Dirundung Mendung di Riung

Riung sama sekali tidak terlihat seperti destinasi wisata. Kota kecamatan ini lebih mirip dengan kampung nelayan pada umumnya. Tanah becek dan udara dipenuhi aroma asin air laut. Di ujung desa ada dermaga kayu untuk menambatkan perahu. Setiap subuh dermaga ini ramai oleh para nelayan yang menggelar ikan hasil tangkapannya. Homestay-homestay tampak bersahaja, membaur dengan pemukiman warga yang juga sederhana.

Namun, di balik keterbatasan itu, Riung sesungguhnya memiliki potensi yang menawan. Di sisi utara pesisirnya terbentang gugusan pulau yang dikenal dengan sebutan Taman Laut Pulau 17. Riung merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tempat ini bisa dicapai dari dua rute, jalur Bajawa-Riung atau jalur Mbay-Riung. Keduanya memiliki tipikal jalanan yang sempit, berliku, dan berlubang di sana sini.

Setelah meletakkan ransel dan seluruh barang bawaan di penginapan, kami segera menuju dermaga. Kami hendak menemui Pak Alex, pemilik kapal yang sebelumnya sudah kami hubungi. Dalam keremangan senja kami berbincang. Pak Alex berkisah bahwa sebagian besar penduduk Riung adalah keturunan pelaut Bugis. Mereka menyeberangi lautan nusantara dari Sulawesi hingga tiba di Flores. Awalnya para pelaut itu menetap di Pulau Patah, pulau terletak paling dekat dengan Riung. Sekian lama menetap di pulau itu, ada salah seorang kepala desa Riung yang memberikan lahan pemukiman dan mengijinkan mereka tinggal bersama di desa. Para pelaut Bugis itu lantas meninggalkan Pulau Patah dan menetap di Riung.

“Besok kita berangkat pagi-pagi, Mas. Semoga cuaca cerah”, Pak Alex menutup obrolan.

Ternyata harapan Pak Alex meleset. Keesokan paginya langit mendung, hinggu pukul 07.00 mentari tak kunjung muncul. Meski cuaca kurang mendukung, tidak menghalangi niat kami menyambangi pulau-pulau di Riung.

Dari dermaga nelayan perahu yang kami tumpangi bertolak menuju Pulau Kelelawar. Air laut yang masih pasang membantu kami melewati selat dangkal di antara dua pulau. Rerimbunan hitam yang awalnya kami kira adalah dedaunan, begitu kami dekati ternyata ribuan kelelawar yang sedang bergelantungan di dahan-dahan pohon. Makhluk-makhluk nokturnal itu baru kembali dari berburu makanan. Dua ekor elang putih tampak mengintai dari jauh, menunggu salah satu kelelawar lengah lalu segera menyambarnya. Kelelawar yang dalam bahasa lokal disebut ontolowe itu sepanjang tahun bersarang di pulau ini.

Kawanan kelelawar terbang menuju pepohonan di pulau

Menuju Pulau Tiga

Selanjutnya kami menuju Pulau Tiga. Pulau dengan bukit kecil dan pantai landai berpasir ini tidak terlalu luas. Inilah daya tarik utama Riung. Di sekitar Pulau Tiga terhampar taman bawah laut yang ditumbuhi terumbu karang aneka rupa. Laut yang mulai surut membuat ujung-ujung koral bermunculan di permukaan air. Tanpa buang waktu saya segera memasang snorkel, mask, dan fin. Saya harus berhati-hati berjalan ke tengah agar tidak menginjak terumbu karang yang mencuat di mana-mana.

Kombinasi warna dan bentuk terumbu karang di sekitar Pulau Tiga begitu beragam. Hardcoral dan softcoral dengan bentuk mawar, meja, otak, hingga batang pinus kami temukan. Saya bahkan baru pertama kali melihat karang yang menyerupai jari-jari kaki yang saling menempel. Warna-warna yang tersaji pun kontras, dari biru, ungu, hijau, hingga kuning kecoklatan. Nelayan sekitar dan para pengemudi kapal rupanya memiliki kesadaran tinggi dalam menjaga kelestarian terumbu karang. Kami tidak menjumpai karang yang rusak akibat bom ikan atau patah terkena jangkar.

Berbagai jenis ikan kami jumpai di bawah laut Riung. Schooling ikan berkumpul di sela-sela karang sambil mencari makan. Sayang, saat itu cuaca mendung sehingga visibilitas tidak terlalu baik. Pencahayaan yang minim juga membuat air terlihat keruh.

Hello, we meet again

Jenis terumbu karang favorit saya, meski saya tidak tahu apa namanya

Beberapa tahun lalu ada seorang investor asal Arab Saudi yang berniat membeli Pulau Tiga. Harga sudah disepakati antara sang raja minyak dengan kepala daerah setempat. Namun warga menolak rencana privatisasi pulau yang menjadi primadona Riung itu. Mereka khawatir jika Pulau Tiga dimiliki seseorang secara pribadi, pengunjung tidak lagi leluasa datang ke pulau itu. Perahu-perahu tidak boleh merapat ke pulau. Tentu hal ini akan mengganggu kegiatan pariwisata di Riung yang sudah menjadi sumber penghidupan bagi sebagian besar warganya.

Mendung di Riung

Saat hendak menyeberang ke pulau berikutnya, mendung semakin pekat. Laut bergejolak dan hujan mulai turun. Kapal yang kami tumpangi melaju melawan ombak sehingga guncangannya terasa kuat. Pak Alex menepikan kapal ke Pulau Rutong sambil menunggu cuaca membaik. Dengan ombak seperti ini, menyeberang kembali ke dermaga Riung yang hanya berjarak sepelemparan batu menjadi berbahaya.

Pulau Rutong memiliki bukit karang yang lumayan tinggi. Hamparan padang rumput tumbuh lebat menutupi bukit. Setelah hujan reda kami menyusuri jalan setapak menuju puncak bukit. Dari titik tertinggi Pulau Rutong ini tampak gugusan pulau dan barisan bukit di balik desa. Sebetulnya ada dua puluh empat pulau di sini. Entah mengapa tempat ini malah diberi nama Pulau 17. Dari dua puluh empat pulau itu tidak semua bisa dikunjungi. Biasanya hanya Pulau Kelelawar, Pulau Tiga, dan Pulau Rutong saja yang lazim didatangi.

Hari itu hanya kami berlima dan Pak Alex yang ada di sekitar Pulau 17. Tidak ada pengunjung lain. Awal tahun di mana hujan masih sering turun memang bukan saat yang tepat untuk berkunjung ke Riung. Namun, kami justru memiliki privilege menikmati suasana Riung tanpa terusik keberadaan orang lain. Rupanya kami tidak perlu membeli pulau untuk dapat merasakan sensasi berlibur di pulau pribadi.

Salam.

Aktivitas nelayan di dermaga Riung

Sedikit distorsi untuk memberi efek dramatis :D

Menepi di Pulau Rutong

Terumbu karang yang mirip jempol kaki

Schooling ikan

Jenis lain terumbu karang

Ikan nyaaaaaa….

Pulang. Terima kasih

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

1 Comment

  1. Dhi, buat photostory dong kapan-kapan. Pembaca yang lebih gampang eyegasm seperti aku ini biar punya interpretasi sendiri. Hehehe
    *mimisan liat foto ke-6 dari bawah*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *