Danau di Atas Awan

Daerah di sekitar Kerinci dikarunia bentang alam yang mempesona. Selain gunung vulkanik tertinggi dan kebun teh kelas dunia, ada destinasi lain yang menarik dikunjungi. Misalnya mata air panas di daerah Semurup. Mata air dengan kandungan belerang yang pekat itu sering dimanfaatkan masyarakat setempat maupun pengunjung dari luar kota untuk terapi kulit dan relaksasi. Ada pula Danau Kaca yang erat dengan mitos lokal yang menganggap danau ini bisa menyala pada malam hari karena ada setumpuk perhiasan dan batu permata yang tersimpan di dasar danau.

Gunung Tujuh

Salah satu destinasi yang sempat kami kunjungi adalah Danau Gunung Tujuh. Danau yang berada pada ketinggian 1996 meter di atas permukaan laut ini dikelilingi sempurna oleh tujuh gunung, yaitu Gunung Hulu Tebo, Gunung Hulu Sangir, Gunung Madura Besi, Gunung Lumut, Gunung Selasih, Gunung Jar Panggang, dan Gunung Tujuh sebagai yang tertinggi. Ketujuh gunung tersebut berjajar melingkar membentuk kolam alami yang menampung air danau.

No Pain No Gain

Danau Gunung Tujuh terletak di Kecamatan Gunung Tujuh, sekitar 15 km sebelah utara Kayu Aro. Trekking dimulai dari Desa Pelompek, desa terakhir sebagai pintu masuk kawasan Gunung Tujuh yang masih merupakan bagian dari Taman Nasional Kerinci Seblat. Pihak taman nasional menyediakan bumi perkemahan yang terletak di dekat gerbang masuk bagi pengunjung yang ingin berkemah.

Untuk mencapai Danau Gunung Tujuh dibutuhkan usaha lebih. Dengan jalur yang mirip dengan jalur Kerinci, pendaki dituntut memiliki stamina lebih untuk menyusuri jalan setapak. Waktu tempuh dari gerbang taman nasional hingga ke danau berkisar tiga hinggap empat jam. Kami mendaki Gunung Tujuh hanya berselang satu malam setelah mendaki Kerinci. Dengan kondisi yang belum begitu fit, kami paksakan untuk bisa sampai ke danau.

Di bagian tertentu, vegetasi hutan lebih rapat. Pepohonan tinggi menjulang dengan sulur yang tertutup lumut. Dengan kondisi seperti itu, hutan ini menjadi habitat yang nyaman bagi fauna untuk tinggal dan berkembang biak di sana. Ketika mendaki, kami menjumpai beberapa fauna endemik seperti siamang dan burung-burung aneka warna. Cukup menjadi selingan yang menyenangkan saat kelelahan.

Begitu mencapai puncak salah satu gunung, perjuangan belum selesai. Dari puncak, kami masih harus melewati turunan curam menuju bibir danau. Untunglah ada akar pepohonan yang saling silang membentuk semacam anak tangga alami yang membantu kami mencapai danau.

Bonus di perjalanan, ketemu siamang lagi bengong

Bonus di perjalanan, ketemu siamang lagi bengong

Salah satu burung endemik di kawasan hutang Gunung Tujuh

Salah satu burung endemik di kawasan hutang Gunung Tujuh

Air dan Awan

Setelah menempuh trekking yang jauh dan melelahkan, tengah hari kami mencapai tepian danau. Tepian itu berupa sepetak tanah yang dibatasai bebatuan besar. Tempat tersebut cukup untuk mendirikan tiga hingga empat tenda. Para pendaki biasanya bermalam di sini. Ketika pagi menjelang, tepian danau yang menghadap tepat ke timur ini adalah tempat yang pas untuk menanti sunrise dengan foreground puncak Gunung Tujuh.

Panorama di sekeliling danau barangkali menjadi sesuatu yang jarang kita temui. Saat hari cerah, awan putih dari balik gunung bergerak perlahan ke permukaan danau. Kumpulan awan itu tepat berada di permukaan air dengan jarak tidak lebih dari lima meter.

Tidak seperti kebanyakan danau yang merupakan hilir sungai, Danau Gunung Tujuh merupakan tandon air superbesar yang menjadi hulu beberapa sungai. Aliran sungai tersebut dimanfaatkan warga untuk mengairi perkebunan mereka yang ada di sekitar lereng gunung. Ada beberapa air terjun di sisi danau yang mengalirkan air ke sungai-sungai.

Penasaran dengan jernihnya air danau, saya mencoba minum langsung. Benar saja, rasanya sejuk menyegarkan. Kesegaran air-danau-siap-minum tersebut terasa makin menyejukkan dengan grojogan air terjun yang menjadi awalan sungai dari danau.

Sampan Kecil Pak Sahril

Membelah danau bersama Pak Sahril

Membelah danau bersama Pak Sahril

Siang itu bergabung bersama kami seorang nelayan lokal yang sedang melepas penat setelah seharian mencari ikan. Pak Sahril namanya. Sudah 40 tahun lebih dia tinggal di pondoknya yang ada di sisi lain danau. Dia mengenal setiap sisi Danau Gunung Tujuh, termasuk tepian danau yang berupa hamparan pasir putih seperti pantai.

Setiap sore Pak Sahril memasang puluhan lukah di danau dengan harapan ada ikan yang terperangkap di dalamnya. Lukah adalah piranti untuk menjebak ikan berbentuk tabung yang terbuat dari anyaman bilah bambu. Keesokan paginya dia mendayung mengitari danau untuk memeriksa lukah-lukah yang dia pasang. Dari situlah ikan hasil tangkapannya berasal. Hasil tangkapan Pak Sahril biasanya dijual di pasar tradisonal dengan harga Rp 30.000 per kilo.

Pak Sahril mengajak kami mengitari danau dengan sampan miliknya. Sampan itu dibuat dari kayu medang hijau utuh yang diperoleh dari hutan di sekeliling danau. Saya agak ragu dengan sampan kecil yang serupa lesung itu. Tidak ada cadik untuk menyeimbangkan perahu. Namun, saya menurut saja ketika Pak Sahril menyuruh saya naik ke sampan yang didayung menjauhi tepian danau.

Sensasi naik sampan yang melaju pelan membelah danau siang itu lumayan seru. Dari sampan, saya dapat melihat danau dari sudut pandang yang berbeda. Terlihat puncak Kerinci di kejauhan, begitu pula puncak-puncak gunung yang ada di sekeliling danau. Sambil mendayung, Pak Sahril ngobrol tentang kesehariannya.

The Hidden Paradise

Melepas segala penat

Melepas segala penat

Dengan keindahan panorama yang begitu cantik dan kesulitan yang harus dihadapai untuk sampai di sini, Danau Gunung Tujuh ibarat Eden yang tersembunyi di balik awan. Suasana hening dan kesejukan di danau ini lumayan menjadi terapi untuk sejenak menenangkan diri. Tepat pula sebagai tempat relaksasi setelah hari-hari sebelumnya dihajar trek Kerinci.

National Geographic Traveler edisi Maret 2013 bahkan memasukkan Danau Gunung Tujuh sebagai salah satu danau paling indah di Indonesia. Keindahan danau ini memang cukup dikenal di kalangan pejalan. Beberapa traveler asing sering berkunjung ke danau ini, seperti dua bule manis yang berpapasan dengan kami di tepian danau.

Keindahan Danau Gunung Tujuh memang tersembunyi dalam artian sesungguhnya. Jalur pendakian menuju danau memiliki banyak percabangan sejak dari batas kebun penduduk. Tidak ada penunjuk arah atau pos-pos untuk istirahat di sepanjang jalur. Jadi, memang diperlukan perjuangan ekstra untuk mencapai danau.

Namun, justru bagus seperti itu. Dengan terbatasnya akses, tidak banyak orang yang bersedia susah payah menuju danau. Danau tidak menjadi destinasi wisata yang tourisity yang pastinya suasana hening dan tenang akan hilang. Itulah esensi berlibur yang sesungguhnya.

Take a breath

Take a breath

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

2 Comments

  1. wah foto yang melepas penat keren euy :] jadi pengen nyemplung XD

    • he5..seru juga tuh buat renang..tapi pas aku nyobain dingin banget airnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *