Kemilau Maninjau

Alif gundah. Meski nilai ujian akhirnya bagus, dia tidak bisa melanjutkan ke sekolah impiannya. Sang Mamak berkehendak lain. Bukan SMA favorit di ibukota provinsi yang dipilih untuk Alif, tetapi justru madrasah aliyah di kota kecil dekat kampung halaman. Kalau anak-anak cerdas tidak ada yang mau menimba ilmu di madrasah, lalu siapa yang akan berjuang di jalan dakwah membela Dien. Begitu alasan Mamak. Kegalauan itu dibawa Alif bersepeda ke danau, memarkir sepedanya, lalu melompat ke air. Berenang dan terus berenang, berharap air danau membilas hilang kesedihannya. Ketika dia beranjak dan duduk di tepi danau sambil memandang pegunungan yang mengelilingi danau, rasa gundah itu hilang digantikan rasa tenteram dan damai. Danau itu memang begitu berarti baginya dan orang-orang di sekitarnya.

Maninjau

Kisah dalam novel Negeri Lima Menara begitu dekat menceritakan Danau Maninjau. Danau yang menjadi sumber penghidupan dan bagian tak terpisahkan bagi orang-orang yang tinggal di sekitarnya. Maka saat akhirnya berkesempatan liburan ke Sumatera Barat, Danau Maninjau ada dalam prioritas pertama destinasi saya.

Kelok Ampek Puluh Ampek

Seandainya bisa bicara, motor yang kami kendarai mungkin sudah mengeluh dan memilih mogok. Kami memacu motor bebek butut sewaan melintasi tanjakan di lereng Gunung Singgalang dengan brutal. Operan kasar dari gigi satu ke tiga mendominasi perjalanan kami hingga ke puncak bukit. Ketika sampai di ujung bukit dan melihat ke bawah, barulah kami tahu kalau tantangan sesungguhnya masih ada di depan mata. Turunan curam dengan tikungan tajam yang kadang di luar nalar. Itulah Kelok Ampek Puluh Ampek yang melegenda.

Dimulai dari tikungan berlabel Kelok 44, keseluruhan tikungan memiliki nomor urut dengan tingkat kesulitan masing-masing. Kami yang baru kali pertama melewati trek seperti itu cukup kewalahan mengendalikan laju motor. Di beberapa tikungan awal kami sempat keluar dari jalur. Barulah di kelokan-kelokan berikutnya kami terbiasa. Di setiap tikungan ada papan bernomor yang mengacu pada urutan tikungan dihitung dari kelokan paling atas ke bawah. Di sebelah papan dipasang cermin agar bisa melihat kendaraan lain yang ada di sisi kelokan sebaliknya.

Ada aturan tidak tertulis, jika ada kendaraan dari arah berlawanan berpapasan dalam kelok yang sama, maka yang didahulukan adalah kendaraan yang naik. Hal ini karena bidang jalan sempit dan tidak bisa dilewati dua kendaraan sekaligus saat di tikungan. Kredit khusus saya berikan kepada sopir-sopir truk dan bus antarkota yang melewati rute ini. Dengan kondisi kendaraan yang kadang kurang prima, mereka tetap dapat melaju mulus melewati tikungan-tikungan yang ada.

Rumah Fotogenik

Saya yakin jika kita mengetik “Danau Maninjau” di search engine dan menampilkan gambar yang ada di daftar pencarian, pasti akan muncul foto rumah sederhana beratap gonjong dikelilingi sawah yang sedang menguning. Tampak Danau Maninjau dengan gunung-gunung di sekelilingnya sebagai background. Foto itu pula yang berkali-kali muncul di buku, majalah, kelender, brosur wisata, atau media visual apapun yang berkaitan dengan Maninjau.Saat berhenti di Kelok 27, saya merasa déjà vu terhadap suasana itu. Maka saya mengambil beberapa jepretan itu dan hasilnya mirip seperti foto-foto lain yang mengambil rumah itu sebagai objeknya. Rumah itu sudah diabadikan oleh jutaan kamera lainnya.

Rumah itu dulunya resto yang menyedikan masakan khas Minang. Namun saat ini rumah itu dibiarkan kosong begitu saja sehingga terkesan kurang terawat. Sama seperti objek-objek fotogenik yang ada di tempat tourisity, kebanyakan foto yang dihasilkan adalah foto identik yang diambil dari sudut dan fokus pada objek yang sama. Coba saja lihat foto-foto Tanah Lot, Raja Ampat, Monas, Suramadu, atau Borobudur. Foto-fotonya sama dan senada.

Saya yakin, angle seperti ini sudah jutaan kali digunakan

Saya yakin, angle seperti ini sudah jutaan kali digunakan

Live Surrounding the Lake

“Di tepi Danau Maninjau, di suatu kampung bernama Tanah Sirah, dalam Negeri Sungai Batang, di situlah rumah orangtuaku. Aku masih teringat sebuah rumah atap ijuk bergonjong empat, menghadap ke danau, membelakang ke timur. Halamannya tidak luas, sebab rumah itu di lereng bukit. Di pinggir halaman, ditanam andung bunga raya putih, yang senantiasa dipangkas agar mudah bagi ibuku menjemur kain”. Seperti itulah Buya Hamka mendeskripsikan kampungnya dalam otobiografi berjudul Kenang-Kenangan Hidup. Dia memang lahir dan dibesarkan di kampung di tepian Maninjau. Saat berada pinggir danau, saya kembali teringat ilustrasi itu. Tentang rumah-rumah kayu yang di tepi danau, surau-surau tua, karamba-karamba bambu tempat beternak ikan.

Dengan luas hampir dua kali wilayah Jakarta Pusat, Maninjau memiliki peran besar dalam kehidupan masyarakat sekitar danau. Warga memanfaatkan sumber daya air yang melimpah untuk membudidayakan ikan di karamba, semacam kolam terapung yang ditempatkan di danau. Hampir setiap desa di sekeliling Maninjau memiliki karamba yang ditempatkan berkelompok untuk memudahkan pengelolaan.

Jenis ikan yang paling populer di Maninjau adalah ikan rinuak. Ikan imut yang ukurannya tidak lebih besar dari batang korek api ini biasa diolah menjadi palai. Ikan rinuak dicampur kelapa parut berbumbu, dibungkus daun pisang, lalu dibakar. Palai Rinuak atau pepes berbahan dasar ikan rinuak ini dapat dengan mudah didapatkan di warung-warung di sepanjang tepian danau. Selain diolah menjadi palai, ikan rinuak biasa juga dibuat rakik atau rempeyek dan bakwan.

Keberadaan hotel atau villa dengan beragam kelas di sepanjang tepian Maninjau cukup membantu menggerakan perekonomian lokal. Geliat ekonomi setempat cukup menjanjikan dengan banyaknya pelancong yang datang dan membelanjakan rupiahnya di sekitar Maninjau. Jika kebanyakan hotel atau villa dimiliki pemodal besar dari luar Maninjau, warga setempat biasanya menyewakan tempat tinggalnya menjadi homestay bagi tamu yang ingin menginap. Tentu akan menjadi pengalaman unik bisa tinggal seatap dengan keluarga lokal sambil melewatkan malam ngobrol tentang Maninjau dengan mereka.

Tepian Maninjau adalah jalur alternatif yang menghubungkan Bukittingi dan Padang sehingga kawasan ini cukup ramai dilalui bus antarkota atau truk pengangkut komoditas lokal. Kawasan Maninjau tidak hanya menjadi objek tujuan bervakansi saja tetapi juga urat nadi yang menghubungkan aktivitas ekonomi antardaerah di sekitarnya.

Kemilau Maninjau

Saat iseng ngobrol dengan uda penjual satu padang yang sedang mangkal, kami mendapat cerita ada spot bagus untuk melihat sunset di Maninjau. Tempatnya ada di puncak bukit. Kami bergegas memacu motor kembali mendaki Kelok Ampek Puluh Ampek. Kerja overtime untuk si motor bebek yang malang. Begitu sampai di kelok ujung kelok, kami berbelok mengikuti jalan yang ditunjukan warga sekitar hingga sampai di Puncak Lawang.

Puncak Lawang adalah kawasan berbukit yang dikelilingi hutan pinus. Di salah satu puncak bukit, terdapat padang rumput yang luas. Dari sini keseluruhan permukaan danau terlihat jelas. Konon Danau Maninjau terjadi akibat letusan Gunung Sitinjau, sehingga deretan gunung yang membatasi danau tampak seperti tembok alami.

Menuju puncak Bukit Lawang

Menuju puncak Bukit Lawang

Di puncak bukit sering bertiup angin yang cukup kencang. Kondisi ini dimanfaatkan para penggiat olahraga dirgantara untuk bermain paragliding. Paraglider biasanya lepas landas dari Puncak Lawang dan mendarat di Teluk Bayur, terbang jauh melintasi Maninjau. Kompetisi tingkat internasional pun sering dihelat di sini.

Kebetulan kami datang saat cuaca cerah, umumnya Puncak Lawang tertutup kabut selewat siang. Apa yang saya lihat berikutnya adalah sesuatu yang membuat saya berdecak kagum. Gradasi langit senja yang berlapis dari biru, kuning, dan oranye. Kombinasi itu memantul ke permukaan danau yang tenang. Saya begitu menikmati momen ini, duduk santai di padang rumput sambil menunggu senja habis. The moment of silence with best view ever.

Saat rumah-rumah di perkampungan tepian Maninju mulai tampak terang mengelilingi sisi danau yang gelap dan lampu-lampu mobil mulai menembus Kelok Ampek Puluh Ampek, saya kira itu adalah saatnya kami untuk pulang. Mengutip pantun yang pernah diucapkan Presiden Soekarno kala berkunjung ke Maninjau dulu, “Jika makan arai pinang, makanlah dengan sirih yang hijau. Jangan datang ke ranah Minang, kalau tak mampir ke Maninjau.

Matahari terbenam di balik pegunungan

Matahari terbenam di balik pegunungan


Lampu-lampu mulai dinyalakan, saatnya pulang

Lampu-lampu mulai dinyalakan, saatnya pulang

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

2 Comments

  1. wow, brand new look! selalu top foto+text nya cuma saran aja, layout blog nya dipermanis lagi dhi kyk foto2mu tll besar dan ukurannya sama. utk blog travelling kayak gini agak kurang catchy. sbg referensi cek di http://www.catatanransel.wordpress.com deh. Saran aja paboss, biar lebih ok blog-nya. Keren!

    • siaaaap laksanakan,ibu fafa yth. Wkwkkw. suwun masukannya. segera ditindaklanjuti. lagi cari2 setting an yg ciamik. terutama foto2ne kuwi. suwun jg referensi blog’e mau. #sungkem

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *