Jangan Pergi ke Lombok

Irama rancak dari seperangkat alat musik tradisional Sasak menyambut kami saat keluar dari lobi Bandara Internasional Lombok. Aktivitas penerbangan di bandara yang baru beroperasi sejak akhir 2011 itu semakin padat ada beberapa tahun terakhir. Tak hanya pelancong lokal, turis mancanegara pun semakin banyak yang berkunjung ke Lombok. Pesona alam yang dipadu dengan kearifan budaya lokal membuat Lombok menjadi salah satu destinasi wisata andalan Indonesia.

lob02

Saya memulai penjelajahan dari Sengigi. Kawasan ini mulai dikembangkan pada tahun 1974 sebagai ikon wisata pertama kali di wilayah Nusa Tenggara Barat. Dulu, dunia pariwisata Lombok masih sangat bergantung terhadap Bali. Wisatawan yang datang ke Lombok adalah mereka yang melanjutkan perjalanan setelah mengunjungi Bali. Bahkan ada istilah, NTB adalah singkatan dari Nasib Tergantung Bali. Beberapa dekade berselang, Senggigi tumbuh menjadi kawasan wisata mandiri yang tidak lagi bergantung pada destinasi lain.

Pantai Senggigi tepat menghadap ke barat. Menanti senja di sini menjadi ritual yang tidak boleh dilewatkan. Di salah satu sisi pantai yang berupa tebing batu, terdapat Pura Batu Bolong. Pura ini erat dengan kisah Dang Hyang Dwijendra, seorang pendeta Hindu yang melakukan perjalanan spiritual dari Jawa, Bali, dan berakhir di Lombok. Dari pura, panorama sunset tampak lebih syahdu.

Senggigi tepat menghadap ke arah barat

Senggigi tepat menghadap ke arah barat

Senja dari Pura Batu Bolong

Senja dari Pura Batu Bolong

Bergeser sedikit ke utara Senggigi, saya sampai di Bukit Malimbu. Tempat ini semacam tebing yang langsung berbatasan dengan laut. Pemerintah Kabupaten Lombok Barat menyediakan area parkir dan gardu pandang di tempat ini bagi pengunjung yang ingin singgah. Bukit Malimbu berada di jalur yang menghubungkan Senggigi dengan Pelabuhan Bangsal, pelabuhan penyeberangan menuju Gili Trawangan. Dari Bukit Malimbu terlihat dengan jelas Gili Tawangan, Gili Meno, dan Gili Air seperti mutiara hijau di tengah birunya lautan.

Bukit Malimbu

Bukit Malimbu

Menurut cerita Bang Adi, pemandu kami selama berada di Lombok, Gili Trawangan mulai ramai dikunjungi wisatawan mancanegara setelah terjadi insiden Bom Bali I pada 2001. Saat itu situasi keamanan di Bali masih belum kondusif. Sebagai destinasi alternatif, mereka memilih Gili Trawangan untuk berlibur. Gili Trawangan memiliki semua syarat untuk disebut sebagai destinasi favorit. Pantai landai berpasir putih, air laut yang bersih dengan arus tidak terlalu besar, serta tentu saja alam bawah lautnya yang terdiri dari berbagai jenis koral dan ikan. Untuk menjaga kelestarian alam, di kawasan Gili Trawangan tidak diperbolehkan ada kendaraan bermotor. Alat transportasi selama berada di Gili Trawangan hanya ada 2, yaitu sepeda dan cidomo. Sunrise di Gili Trawangan adalah salah satu favorit saya. Melihat mentari terbit perlahan dari balik Gunung Rinjani dan memancarkan ray of light merupakan momen yang selalu saya tunggu saat berada di Gili Trawangan.

Saya melanjutkan perjalanan ke sisi selatan Lombok menuju Pantai Mawun. Pantai ini terletak di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Medan jalanan yang relatif berat dan perlu perjuangan ekstra untuk sampai di lokasi ini tidak mengurangi antusiasme pengunjung. Selain Pantai Mawun, di jalur ini juga ada Pantai Kuta dan Selong Belanak yang juga menarik untuk dikunjungi.

Bentang alam Pantai Mawun berupa teluk yang menghadap langsung ke Samudera Indonesia. Di kedua ujung teluk, terdapat dua buah bukit. Bukit Pengolo ada di ujung timur dan Bukit Natem ada di ujung barat. Ombak di bagian tengah pantai cukup besar sehingga perlu berhati-hati jika ingin berenang di sini. Di sepanjang garis pantai, tersedia banyak kursi kayu berikut payung besar untuk berteduh yang disewakan oleh warga setempat. Cocok untuk bersantai sembari menikmati kelapa muda dan jagung bakar.

Pantai Mawun berupa teluk dengan perbukitan di kedua ujungnya

Pantai Mawun berupa teluk dengan perbukitan di kedua ujungnya

Kekayaan budaya dan kearifan lokal Lombok tak kalah menarik dengan keindahan alamnya. Di Desa Banyumulek, saya bertemu dengan Haji Rahmad. Dengan usia lebih dari setengah abad, dia masih bersemangat memimpin anak buahnya memproduksi macam-macam gerabah khas Sasak. Banyumulek dan daerah di sekitarnya seperti Masbagik dan Penujang selama ini dikenal sebagai sentra pembuatan gerabah khas Sasak.

Gerabah yang dibuat antara lain guci, vas bunga, perlengkapan makan, asbak, dan miniatur rumah adat. Haji Rahmad sengaja mendatangkan tanah liat kualitas terbaik dari daerah daerah lain demi mendapatkan hasil gerabah yang memuaskan. Bahan baku tersebut lantas dibentuk menjadi produk mentah lalu diangin-anginkan sebelum dimasukkan tungku pembakaran. Setelah matang, gerabah diberi motif dan desain sesuai pesanan pelanggan. Kadang, para perajin membuat motif dan desain baru. Desain yang sedang banyak diminati pembeli saat ini adalah motif totol-totol kreasi yang melambangkan motif etnik Sasak.

Haji Rahmad mengutamakan kualitas gerabah dan kejujuran kepada pelanggan dalam menjalankan usahanya. Produk yang tidak memenuhi standarnya akan disingkirkan dan tidak dijual. Usaha yang dirintis sejak 20 tahun silam bersama sang istri dengan modal awal kurang dari satu juga rupiah itu kini sudah mendunia. Produk kriya dari tangan-tangan terampil perajin Banyumulek itu telah menembus pasar Australia, Asia, hingga Eropa. Tak jarang, pemesan dari Australia dan Italia sengaja datang ke Banyumulek untuk memesan langsung kepada Haji Rahmad.

Gerabah karya perajin Banyumulek

Gerabah karya perajin Banyumulek

Di Desa Sukarare, saya berkunjung ke sentra pembuatan kain tenun khas Lombok. Gadis-gadis Sukarare harus memiliki keterampilan menenun kain songket sebagai syarat mutlak untuk menikah. Jika belum bisa menenun, jangan harap restu dari orang tua akan diberikan. Membuat tenun songket juga hanya boleh dilakukan oleh kaum hawa. Menurut kepercayaan di sana, apabila seorang lelaki mengerjakan tenun songket, dia akan menjadi mandul dan tidak bisa memiliki keturunan.

Kain tenun Sukarare dibuat dari bahan-bahan alami. Kapas yang akan dipintal menjadi benang berasal dari kapuk randu. Benang-benang yang sudah jadi lantas diberi warna dengan bahan-bahan alami. Warna kuning diperoleh dari racikan kunyit, sementara warna hijau diperoleh dari perasan daun pandan. Motif yang akan dibuat tidak digambar dulu di kertas. Hanya dengan membayangkan di imajinasi masing-masing, mereka bisa membuat kain tenun dengan hasil yang memukau. Untuk menghasilkan sehelai tenun songket dengan ukuran 1 x 1,5 meter, sang pembuat memerlukan waktu antara 2 minggu hingga 1 bulan. Dengan tingkat kesulitan yang tinggi dan ketelitian dalam setiap helai benangnya, dalam satu hari sesorang hanya sanggup menenun sepanjang 15 cm saja. Itulah mengapa kain tenun songket dihargai mahal. Ada nilai seni bercita raa tingi dan kerja keras berhari-hari dari si perajin.

Wanita Sukarare sedang melanjutkan menenun

Wanita Sukarare sedang melanjutkan menenun

Adat dan budaya Sasak dapat saya temukan di Desa Adat Sade Rembitan. Desa ini sudah bertahan selama 15 generasi. Rumah-rumah di Sade dibangun secara gotong royong dengan tetap mempertahankan arsitektur ala Sasak. Setiap rumah hanya memiliki 2 kamar, salah satu digunakan untuk ruang persalinan saat ada ibu yang hendak melahirkan dan kamar lainnya digunakan untuk memasak. Pintu masuk dibuat rendah, sehingga tamu yang hendak masuk pasti menunduk agar tidak terantuk pintu. Secara filosofis, hal ini menunjukkan rasa hormat tamu kepada sang tuan rumah. Yang unik dari rumah-rumah di Sade, warga menggunakan kotoran kerbau untuk melapisi lantai rumahnya. Rupanya, kotoran kerbau itu memiliki fungsi penting. Saat cuaca sedang panas, lantai dapat menyerap panas sehingga udara di dalam rumah tidak gerah. Begitu juga sebaliknya, saat malam, lapisan kotoran kerbau itu dapat menjadi penghangat.

Kerajinan tangan Sade dijual di depan rumah

Kerajinan tangan Sade dijual di depan rumah

Keragaman alam dan budaya Lombok merupakan salah satu Pesona Indonesia. Menikmati pesona alam Lombok berikut kekayaan budayanya memang tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Tidak cukup seminggu atau dua minggu. Berkunjung ke Lombok juga punya efek mengkhawatirkan. Dengan begitu banyak daya tarik, seseorang akan betah berlama-lama tinggal di Lombok dan enggan untuk pulang. Seperti lirik lagu band punk Endank Soekamti, kamu jangan pergi ke Lombok, nanti kamu ketagihan dan tidak mau pulang.

Terima kasih.

Kain tenun songket Sukarare

Kain tenun songket Sukarare

Seorang nenek sedang memintal benang di Desa Sade

Seorang nenek sedang memintal benang di Desa Sade

Mawun, tepat sebelum hujan

Mawun, tepat sebelum hujan

Jangan main ke Lombok, nanti enggan pulang

Jangan main ke Lombok, nanti enggan pulang


Tulisan ini merupakan bagian dari promosi pariwisata Pesona Indonesia. Seluruh rangkaian perjalanan diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

3 Comments

  1. Wah… keren ya
    Itu foto-foto sendiri apa bukan kok watermarknya pake logo itu?

    • foto-foto punya sendiri, gan
      logo Pesona Indonesia dicantumin buat branding, biar wisata Indonesia makin cihuy
      makasih udah mampir lho..
      :)

  2. Wah, sunsetnya bagus.. Baru tau juga, ternyata Endank Soekamti punya lagu berjudul Jangan pergi ke Lombok.. haha, aku sih udah pernah ke sana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *