[Enjoy Jakarta] Yang Nyaris Hilang dan Terlupakan di Teluk Jakarta

Sumber : Troppen Museum

Sumber : Troppen Museum

Kepulauan Seribu tidak hanya tentang keindahan tebaran pulau-pulaunya, pesona pantai pasir putih, atau pemandangan alam bawah laut. Ada jejak sejarah yang tertinggal dan menarik ditelisik. Masih di kawasan Teluk Jakarta, kurang satu jam berperahu dari Muara Angke atau Muara Kamal kita akan sampai di sebuah pulau kecil. Tidak ada pantai berpasir putih atau diving site yang menarik di sekitar pulau itu. Namun, empat abad silam pulau itu adalah pulau paling penting di gugusan Kepulauan Seribu. Onrust, pulau yang nyaris tiada henti beraktivitas.

Jan Pieterszoon Coen paham betul posisi strategis Eijland Onrust bagi tujuan politik dan pertahanan pasukan Veerenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) yang dia pimpin. Serikat dagang milik Belanda itu perlu dermaga untuk melabuhkan kapal-kapalnya. Demi mempertahankan dominasi di Batavia, pada tahun 1610 JP Coen meminta izin Pangeran Jayakarta yang saat itu menguasai Banten untuk membangun galangan kapal di Onrust. Izin yang hanya siasat politis karena sebetulnya VOC akan membangun benteng pertahanan dalam rencananya menyerang Banten sekaligus antisipasi kedatangan tentara Inggris. Delapan tahun kemudian, Onrust menjadi basis penyerangan VOC ke Banten.

Inggris dengan serikat dagang East India Company-nya memang rival utama VOC dalam perdagangan di kawasan Asia Tenggara. Apalagi kalau bukan berebut rempah-rempah dari Maluku. Onrust pun menjadi pulau pertama dari kepulauan Nusantara yang dikuasai VOC. Dari Onrust invasi VOC atas kepulauan Nusantara dimulai. Kapal-kapal hilir mudik bongkar muat di dermaga Onrust menyiapkan komoditas hasil bumi nusantara yang akan dikirim ke Eropa.

Sumber : Troppen Museum

Sumber : Troppen Museum

Dari sebuah peta kuno terlihat site plan pembangunan di Onrust. Seorang arsitek bernama Johanes Listingh memulai pembangunan benteng di Onrust pada tahun 1658. Perlu waktu hampir dua puluh tahun untuk membangun keseluruhan benteng berbentuk segi lima dengan bastion di setiap sisinya. Setelah mampu menguasai Batavia, Belanda menjadikan Onrust sebagai zona pertahanan di sebelah utara.

Kapal yang datang setelah menempuh perjalanan lintas-benua dari Eropa singgah di Onrust sebelum merapat ke Sunda Kelapa. Begitu vitalnya fungsi Onrust bagi aktivitas pelayaran saat itu bahkan membuat Abel Janszoon Tasman, pelaut Belanda yang berhasil mencapai Selandia Baru, dua kali singgah di Onrust. Avonturir sekelas James Cook pun melabuhkan Kapal Endeavour yang telah membawanya menjelajahi separuh dunia di Onrust pada tahun 1770 untuk diperbaiki. Siapa sangka kalau setelah itu dia berhasil mendarat di pantai timur Australia, benua yang masih asing kala itu. Dalam catatan perjalananya, James Cook menulis bahwa tidak ada satu pun galangan kapal yang mampu menandingi ketelitian Onrust dalam memperbaiki kapal.

Sumber : Troppen Museum

Sumber : Troppen Museum

Begitu vitalnya peran Onrust dalam peta persaingan dagang maupun militer mendorong Inggris menyerang pulau itu. Tidak kurang tiga kali armada Inggris menggempur Onrust pada tahun 1800, 1806, dan 1810. Belanda harus merekonstruksi Onrust pasca serangan Inggris. Di bawah pimpinan Baron van der Capellen, Onrust dibangun ulang. Kali ini dengan benteng dan bastion yang lebih kuat. Dibangun rumah sakit dan gudang-gudang logistik di sini. Bahkan dibangun pula galangan kapal terapung untuk memperbaiki kapal di lepas pantai.

Ketika Krakatau meletus pada tahun 1883, efeknya terasa hingga ke Onrust. Letusan dahsyat itu mengakibatkan gelombang tsunami yang hampir meratakan seluruh bangunan yang ada di sana. Peran Onrust semakin meredup saat Belanda mulai membangun Tanjung Priok menjadi pelabuhan baru yang lebih modern.

Pada awal masa pergerakan nasional, Belanda memfungsikan Onrust sebagai tempat karantina jamaah haji. Selama dikarantina di Onrust, jamaah haji beradaptasi dengan udara laut karena mereka akan menempuh perjalanan berbulan-bulan berlayar menuju tanah suci. Dengan cara ini Belanda dapat mengontrol sekaligus mengawasi pergerakan Islam yang saat itu mulai bangkit dan mengancam kelangsungan Belanda sebagai penguasa Hindia Belanda.

Aktivitas

Saat kekuasaan beralih ke Jepang, posisi Onrust sebagai basis pertahanan militer jauh berkurang karena keberadaannya sudah teridentifikasi pesawat tempur musuh. Oleh karena itu, Onrust dijadikan penjara untuk narapidana kelas berat. Saat Indonesia merdeka, pulau ini dialihfungsikan menjadi tempat isolasi penderita penyakit lepra agar tidak menular. Kesan suram semakin kental dengan dipakainya Onrust sebagai tempat eksekusi mati bagi tahanan politik.

Asrama

Sedikit disayangkan bahwa semakin ke sini Onrust kurang menggambarkan betapa pulau ini pernah berjaya dalam peta persaingan perdagangan dan strategi militer. Pulau yang dahulu tidak pernah tidur itu pun nyaris tertidur untuk selamanya. Tidak ada sisa-sisa bangunan benteng yang bisa dikunjungi. Hanya ada reruntuhan asrama haji dan kompleks pemakaman tua. Penjarahan besar-besaran yang terjadi pada 1968 mengambil sebagian besar material bangunan yang tersisa. Kualitas material bangunan Belanda yang kuat dan tahan lama menarik penduduk sekitar pulau mengambil material itu untuk membangun rumah. Abrasi yang setiap saat menghantam pun mengancam keberadaan pulau. Semakin lama pulau semakin sempit karena garis pantainya tergerus ombak.

Beruntunglah, pelestarian Pulau Onrust mulai digiatkan. Saat berkunjung ke Onrust beberapa saat lalu, saya mendapati dua bangunan yang masih utuh dan cukup terawat di sana. Salah satunya dimanfaatkan sebagai museum yang memajang benda-benda hasil eskavasi di Onrust. Benda-benda seperti sepatu selam dari besi, beragam rupa keramik Cina dan Eropa, pipa rokok Gouda ala Belanda, serta beberapa koin mata uang VOC tentu memiliki nilai historis tinggi yang menjadi bukti perjalanan sejarah Onrust.

Onrust memiliki potensi unik dalam aspek wisata Kepulauan Seribu. Jejak-jejak kejayaan masa lampau akan menjadi nilai tambah pulau ini. Apalagi jika dikolaborasi dengan Pulau Kelor dan Pulau Cipir yang berada tak jauh dari Onrust. Ada sisa bangunan Benteng Martello di Pulau Kelor. Benteng batu bata yang terinspirasi oleh Benteng Mortella di Corsica, Perancis ini dibangun untuk mendukung pertahanan di Onrust. Dari tiga benteng serupa yang dibangun juga di Onrust dan Bidadari, hanya benteng di Pulau Kelor ini saja yang tersisa. Di Pulau Cipir, dapat kita jumpai reruntuhan bangunan rumah sakit dan barak penampungan jamaah haji. Cluster Onrust-Kelor-Cipir dapat menciptakan pilihan baru destinasi wisata di Kepulauan Seribu. Wisata Sejarah.

Destinasi sejarah akan melengkapi alternatif destinasi yang dimiliki Kepulauan Seribu. Bagi penggila diving dan snorkeling, pesona bawah laut di sekitar kawasan Pulau Kotok bisa menjadi pilihan utama. Ada Pulau Rambut dan Pulau Bokor bagi traveler yang ingin berperan aktif dalam konservasi lingkungan sembari menikmati ekowisata. Di dua pulau itu bisa kita jumpai burung endemik elang bondol (Haliastur indus) yang menjadi maskot DKI Jakarta. Jika ingin memacu adrenalin dengan ragam watersport seperti jetski, kayak, atau banana boat, kompleks Pulau Tidung bisa menjadi pilihan alternatif. Kombinasi lengkap wisata sejarah, konservasi ekowisata, wisata bawah laut, dan watersport experience adalah keunggulan kompetitif Kepulauan Seribu dibanding destinasi wisata kepulauan lain di Indonesia.

Memang, keindahan pantai dan alam bawah laut atau diversifikasi hayati Kepulauan Seribu tidak sedahsyat Wakatobi atau Raja Ampat. Namun, Kepulauan Seribu memiliki keunggulan dari sisi keterjangkauan wilayah dan kemudahan akses menuju lokasi pulau-pulaunya. Dengan letak tidak jauh dari ibukota Jakarta, para pejalan dapat dengan mudah mencapai Kepulauan Seribu. Untuk mengembangkan wisata di Kepulauan Seribu perlu promosi terpadu yang dapat mengoptimalkan berbagai potensi yang ada di sana. Kita berada pada era digital di mana update infomasi bisa diperolah secepat kedipan mata. Beragam cerita, foto, atau video tentang Kepulauan Seribu yang diunggah di berbagai social media akan menjadi sarana yang efektif untuk berpromosi. Integrated tourism event yang dilaksanakan secara teratur juga bisa dijadikan pemantik rasa ingin tahu wisatawan asing maupun domestik. Event ini misalnya menyelenggarakan Pekan Kepulauan Seribu. Dalam seminggu penuh, diadakan berbagai kegiatan yang saling terhubung. Kegiatan menanam bakau di Pulau Rambut dipadu dengan acara pelepasan tukik penyu di Pulau Kotok. Sementara di kluster Onrust, diadakan Lawatan Sejarah Kolonial yang berdampingan dengan acara memancing Sail Kepulauan Seribu di sekitar Pulau Bidadari. Untuk semakin memeriahkan suasana, di Pulau Tidung diadakan outbond camp sekaligus bersih-bersih pulau. Dengan adanya integrasi kegiatan dalam satu waktu seperti ini, Kepulauan Seribu akan lebih sering muncul dalam trending topic berbagai media sosial. Dampaknya bisa ditebak, semakin banyak potensi di Kepulauan Seribu yang bisa digali dan dimanfaatkan untuk kebaikan bersama.

Onrust, potensi yang mungkin sekilas terlewat, dapat menjadi salah satu destinasi unggulan. Belajar tentang kisah panjang kolonialisasi Belanda di kepulauan Nusantara akan jauh lebih berkesan jika dilakukan sambil nge-trip ke Onrust daripada sekedar membaca buku di ruang kelas. Onrust dapat menjadi outdoor class yang memberikan nuansa berbeda. Sudah saatnya masyarakat diedukasi untuk tidak hanya berwisata ke tempat yang menawarkan keindahan alam tetapi juga ke tempat-tempat yang memiliki nilai historis. Dengan demikian, kejayaan masa lalu dan jejak sejarah yang tertoreh di Pulau Onrust atau situs-situs lain yang tersebar di penjuru tanah air tidak terlupakan dan hilang begitu saja. Onrust, keping kejayaan sejarah masa lalu di Teluk Jakarta akan tetap diingat sebagai bagian sejarah panjang Nusantara.

PS : Tulisan ini adalah repost dari tulisan saya di blog adhimagnifico.wordpress.com yang saya ikutsertakan dalam Lomba Blog “Keindahan Kepulauan Seribu” yang diadakan oleh Dinas Pariwisata DKI Jakarta dan viva.co.id. Bahwa keindahan tidak melulu tentang pesona alam saja tetapi juga tentang jejak sejarah kejayaan masa lampau. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Sumber :
1. http://www.kitlv.nl
2. http://www.indonesia.travel
3. http://www.wego.co.id
4. http://www.thejakartapost.com
5. Buku Rahasia Meede karya E.S. Ito

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *