Biarkan Manta Menari

Mendadak saya teringat kisah tragis Steve Irwin. Pecinta binatang asal Australia ini meninggal disengat manta ray atau ikan pari saat memandu salah satu episode The Crowcodile Hunter pada September 2006. Sempat muncul keinginan untuk membatalkan tindakan sembrono ini lalu berenang kembali ke perahu. Namun, perahu sudah menjauh hingga lebih dari 30 meter. Sial. Saya mengapung pasrah terayun ombak di Selat Dampier, sebuah area penyelaman yang dapat dicapai dari Desa Arborek.

Saya termakan provokasi Yoris, pemuda lokal yang menjadi guide kami. “Kapan lagi bisa melihat manta dari dekat. Mereka jinak, sudah biasa didekati penyelam. Ayo turun bareng saya”. Ajakan Yoris menggoda saya untuk ikut turun dari perahu dan mendekat ke Manta Point. Tak ingin melewatkan kesempatan langka ini, saya memberanikan diri mengikuti Yoris.

“Nanti saya renang di depan kamu. Kalau ada manta saya kasih kode, kamu mendekat”, kata Yoris. Instruksi yang jelas dan mudah dipahami. Namun, sama sekali sulit dilakukan. Mendekati kawanan manta yang sedang berburu mangsa bukan perkara sembarangan. Ini adalah kali pertama saya mendekati kawanan manta di laut lepas.

Sekitar sepuluh menit snorkeling, Yoris yang ada di depan saya tiba-tiba berbalik arah. Dari balik google dia memberi kode. Dia menunjuk tepat ke arah samping kanan saya. Berulang kali menggerakkan tangan. Mengikuti isyarat Yoris, saya memutar badan ke kanan. Sejenak menunggu. Dari kedalaman laut muncul sosok hitam itu. Semakin lama semakin dekat. Olala..ternyata makhluk itu besar sekali. Snorkel sampai terlepas dari mulut saya saat melihat manta itu mendekat.

Dengan rentang sayap lebih dari 3 meter, manta itu membuat saya terpaku beberapa saat. Saya bingung hendak berbuat apa. Belum hilang keterkejutan saya, dari arah lain muncul sekaligus tiga ekor manta dengan ukuran yang lebih besar. Mereka berenang seirama sambil bermanuver naik turun dengan gerakan gemulai. Ketakutan yang sedari tadi saya tahan perlahan berubah menjadi kekaguman.

Manta yang hidup di perairan Raja Ampat adalah spesies Manta birostris. Ukuran maksimal tubuhnya bisa mencapai 6-7 meter dengan berat ratusan kilogram. Makhluk raksasa ini hidup secara berkelompok di daerah berarus deras. Manta berbentuk pipih lebar dengan ekor panjang menjuntai. Tubuh bagian atasnya dilapisi kulit berwarna hitam legam, sementara bagian bawah tubuh berwarna putih dengan beberapa guratan gelap. Manta memiliki sepasang mata yang terletak di tepi cephalic lobe, semacam moncong kembar yang berfungsi menyaring air saat menelan mangsa.

Manuver siap tempur

Pamer isi perut

Kami beruntung. Siang itu kawanan manta beraksi di dekat permukaan air. Cuaca cerah sehingga visibilitas di dalam air cukup bagus. Kami tidak perlu menyelam hingga ke dasar laut untuk melihat perilaku manta. Biasanya, diver harus meluncur turun hingga kedalaman 15 meter. Lokasi ini dikenal sebagai cleaning station. Di situlah manta-manta membersihkan diri dari kotoran yang menempel di tubuhnya sambil berburu ikan. Ada dua tempat yang menjadi pusat aktivitas mereka di Selat Dampier ini, Manta Sandy dan Manta Ridge. Kami memilih Manta Sandy yang memiliki dasar berupa hamparan pasir.

Semakin lama kami berada di manta point, semakin banyak manta yang muncul. Tak kurang dari belasan manta berenang di sekeliling kami. Beberapa dari mereka bergerak seperti manuver pesawat tempur. Tiga manta membentuk formasi bersusun vertikal ke atas. Mereka berenang mendekat lalu dengan kecepatan tertentu tiba-tiba mereka mengubah barisan menjadi horizontal. Kibasan sayap manta menimbulkan gelombang air yang terasa hingga ke wajah kami. Beberapa kali mereka melintas begitu dekat dengan tubuh kami. Saya menahan napas saat ekor manta berada kurang dari sstu meter. Merinding membayangkan jika ekor itu iseng dikibaskan ke arah saya.

Di bawah sana seekor manta membuka mulutnya lebar-lebar. Dia mengikuti gerombolan butterfly fish. Lalu hap, dalam sekali telan, ikan-ikan lucu berwarna kuning strip biru itu berakhir di perut manta sebagai santapan makan siang. Lalu manta itu membuka rongga mulut lagi, kali ini memperlihatkan tulang lunak yang menyusun ruang di lambungnya.

Seekor manta terbang rendah

It’s time for lunch. Nyam..

Benar kata Yoris. Manta-manta di perairan Raja Ampat ini tidak agresif. Mereka seolah tahu betul bagaimana menyajikan pertunjukan yang membuat kami terkesima. Manta-manta itu berenang, sekilas muncul lalu menghilang, meluncur dengan gerakan anggun, dengan kepakan sayapnya mereka seperti mengajak kami menari bersama. Pementasan kabaret manta ini menjadi salah satu momen tak terlupakan bagi kami.

Mungkin berbeda dengan daerah lain di nusantara. Nelayan di Raja Ampat tidak memburu manta untuk dikonsumsi dagingnya. Warga setempat menyadari potensi ekonomi yang bisa dikembangkan di sektor pariwisata dengan keberadaan manta di habitatnya. Mereka membiarkan manta-manta itu tetap hidup tenang di sekitar Manta Point, menari dengan riang mengundang para penyelam untuk datang.

Perjalanan menuju manta point

Parkir perahu menanti manta menari

All you can eat

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

4 Comments

  1. hahaha…boi, sengatan manta tak akan mematikanmu… tp mungkin lain ceritanya jika sengatan itu dipersembahkan oleh manta(n) wkwkkwkw

    • udah kebal kalo itu..ha5

  2. wah,,keren dhi,,,,

    • buruan ajak istrimu ke sana, van..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *