Inspirasi Itu Bernama Muhammad Asyari

Jika kebanyakan sarjana ingin segera mendapatkan pekerjaan tetap dengan penghasilan mantap begitu lulus, tidak demikian dengan Muhammad Asyari. Setelah menyelesaikan kuliah di Universitas Mataram pada Maret 2013, dia memilih menjadi relawan di bidang pendidikan. Ari, demikian dia biasa disapa, memutuskan menjadi pendidik, sesuai dengan cita-cita masa kanak-kanaknya. Bagi Ari kecil, guru adalah sosok yang mengagumkan karena sanggup menjadi sumber ilmu bagi orang lain. Lantas dia ingin mengajar di tempat jauh nan terpencil. Gayung pun bersambut. Secara kebetulan Ari menemukan informasi di media sosial mengenai open recruitment program Sekolah Guru Indonesia (SGI) yang diselenggarakan Dompet Dhuafa. Di detik-detik terakhir periode pendaftaran, dia mengirimkan aplikasi keikutsertaan dalam program tersebut. Setelah melewati serangkaian tahapan seleksi yang ketat, pria asal Lombok Timur ini terpilih menjadi pengajar SGI. Keberuntungan memang selalu menyertai orang-orang dengan niat baik.

Bersama empat pengajar SGI Angkatan V yang lain, Ari mendapat amanah untuk mengabdi di pedalaman Pandeglang, Banten. Mereka adalah Azizah, Jamilah Sampara, dan Muhammad Ramadhan Tahir yang ketiganya berasal dari Makassar serta Rionardo Chaniago yang berasal dari Padang. Sebelum memulai program mengajar pada November 2013, mereka mendapat berbagai macam pelatihan dan melakukan persiapan di asrama Dompet Dhuafa di Bogor. Selama setahun penuh mereka ditempatkan di sekolah-sekolah penerima bantuan. Ari mengajar di SDN Banyuasih 3 sementara rekan-rekannya mengajar di sekolah-sekolah lain di wilayah yang sama.

Meskipun diajak tinggal bersama kepala sekolah di kampung sebelah, Ari memilih tinggal di perpustakaan sekolah. Dengan tinggal di ruangan yang juga merangkap sebagai pojok baca, ruang kelas, ruang kepala sekolah, juga ruang tamu itu Ari lebih leluasa mengerjakan hal-hal untuk sekolah di sela-sela kesibukan mengajar. Pagi hari sebelum guru lain dan murid-murid datang, Ari sudah sibuk membersihkan lingkungan sekolah dan menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk kegiatan belajar mengajar. Ari segera mendapat sambutan hangat dari murid-murid SDN Banyuasih 3. Pada malam pertama dia tinggal di perpustakaan, anak-anak itu langsung datang berkunjung.

Ari mengajar mata pelajaran Agama Islam untuk murid kelas III hingga kelas VI. Selama bertahun-tahun rupanya SDN Banyuasih 3 tidak memiliki guru agama. Ketika tim SGI melakukan assessment ke sekolah ini, pihak sekolah meminta bantuan tenaga pengajar untuk pelajaran agama. Latar belakang sebagai mahasiswa pendidikan Fisika tidak lantas mengurangi kesungguhan Ari untuk membimbing murid-muridnya mempelajari ilmu agama.

Memberi instruksi kepada anak didik

Pagi hingga siang Ari mengajar di SDN Banyuasih 3. Dia juga membantu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan administratif untuk pihak sekolah. Laporan berkala mengenai perkembangan pelaksanaan program SGI dia siapkan untuk kemudian disampaikan kepada tim Dompet Dhuafa. Siang hingga sore Ari mengajar di madrasah diniyah yang ada di kampung setempat. Petang menjelang, Ari meluangkan waktu untuk mendampingi anak-anak mengaji. Aktivitas Ari memang padat. Namun semua lelah dan peluh akan hilang manakala anak-anak itu menemaninya menginap di perpustakaan sambil bermain dan bercakap-cakap.

Bagi Ari, dunia anak-anak adalah dunia penuh keceriaan dan kebahagiaan. Kebersamaan dengan mereka adalah berkah tersendiri. Dari anak-anak itu Ari belajar tentang memaafkan kesalahan orang lain. Seringkali murid-muridnya itu bandelnya minta ampun dan bertengkar satu sama lain. Namun tidak lama kamudian, mereka sudah akur dan bermain bersama lagi. Dari mereka, Ari juga belajar makna solidaritas dan berbagi. Sebagian besar muridnya berasal dari keluarga dengan ekonomi lemah. Namun begitu mengetahui persediaan beras Ari di dapur mulai menipis, mereka berinisiatif memberikan beras untuk guru yang mereka sayangi itu. Setiap anak membawa dua cangkir beras dari rumah sehingga jika dikumpulkan menjadi banyak. Dalam keterbatasan anak-anak itu tetap memiliki kepedulian. Pernah suatu ketika Ari jatuh sakit. Tak lama kemudian datang seorang murid bersama orang tuanya untuk menjenguk sembari membawakan obat dan makanan.

Ari menempatkan diri tidak hanya sebagai seorang guru bagi murid-muridnya. Terkadang dia menjadi teman bermain bagi mereka. Sekedar bermain bola bersama atau mengajak berenang ke danau tak jauh dari sekolah. Ari juga bisa berperan sebagai kakak bagi anak didiknya itu saat mereka ada masalah. Kedekatan macam itu membuat murid-muridnya terus membujuk agar Ari terus bersama mereka saat program SGI berakhir. Bahkan, ada murid yang pernah mengancam akan bunuh diri kalau Pak Guru Ari pergi meninggalkan mereka. Ah, anak-anak. Sebandel apapun mereka selalu memiliki sisi manis yang meluluhkan hati.

Menemani bocah-bocah hiperaktif ini bermain bola

Ari begitu mengagumi sosok Muhammad Al Fatih. Sultan ketujuh dalam sejarah Bani Utsmani yang sanggup menaklukan Konstantinopel untuk dijadikan pusat kebudayaan itu merupakan figur pemimpin ideal bagi Ari. Para penjelajah macam Ibnu Battuta dan Laksamana Cheng Ho juga diidolakan Ari. Sebagai seseorang yang gemar sejarah, Ari merasa bahwa menjelajahi dunia seperti tokoh-tokoh itu adalah perjalanan menghimpun ilmu. Dengan bekal itu, seseorang dapat menjadi guru yang hebat. Untuk hal ini, Ari belajar banyak dari Andrea Hirata. Penulis tetralogi Laskar Pelangi itu telah mengubah perspektif Ari tentang jalan-jalan. Traveling bukanlah kegiatan menghambur-hamburkan uang. Traveling adalah proses untuk memaknai hidup dan membentuk pribadi seseorang.

Sepuluh purnama sudah Ari mengabdi di Pandeglang. Dalam dua bulan ke depan program SGI akan berakhir. Banyak hal yang harus diselesaikan. Mempersiapkan anak-anak didiknya agar bisa dilepas setelah ditinggal menjadi tantangan tersendiri bagi Ari. Keakraban dengan mereka selama berbulan-bulan tentu tidak mudah diakhiri. Ari telah menentukan pilihan untuk masa depannya. Dia sudah mantap untuk mewakafkan diri di bidang pendidikan. Menjadi guru bukanlah pilihan yang mudah. Pekerjaan sebagai pendidik barangkali belum bisa menjanjikan kesejahteraan sebesar profesi lain. Namun bagi sebagian orang, keputusan dalam memilih jalan hidup bukanlah didasari pada pertimbangan seberapa banyak yang akan dia terima. Seberapa banyak yang sanggup dia berikan untuk orang lain lah yang menjadi alasan utama.

Inspirasi dari seorang Muhammad Asyari

Pak Guru Ari kembali mengingatkan kepada kita bahwa republik ini tidak pernah kekurangan inspirasi. Sosok-sosok pencerah macam itu tersebar di berbagai penjuru negeri. Para militan itu ada di tapal batas negeri di Nunukan, di tengah belantara Sambas, di pulau-pulau mungil di perairan Halmahera Utara, atau di ujung selatan Rote Ndao. Mereka berjuang di jalan yang sepi tepuk tangan. Namun itulah pilihan. Dalam segera keterbatasan, mereka telah melakukan kerja nyata. Semoga kisah itu senantiasa menginspirasi kita untuk berbuat sesuatu. Semoga kebaikan terus mengalir untuk mereka.

[Silahkan mengenal lebih dekat sosok Muhammad Asyari melalui blog gurumudaa.blogspot.com]

Menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis dari murid-murid

Aksi bersama rekan-rekan SGI lainnya

Mengajak anak-anak melepas penat

Memulai hari dengan semangat

Pak Guru Ari ikut melompat dari pohon ke danau, persis yang dilakukan anak-anak didiknya

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

4 Comments

  1. kisahnya bagus, mas.. penuturannya juga santun. benar2 menginspirasi jiwa muda utk berbuat lebih manfaat. (y)

    • terimakasih, mbak rima..mudah-mudahan bermanfaat..aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *