Cerita dari Kaldera Bromo

Sang Hyang Dewata penguasa kawah Bromo murka. Joko Seger dan Roro Anteng mengingkari ucapannya. Jaya Kusuma, si anak bungsu dari pasangan pasangan itu yang dijanjikan akan dipersembahkan kepada sang dewa tak juga diberikan. Kawah Bromo bergejolak. Lava pijar menggelegak dari dasar kawah. Lalu tiba-tiba lava berubah menjadi lidah api yang merenggut tubuh Jaya Kusuma saat hendak diselamatkan oleh ayah ibunya. Lamat-lamat terdengar permintaan terakhir si bungsu. Dia meminta agar setiap bulan Kasada pada pergantian malam ke-14 dan 15, keluarganya mengadakan ritual upacara dan melemparkan sesaji ke kawah Bromo untuk mengenang dirinya. Kini, masyarakat Tengger yang merupakan anak turun Roro Anteng dan Joko Seger setiap tahun melakukan ritual Yadnya Kasada untuk memperingati peristiwa itu. Pesona Bromo memang bukan hanya cerita rakyat yang dikisahkan turun temurun. Lanskap kaldera raksasa yang dikelilingi lautan pasir pun seolah menjadi daya magis yang membuat para wisatawan datang berkunjung.

bro08

Sepertinya baru sejenak saya memejamkan mata. Lelah setelah menempuh perjalanan dari Surabaya menuju Pasuruan belum sepenuhnya hilang. Rasa kantuk juga begitu susah dilawan. Jam dinding baru menunjukkan pukul 01.00 tetapi aktivitas di lobi Bromo Cottage sudah mulai semarak. Malam itu tim kami bersiap menuju Panajakan, salah satu spot terbaik untuk merekam startrail dan menanti sunrise di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Saya memaksakan diri untuk bangun dan bergegas mengepak ransel. Empat buah jip sudah bersiap di depan cottage yang dibangun sejak jaman kolonial Belanda itu.

Kami berpacu dengan waktu. Pananjakan di akhir pekan pasti akan dijejali pengunjung. Saya tidak ingin mengulang kesalahan pada kunjungan sebelumnya, tidak bisa mendekat ke gardu pandang karena terlambat datang. Mas Jupri yang malam itu menjadi pengemudi jip kami duduk di belakang setir dengan penuh konsentrasi. Seperti namanya, jalur menuju Pananjakan memang didominasi tanjakan dengan tikungan tajam di sana sini. Tak jarang, di kanan dan kiri jalur langsung berbatasan dengan jurang. Kecerobohan dalam mengemudi tentu akan berakibat fatal.

Setelah satu jam perjalanan dari penginapan, kami sampai di area parkir Pananjakan. Suasana benar-benar sepi, belum ada pengunjung lain selain tim kami. Tanpa buang waktu teman-teman fotografer dan videografer bergegas mencari spot untuk memasang kamera dan menyiapkan perlengkapan lain. Mereka berusaha tidak melewatkan momen.

Malam bertabur bintang di Pananjakan

Malam bertabur bintang di Pananjakan

Jip-jip membelah lautan pasir

Jip-jip membelah lautan pasir

Dari Pananjakan, terlihat jelas pendaran cahaya kuning dari lampu jip-jip yang melaju membelah lautan pasir Bromo. Perkiraan saya, mobil-mobil itu datang dari arah Ngadirejo, Malang. Setidaknya ada 4 jalur untuk menuju kawasan Bromo, yaitu Malang, Pasuruan, Probolinggo, dan Lumajang. Pergerakan mobil-mobil itu dengan berlatar Bromo dan Semeru serta langit malam yang bertabur bintang merupakan objek foto yang diburu para fotografer.

Menjelang subuh, area Pananjakan mulai dipadati pengunjung. Sembari menunggu momen sunrise, mereka mengudap mie instan atau minum kopi pekat. Udara dingin Bromo memang menjadi berkah tersendiri bagi para pedagang makanan dan minuman hangat. Saya sudah menempatkan tripod dan kamera di tempat yang cukup strategis. Pengorbanan kami berangkat lebih awal terbayar manis.

Saya dan para pengunjung di Pananjakan sedang beruntung. Pagi itu cuaca cerah. Di ufuk timur, perlahan langit memerah. Pendar cahaya mentari melukiskan gradasi mengagumkan, paduan warna oranye, kuning, hingga biru. Asap putih mengepul dari kawah Bromo, membentuk wujud-wujud imajinatif. Jauh di belakang, Semeru berdiri kokoh dalam diam. Dalam hati saya mengucap syukur, bahwa alam Indonesia begitu indah. Salah seorang wisatawan mancanegara berbisik kepada pemandunya, “It is amazing. Your country is really beautiful”.

Momen yang ditunggu telah tiba,sunrise!

Momen yang ditunggu telah tiba,sunrise!

Membidik Bromo melalui lensa kamera

Membidik Bromo melalui lensa kamera

Matahari beranjak naik. Saatnya kami beranjak. Tujuan selanjutnya adalah lautan pasir atau dalam bahasa lokal disebut segara wedi. Menurut legenda, segara wedi itu adalah hasil karya Kiai Bima, seorang sakti mandraguna yang mendamba cinta Rara Anteng. Namun, Rara Anteng telah menambatkan hatinya pada Joko Seger. Jadilah segara wedi itu sebagai siasat Rara Anteng untuk menolak cinta Kiai Bima.

Mas Jupri begitu lihai mengendalikan laju jip di medan berpasir. Ada deretan tiang pembatas yang dipasang di sepanjang segara wedi. “Itu buat penanda, Mas. Di balik tiang itu adalah area berbahaya, ada pasir hisapnya. Kalau jip ini nyasar kesitu, bisa celaka”, terang Mas Jupri.

Di area segara wedi terdapat kompleks Pura Luhur Poten. Pura ini menjadi pusat aktivitas warga saat ada ritual tahunan Yadnya Kasada. Rangkaian sesaji yang disebut ongkek-ongkek diarak oleh warga desa sekitar Bromo menuju Pura Luhur Poten untuk didoakan. Setelah itu, persembahan yang terdiri dari aneka hasil bumi itu dilarung ke kawah Bromo. Keseluruhan upacara Kasada itu dipimpin oleh seorang tokoh masyarakat yang juga dijadikan pemimpin spiritual yang disebut dukun gede.

Saat sedang memotret suasana segara wedi, beberapa penyedia jasa berkuda menghampiri saya. Mereka menawarkan paket menunggang kuda hingga ke ujung tangga yang menuju puncak Bromo. Cukup dengan menebus seratus ribu rupiah saya dapat memperoleh pengalaman menarik, berkuda di lautan pasir. Namun, karena kami berkejaran dengan waktu, saya menolak halus tawaran itu. Lagipula, Bromo sedang erupsi. Tidak aman untuk berada di bibir kawahnya. Keamanan dan keselamatan saat traveling tetap menjadi prioritas.

Para penunggung kuda dari Tengger

Para penunggung kuda dari Tengger

Menikmati pagi

Menikmati pagi

Kami bergerak menuju sisi lain segara wedi yang oleh warga setempat diberi sebutan pasir berbisik. Film Pasir Berbisik yang dirilis pada tahun 2001 memang mengambil lokasi syuting di tempat itu. Berada di tempat itu membuat saya teringat wajah ayu Dian Sastro dan akting prima seorang Christine Hakim. Tak jauh dari pasir berbisik, ada deretan bukit yang dinamai bukit Teletubbies. Saat musim penghujan, bukit tersebut akan diselimuti rumput hijau. Sekilas mirip dengan tempat bermain Tinky Winky, Dipsi, Lala, dan Po dalam serial televisi berjudul Teletubbies.

Pasir berbisik

Pasir berbisik

Bukit Teletubbies

Bukit Teletubbies

Kunjungan ini memang bukan kunjungan pertama saya ke Bromo. Namun, selalu ada pesona dalam setiap kesempatan saya bertamu ke kampung halaman suku Tengger ini. Daya tarik Bromo seolah tidak ada habisnya. Keragaman alam dan budaya merupakan salah satu Pesona Indonesia

Dari jauh Mas Jupri tampak melambaikan tangan sembari membunyikan klakson jipnya. Saatnya kami berkemas dan mengakhiri perjalanan di Bromo. Masih banyak cerita dan petualangan yang belum saya dapatkan di sini, misalnya mengikuti rangkaian upacara Kasada dari awal hingga akhir. Setidaknya, saya bisa menemukan alasan untuk kembali lagi berkunjung ke Bromo suatu saat nanti.

Tabik.

Menerbangkan drone untuk memperoleh aerial view kaldera Bromo

Menerbangkan drone untuk memperoleh aerial view kaldera Bromo

Sunrise yang dinanti

Sunrise yang dinanti

Berjejalan di Pananjakan

Berjejalan di Pananjakan

Segara wedi

Segara wedi

Bibir kawah Bromo masih dipenuhi pengunjung meski erupsi

Bibir kawah Bromo masih dipenuhi pengunjung meski erupsi


Tulisan ini merupakan bagian dari promosi pariwisata Pesona Indonesia. Seluruh rangkaian perjalanan diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.

2 Comments

  1. Wah keren – keren nih fotonya, Mas!

    Jadi pengen ke sana lagi, karena sudah lama banget ga ke sana :3

    • Halo, Tim. Pas banget itu cuacanya pas cerah. Jadi langitnya keliatan cakep. Abis musim penghujan ini aja kalo mau ke sana lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *