Harmoni Lintas Generasi

Selama mendaki Kerinci, kami tinggal di Desa Kersik Tuo Kecamatan Kayu Aro. Desa yang terletak di tengah hamparan kebun teh ini biasa digunakan para pendaki untuk singgah sebelum memulai pendakian. Di sana kami menumpang di rumah Bu Jasnawati, seorang wanita menjelang limapuluhan yang hidup bersama dua anaknya. Salah satu anak Bu Jasna yang bernama Heru menjadi teman ngobrol kami selama empat hari di Kersik Tuo.

edit16a

Rumah Belanda

Rumah milik Bu Jasna cukup unik. Penduduk sekitar menyebut rumah ini sebagai rumah belanda. Rumah ini satu-satunya rumah kayu peninggalan jaman kolonial yang masih kokoh berdiri dan mempertahankan bentuk aslinya. Pemandangan di depan rumah belanda sungguh spektakuler. Begitu membuka pintu depan, tepat di depan rumah menghampar hijaunya kebun teh berlatar Gunung Kerinci.

Di rumah ini pula setiap pagi datang berkunjung mertua Bu Jasna yang sudah berusia lanjut.

The Invader

Namanya Saimah. Keriput di wajahnya menandakan betapa panjang hidup yang sudah dijalani. Mbah Saimah termasuk gelombang pertama petani Jawa yang didatangkan kolonial Belanda ke Kayu Aro untuk menggarap kebun teh yang baru dirintis. Di sini Mbah Saimah bersama ratusan pendatang bahu membahu membuka hutan Kerinci sehingga menjadi desa yang bisa ditinggali. Saat itu kepemilikan lahan masih bebas. jadi siapa yang mau bekerja keras membabat hutan maka lahan itu otoatis menjadi hak miliknya. Sesederhana itu. Ibarat lumut kerak, mereka adalah kaum perintis yang mengubah daerah tak bertuan menjadi kawasan layak huni.

Mbah dan teman-teman seangkatannya masih mengalami perlakuan keras kolonial Belanda. Dulu, setiap pagi dibunyikan sirine yang menandakan seluruh pekerja harus mulai bekerja di perkebunan. Menjelang petang sirine kedua dibunyikan. Saat itu berulah pekerja boleh pulang. Kadang ketika sedang ada pertempuran antara tentara Belanda dengan pejuang Indonesia, para pekerja itu tidak pulang ke rumah. Mereka berlindung di lubang-lubang galian tanah agar tidak kena peluru nyasar.

edit18ab

Kehidupan sosial ekonomi cukup berat. Untuk makanan pokok, keluarga Mbah menyimpan jagung dan singkong kering sebagai cadangan jika sewaktu-waktu beras susah didapat. Saat itu pakaian dari karung kandi masih nge-tren. Setiap minggu pakaian itu harus direndam seharian di mata air panas yang ada di desa lain untuk mematikan kutu-kutu kurang ajar yang bersarang di pakaian.

Namun, pengorbanan Mbah sekarang berbuah manis. Dia memiliki tanah yang luas di Kersik Tuo. Tanah itu dibagi-bagikan kepada anak turun dan menantunya. Dia bahkan memiliki gudang di areal perkebunan teh yang disewakan untuk menampung hasil bumi. Di usianya yang sudah lebih dari seratus tahun, Mbah masih bugar. Dia tinggal sendirian di rumahnya yang lumayan luas. Setiap pagi di mampir ke rumah belanda. Jika sedang ada pendaki yang menginap, Mbah antusias mengajak ngobrol sambil ngopi. Mbah memang pecandu kopi kelas berat.Juragan Kentang

Setiap pagi setelah menyelesaikan urusan dapur, Bu Jasna berangkat ke kebun kentang milik keluarga yang ada di ujung perkebunan teh.

Hampir semua warga Kersik Tuo mengandalkan kebun kentang sebagai mata pencahariaan utama. Selain kentang, mereka juga menanam kubis, cabai, dan aneka sayuran lainnya. Meski tidak setenar teh Kayu Aro yang sudah mendunia, kentang Kayu Aro cukup dikenal di pasar domestik. Setiap malam, truk-truk besar mengangkut kentang hasil panen ke sentra perdagangan di Padang, Bengkulu, Pekanbaru, Jambi, dan Palembang. Bahkan, ada pula yang menembus pasar induk Kramat Jati di Jakarta.

Saking melimpahnya kentang di Kersik Tuo, setiap rumah rata-rata memiliki stok kentang berkarung-karung. Kentang disimpan di atas para-para yang ada di dapur agar tidak cepat bertunas. Lauk kami selama di sana tak jauh-jauh dari kentang goreng, semur kentang, tumis kentang, dan kentang sambal merah.

Meski berdarah Jawa, generasi keturunan kedua seperti Bu Jasna lahir dan dibesarkan di Kayu Aro. Mereka sudah menyatu dengan warga asli Kerinci. Bahasa yang digunakan sehari-hari di sini adalah bahasa Jawa ngoko. Saat saya mencoba menggunakan boso kromo untuk ngobrol dengan ibu-ibu yang sedang menunggui dagangan, yang terjadi justru miskomunikasi. “Bu, tumbas spirtusipun sekawan botol nggih (Bu, beli spirtusnya empat botol ya) ” kata saya. “Yo, Mas” jawab sang ibu sambil menyerahkan satu botol kecil spirtus.

Mendiang suami Bu Jasna adalah guide ternama di Kerinci. Pada awal tahun 1980 saat pendakian Kerinci belum seramai sekarang, sang suami sudah berkali-kali memandu pendaki dari luar negeri mencapai puncak Kerinci.

Balada si Heru

Sebagai generasi bungsu di Kersik Tuo, Heru tidak perlu merasakan susahnya hidup dengan merendam baju di mata air panas atau merebus gaplek untuk makan. Dia hidup di jaman twitter yang sudah serba lengkap.

Selain ke ladang untuk membantu berkebun, pemuda Kersik Tuo biasanya memiliki pekerjaan lain seperti menjadi sopir truk atau travel. Mereka juga membuat produk turunan kentang untuk meningkatkan nilai jual hasil bumi itu. Pemerintah setempat memberdayakan masyarakat dengan mengajari mereka mengolah kentang menjadi dodol. Produk ini mulai sering dijual sebagai oleh-oleh khas Kerinci selain teh Kayu Aro.

Pemuda seperti Heru merasakan manfaat langsung dari banyaknya pendaki dan traveler yang singgah ke Kersik Tuo. Dia memiliki banyak kenalan penggiat outdoor activity dan tergabung ke beberapa komunitas. Dari sini, dia dapat kesempatan melakukan kegiatan-kegiatan seru. Sekali waktu, Heru pernah menjelajah hingga ke kilometer nol di ujung barat Sabang. Di lain waktu, Heru dan kawan-kawannya pernah sebulan tinggal di kampung Suku Anak Dalam sebagai relawan untuk mengajar anak-anak Suku Anak Dalam.

Harmoni di Kaki Kerinci

Dengan segala keunikannya, Kersik Tuo tetaplah sama dengan desa-desa lain di negeri ini. Keseharian yang sama dan humanisme yang sama. Anak-anak berebut angkot untuk berangkat ke sekolah tiap pagi. Pasar tradisional yang buka hanya pada hari Sabtu. Ibu-ibu pemetik teh bergegas ke kebun teh sambil berisik ngerumpi. Muda-mudi yang nongkrong di konter hape sambil memutar musik keras-keras.

Kersik Tuo dan desa-desa lain di Kayu Aro tergolong maju untuk ukuran daerah kaki gunung. Pemukiman warga di Kayu Aro tertata apik dan bersih. Di depan tiap rumah terpasang pot-pot bunga dengan warna seragam. Tak heran jika tahun lalu Kayu Aro masuk nominasi finalis lomba desa PKK tingkat nasional. Perekonomian di sini juga semarak. Toko-toko pertanian dalam skala besar tersebar di mana-mana. Toko yang menyediakan barang kebutuhan primer dan sekunder juga sudah menjamur. Bahkan, ATM pun sudah tersedia di sini.

Saat kami datang ke Kayu Aro, bertepatan di sana sedang masa kampanye pemilihan kepala daerah untuk Kabupaten Kerinci. Dari spanduk-spanduk yang kami lihat, nama khas Jawa seperti Sartoni dan tagline njawani seperti “Ayo Podo Guyub” banyak terpasang di ruang publik. Mayoritas kandidat pilkada ternyata keturunan Jawa.

Iseng-iseng saya bertanya kepada sopir angkot yang saya tumpangi saat hendak berkunjung ke desa sebelah. Apakah tidak masalah di tengah pedalaman Sumatera seperti ini, yang maju mencalonkan diri bukan warga pribumi. Jawaban singkat “Yang penting kami di sini bisa hidup rukun, Mas” cukup menunjukkan bahwa isu SARA bukan lagi masalah di sana.

Lintas generasi dan akar keturunan justru menciptakan akulturasi keseharian yang harmonis di sana. Harmoni lintas generasi di kaki Kerinci.

edit17a

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *