Di Ujung Perjalanan Panjang Terios 7 Wonders Hidden Paradise

Komodo, di ujung perjalanan panjang Terios 7 Wonders Hidden Paradise (foto oleh Adhi Kurniawan)

Siang itu, Minggu 13 Oktober 2013, adalah puncak rangkaian perjalanan jelajah darat Terios 7 Wonders Hidden Paradise. Sebuah Daihatsu Terios warna putih terparkir manis di dek kapal phinisi yang merapat di dermaga Loh Liang, Pulau Komodo. Debu tebal yang menyelimuti mobil menandakan betapa jauh perjalanan yang telah dilalui. Petualangan berlangsung dua minggu penuh melintasi Sawarna, Kinahrejo, Tengger, Baluran, Sade Rembitan, Sumbawa, hingga berujung di Pulau Komodo ini. Jarak sejauh 3.012 kilometer telah dilalui. Beragam kisah, tawa, dan haru mewarnai petualangan untuk menemukan surga-surga tersembunyi.

Di sebelah barat perairan Flores terbentang gugusan pulau nan eksotis. Pulau-pulau ini merupakan habitat bagi komodo (Varanus komodoensis). Bentuk morfologis komodo yang memiliki kesamaan dengan makhluk mitikal dari daratan Tiongkok yang bersayap dan dapat menyemburkan api lantas membuat reptil ini dijuluki sang naga. Satwa langka yang hingga kini masih bertahan dari zaman Tertiarum ini memang menjadi alasan bagi banyak orang untuk datang berkunjung. Taman Nasional Komodo melindungi komodo dari ancaman kepunahan. Ekosistem yang masih terjaga dan panorama menawan lantas membuat destinasi ini menjadi tujuan utama vakansi bagi wisatawan tanah air maupun mancanegara. Tak pelak, kini predikat sebagai World New 7 Wonder melekat pada Taman Nasional Komodo.

Menjelajah Taman Nasional Komodo (foto oleh Adhi Kurniawan)

Pulau Komodo menutup rangkaian perjalanan Terios New 7 Wonders Hidden Paradise. Setelah melintasi Jawa, menyeberangi Bali dan Lombok, membelah sabana Sumbawa, keberhasilan tim mencapai Pulau Komodo layak dirayakan sebagai momen kemenangan. Hal tersebut merupakan pembuktian kembali atas ketangguhan Terios setelah pada tahun 2012 berhasil menyusuri tanah Andalas dalam Ekspedisi Sumatera Coffee Paradise. Setelah melakukan selebrasi dan foto bersama sebagai wujud syukur atas keberhasilan mencapai Pulau Komodo, anggota tim melanjutkan kegiatan dengan menyusuri habitat asli sang naga ini.

Momen kemenangan, Terios berhasil mencapai Pulau Komodo (foto oleh @wiranurmansyah)

Kapal phinisi Plataran diarahkan menuju Pulau Rinca. Setelah merapat di dermaga Loh Buaya, anggota tim dengan didampingi para ranger Taman Nasional Komodo memulai penjelajahan di pulau ini. Berada di habitat asli sang naga tentu menuntut kewaspadaan ekstra. Komodo adalah karnivora yang sangat agresif. Binatang ini sensitif terhadap gerak-gerik yang tiba-tiba dan sanggup mencium bau darah mangsanya dari jarak berkilo-kilo meter. Para ranger yang menemani tim senantiasa mengingatkan agar kami tidak keluar dari jalur trekking demi menghindari kemungkinan serangan komodo.

Sebagai predator, komodo memiliki gigi dan cakar yang tajam untuk melumpuhkan mangsanya. Binatang buruan yang sudah ditaklukkan tidak langsung dimakan, tetapi dibiarkan membusuk dan baru dilahap beberapa hari kemudian. Air liur komodo yang mengandung puluhan jenis bakteri adalah racun yang sangat efektif dan mematikan. Racun inilah senjata utama komodo dalam berburu. Sepanjang jalur trekking di Pulau Rinca, tim banyak menjumpai komodo yang sedang berjemur. Binatang berdarah dingin ini biasanya setiap pagi dan sore keluar dari sarangnya untuk mencari kehangatan dari sinar matahari. Komodo membutuhkan waktu berhari-hari untuk mencerna mangsa yang dimakannya sehingga daging mangsa yang ada di perut harus dijaga agar tidak membusuk dengan cara berjemur.

Komodo menjulurkan lidahnya untuk membaui mangsa (foto oleh Adhi Kurniawan)

Komodo biasanya membuat sarang di tempat yang disebut dragon nest. Di area ini terdapat belasan lubang berkedalaman sekitar 2 meter. Di situlah para induk komodo meletakkan telur-telurnya sekaligus mengamankannya dari predator seperti babi hutan, elang laut, bahkan komodo lain. Dalam sekali bertelur seekor komodo akan menghasilkan 15 hingga 35 butir. Dari jumlah sebanyak itu, hanya 3 sampai 4 saja yang menetas. Komodo yang bisa bertahan hidup hingga dewasa jauh lebih sedikit.

Selain Pulau Rinca dan Pulau Komodo, kawasan lain yang menjadi konservasi komodo adalah pulau Nusa Kode dan Gili Motang. Populasi komodo di keempat pulau tersebut mencapai 5.370 ekor. Beberapa tahun belakangan ini jumlah populasi komodo cenderung stagnan. Dengan tingkat reproduksi yang tergolong rendah, kelestarian komodo harus benar-benar dijaga.

Taman Nasional Komodo memiliki bentang alam yang unik. Kontur perbukitan dan jenis pepohonan yang tumbuh seolah membawa pengunjung ke Jurassic Park. Ada sebuah puncak bukit yang disebut Sulphurea Hill. Dari tempat ini pengunjung dapat melepaskan pandangan jauh ke sekeliling pulau dan menikmati panorama taman nasional. Tak jarang beberapa komodo dewasa melintasi kawasan ini sembari menjulurkan lidah bercabangnya untuk melacak aroma mangsa di kejauhan.

Selain daya tarik dari kehidupan komodo, pesona pantai dan alam bawah laut Taman Nasional Komodo juga sayang untuk dilewatkan. Tim menyempatkan singgah di Pink Beach, salah satu pantai yang ada di Pulau Komodo. Seperti namanya, pasir di pantai ini berwarna merah muda terang yang membuatnya berbeda dari pantai pada umumnya. Warna merah muda berasal dari pecahan terumbu karang mati yang menyatu dengan butiran pasir. Di Indonesia hanya ada dua pantai yang memiliki pasir berwarna merah muda. Yang pertama adalah Pink Beach di Pulau Komodo, berikutnya adalah Pink Beach di Lombok yang juga sudah dikunjungi saat tim melintasi pulau itu.

Pesona Pink Beach yang memanjakan mata (foto oleh Adhi Kurniawan)

Bagi pecandu keindahan alam bawah laut, Taman Nasional Komodo menyajikan kehidupan biota laut dan terumbu karang yang memikat. Kawasan ini dianggap sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia untuk melakukan penyelaman. Ada beberapa titik penyelaman yang menjadi primadona bagi penyelam domestik maupun mancanegara. Salah satunya adalah Manta Point, di mana wisatawan bisa menyaksikan kawanan manta atau ikan pari berenang di sekeliling kapal.

Menyimak tarian manta di Manta Point

Jangan pernah ke Pulau Komodo tanpa membawa diving lincense. Ada banyak spot menyelam di sekeliling Pulau Komodo yang bisa dijelajahi. Beberapa anggota tim yang memiliki lisensi menyelam bisa melanjutkan penjelajahan dengan dipandu dive master. Sementara yang tidak memiliki lisensi dapat melakukan discovery diving di perairan dangkal.

Alam bawah laut di sekitar Taman Nasional Komodo (foto oleh Adhi Kurniawan)

Taman Nasiona Komodo sudah mendapat pengakuan internasional sebagai tempat konservasi satu-satunya reptil purba yang masih hidup. Kebanggaan yang sekaligus memberikan tanggung jawab bagi Indonesia untuk menjaga kelangsungan kawasan ini. Sebagai pejalan yang bertanggung jawab, sudah seharusnya kita tidak hanya sekedar menikmati keunikan hayati dan keindahan alamnya. Tim Terios 7 Wonders Hidden Paradise telah ambil peran positif dalam melestarikan taman nasional dengan cara mematuhi semua peraturan dan tidak merusak habitat komodo selama berkunjung ke sana. Alam akan tetap berada dalam keseimbangan selama manusia tidak berbuat melebihi batas.

Relief komodo (foto oleh Adhi Kurniawan)

Taman Nasional Komodo harus kita jaga bersama (foto oleh Adhi Kurniawan)

Kekayaan Indonesia tidak hanya keindahan alamnya. Indonesia juga memiliki budaya adiluhung yang harus dilestarikan. Tahun ini kegiatan bertajuk Terios 7 Wonders Amazing Celebes Heritage akan mengeksplorasi keragaman budaya di Sulawesi. Alat musik tiup bambu khas Manado, keseharian Suku Bajo di Gorontalo, kain mandar ala Majene, upacara dan keriuhan pesta pemakaman yang hanya ada di Toraja, pembuatan kapal phinisi Bulukumba yang melegenda, kisah makam raja-raja Lamuru di Bone, serta tarian Suku Tolaki yang bernaa Tari Ma’Lulo. Semua warisan pusaka itu akan dijelajahi dalam Terios 7 Wonders Amazing Celebes Heritage. Kegiatan ini tentu akan semakin menebalkan kecintaan kepada tanah air dan kepedulian pada kekayaan budaya nusantara.

Kebersamaan seluruh anggota Tim Terios 7 Wonders Hidden Paradise (foto oleh Wira Nurmansyah)

[Tulisan ini diikutsertakan dalam blog competition bertajuk Terios 7 Wonders Amazing Celebes Heritage]

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

2 Comments

  1. perjalanan menjelajah 7 wonders yang mengasyikan. kunjungi juga yang di sini ya http://fajarmuchtar.blogspot.com/

  2. yang kagum dari perjalanan ini mobilnya sampai diangkut naik kapala 😀

    http://dananwahyu.com/2014/07/12/7-wonders-napak-tilas-7-wonders-kopi-ujung-ujung-sumatra/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *