Cerita dari Danau-Danau Mitikal Kawah Kelimutu

Malam sudah larut saat kami tiba di Desa Moni. Perjalanan panjang nan melelahkan dari kota Maumere rupanya membuat kami terlelap di dalam mobil. Moni adalah persinggahan sekaligus pintu masuk menuju kawah Kelimutu, destinasi pertama yang kami kunjungi selama lawatan di Flores. Suhu dingin dan kabut yang mulai pekat memaksa kami segera mencari penginapan untuk melewatkan malam. Pilihan jatuh pada sebuah homestay sederhana milik warga desa.

Rasanya baru sejenak memejamkan mata. Namun, dering alarm yang kami pasang menandakan trekking harus dimulai. Jarak dari Moni hingga ke kawah Kelimutu cukup jauh, sekitar 20 kilometer. Tepat pukul 04.00 kami berangkat dari penginapan. Akses jalan yang cukup baik dan penunjuk arah yang jelas memudahkan kami mencapai lapangan parkir. Dari sini, ada jalur trekking menuju kawah.

Setengah jam kami untuk jalan kaki menuju puncak. Sebuah tugu triangulasi menandai titik tertinggi di Kelimutu. Pelataran di sekeliling tugu sekaligus menjadi view point untuk mengedarkan pandangan melihat danau-danau di kawah. Kami sedikit beruntung. Sehari sebelumnya turun hujan lebat. Malamnya, kabut tebal pun menyelimuti. Begitu pagi menjelang, kami mendapat cuaca cerah. Semburat keemasan muncul di ufuk timur.

Kelimutu sebetulnya merupakan nama gunung di mana danau tiga warna itu berada. Danau-danau yang diabadikan dalam uang kertas rupiah pecahan lima ribu rupiah lawas itu memang memiliki warna yang senantiasa berubah. Dalam uang, digambarkan ketiga danau berwarna merah, biru, dan hijau. Saat kami datang, danau berwarna hijau toska, abu-abu pucat, dan hitam pekat. Perubahan warna tersebut dipengaruhi oleh kandungan mineral yang ada di dalam air danau. Aktivitas vulkanik gunung Kelimutu juga turut andil dalam memberi warna pada danau-danau tersebut.

Dari lereng bibir kawah ke arah dua danau yang berdampingan

Pelancong mancanegara rupanya lebih dominan dibanding pejalan lokal

Alam berubah-ubah, tetapi kepercayaan tetap abadi. Warga lokal masih percaya bahwa danau-danau di kawah Kelimutu adalah tempat kembalinya jiwa orang yang telah meninggal. Roh, dalam terminologi lokal disebut mae, akan meninggalkan desa lalu bersemayam selamanya di Kelimutu. Mae-mae tersebut harus menemui sang penjaga Kelimutu yang bernama Konde Ratu. Sang penjaga akan menentukan ke danau yang mana mae itu akan bersemayam. Mereka ditempatkan berdasarkan perbuatan selama hidup dan usia ketika meninggal.

Masing-masing danau memiliki nama sesuai mitologi. Dua danau yang terletak berdampingan bernama Tiwu Nuamuri Koofai dan Tiwu Atapolo. Sedangkan satu buah danau yang terletak terpisah disebut Tiwu Ata Mbupu. Tiwu Nuamuri Koofai adalah tempat berkumpulnya roh-roh pemuda. Sementara Tiwu Atapolo merupakan tempat bersemayam roh-roh jahat yang ketika masih hidup pernah melakukan tenung atau sihir. Roh-roh orang tua nan bijak bestari berada di Tiwu Ata Mbupu.

Dengan luas 5,5 hektar, Tiwu Nuamuri Koofai merupakan danau yang paling luas di antara dua danau lainnya. Danau ini juga sangat dalam. Dengan kedalaman 127 meter, jarak antara dasar danau dengan permukaan airnya hampir setinggi Tugu Monas.

Kompleks Kelimutu kali pertama ditemukan oleh seorang Belanda yang bernama Iio van Such Telen pada tahun 1915. Semenjak tulisan Y.Bouman tentang Kelimutu dipublikasikan pada tahun 1929, Kelimutu mulai dikunjungi ilmuan yang meneliti fenomena alam yang memang langka tersebut. Konon, Soekarno pun sering hiking hingga ke Kelimutu saat diasingkan di Ende oleh pemerintah kolonial Belanda.

Waktu terbaik mengunjungi Kelimutu adalah antara bulan Juni hingga Agustus. Pada periode di mana hujan jarang turun tersebut biasanya Kelimutu dipadati pengunjung. Kebanyakan turis yang datang justru dari negara lain. Seperti pagi itu, hanya kami berlima dan dua orang pengunjung dari Malang yang merupakan pelancong domestik. Sisanya, para traveler dari Jepang, Amerika Serikat, Inggris, dan beberapa negara Eropa Timur.

Obrolan dengan mama-mama penjual kopi menghangatkan pagi itu. Pagi-pagi buta mereka mulai melangkahkan kaki berangkat dari rumah mereka di desa-desa di kaki gunung. Mereka berjuang menaklukan tanjakan sambil memanggul keranjang berisi dagangan. Beban berat yang menjadi keseharian tidak mengurangi keramahan mereka dalam bercakap-cakap dengan kami. Sesekali mereka bercanda dalam bahasa lokal yang tidak kami mengerti. Namun, melihat tawa lepas mereka tak urung membuat kami ikut tersenyum.

Pagi belum sepenuhnya beranjak namun kabut sudah mulai turun menutupi bibir kawah. Beberapa pengunjung juga sudah mulai balik badan menuruni tangga menuju parkiran. Saatnya kami mengakhiri lawatan di danau-danau mitikal Kelimutu.

[Terimakasih]

The Guardian. Anjing ini mengikuti tuannya, seorang bapak penjual kopi, dari desa di bawah hingga ke puncak Kelimutu

Pria (tidak) punya selera

Mesra

Mama penjual kopi, rehat sejenak sembari memetik murbei liar di semak-semak menuju kawah

Pelataran di belakang bukit ini adalah kompleks pemakaman yang masih sering dipakai untuk upacara adat

Danau-danau mistis

Pagi menjelang

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

2 Comments

  1. gw keren fix

    • iya, rip. keren kalo wajah lu bokeh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *