Kereta Api Uap Ambarawa, Inspirasi dari Masa Lalu #UntukKeretaku

Hai Loko, kenalkan namaku Adhi.

Ketika mendengar kabar kalau kau akan mengadakan gathering komunitas pecinta kereta api di Ambarawa, aku begitu antusias. Aku lahir dan tumbuh di kota mungil di Jawa Tengah itu. Kereta api adalah bagian dari masa kecil kami, bocah-bocah Ambarawa.

Loko, aku ingin berbagi kisah tentang jejak sejarah kereta api di kampung halamanku itu.

Jawatan kereta api milik kolonial Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorwegmaatschappij (NIS), pertama kali membangun jaringan rel kereta api di Semarang tahun 1864. Dari situlah kisah kereta api di Ambarawa bermula. Berbeda dengan jalur lain, jaringan rel di Ambarawa dibangun untuk kepentingan strategi militer Belanda. Rute ini menghubungkan Semarang dengan Yogyakarta. Mobilisasi pasukan dan logistik perang kumpeni menjadi lebih mudah dan cepat. Stasiun kereta api Ambarawa selesai dibangun tahun 1873. Stasiun yang diberi nama Stasiun Willem I ini menjadi rumah bagi belasan lokomotif saat itu.

Topografi di sekitar Ambarawa yang berupa medan perbukitan memaksa para insinyur Belanda memutar otak, memikirkan cara jitu agar mampu membangun rel yang bisa dilalui kereta api dengan aman. Olala, ditemukanlah teknologi rel kereta api dengan lebar 1067 milimeter yang dikenal dengan narrow gauge. Ide brilian. Selain dapat menekan biaya pembangunan, teknologi rel yang dilengkapi gerigi di tengahnya ini dapat membantu lokomotif melaju dengan aman di tanjakan curam. Saat mendaki tanjakan perbukitan, lokomotif akan bertukar posisi menjadi di belakang sehingga tidak lagi menarik gerbong namun mendorong gerbong. Pun saat menuruni medan ini, rel bergerigi mampu menahan kecepatan lokomotif. Model rel bergerigi seperti ini juga dibangun di Sawahlunto yang digunakan kereta api pengangkut batubara.

Beberapa dekade berselang, jalur rel yang mulanya dibangun untuk taktik militer lantas berkembang menjadi jalur transportasi sipil sekaligus wisata. Pada tahun 1907 didatangkan serangkaian gerbong berdinding kayu untuk melayani kebutuhan itu. Bayangkan, lokomotif bermesin uap mengepulkan asap sembari menarik gerbong kayu meliuk melintasi alam pegunungan Ambarawa. Lanskap Ambarawa yang menawan membuat para meneer Belanda betah berlama-lama menikmati perjalanan dengan kereta api uap itu. Memang, pada masa itu bepergian naik kereta api adalah kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh orang-orang kolonial Belanda dan sebagian kecil kaum bangsawan pribumi.

Setelah republik ini merdeka dan pengelolaan atas infrastruktur perkeretaapian kita kuasai sepenuhnya, barulah rakyat biasa macam kakek dan nenekku bisa merasakan pengalaman naik kereta api dari Ambarawa menuju Kedungjati. Mereka menyebutnya sepur kluthuk, mungkin karena suara yang ditimbulkan lokomotif uap itu berbunyi kluthak..kluthuk..tut..tut..tuuutttt..

Indonesia beruntung memiliki sepur kluthuk atau kereta uap yang masih bisa berfungsi normal. Saat ini lokomotif bermesin uap yang masih bertahan dan bisa dijalankan dengan baik hanya bisa dijumpai di beberapa negara. Di Asia, hanya ada dua. Satu di Ambarawa ini, satu lagi di kota Rewari di pedalaman India. Sementara di daratan Eropa, masih ada beberapa kereta uap yang bertahan hingga era modern ini. Di Inggris, bisa dijumpai kereta uap di heritage railways di daerah Dorset. Swiss memiliki jalur kereta uap bernama Brunig Line yang menghubungkan Interlaken dan Giswil yang mengular di sepanjang lereng pegunungan Alpen. Kalau di Jerman, ada jalur yang membentang dari Dresden hingga berujung di Austria di mana setiap taun diadakan festival kereta api uap. Belanda sendiri memiliki jalur kereta uap yang disebut Museumstoomtram Hoorn Medemblik sepanjang 20 kilometer.

Loko, aku punya paman yang mengabdi di dunia perkeretaapiaan Indonesia sejak jawatan ini masih bernama PJKA. Om Puji namanya, barangkali kau kenal dia. Bersama beberapa rekannya di Museum Kereta Api Ambarawa, mereka berjuang mereparasi lokomotif tua bernomor B2502 yang sudah berusia seabad lebih. Kerja keras itu membuahkan hasil. Lokomotif yang sempat mati suri itu bisa dihidupkan lagi. Kisah-kisah sejarah kejayaan kereta api di Ambarawa pun dapat diungkap kembali.

Cara kerja lokomotif B2502 ini masih sama persis dengan lokomotif bermesin uap pertama yang dibuat George Stephenson, sang Bapak Kereta Api Dunia. Begini cara kerjanya. Air dialirkan ke dalam ketel uap lalu dipanaskan dengan bahan bakar kayu. Biasanya, yang dipakai untuk bahan bakar adalah kayu jati karena mampu menghasilkan panas dengan optimal dan memberikan aroma wangi yang khas. Air yang sudah panas akan menghasilkan uap. Uap tersebut akan menggerakkan piston pada roda lokomotif. Semakin kuat uapnya, semakin kencang kereta api akan melaju. Sayang, onderdil asli lokomotif ini sudah tidak diproduksi lagi. Jadi, lokomotif harus benar-benar dirawat dengan baik. Oiya, selain B2502, ada 2 lagi lokomotif lain yang bisa dipertahankan hingga sekarang, yaitu Loko B2501 juga Loko B2503.

Loko, kau pernah menonton video klip lagu Negeri di Awan yang dinyanyikan Katon Bagaskara? Video klip yang dibuat dengan setting di Ambarawa itu menampilkan eksotisme kereta api uap berbalut celoteh riang bocah-bocah pedesaan. Seperti itulah gambaran masa kanak-kanak kami. Sekolah kami berada tidak jauh dari museum kereta api. Sepulang sekolah kami sering bermain ke sana. Kami menaruh tas dan melepas sepatu lantas bermain petak umpet di antara belasan lokomotif tua yang tersebar di pelataran museum. Ada rahasia di balik loko-loko tua itu. Loko C-28 misalnya, loko buatan Jerman itu pernah membantu pelarian Presiden Soekarno dari Jakarta ke Yogyakarta pada masa revolusi kemerdekaan tahun 1946. Atau Loko D5106, loko ini berjasa mengangkut jemaah haji dan logistik tentara Turki di jalur Hedjaz Railway yang menghubungkan Damaskus dengan Madinah.

Tak jarang ada turis bule yang menyewa rangkaian kereta uap untuk perjalanan Ambarawa menuju Bedono. Mereka mengajak kami turut serta naik kereta itu. Tentu kami girang bukan kepalang. Alam Ambarawa mendadak tampak lebih indah saat dilihat dari dalam gerbong kereta.

Loko, aku salut dengan inovasi yang kau lakukan dalam beberapa tahun terakhir. Peningkatan kualitas layanan dan perbaikan infrastruktur di sana sini sungguh memanjakan pelanggan setiamu. Kami masyarakat Indonesia mengapresiasi capaian itu. Mungkin dengan mengenang kembali kejayaan masa lalu kereta api di Ambarawa kau bisa menemukan inspirasi untuk terus melakukan terobosan-terobosan baru. Serpihan-serpihan sejarah yang tersusun dalam dinding kokoh Stasiun Willem I, pesan-pesan yang tersandi pada mesin telegraph kuno, atau peristiwa-peristiwa yang berdetak pada tiap detik jam dinding antik, adalah pusaka yang terlalu berharga untuk dibiarkan tercecer begitu saja.

Hampir sewindu aku meninggalkan Ambarawa dan merantau ke ibukota. Ada sebentuk kerinduan untuk kembali merasakan keceriaan menaiki kereta api uap wisata. Ada begitu banyak kisah dengan beragam makna. Aku janji, akan kuceritakan semuanya padamu kalau ada kesempatan kita bisa jumpa di Ambarawa.

Sahabatmu, Adhi.

[tulisan ini disertakan dalam event PT KAI bertajuk #UntukKeretaku]

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *