Istana Pagaruyung, Kisah Istana Api

Ada empat unsur utama dalam serial animasi Avatar yang terkenal : Suku Air, Kerajaan Bumi, Pengembara Udara, dan Negara Api. Masing-masing hidup tenang dan damai. Semua berubah ketika Negara Api menyerang. Namun tulisan kali ini tidak akan membahas Negara Api dalam sekuel kartun Avatar. Istana Api dalam tulisan ini adalah kisah istana peninggalan kerajaan lama yang beberapa kali terbakar.

Kerabat Majapahit

Meski berada di pedalaman Sumatera Barat yang jauh dari Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, Kerajaan Pagaruyung memiliki hubungan erat dengan Majapahit. Adityawarman, salah seorang raja Pagaruyung, adalah kerabat dekat keluarga raja Majapahit. Adityawarman dan Gajahmada pernah bertempur bersama menaklukan Bali dan Palembang di bawah panji Majapahit.

Istana Pagaruyung

Pagaruyung tidak banyak disebut dalam sejarah nusantara. Tidak seperti Sriwijaya, Majapahit, Kutai, atau Mataram Islam. Munculnya Pagaruyung sebagai sebuah kerajaan pun tidak dapat ditelusuri melalui prasasti yang secara spesifik menjelaskan mengenai kerajaan ini. Penjelasan tentang keberadaan Pagaruyung diperoleh dari prasasti-prasasti yang menandai suatu peristiwa yang melibatkan tokoh penting kerajaan.

Saat berada di bawah kekuasaan Adityawarman pada abad 13, Pagaruyung menjadi kekuatan besar di antara kerajaan lain di sekitarnya sehingga mampu menyebarkan pengaruh Hindhu dari Majapahit. Setelah Adityawarman turun tahta masuk pengaruh Budha dari hubungan diplomatik dengan Kekaisaran Cina. Pagaruyung berkembang menjadi kerajaan Islam pada akhir abad 16 saat banyak pedagang Islam dari Aceh dan Malaya membuka hubungan dagang dengan Pagaruyung.

Pagaruyung monochrome

Pagaruyung monochrome

The Burden Palace : Istano Basa Pagaruyung

Istano Basa (Istana Besar) Pagaruyung di Batusangkar yang saat ini kita kenal sebagai salah satu icon pariwisata Sumatera Barat sebetulnya adalah replika istana peninggalan Kerajaan Pagaruyung. Istana yang asli dulu berada di Bukit Batupatah di lereng Gunung Bungsu, tak jauh dari lokasi istana yang sekarang.

Masuknya ajaran Islam dalam tata kehidupan Kerajaan Pagaruyung membawa implikasi dalam paham bernegara. Ada perbedaan mendasar dalam pola hidup kaum Paderi atau kaum ulama yang berpedoman pada ajaran Islam dengan kaum Adat yang masih teguh mempertahankan ajaran turun-temurun dari para pendahulu. Tak jarang perbedaan tersebut memicu ketegangan antara kaum Paderi dan kaum Adat. Hal inilah yang dimanfaatkan Belanda yang saat itu sedang berusaha menguasai Sumatera untuk melemahkan kekuatan kedua pihak dengan membuat mereka saling bersengketa.

Pada tahun 1804 perselisihan antara kaum Paderi dan kaum Adat di Pagaruyung menimbulkan kerusuhan berdarah. Salah satu akibat kerusuhan ini adalah terbakarnya Istano Basa Pagaruyung. Kebakaran besar itu menghabiskan keseluruhan bangunan istana berikut isinya. Kerugian yang sangat besar sebetulnya mengingat banyaknya benda bersejarah di istana itu. Kebakaran ini mengakhiri keberadaan Istana Pagaruyung sebagai simbol kerajaan. Setelah dibangun lagi pada masa pasca kemerdekaan, pada tahun 1966 istana ini kembali mengalami kebakaran hebat.

Perlu waktu lama untuk membangkitkan spirit Kerajaan Pagaruyung yang seolah hilang setalah dua kali mengalami kebakaran. Pada 1976 dimulai rekonstruksi replika Istano Basa Pagaruyung atas inisiatif kerabat kerajaan dan pemerintah setempat. Istana baru yang berada di tepi jalan raya Batusangkar memudahkan akses pengunjung menuju istana. Pembangunan kembali istana ini menghidupkan kegiatan pariwisata di Batusangkar dan berpengaruh langsung terhadap berkembangnya perekonomian masyarakat lokal.

Namun sepertinya Istana Basa Pagaruyung memang ditakdirkan tidak jauh dari api. Entah fengshui yang kurang cocok atau blue print pembangunannya yang tidak memasukkan mitigasi risiko, lagi-lagi istana ini terbakar pada tahun 2007. Penyebabnya? Petir.

Sambaran petir pada awal Februari 2007 memicu api yang akhirnya membakar bangunan utama istana dan bangunan pendamping di sekitarnya. Atap bangunan yang terbuat dari ijuk menyebabkan api cepat menyebar. Hanya sebagian kecil bangunan dan dokumen-dokumen penting yang tersisa.

Penampakan dari halaman belakang

Penampakan dari halaman belakang

Reborn

Seperti legenda burung phoenix yang terbakar lalu lahir kembali sebagai bentuk reinkarnasi, demikian pula dengan istana ini. Tidak sampai sampai enam bulan setelah kebakaran ketiga, rekonstruksi dimulai. Dengan anggaran yang bisa dibilang besar proyek ini dilakukan sebagai bentuk promosi wisata Sumatera Barat.

Hingga saat ini pembangunan masih belum selesai sepenuhnya. Perlu beberapa penyempurnaan sehingga tidak setiap hari pengunjung bisa masuk istana untuk melihat barang-barang yang memiliki nilai sejarah dan budaya Minangkabau. Pengunjung yang kecewa tidak bisa masuk ruang utama istana, bisa mencoba berdandan dengan pakaian adat Minang yang disewakan oleh beberapa warga setempat untuk berfoto narsis. Bentuk yang meriah dan penuh warna membuat hasil foto tampak menarik.

Halaman belakang istana yang berhadapan langsung dengan Gunung Bungsu adalah tempat yang tepat untuk melewatkan sore. Ada persawahan yang cukup luas di sana. Lumayan asyik untuk sekedar duduk setelah lelah seharian berkeliling kompleks Istana Pagaruyung.

Secara berkala diadakan pameran foto dengan tema tertentu

Secara berkala diadakan pameran foto dengan tema tertentu

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *