Desa Bena, Harmoni Alam dan Manusia

Kami berpacu dengan kabut. Mobil yang kami tumpangi sudah jauh meninggalkan Bajawa. Sebentar lagi matahari terbenam tetapi belum tampak tanda-tanda kami dekat dengan desa yang kami tuju. Sementara kabut yang turun semakin pekat, udara mulai dingin. Kami melintasi jalanan berliku di kaki Gunung Inerie. Kami hendak menuju Bena, sebuah desa adat di Flores yang masih menyimpan banyak kearifan lokal dan bertahan hingga saat ini.

“Batu-batu di depan rumah saya itu sudah ada sebelum leluhur kami tinggal di sini”, ujar Pak Paulus. Pria berusia lanjut itu lantas mempersilahkan saya mampir ke rumahnya. Di beranda rumah kayunya dia berkisah tentang Bena.

Dari beberapa situs megalitikum yang ada di Indonesia, Bena memiliki peninggalan berupa kubur batu. Batuan-batuan serpih itu tersusun mengelilingi semacam altar. Di sekitar makam ada batuan pipih yang berfungsi sebagai meja pemujaan. Ketika dilangsungkan upacara adat, binatang kurban seperti babi atau kerbau disembelih di sekitar tempat ini. Tanduk kerbau yang tersisa lalu diikat di tiang rumah. Rahang dan taring babi juga dipajang di depan rumah. Jumlah tanduk, rahang, dan taring merupakan lambang status sosial. Batu, gunung, dan binatang menjadi bagian tidak terpisahkan dalam perjalanan peradaban Bena.

Sejak lahir hingga sekarang Pak Paulus menetap di Bena. Hanya dia dan istrinya yang tinggal di rumah. Anak bungsunya pindah ke desa sebelah untuk mengajar di sebuah sekolah dasar. Warga Desa Bena merupakan keturunan dari beberapa suku yang hidup bersama. Tercatat ada sembilan suku yang meneruskan garis darahnya di Bena : Suku Dizi, Suku Dizi Azi, Suku Wahto, Suku Deru Lalulewa, Suku Deru Solamae, Suku Ngada, Suku Khopa, dan Suku Ago. Pak Paulus tidak ambil pusing dari suku mana dia berasal. Keharmonisan hidup bersama dengan tetangga adalah yang utama.

Sama seperti Minangkabau, masyarakat Bena memiliki sistem kekerabatan matrilineal yang memberikan garis keturunan dari pihak ibu. Lelaki Suku Dizi apabila menikah dengan gadis Suku Ngada akan menjadi bagian dari klan Ngada. Gender juga terlihat dalam penempatan struktur rumah. Rumah keluarga inti laki-laki disebut sakalobo, ditandai dengan patung pria sedang memegang parang dan lembing yang di atas rumah. Keluarga inti perempuan tinggal di rumah yang disebut sakapu’u.

Pekarangan rumah yang dipenuhi situs megalitikum

Batuan serpih yang sekilas mirip patahan asteroid di film Armagedon

Bena adalah kombinasi situs megalitikum, arsitektur tradisonal, dan kearifan hidup

Jika dilihat dari kejauhan, struktur pemukiman di Bena menyerupai sebuah kapal. Rumah-rumah berjajar menjadi dua baris lengkung yang saling berhadapan. Konon dahulu kala ada kapal yang kandas karena terhalang Gunung Inerie. Di tempat kandasnya kapal ini lantas dibangun sebuah desa yang sekarang kita kenal sebagai Desa Bena.

Di tengah desa dibangun beberapa gubug kecil dari bahan kayu dan ijuk. Gubug-gubug itu memiliki dua jenis atap, bentuk kerucut yang melebar di bagian dasarnya dan bentuk prisma yang sekilas mirip bangunan joglo di Jawa. Sepasang tipe atap itu disebut ngadhu dan bhaga. Ngadhu merupakan simbolisasi maskulin dan bhaga merepresentasikan karakter feminim. Keduanya melambangkan keseimbangan dalam struktur sosial masyarakat Bena. Terdapat sembilan pasang ngadhu dan bhaga yang menggambarkan sembilan suku yang mendiami Bena.

Warga Bena masih memegang kearifan lokal bahwa mereka harus hidup selaras dengan alam. Mereka tidak mengubah kontur tanah saat membangun rumah. Bentuk desa yang berada di lahan miring disiasati dengan membentuk teras-teras berundak. Material rumah adat semuanya berasal dari bahan alami seperti bambu, kayu, ilalang kering, dan ijuk. Tidak ada paku besi atau engsel logam. Atap yang terbuat dari ilalang kering bisa mengatur suhu udara di dalam rumah. Saat siang hari yang terik, di dalam rumah akan terasa sejuk. Sebaliknya, saat dingin malam menusuk, penghuni akan merasa hangat di dalam.

Udara semakin dingin. Kami mencari selendang dari kain tenun ikat untuk penghangat tubuh. Mama-mama Bena yang sedang bersantai di depan rumah lantas menawarkan beragam tenun ikat kepada kami. Kain tenun berwarna-warni cerah dijual Rp 100.000 per helai, sementara kain tenun polos berpewarna tanah liat dijual Rp 200.000 per helai. Untuk sehelai selendang, setidaknya diperlukan seminggu penuh memintal benang yang lantas ditenun dengan alat manual.

Kombinasi situs megalitikum, kearifan lokal dalam berinteraksi dengan alam, bentuk rumah yang unik, serta keramahan warga dalam menerima tamu menjadi nilai tambah Bena sebagai desa wisata. Saat hendak masuk ke wilayah desa, kami diminta mengisi buku tamu dengan menuliskan identitas dan tujuan kunjungan. Tidak ada harga yang dipatok untuk menebus tiket masuk. Disediakan kotak kayu untuk menampung donasi bagi pengunjung yang hendak membantu warga dalam membiayai pemeliharaan desa.

Hari itu tidak banyak tamu yang datang. Hanya kami dan dua pengunjung asal Kanada dan Perancis yang singgah di Bena. Kata Pak Paulus, sebulan terakhir hujan hampir turun setiap hari. Ditambah kabut, Gunung Inerie yang persis berada di depan desa semakin tidak terlihat. Namun setidaknya saya bisa menghabiskan sore dengan bersantai di sekitar altar doa yang dibangun di ujung desa.

(Terimakasih)

Bena in BW : seorang mama tengah memintal benang untuk ditenun menjadi kain

Bena in BW : teras berundak

Bena in BW : berbincang sambil berdagang

Tatapan mata itu..

Panorama di ujung desa

Tanduk kerbau yang melambangkan status sosial

Hampir semua warga Bena masih setia mengenakan sarung tenun ikat seperti ini

Di balik batu

Kabut mulai turun, kami harus bergegas pulang

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *