Jangan Lewatkan Ambarawa Begitu Saja

Barangkali belum banyak yang mengenal Ambarawa. Sebagai salah satu destinasi wisata di Jawa Tengah, kota agraris ini memang belum setenar kawasan Dieng di Wonosobo, Magelang dengan Borobudur-nya, atau citytour dan wisata budaya ala Solo. Ada dua hal yang menjadi alasan mengapa Ambarawa tidak boleh dilewatkan dalam itinerary pelancong yang ingin berlibur di Jawa Tengah, yaitu wisata sejarah dan wisata alam.

Kereta Api Uap Ambarawa nan Melegenda

Salah satu lokomotif yang dipajang di museum

Sejarah panjang kereta api di nusantara dimulai saat perusahaan Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorwegmaatschappij, membangun jaringan rel di Semarang tahun 1864. Rel itu digunakan sebagai jalur angkutan penumpang dan barang. Beberapa tahun berselang, Belanda melanjutkan membangun stasiun di Ambarawa dan jaringan rel melintasi daerah ini. Rute yang menghubungkan Semarang dengan Yogyakarta ini dibangun untuk kepentingan strategi militer.

Topografi di sekitar Ambarawa yang berupa perbukitan memaksa para insinyur Belanda memutar otak memikirkan cara agar mampu membangun rel yang bisa dilalui kereta api dengan aman. Lantas ditemukanlah teknologi rel kereta api dengan lebar 1067 milimeter yang dikenal dengan narrow gauge. Selain dapat menekan biaya pembangunan, teknologi rel yang dilengkapi gerigi di tengahnya ini dapat membantu lokomotif melaju dengan aman di tanjakan curam. Saat mendaki perbukitan, lokomotif akan bertukar posisi menjadi di belakang sehingga tidak lagi menarik gerbong tetapi mendorong gerbong. Pun saat menuruni medan ini, rel bergerigi mampu menahan kecepatan lokomotif. Model rel bergerigi seperti ini juga dibangun di Sawahlunto, Sumatera Barat, untuk kereta api pengangkut batubara.

Beberapa dekade berselang, jalur rel yang mulanya dibangun untuk taktik militer berkembang menjadi jalur transportasi sipil sekaligus wisata. Pada tahun 1907 didatangkan serangkaian gerbong berdinding kayu untuk melayani kebutuhan itu. Lokomotif bermesin uap mengepulkan asap sembari menarik gerbong kayu meliuk melintasi alam pegunungan Ambarawa. Lanskap Ambarawa yang menawan membuat para meneer Belanda betah berlama-lama menikmati perjalanan dengan kereta api uap itu. Pada masa itu bepergian naik kereta api adalah kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh orang-orang Belanda dan sebagian kecil kaum bangsawan pribumi.

Indonesia beruntung memiliki kereta uap yang masih bisa beroperasi normal. Saat ini lokomotif bermesin uap yang masih bertahan dan bisa dijalankan dengan baik hanya bisa dijumpai di beberapa negara. Di Asia, hanya ada dua. Satu di Ambarawa ini, satu lagi di kota Rewari di pedalaman India. Sementara di daratan Eropa, masih ada beberapa kereta uap yang bertahan hingga era modern ini. Di Inggris, bisa dijumpai kereta uap di heritage railways di daerah Dorset. Swiss memiliki jalur kereta uap bernama Brunig Line yang menghubungkan Interlaken dan Giswil yang mengular di sepanjang lereng pegunungan Alpen. Kalau di Jerman, ada jalur yang membentang dari Dresden hingga berujung di Austria di mana setiap taun diadakan festival kereta api uap. Belanda sendiri memiliki jalur kereta uap yang disebut Museumstoomtram Hoorn Medemblik sepanjang 20 kilometer.

Museum Kereta Api Ambarawa berhasil mereparasi lokomotif tua bernomor B2502 yang sudah berusia seabad lebih. Lokomotif yang sempat mati suri itu bisa dioperasikan lagi. Kisah-kisah sejarah kejayaan kereta api di Ambarawa pun dapat diungkap kembali. Ada kisah unik di balik loko-loko tua itu. Loko C-28 misalnya, loko buatan Jerman itu pernah membantu pelarian Presiden Soekarno dari Jakarta ke Yogyakarta pada masa revolusi kemerdekaan tahun 1946. Atau Loko D5106, loko ini berjasa mengangkut jemaah haji dan logistik tentara Turki di jalur Hedjaz Railway yang menghubungkan Damaskus dengan Madinah.

Akhir tahun 2014 ini PT KAI sebagai pengelola telah menyelesaikan proyek renovasi di Museum Kereta Api Ambarawa. PT KAI menargetkan museum ini menjadi museum perkeretapaian terbesar di Asia Tenggara. Pelancong yang ingin merasakan sensasi naik kereta api uap melintasi daerah pedesaan Ambarawa bisa melakukan reservasi beberapa hari sebelum berkunjung.

Membelah persawahan


__

Misteri Terpendam Benteng Pendem

Dalam film Soekarno besutan Hanung Bramantyo terdapat sebuah adegan di mana sang proklamator itu berpidato di depan ratusan petani. Scene tersebut diambil di salah satu sudut Benteng Fort Willem I. Suasana tempat ini memang membawa kita seolah kembali ke masa-masa sebelum kemerdekaan. Tembok bata merah, gudang senjata, barak militer, hingga ruang tawanan seakan merekam lintasan peristiwa yang terjadi sejak masa silam.

Benteng ini dibangun pada tahun 1834 dan selesai tujuh tahun kemudian. Perang Diponegoro yang baru saja usai beberapa tahun sebelumnya rupanya mendorong Belanda mempersiapkan zona pertahanan yang lebih kuat. Benteng ini digunakan untuk meredam pemberontakan rakyat pribumi. Bangunan benteng berbentuk persegi yang dilengkapi menara pengintai di setiap sudutnya. Benteng ini dijuluki Benteng Pendem karena ada beberapa bagian benteng yang sengaja dipendam dalam tanah sebagai bentuk kamuflase.

Pada masa pendudukan Jepang, Benteng Pendem digunakan sebagai kamp konsentrasi militer. Ketika Indonesia merdeka, benteng ini berhasil dikuasai para pejuang dan dijadikan markas Tentara Keamanan Rakyat. Selanjutnya, pada masa pasca pemberontakan PKI tahun 1965, benteng ini dijadikan penjara bagi tawanan politik dan orang-orang yang terlibat dalam pemberontakan tersebut. Konon, salah satu ruangan di Benteng Pendem dijadikan ruang penyiksan tawanan. Saking banyaknya tawanan yang disiksa, ada genangan darah setinggi mata kaki di ruangan tersebut. Potongan kelam sejarah yang hingga saat ini masih menjadi misteri yang belum terjawab. Sekarang Benteng Pendem dimanfaatkan sebagai Lembaga Pemasyarakatan Kelas 2A.

Dengan begitu banyaknya peristiwa yang terjadi dan pengaruhnya dalam sejarah republik, Benteng Pendem memiliki potensi untuk dioptimalkan sebagai destinasi wisata sejarah. Benteng peninggalan masa kolonial apabila dirawat dan dikelola dengan baik, dapat memikat pengunjung untuk datang. Fort Rotterdam di Makassar atau Benteng Vradenburg di Jogja bisa menjadi acuan.

Ruang tahanan di Benteng Pendem

Sisa kejayaan Fort Willem I


__

Kepahlawanan dalam Palagan Ambarawa

Ambarawa dijuluki Kota Palagan. Ambarawa memang pernah menjadi palagan atau medan laga salah satu pertempuran penting pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia.

Pada pertengahan Oktober 1945, pasukan Sekutu yang terdiri dari tentara Inggris dan Belanda tiba di Indonesia. Di Jawa Tengah, mereka memiliki misi membebaskan tawanan perang di kota-kota basis militer seperti Solo, Banyumas, dan Yogyakarta. Misi itu dicurigai sebagai upaya Belanda untuk kembali menguasai Indonesia. Situasi memanas. Kemerdekaan Indonesia yang baru beberapa bulan diproklamasikan mendapat ujian berat. Terjadi perlawanan terhadap pasukan Sekutu di beberapa daerah seperti Ambarawa dan Magelang.

Ambarawa merupakan basis militer penting bagi para pejuang kita karena terdapat benteng, penyimpanan logistik, dan gudang senjata. Mengingat begitu vitalnya posisi Ambarawa bagi pertahanan pejuang Indonesia, Jenderal Soedirman yang saat itu baru saja diangkat menjadi Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat memimpin langsung peperangan di Ambarawa.

Sang jenderal menjalankan siasat Supit Udang. Ini merupakan strategi sergapan mendadak untuk menguasai Jalan Raya Semarang-Yogyakarta sekaligus memutus mobilisasi pasukan Sekutu. Pagi-pagi buta tanggal 12 Desember 1945 serangan dimulai. Perang berkobar di seluruh penjuru Ambarawa selama empat hari penuh. Pada tanggal 15 Desember 1945 para pejuang Indonesia berhasil membentuk gerakan menjepit seperti Supit Udang yang ujung-ujungnya bertemu di sebelah utara Ambarawa. Pasukan yang dipimpin Soedirman sanggup memukul mundur Sekutu ke arah Semarang. Strategi Supit Udang ini di kemudian hari menjadi referensi bagi para perwira Amerika dalam menghadapi tentara Vietkong di perang Vietnam.

Perang Ambarawa atau dikenal juga sebagai peristiwa Palagan Ambarawa dikenang sebagai salah satu kemenangan besar Jenderal Soedirman. Tanggal 15 Desember kelak ditetapkan sebagai Hari Infanteri TNI. Sebagai bentuk penghormatan, dibangun sebuah patung Jenderal Soedirman di alun-alun kota Ambarawa. Setiap tahun diselenggarakan peringatan Hari Infanteri secara nasional di sini. Ada beragam atraksi seperti terjun payung, karnaval kendaraan tempur, drama kolosal pertempuran Palagan Ambarawa, hingga parade marching band. Acara ini digelar besar-besaran dan bisa disaksikan oleh masyarakat umum. Gelaran peringatan Hari Infanteri ini bisa dimasukkan dalam agenda tahunan para pemburu festival.

Rawa Pening, Berkah bagi Ambarawa

Ambarawa tidak bisa dilepaskan dari Rawa Pening, sebuah danau yang ada di tepi kota. Nama Ambarawa sendiri diambil dari kata ombo (luas) dan rowo (rawa). Rawa Pening menjadi sandaran hidup bagi sebagian warga Ambarawa. Sumber daya ikan air tawar di tempat ini cukup menjanjikan. Sebagian nelayan mencari ikan dengan cara menjala atau memancing, ada pula yang membudidayakan ikan di karamba yang bisa dipanen secara berkala. Di Rawa Pening banyak tumbuh tanaman eceng gondok. Batang hidrofit ini dimanfaatkan menjadi bahan baku beragam kerajinan tangan seperti tas, karpet, hingga produk-produk furniture seperti kursi yang mampu menembus pasar ekspor.

Rawa Pening dipagari Gunung Merbabu dan Gunung Telomoyo serta deretan perbukitan yang saling menyambung. Di kejauhan tampak Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Kombinasi ini menghasilkan lanskap yang menawan. Saat pagi menjelang, kabut tipis melayang di permukaan rawa berlatar matahari terbit. Tak sedikit fotografer yang menyempatkan berburu momen sunrise di Rawa Pening.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah daerah menggandeng investor untuk mendirikan Kampung Rawa. Destinasi wisata ini berupa resto apung di tepian Rawa Pening yang menyediakan beragam menu masakan dan jajanan lokal serta menawarkan beragam aktivitas outbond. Masyarakat setempat dilibatkan langsung dalam mengelola tempat ini. Kelompok-kelompok nelayan diberikan kesempatan untuk menyewakan perahu mereka kepada para pengunjung yang ingin merasakan sensasi berperahu mengelilingi Rawa Pening. Dengan cara ini diharapkan ramainya aktivitas wisata di Rawa Pening berdampak positif terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat.

Pagi menjelang di Rawa Pening

Berburu sunrise

Mendung membayang di Rawa Pening


__

Petualangan di Lereng Gunung Ungaran

Di sebelah utara Ambarawa membentang Gunung Ungaran yang membuat kota ini beriklim sejuk. Ada banyak destinasi wisata di lereng Gunung Ungaran yang bisa dicapai dari Ambarawa. Sebut saja kompeks Candi Gedong Songo, wisata outbond Umbul Sidomukti, serta air terjun Curug Lawe-Curug Benowo. Bagi para pecandu kegiatan petualangan, treking menuju puncak Gunung Ungaran adalah opsi yang layak untuk dicoba. Dalam perjalanan menuju puncak setinggi 2.085 mdpl itu pendaki akan menembus hutan pinus, melewati perkebunan kopi, hingga membelah perkebunan teh. Jika adrenalin belum cukup terpompa, caving di lorong Gua Jepang menjadi tantangan yang harus dicoba.

Untuk mencapai puncak Gunung Ungaran dari basecamp diperlukan waktu 3 hingga 4 jam. Jadi, jika ingin menikmati panorama matahari terbit, trekking sebaiknya dimulai tengah malam. Perjalanan dapat dimulai dengan melakukan registrasi di Basecamp Mawar sebagai titik awal pendakian. Petugas basecamp juga dapat menyediakan pemandu apabila dibutuhkan. Pendakian Gunung Ungaran termasuk dalam kategori entry level jadi bisa dilakukan oleh seseorang yang belum pernah mendaki. Tentu dengan didampingi pemandu atau rekan yang sudah berpengalaman.

Dari puncak Gunung Ungaran, akan terlihat garis pantai Laut Jawa di sebelah utara. Deretan Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, dataran tinggi Dieng dan Gunung Slamet membentang di sisi barat. Jika cuaca cerah dan tidak tertutup kabut, seluruh bagian Rawa Pening akan terlihat jelas berlatar Gunung Telomoyo dan Gunung Merbabu di selatan. Kadang terlihat samar-samar Gunung Lawu di ujung timur. Gunung Ungaran biasa dipakai latihan tempur oleh prajurit TNI jadi di puncak ada penanda tugu triangulasi.

Puncak Ungaran adalah tempat terbaik untuk menikmati keindahan bentang alam Ambarawa.

Puncak Gunung Ungaran

Deretan Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, dan dataran tinggi Dieng

Panorama dari puncak Gunung Ungaran

Puncak Gunung Merbabu dilihat dari puncak Gunung Ungaran


__

Yang Enak dan Nikmat

Kurang lengkap jika kita mengunjungi suatu kota tanpa mencicipi kuliner lokalnya. Salah satu jajanan lokal Ambarawa yang terkenal adalah serabi ngampin. Serabi berbahan dasar tepung beras ini disajikan dengan kuah manis yang terdiri dari santan dan gula jawa. Serabi ngampin dijajakan oleh para penjual yang mendirikan lapak di sepanjang jalur utama Semarang-Jogja, tepatnya di kawasan Desa Ngampin. Pengunjung dapat mencapai tempat ini dengan mudah.

Makanan lain yang ikonik adalah tahu serasi. Tahu ini bertekstur halus dengan isian yang padat dan lebih kenyal, berbeda dengan tahu sumedang yang dalamnya kosong. Tahu serasi biasanya digoreng dengan minyak panas dan dihidangkan hangat-hangat dengan dilengkapi kecap manis dan cabai rawit. Saat ini sudah banyak pedagang yang menjual tahu serasi dalam kemasan plastik sehingga cocok untuk oleh-oleh.

Rawa Pening menghasilkan beragam bahan pangan. Biji bunga teratai dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku membuat jenang. Biji tersebut dijemur hingga kering lalu digiling menjadi tepung. Tepung tersebut lantas dicampur dengan gula merah, santan, dan dimasak dalam api kecil selama beberapa jam. Hasil dari olahan tersebut disebut jenang cingkru. Jajanan tradisional ini hanya bisa ditemukan di Ambarawa.

Selain biji teratai, Rawa Pening juga menyuplai banyak protein hewani seperti ikan mujaer, ikan wader, belut, dan udang air tawar. Bahan makanan itu diolah menjadi berbagai jenis keripik dan dan rempeyek yang renyah dan tahan lebih dari satu bulan.

__

Bagi saya yang lahir dan dibesarkan di Ambarawa, kota ini tidak hanya indah. Semenjak saya merantau ke ibukota, Ambarawa selalu memberikan alasan untuk pulang. Pagi yang sejuk dan berkabut. Keriuhan pasar tradisional dan beragam jajanan lokal yang menggoda selera. Kisah sejarah yang tak bosan disimak meski berulang-ulang diceritakan. Keramahan khas pedesaan yang guyub rukun. Semua itu membuat waktu berdetak lebih lambat dan ritme hidup sejenak menjadi lebih santai.

Jadi, kapan anda hendak singgah di Ambarawa?

(terima kasih)

Mari mampir ke Ambarawa


__

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti kompetisi workshop TravelNBlog
Teks dan foto oleh Adhi Kurniawan

8 Comments

  1. nice pictures!

    Ambarawa kayaknya adem ya?

    • makasih udah mampir, kak
      :)
      heem..Ambarawa lumayan adem, pas buat leyeh-leyeh

  2. Wah, baru tahu kalau cuma ada 2 kereta begituan di Asia. Tapi yang di India itu apakah masih beroperasi rutin, atau wisata aja kayak di Ambarawa ya?

    • kalo gak salah cuma ada dua itu, mas
      yang di India juga buat wisata aja kayak di sini

  3. Foto ungarannya cakep :’)

    • he5..makasih, mas wira
      kalau pas melintasi Jawa Tengah, coba sempatin mampir bentar buat treking ke situ

  4. Aduhh nyesel bgt baru baca tulisan bagus ini sekarang.. Waktu berkunjung ke Ambarawa awal 2014 kmrn cuma ke Palagan dan Umbul Sidomukti…

    Tapi tetap terima kasih banget… kalo berkunjung kembali setidaknya sudah punya info lebih lengkap ttg Ambarawa dan sekitarnya… Yeay !!!

    • Wah..itu artinya harus datang lagi ke Ambarawa suatu hari nanti
      :)
      Ada beberapa destinasi lain di sekitaran Ambarawa yang bisa dikunjungi selain yang saya tulis di blog tadi, misalnya Perkebunan Kopi Banaran atau Pemandian Muncul. Banyak makanan enak di sana

      Terimakasih sudah mampir ke blog saya, mbak ulfa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *