DoME #6: Menebar Manfaat untuk Masyarakat

Kualitas suatu perusahaan bisa dilihat tidak hanya dari kualitas produk yang dihasilkan. Namun, bisa juga dilihat dari sebesar apa manfaat yang bisa dirasakan oleh masyarakat di sekitar perusahaan itu berada.

cover DoME

“Terima kasih sudah berkunjung. Jangan lupa mampir lagi ke rumah Bapak kalau ke Sekongkang lagi”, pesan Pak Husni kepada kami. Sejak pagi kesibukan sudah mulai tampak di beranda rumah yang pertama dibangun di Desa Kemuning itu. Kami berpamitan dengan keluarga Pak Husni setelah menginap di rumahnya selama dua malam. Setelah melakukan berbagai kegiatan di Sekongkang, rangkaian acara bootcamp berlanjut ke Maluk.

Agenda pertama kami pada hari keenam bootcamp ini adalah melihat pembibitan berbagai jenis tanaman di Communication and Development (ComDev) Center. Unit yang dibentuk PT Newmont ini berfungsi sebagai penghubung antara perusahaan dengan masyarakat di sekitar lokasi tambang. Begitu sampai di area ComDev Center, Pak Thohir yang merupakan penanggung jawab lokasi ini mengarahkan kami menuju balai pertemuan. Dari tempat itu kami bisa melihat hamparan sawah, area persemaian bibit tanaman, dan kebun buah naga.

Sejak tahun 2007, ComDev bekerja sama dengan Lembaga Pengembangan Pertanian dan Pesisir Sumbawa Barat (LP3SB) merintis area percontohan agrikultur bagi masyarakat lokal. Kondisi tanah dan cuaca di wilayah ini memiliki karakter khusus sehingga tidak semua jenis tanaman bisa tumbuh dengan baik. Uji coba dilakukan pada berbagai jenis tanaman. Tanaman yang cocok dengan kondisi lahan di Sumbawa Barat lantas dikembangkan lebih lanjut di area persemaian untuk mendapatkan bibit-bibit terbaik. Hingga saat ini, bibit tanaman yang dihasilkan ComDev antara lain jati, mahoni, nimba, mangga, kelengkeng, jambu biji, sirsak, dan buah naga.

Bibit mahoni yang siap dibagikan kepada masyarakat

Bibit mahoni yang siap dibagikan kepada masyarakat

ComDev memberikan bibit tanaman secara gratis kepada masyarakat yang memiliki lahan dan berkomitmen menanam bibit tersebut. Distribusi bibit diutamakan bagi masyarakat di daerah lingkar tambang seperti Sekongkang, Maluk, Jereweh, dan Taliwang. Setelah kebutuhan daerah tersebut terpenuhi, bibit juga didistribusikan hingga wilayah Sumbawa Besar. Antusiasme masyarakat dalam mengikuti program ini terbilang bagus. Setelah bibit dibagikan, ComDev melakukan pemantauan dan menerima laporan dari masyarakat mengenai perkembangan upaya agrikultur yang mereka laksanakan.

ComDev juga mengembangkan system of rice intensification (SRI), yaitu metode bercocok tanam yang menggunakan air lebih sedikit, tenaga kerja lebih intensif, dan bibit padi dengan usia lebih muda. Metode SRI yang diterapkan adalah metode jajar legowo yang telah terbukti berhasil dikembangkan di Karawang. Dengan memperlebar jarak tanam benih saat penanaman, hasil panen yang didapat lebih banyak dibanding dengan menggunakan sistem tradisional.

Beralih dari ComDev, kami berkunjung ke Bank Sampah Lakmus (BSL). Lembaga independen ini merupakan binaan PT Newmont dalam tanggung jawab sosial perusahaan bidang lingkungan. BSL menghimpun berbagai jenis sampah dari warga yang masih memiliki nilai ekonomis. Sampah yang terkumpul akan ditukar dengan saldo tabungan dengan nilai tertentu, sesuai dengan kategori dan berat sampah.

Buku tabungan bank sampah

Buku tabungan bank sampah

Menurut penjelasan Pak Taufikurrahman, sang penggagas BSL, hingga saat ini tercatat ada 710 nasabah yang secara rutin menyetorkan sampah. Nasabah tersebut mayoritas berasal dari Maluk dan Jereweh. Untuk menampung minat warga di wilayah lain terhadap program ini, tahun lalu BSL mulai membuka satu cabang di Sekongkang. Setiap bulannya rata-rata BSL sanggup mengumpulkan hingga 1,5 ton sampah kertas. Jenis sampah lain yang banyak terkumpul adalah sampah plastik dan sampah logam. Sampah yang sudah disortir akan dijual ke pengepul di Lombok. Dari hasil penjualan itulah nasabah akan mendapatkan uang, baik dalam bentuk tunai maupun tabungan.

Lokasi selanjutnya yang kami kunjungi pada hari keenam bootcamp ini adalah pabrik coconet di Maluk. Coconet adalah jaring-jaring yang terbuat dari anyaman serat sabut kelapa dengan lebar 2 meter dan panjang 15 meter. Coconet berfungsi sebagai penutup lapisan reklamasi area tambang agar tidak erosi sekaligus media tanam bagi benih yang disebar. Sebelum menggunakan coconet, PT Newmont pernah menggunakan serat ijuk yang disebut juknet untuk menutup lapisan reklamasi. Juknet dibeli dari supplier di Surabaya. Untuk memberdayakan warga lokal dan mendukung perekonomian setempat, perusahaan bekerja sama dengan wirausaha lokal membangun pabrik coconet ini.

Bekerja sama menganyam coconet

Bekerja sama menganyam coconet

Coconet merupakan industri padat karya, yaitu jenis industri yang menyerap banyak tenaga kerja. Ada sekitar 52 karyawan yang bekerja di pabrik seluas 4 are itu. Mayoritas dari mereka adalah ibu rumah tangga. Dalam sehari mereka mampu memproduksi hingga 20 coconet. Setiap lembar coconet dihargai Rp 100.000. Dalam satu bulan, karyawan menerima penghasilan rata-rata sekitar Rp 2,9 juta hingga Rp 3,2 juta. Selain dijual ke PT Newmont, hasil produksi coconet dikirim juga ke Dompu untuk memenuhi permintaan konsumen di sana.

Sore harinya kami menuju Pantai Maluk untuk mengunjungi area konsevasi penyu. Sejak tahun 2009, PT Newmont membangun area konservasi ini sebagai bentuk CSR di bidang lingkungan. Sebelum ada area konservasi, masyarakat terbiasa mengkonsumsi telur penyu. Pantai-pantai di sekitar Maluk dan Sekongkang memang menjadi lokasi favorit bagi penyu untuk meletakkan telurnya. Setelah bertelur, penyu menutupi lubang tempatnya bertelur lalu kembali ke laut. Telur-telur itulah yang diburu warga. Untuk mengikis kebiasaan yang dapat mengancam kelestarian penyu tersebut, PT Newmont secara persuasif mengajak masyarakat terlibat dalam kegiatan konservasi penyu.

Di area konservasi penyu, ada sebuah bak pasir untuk tempat penetasan telur penyu. Setelah menetas, tukik atau anak penyu akan dipindahkan ke kolam penampungan. Tukik dipelihara hingga usia 6 bulan sebelum dilepaskan ke laut. Bersama anak-anak setempat, kami melepaskan 20 ekor tukik ke laut. Berdasarkan data statistik, dari setiap 1.000 ekor tukik yang dilepaskan, hanya ada 1 ekor yang bisa bertahan hingga dewasa dan berkembang biak. Dengan probabilitas yang demikian rendah, tentu upaya pelestarian penyu sangat mendesak untuk dilakukan.

Tukik dilepaskan menuju laut

Tukik dilepaskan menuju laut

Tak lama setelah kami melepas tukik, hujan turun deras. Rencana semula untuk berenang dan hunting foto sunset di Pantai Maluk pun tidak terlaksana. Kami memilih berteduh di gazebo luas yang berdekatan dengan kios-kios penjual makanan. Karena hujan, kami justru bisa menikmati kudapan lokal yang nikmat seperti pisang goreng tepung yang disajikan dengan sambal plecing segar.

Senja tiba. Kami berkemas untuk kembali ke town site setelah dua hari sebelumnya menginap di rumah warga. Selama tinggal bersama warga, kami bisa mengamati program-program yang dilaksanakan untuk pemberdayaan masyarakat. Setiap perusahaan memiliki kewajiban menjalankan program tanggung jawab sosial atau CSR bagi masyarakat. Patuh atau tidaknya suatu perusahaan dalam menjalankan kewajiban tersebut, dapat dilihat dari ada atau tidaknya manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Bagaiamanapun, masyarakat adalah bagian tidak terpisahkan bagi eksistensi perusahaan itu sendiri.

Salam.

Pemandangan dari balai pertemuan ComDev

Pemandangan dari balai pertemuan ComDev

Bu Jum, salah seorang pekerja di Bank Sampah Lakmus

Bu Jum, salah seorang pekerja di Bank Sampah Lakmus

Pantai Maluk kala hujan

Pantai Maluk kala hujan

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

8 Comments

  1. Fotonya mantapp..pemilihan katanya oke punya ?

    • Terima kasih, Mbak
      Semoga bermanfaat ya..

  2. Wow Coconet, informasi baru nih, belum pernah denger sebelumnya.
    Ada dikit salah ketik di pragraf 3 Kak Adhi.

    • Awalnya saya pikir coconet itu sejenis minuman segar dari kelapa..hahahaha
      Siap gan, segera dikoreksi

  3. Penasaran, di sana ada penjualan telur penyu tak?
    Kontra aja kalau ternyata pelestarian penyu sedang digalakkan sedangkan masyarakat malah menjual telurnya. *seperti beberapa kasus di daerah lain

    • Saat ini sudah tidak ada lagi jual beli telur penyu untuk dikonsumsi. Pada awal-awal pelaksanaan konservasi, PT NNT membeli telur-telur penyu yang dijual warga sekitar. Telur-telur tersebut lantas dibiakkan di area konservasi. Setelah tukik siap, mereka dilepaskan ke laut untuk pelestarian.

  4. Menarik tulisan-tulisannya, bahasanya halus. Semoga bisa menjadi inspirasi perusahaan-perusahaan lain.

    • Terima kasih, gan. Semoga perusahaan-perusahaan tambang lain mau lebih terbuka kepada publik mengenai operasional pertambangannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *