• Danau Segara Anak, Gunung Rinjani
  • Para penunggung kuda dari Tengger
  • Aktivitas di Tambang Batu Hijau
  • Garis pantai Pulau Lombok

Adhi Kurniawan

Latest Posts Under: Travelouge

cover

Kami berpacu dengan kabut. Mobil yang kami tumpangi sudah jauh meninggalkan Bajawa. Sebentar lagi matahari terbenam tetapi belum tampak tanda-tanda kami dekat dengan desa yang kami tuju. Sementara kabut yang turun semakin pekat, udara mulai dingin. Kami melintasi jalanan berliku di kaki Gunung Inerie. Kami hendak menuju Bena, sebuah desa adat di Flores yang masih menyimpan banyak kearifan lokal dan bertahan hingga saat ini. “Batu-batu di depan rumah saya itu sudah ada sebelum leluhur kami tinggal di sini”, ujar Pak Paulus. Pria berusia lanjut itu lantas mempersilahkan saya mampir ke rumahnya. Di beranda rumah kayunya… Read Article →

cover

Riung sama sekali tidak terlihat seperti destinasi wisata. Kota kecamatan ini lebih mirip dengan kampung nelayan pada umumnya. Tanah becek dan udara dipenuhi aroma asin air laut. Di ujung desa ada dermaga kayu untuk menambatkan perahu. Setiap subuh dermaga ini ramai oleh para nelayan yang menggelar ikan hasil tangkapannya. Homestay-homestay tampak bersahaja, membaur dengan pemukiman warga yang juga sederhana. Namun, di balik keterbatasan itu, Riung sesungguhnya memiliki potensi yang menawan. Di sisi utara pesisirnya terbentang gugusan pulau yang dikenal dengan sebutan Taman Laut Pulau 17. Riung merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara… Read Article →

cover

Malam sudah larut saat kami tiba di Desa Moni. Perjalanan panjang nan melelahkan dari kota Maumere rupanya membuat kami terlelap di dalam mobil. Moni adalah persinggahan sekaligus pintu masuk menuju kawah Kelimutu, destinasi pertama yang kami kunjungi selama lawatan di Flores. Suhu dingin dan kabut yang mulai pekat memaksa kami segera mencari penginapan untuk melewatkan malam. Pilihan jatuh pada sebuah homestay sederhana milik warga desa. Rasanya baru sejenak memejamkan mata. Namun, dering alarm yang kami pasang menandakan trekking harus dimulai. Jarak dari Moni hingga ke kawah Kelimutu cukup jauh, sekitar 20 kilometer. Tepat pukul 04.00… Read Article →

Pulau Waigeo dilihat dari kabin pesawat. Foto ini diambil sesaat setelah subuh di pesawat. Mamayo..

Hampir sebulan berlalu sejak perjalanan saya ke Raja Ampat. Tulisan-tulisan yang saya unggah di blog ini merupakan travelogue yang meringkas trip selama kurang lebih 5 hari 4 malam. Ada terlalu banyak kisah untuk diringkas dalam narasi tersebut. Orang bilang, satu foto dapat bercerita lebih dari seribu kalimat. Sebagai penutup dari rangkaian tulisan tentang Raja Ampat, berikut saya pilihkan beberapa foto bertajuk Salam dari Raja Ampat. Itu sudah..

cover

Waktu lima hari empat malam sebetulnya masih kurang untuk menjelajahi Raja Ampat. Bentangan pulau-pulau karang dan pesona bawah lautnya tak henti mengundang decak kagum yang berujung rasa syukur. Tak hanya island hopping dan snorkeling, ada banyak hal yang bisa kita lakukan di sana. Setidaknya, kami melakukan hal-hal berikut selama berada di Raja Ampat. Susur Gua Hempasan ombak selama ribuan tahun yang menghantam dinding karang menciptakan gua-gua alami di beberapa pulau. Di Kawerwer kami menemukan banyak gua di sekeliling laguna. Kawerwer memang merupakan laguna yang terkurung pulau karang. Karena dikelilingi pulau, air laut di laguna ini… Read Article →

cover

Kadang, saat datang ke suatu daerah, ada mitos lokal yang dipercaya warga setempat. Jika kita melakukan ini maka implikasinya adalah itu. Mitos itu hidup dan dipelihara. Awalnya kami tidak ambil pusing dengan mitos itu, hingga kami mengalaminya sendiri. Suatu siang selepas dari Holgam, Yunus dan Yoris memacu perahu menuju Teluk Kabui. Untuk ke sana kami mengikuti jalur pelayaran yang memang sering dilalui perahu nelayan lokal maupun kapal wisata. Jalur ini merupakan titik persimpangan bagi mereka yang akan menuju destinasi lain seperti Wayag atau Pianemo. Karena bahan bakar di tangki mesin berangsur habis, Yunus yang saat… Read Article →

cover

Jika para pendaki gunung memiliki Puncak Everest sebagai kiblat, maka para penyelam memilih Raja Ampat sebagai destinasi suci yang harus dikunjungi. Kekayaan bawah laut Raja Ampat sudah diakui dunia. Tidak sedikit diver mancanegara yang mau bersusah payah datang jauh-jauh ke sini untuk menyelami keindahan bawah laut Raja Ampat. Tak kurang seorang ahli sekelas Gerry Allen pun berujar : “Inilah surga penyelaman dan laboratorium eksplorasi biota laut” Menyelam adalah aktivitas wajib di Raja Ampat. Namun, diving license yang tak kunjung jadi dan keterbatasan budget membuat saya harus menunda keinginan itu. Saya bertekad suatu saat akan datang… Read Article →

It's time for lunch. Nyam..

Mendadak saya teringat kisah tragis Steve Irwin. Pecinta binatang asal Australia ini meninggal disengat manta ray atau ikan pari saat memandu salah satu episode The Crowcodile Hunter pada September 2006. Sempat muncul keinginan untuk membatalkan tindakan sembrono ini lalu berenang kembali ke perahu. Namun, perahu sudah menjauh hingga lebih dari 30 meter. Sial. Saya mengapung pasrah terayun ombak di Selat Dampier, sebuah area penyelaman yang dapat dicapai dari Desa Arborek. Saya termakan provokasi Yoris, pemuda lokal yang menjadi guide kami. “Kapan lagi bisa melihat manta dari dekat. Mereka jinak, sudah biasa didekati penyelam. Ayo turun… Read Article →

cover

Dermaga Waisai berangsur sepi. Sopir taksi dan tukang ojek yang sedari tadi membujuk kami menggunakan jasa mereka juga tak tampak lagi. Matahari sudah lama terbenam tetapi Pak Hengky, local host kami selama berada di Raja Ampat, tak kunjung menghampiri. Pemilik warung tempat kami numpang ngemper pun sudah kehabisan bahan obrolan. Malam sudah benar-benar pekat ketika sebuah perahu merapat ke dermaga untuk menjemput kami. Bermalam di Friwen “Maaf, mas. Malam ini kita belum bisa menginap di homestay. Masih berantakan. Bagaimana kalau mas-mas menginap di kampung saya dulu?” tanya Pak Hengky. Sambil menahan kantuk dan lelah kami… Read Article →

photo cover

Saat memasukkan nama Raja Ampat ke mesin pencari, seketika halaman internet akan menunjukkan foto gugusan pulau karang berbukit dengan latar air laut berwarna hijau toska. Itulah Wayag. Belum sahih ke Raja Ampat jika belum mengunjungi Wayag. Sama seperti belum ke Paris jika belum berfoto di Menara Eiffel. Namun sayang, saya datang ke Raja Ampat ketika kawasan Wayag sedang ditutup. Rupanya warga lokal sedang bersengketa dengan pemerintah daerah terkait pengelolaan Wayag sebagai destinasi wisata. Warga merasa bagi hasil dari pengelolaan dana itu tidak sampai ke mereka. Untuk berkunjung ke Wayag, wisatawan harus membeli pin Wayag dengan… Read Article →

Scroll To Top