mendalam bagi warga Kinahrejo. Tidak hanya kehilangan sanak saudara yang meninggal akibat awan panas, mereka juga kehilangan harta benda dan sumber daya ekonomi yang dimiliki. Hampir semua rumah di Kinahrejo rusak. Hewan ternak yang sebelumnya menjadi salah satu mata pencaharian tewas terpanggang. Kebun sayur dan palawija mati tertutup abu vulkanik.

Tari jathilan oleh warga Kinahrejo (foto oleh @wiranurmansyah)

Di tengah segala keterpurukan dan keputusasaan itu, muncul secercah harapan. Segala mitos dan kisah hidup Mbah Maridjan ternyata menjadi daya tarik yang mengundang orang-orang berkunjung ke Kinahrejo. Bekas rumah Mbah Maridjan dan sisa-sisa amukan Merapi memantik rasa penasaran wisatawan. Beberapa minggu setelah erupsi, banyak orang datang ke Kinahrejo untuk sekedar melihat-lihat suasana desa atau menjelajahi sudut desa. Warga Kinahrejo disadarkan akan adanya potensi wisata dalam kondisi itu.

Tercetuslah konsep “Lava Tour”. Sesuatu yang inovatif dan belum pernah ada sebelumnya di Indonesia. Desa yang luluh lantak disapu bencana oleh warga diubah menjadi objek wisata yang unik dan menarik. Puing-puing dibersihkan. Desa ditata dan dibuatkan jalan menuju spot-spot yang sekiranya menarik minat pengunjung. Disediakan pula fasilitas pendukung seperti warung-warung makan, area parkir, toilet, hingga kios souvenir. Kinahrejo ditata sedemikian rupa sehingga mendukung kegiatan wisata. Pengunjung yang ingin menjelajah bekas guguran lahar, bisa menggunakan jasa mobil jip maupun motor trail yang disediakan warga.

Di kompleks Lava Tour wisatawan dapat berkunjung ke Warung Kinah yang pernah digunakan sebagai dapur umum bagi pengungsi pascaerupsi. Warung Kinah menyediakan berbagai menu ndeso yang merupakan makanan khas masyarakat lereng Merapi. Wisatawan dapat berburu momorabilia erupsi Merapi seperti stiker, kaus, payung, buku, foto-foto, serta souvenir lain. Barang-barang tersebut dijual di Pondok Kenang-Kenangan yang sekaligus pusat informasi napak tilas Kinahrejo.

Ramijo, Kepala Dukuh Kinahrejo, berujar, “Barang berkaitan dengan Mbah Maridjan seperti alat rumah tangga sampai mobil evakuasi terakhir warga Merapi juga dipajang di kediaman sang juru kunci. Warga juga bisa menjual souvenir Merapi ke pengunjung”.

Ada pula Museum Sisa Hartaku yang dikelola secara swadaya oleh salah seorang warga bernama Widodo. “Awalnya, sempat ingin membuang barang bekas akibat erupsi Merapi tadi. Namun kami mencoba mengumpulkan barang-barang tadi untuk dikumpulkan di bekas rumah simbah dan bisa dilihat oleh masyarakat umum,” tutur Widodo. Rumah ini memajang sisa barang-barang yang hancur akibat letusan seperti kerangka motor, alat dapur, dan jam dinding mati yang kedua jarumnya menunjuk pukul 12.05. Waktu di mana erupsi terjadi.

Lava tour ala Kinahrejo (foto oleh @wiranurmansyah)

Konsep wisata bencana pun lantas menjadi potensi yang mendatangkan keuntungan ekonomis cukup besar bagi warga Kinahrejo. Muncul kesadaran di kalangan warga untuk menghimpun sebagian uang yang diperoleh dari kegiatan pariwisata itu. Maka dibentuklah Paguyuban Kinahrejo yang dimotori oleh tokoh muda desa. Paguyuban dipercaya untuk mengumpulkan sebagian pendapatan pemilik warung, pengojek, juga penyedia jasa sewa motor trail atau mobil jeep. Uang yang terkumpul dikelola secara transparan demi kepentingan seluruh warga Kinahrejo.

Harmoni di Kaki Merapi

Meski erupsi telah lama berlalu dan kehidupan mulai membaik, bukan berarti bahaya sudah lewat. Daya hancur utama Merapi sebenarnya adalah material vulkanik yang masih tertinggal di atas. Material berupa jutaan kubik pasir vulkanik dan batu-batu berukuran besar masih teronggok di sekitar puncak Merapi menunggu waktu untuk mengalir menjadi lahar dingin. Aliran lahar dingin kapan saja bisa mengancam kehidupan warga yang tinggal di jalur gugurannya.

Kondisi tersebut membuat Kinahrejo tidak boleh lagi ditinggali dengan alasan apapun. Warga Kinahrejo dihadapkan pada pilihan dilematis. Sebagai masyarakat agraris yang memegang teguh filosofi bahwa tanah adalah sumber kehidupan, meninggalkan desa tentu bukan hal yang mudah.

Akhirnya keputusan rasional diambil. Atas kesepakatan bersama, dana yang terkumpul dalam Paguyuban Kinahrejo digunakan untuk membeli sebidang tanah bekas tambang pasir. Lokasi yang terletak tiga kilometer dari Kinahrejo itu dipilih karena dinilai aman dan ideal. Akses mudah warga menuju lahan pertanian dan peternakan mereka di Kinahrejo menjadi salah satu pertimbangannya. Warga masih bisa mengurus tanaman palawija dan ternak sapi yang mereka miliki. Warga pun beramai-ramai pindah ke desa baru itu.

Puing-puing yang tersisa (foto oleh @wiranurmansyah)

Di tempat itu itulah lembaran baru dimulai. Warga Kinahrejo secara swadaya membangun rumah dan kampungnya. Warga saling membantu dalam optimisme untuk kehidupan yang lebih baik. Warga Kinahrejo memperlihatkan kepada kita bagaimana cara berdamai dengan badai. Mereka memiliki kekuatan untuk bangkit dari keterpurukan. Alam memiliki kekuatan yang dahsyat. Manusia pun memiliki daya adaptasi yang kuat. Ketika manusia bisa hidup berdampingan dengan alam yang keras, akan tercipta harmoni yang selaras dan serasi.

Di balik bencana tersimpan rahmat yang luar biasa bagi mereka yang bisa bersikap positif dan pantang menyerah. Warga Kinahrejo telah membuktikan hal tersebut. Saat ini desa mereka telah bangkit dan terus bertumbuh.

Terios 7 Wonders

Terios 7 Wonders Hidden Paradise di Kinahrejo (foto oleh @wiranurmansyah)

Tak hanya menjelajah desa, Tim Terios 7 Wonders Hidden Paradise juga melakukan penanaman pohon dan memberikan beasiswa kepada anak-anak Kinahrejo yang berprestasi. Bantuan diharapkan mampu mendorong warga Kinahrejo untuk terus bangkit dan bertumbuh pasca letusan Merapi. Kegiatan ini merupakan bagian dari Corporate Social Responsibility atau CSR sebagau bentuk kepedulian Daihatsu kepada masyarakat Kinahrejo.

Kinahrejo yang baru saja bangkit harus didukung. Rangkaian kegiatan Terios 7 Wonders Hidden Paradise tidak hanya sekedar jalan-jalan dan berwisata. Kegiatan ini mencoba lebih dalam menyelami kehidupan masyarakat lokal. Tidak hanya di Kinahrejo, di Ranu Pani, Tengger dan di sekitar Sade Rembitan, Lombok pun tim melakukan kegiatan sosial yang berkaitan dengan kelestarian lingkungan dan dunia pendidikan.

Terios 7 Wonders merupakan kegiatan tahunan yang rutin diadakan oleh Daihatsu untuk mengungkap kekayaan alam dan budaya nusantara. Tahun 2012, daratan Andalas dijelajahi melalui ekspedisi 7 Wonders Coffee Paradise untuk mengakrabi kejayaan kopi di beberapa tempat. Tahun berikutnya, 7 Wonders Hidden Paradise yang melintasi Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, hingga Komodo untuk menemukan surga-surga tersembunyi di sana.

Tahun ini kegiatan bertajuk Terios 7 Wonders Amazing Celebes Heritage akan mengeksplorasi keragaman budaya di Sulawesi. Alat musik tiup bambu khas Manado, keseharian Suku Bajo di Gorontalo, kain mandar ala Majene, upacara dan keriuhan pesta pemakaman yang hanya ada di Toraja, pembuatan kapal phinisi Bulukumba yang melegenda, kisah makam raja-raja Lamuru di Bone, serta tarian Suku Tolaki yang bernaa Tari Ma’Lulo. Semua warisan pusaka itu akan dijelajahi dalam Terios 7 Wonders Amazing Celebes Heritage. Kegiatan ini tentu akan semakin menebalkan kecintaan kepada tanah air dan kepedulian pada kekayaan budaya nusantara.

[Tulisan ini diikutsertakan dalam blog competition bertajuk Terios 7 Wonders Amazing Celebes Heritage]

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

1 Comment

  1. perjalananan yang memberikan inspirasi kepada banyak orang http://dananwahyu.com/2014/07/12/7-wonders-napak-tilas-7-wonders-kopi-ujung-ujung-sumatra/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *