Di Ujung Vulkanik Tertinggi Indonesia

Gunung itu Bernama Kerinci

Kesempatan baik tidak datang dua kali, maka ketika ada promo salah satu maskapai penerbangan dengan rute Jakarta – Padang saya langsung mengiyakan ajakan teman. Padang adalah kota transit selain Jambi untuk menuju Kayu Aro, awal pendakian ke puncak vulkanik tertinggi di Indonesia : Kerinci. Meski terletak di wilayah Provinsi Jambi, Kerinci lebih mudah dijangkau dari Padang.

Bagi saya, rute Padang-Kayu Aro adalah alternatif terbaik karena tiga hal : jarak dan waktu tempuh yang lebih pendek, kondisi fisik jalan yang lebih baik, serta lanskap alam yang cukup menggoda. Begitu keluar dari Padang, kita akan disuguhi bentang alam yang variatif. Dimulai dari tanjakan Sitinjau yang mirip jalur Ciawi-Puncak tetapi dengan elevasi dan tikungan yang lebih ekstrim. Memasuki kawasan Solok, kombinasi kebun teh di sebelah kiri jalan dan sepasang danau di kanan jalan, membuat kita sanggup menahan kantuk. Danau Di Atas dan Danau Di Bawah yang terletak bersebelahan membuat perjalanan saya lebih menarik.

Kerinci

Perjalanan tujuh jam dengan travel akhirnya mengantarkan saya tiba di desa Kersik Tuo, Kayu Aro. Di desa inilah perjalanan mendaki Kerinci akan dimulai.

Teman Seperjalanan

Awalnya saya mendaki hanya berdua dengan Destiko, teman seangkatan di pecinta alam SMA. Atas rekomendasi seorang kawan, kami berkenalan dengan Bang Johan. Legenda hidup yang sering memandu pendaki ke Kerinci. Secara kebetulan, di travel menuju Kayu Aro kami bertemu Tirta, pendaki asal Jakarta yang juga sudah janjian dengan Bang Johan. Jadilah kami mendaki berempat.

Pos R-10 yang dikelola Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) adalah gerbang menuju Gunung Kerinci. Di sanalah kami mendaftarkan diri untuk pendakian selama dua hari satu malam. Cukup dengan biaya Rp 2500 per orang kami memperoleh izin pendakian.

Sama seperti gunung lain, fase awal dimulai dari ladang penduduk. Sepelemparan batu dari batas ladang, kami sampai di Pintu Rimba. Istilah ini merujuk pada gapura sederhana yang membatasi ladang penduduk dengan hutan tropis di kaki Kerinci. Pada tahun 2011 Kopassus melakukan Ekspedisi Bukit Barisan yang salah satunya adalah pendakian Kerinci. Maka, sebagai penanda dibuat sebuah tugu triangulasi di dekat Pintu Rimba.

Tugu tadi adalah checkpoint pertama jalur pendakian Kerinci. Urutan selanjutnya adalah Pos 1 – Pos 2 – Pos 3 – Shelter 1 – Shelter 2 – Shelter 3 – Tugu Yuda – Puncak. Jangan dikira checkpoint dibagi secara proporsional berdasar jarak. Sebagai pembanding, total jarak dari Pintu Rimba ke Shelter 1 kurang dari setengah jarak Shelter 1 ke Shelter 2. Delapan checkpoint tadi berupa sepetak tanah yang bisa digunakan untuk rehat sejenak di tengah rapatnya rimba Kerinci.

Fase awal pendakian adalah jalur pemanasan, dari tugu hingga Pos 1 cukup ditempuh setengah jam jalan santai melintasi hutan heterogen. Pepohonan belum terlalu rapat. Jalur Pos 2 ke Pos 3 pun masih bisa dibilang trek pemanasan. Pemandangan lumayan oke dengan binatang-binatang seperti monyet, burung, dan tupai sesekali menampakkan diri. Meski trek tidak terlalu berat, justru di area Pos 1 hingga Pos 3 inilah pendaki rawan tersesat. Bentuk jalur yang hampir mirip dengan beberapa percabangan memaksa pendaki pandai memilih jalur.

Use Your Hand and Your Imagination

Selepas Shelter 1, barulah kami mendaki dalam definisi yang sesungguhnya. Trek yang kami hadapi adalah tanjakan curam yang kadang berupa dinding akar. Tengah hari kami beranjak dari Shelter 1 menuju Shelter 2 yang merupakan etape paling panjang di jalur Kerinci. Di sini pendaki benar-benar harus memanjat untuk dapat melewati jalur karena trek ini didominasi tanjakan curam yang dililit akar. Ketika kami melewati jalur ini, hujan dari kabut pegunungan mulai turun.

Kami sampai di Shelter 2 menjelang sore. Hujan sudah reda tetapi kabut makin tebal sementara perjalanan harus terus dilanjutkan. Jika etape sebelumnya adalah yang terpanjang, maka trek Shelter 2 ke Shelter 3 adalah yang terberat. Trek yang dilewati berupa cerukan yang dalam dan sempit. Jika hujan, trek akan berubah menjadi jalan air seperti selokan. Tidak ada panduan baku bagaiman cara melalui jalur ini. Bisa jalan menyusuri dasar cerukan dengan badan miring, bisa pula merayap di bibir cerukan sambil tangan berpegangan ke batang pohon cantigi yang tumbuh di sepanjang jalur. Pendaki bebas saja memilih cara yang dianggap paling aman dan nyaman untuk melalui hambatan di jalur ini.

Use your hand and your imagination, then smile. Karena bisa saja wajah kejepret batang pohon yang dijadikan pegangan, kepleset lalu jatuh dan pantat mendarat di akar pohon yang keras, atau salah pilih bukannya memegang batang pohon tetapi justru menarik batang semak berduri.

Berpisah Jalan

Tepat menjelang maghrib kami sampai di Shelter 3 yang merupakan pelawangan batas vegetasi hutan dengan batuan berpasir Kerinci. Puncak Kerinci terlihat jelas dari sini. Kami mendirikan tenda sambil menikmati sunset manis di ufuk barat. Ada tiga tim yang mendirikan tenda di Shelter 3. Trangia dinyalakan dan kopi siap diseduh. Matras, sleeping bag, jaket polar, dan sarung tangan sudah melekat. Melewatkan malam sambil ngobrol dan ngopi adalah pilihan yang paling menggoda setelah seharian dihajar trek ekstrim. Di itinerary, kami baru akan summit attack dini hari nanti. Jadi masih ada cukup waktu untuk istirahat sepanjang malam.

Ketika saya akan bersiap tidur, tiba-tiba dari tenda sebelah ada seruan panik. “Bang, kita diminta turun sekarang juga. Kerinci siaga satu. Perintah langsung dari basecamp”.

Kami bergegas keluar tenda, lalu mendekat untuk memastikan informasi tadi. Adit, pendaki asal Jakarta yang mendirikan tenda di sebelah, mendapat pesan pendek dari petugas Pos R-10 yang mengabarkan jika status Kerinci masuk siaga satu. Seluruh pendaki yang ada di jalur diminta segera turun.

Saya sendiri kaget dengan informasi tersebut. Sejak pagi hingga sore saya tidak merasakan getaran atau tremor vulkanik. Saat mengamati ke arah puncak, tidak ada tanda-tanda asap dari arah kawah Kerinci.

Dilematis. Tetap bertahan di Shelter 3 atau turun malam itu juga. Kondisi kami saat itu sudah sangat lelah dan salah satu dari kami jatuh sakit. Jika memaksakan turun, kami khawatir dengan kondisi fisik yang lemah dan rentan nyasar karena disorientasi jalur. Namun jika tetap bertahan di Shelter 3, info mengenai status siaga satu tadi cukup membuat kami ciut. Kami minta rekomendasi Bang Johan yang kami anggap cukup berpengalaman menghadapi situasi seperti ini. Akhirnya diputuskan, tim kami tetap bertahan di area Shelter 3 sambil bergantian jaga hingga pagi. Sementara tim sebelah memutuskan turun malam itu juga.

Semalaman saya susah tidur. Angin dari puncak bertiup kencang menghempas tenda kami. Beberapa kali kami harus menahan tenda dari dalam agar tidak roboh. Summit attack yang semula direncanakan jam 03.00 kami tunda hingga pagi benar-benar terang.

Danau Gunung Tujuh di awal pagi

One Step Closer

Pagi tiba. Visibilitas dari Shelter 3 ke kaki gunung dan ke puncak sama cerahnya. Asap dari kawah hanya sesekali muncul, wajar untuk ukuran gunung berapi. Kami memutuskan melanjutkan pendakian ke puncak. Dengan dipandu Bang Johan, kami meninggalkan camp area menuju puncak. Jalur menuju puncak terlihat jelas mengitari punggungan barat. Kami tinggal mengikuti jalan setapak.

Tipe trek menuju puncak Kerinci adalah batuan besar dengan sedikit kerikil dan pasir. Jadi langkah kaki cukup stabil dan tidak mudah merosot. Kurang dari satu kami sudah mencapai Tugu Yuda, sebuah checkpoint yang cukup luas dan landai sehingga biasa digunakan untuk istirahat menjelang final attack menuju puncak. Yuda diambil dari nama pendaki yang hilang di tempat ini pada tahun 80-an dan tidak pernah diketahui keberadaannya hingga saat ini.Tidak ingin kehilangan moment, kami hanya istirahat sebentar di Tugu Yuda lalu segera melanjutkan pendakian ke puncak.

Sekitar seratus meter dari puncak, tiba-tiba bau belerang sangat menyengat. Benar saja, angin dari puncak berhembus ke arah jalur pendakian. Asap putih pekat menuju ke arah kami. Saya merasa agak pusing dan napas seperti tercekat. Selain karena faktor kelelahan dan menipisnya oksigen di ketinggian, kandungan sulfur di udara mengganggu pernapasan.

Karena panik dengan asap belerang yang tiba-tiba muncul tadi, saya dan Destiko yang saat itu berada di depan langsung berbalik arah untuk kembali ke Tugu Yuda. Saat kami berbalik, dari atas terdengar seruan Bang Johan. “Lanjut ke atas saja. Sedikit lagi puncak. Naik cepat lalu segera turun”. Saya sendiri masih ragu. Saya berdiri cukup lama dan tidak beranjak dari titik itu. Ketika melihat Destiko melanjutkan pendakian ke puncak, saya memutuskan ikut naik. Dalam pikiran saya saat itu, sudah demikian dekat dengan puncak, jalan terus saja. Bismillah.

Dua lapis slayer saya bebatkan erat-erat untuk menutupi hidung dan mulut, lalu saya lanjut melangkah ke atas. Terasa sesak napas memang, sekuat mungkin saya tahan. Perlahan tapi pasti saya semakin mendekati puncak. Asap belerang terlihat menipis. Saya makin mantap melangkah. Hingga akhirnya..

Itu Sudah

Puncak! 3805 meter di atas laut. Tepat pukul 10.00 hari Senin 3 Juni 2013 kami mencapai puncak gunung berapi tertinggi di Indonesia, titik tertinggi kedua di Indonesia setelah puncak Cartenz Pyramid di Jayawijaya. Segala puji bagi ALLAH yang memberikan kesempatan kepada kami untuk mensyukuri ciptaan-Nya.

Dari Puncak Kerinci, kita bisa melihat dasar kawah yang sangat dalam. Jauh di bawah. Siang itu cuaca cerah. Danau Gunung Tujuh terlihat jelas. Begitu pula kota-kota di sekeliling Gunung Kerinci. Kumpulan rumah dan jalan lintas provinsi terlihat menawan dari ketinggian. Cuaca cerah seperti ini jarang didapat di puncak. Lebih sering berkabut sehingga pemandangan ke bawah tertutup. Kurang dari sepuluh menit kami berada di puncak. Hanya beberapa kali foto bersama untuk dokumentasi.

Dari puncak kami segera turun ke Tugu Yuda lalu kembali ke camp area di Shelter 3. Masih ada kekhawatiran jika tiba-tiba angin bertiup ke jalur turun. Satu jam dari puncak, kami tiba di tenda.

Well-done. Perjalanan panjang menuju ujung vulkanik tertinggi di nusantara tuntas sudah.

Kerinci adalah tipe gunung pendakian cepat. Fast track. Tidak ada point of interest yang membuat kita betah berlama-lama nge-camp seperti Ranu Kumbolo di Semeru atau Segara Anak di Rinjani. Kurangnya sumber air di Kerinci memang mengharuskan kita melakukan pendakian dengan cepat. Siang itu pula kami segera turun untuk kembali ke basecamp.

The Shocking Eruption

Perjalanan turun sama susahnya dengan perjalanan naik. Kalau saat pendakian yang dihajar adalah kerja jantung dan paru-paru, saat turun gantian dengkul yang disiksa. Saat turun, kaki dibebani sepuluh kali berat tubuh dibanding saat jalan biasa.

Menjelang sore, kami tiba di Pintu Rimba. Sudah ada Pak Gino yang menunggu di sana dengan angkot putihnya. “Ayo mas, mampir Pos R-10 dulu, sudah ada yang nunggu”. Tentu kami kaget. Seingat kami, tidak kami tidak ada janji untuk bertemu dengan orang lain di Pos R-10.

Sesampainya di Pos R-10, ternyata sudah berkumpul beberapa petugas TNKS. “Kenapa kalian tidak segera turun saat kami peringatkan kemarin?” tanya seorang petugas dengan nada tegas. Malam sebelumnya, di Pos R-10 telah berkumpul tim lintas unit yang terdiri dari petugas TNKS, Tagana, dan Tim SAR.

Ternyata, pada Minggu 2 Juni 2013 jam 10.40 Gunung Kerinci erupsi dan mengeluarkan awan panas setinggi 3.000 meter dari kepundan kawahnya. Terakhir Gunung Kerinci erupsi besar adalah pada tahun 2009 yang lalu. Erupsi ini mengakibatkan hujan abu di daerah sekitar Gunung Kerinci.

Kali ini harus saya akui, keputusan kami untuk melanjutkan pendakian hingga ke puncak adalah tindakan ceroboh. Beruntung tidak terjadi hal buruk kepada kami. Alhamdulillah. Berulang kali saya mengucap syukur sembari mengirim pesan singkat kepada keluarga di kampung.

Pendakian kali ini kembali mengingatkan saya bahwa mencapai puncak sebenarnya hanya bonus kecil dari keseluruhan perjalanan. Mengutip quote Sir Edmund Hillary “It is not the mountain we conquer, but ourselves”, saya memang berhasil mencapai Kerinci-3805, tetapi saya gagal menaklukan egoisme pribadi untuk lebih memprioritaskan keselamatan dibandingkan pencapaian. Sebuah teguran yang manis.

View dari Puncak Kerinci

View dari Puncak Kerinci

Tepi Kawah Kerinci

Tepi Kawah Kerinci

Landmark pendakian Kerinci

Landmark pendakian Kerinci

Padang pasir dari arah Tugu Yuda

Padang pasir dari arah Tugu Yuda

Foreground cantik untuk Kerinci

Foreground cantik untuk Kerinci

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *