Bermain Ringkak Air Singkarak

Saat lelah setelah menempuh perjalanan darat yang jauh, biasanya para pengemudi lintas Sumatera menepikan mobilnya. Warung makan yang tersebar di pinggir jalan menjadi pilihan utama untuk melepas penat. Beristirahat sekaligus memanjakan mata melihat panorama danau dari beranda belakang. Keindahan danau ini memang sudah termasyur, bahkan namanya dijadikan nama balap sepeda kelas internasional.

Tour de Singkarak

Kami menjelajah Sumatera Barat bersamaan dengan pelaksanaan balap sepeda Tour de Singkarak. Total ada tujuh etape dalam lomba tahun ini. Berbeda dengan pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya, balapan tahun ini mengambil garis start di Bukittinggi dan berakhir di Padang. Traveling bertepatan dengan pelaksanaan event internasional memang seru, tetapi konsekuensinya kami menjadi tidak leluasa bepergian karena jalanan ditutup untuk dijadikan lintasan balap. Sengaja menghindari keramaian lomba, maka ketika etape keempat lomba mengambil jalur yang tidak melewati Singkarak, barulah kami menyempatkan berkendara ke sana.

Jalan lintas provinsi yang menghubungkan Solok dan Padang Panjang dibangun tepat di sisi utara Singkarak. Persis di samping jalan berbatasan dengan danau yang jernih. Jalan aspal berada sejajar dengan rel kereta api peninggalan Belanda yang dulu dibuat untuk mengangkut batu bara dari Ombilin menuju Teluk Bayur. Setiap akhir pekan, kereta api wisata dioperasikan di jalur ini menyusuri tepian Singkarak.

Tengah hari kami sampai di Singkarak. Saat matahari sedang panas-panasnya. Cuaca cerah memantulkan bayangan awan di permukaan danau. Saya menepikan motor di pos ojek yang biasa digunakan para pemancing memarkir motor. Melihat air yang begitu jernih, tanpa buang waktu saya bergegas turun ke danau. Batu-batuan di dasar danau terlihat jelas. Begitu pula dengan ikan-ikan kecil yang berenang di sekitarnya. Dalam situasi seperti ini, kita pasti melakukan hal yang sama : melepas alas kaki, menggulung celana jeans, lalu menceburkan diri ke danau.

Kebetulan kami berada di sisi danau yang tidak ramai pengunjung. Hanya ada beberapa pemancing yang sedang asyik dengan joran masing-masing. Berulang kali mereka memasang umpan di kail lalu melemparnya ke tengah danau. Sambil menyapa ramah mereka, kami menikmati suasana sepi di tepi Singkarak. Bebas bermain air seperti saat kecil dulu.

Sejenak saya merasa seolah tidak berada di Sumatera Barat, tetapi di suatu danau di pedalaman Asia Tengah. Bebatuan besar kecoklatan yang berserakan di pinggir danau memberi warna gurun. Gunung-gunung menampakkan padang rumput luas tanpa pohon sehingga terlihat bentuk lekukannya. Komposisi gunung, danau, dan awan membuat imajinasi saya membayangkan suasana di lembah Kashmir. Imajinasi yang bebas dan tanpa batas, dan sedikit liar.

Memancing sambil memanjakan mata

Memancing sambil memanjakan mata

The Fish Who Can’t Be Moved

Ada yang unik dengan Singkarak. Danau ini menjadi habitat endemik ikan bilih. Ikan kecil seukuran jari kelingking ini hanya bisa kita temukan di Singkarak. Ikan bilih tidak bisa hidup di tempat selain Singkarak. Ketika dicoba dibudidayakan di danau-danau lain, ikan ini tidak bisa bertahan hidup. Rupanya upaya move on menjadi masalah krusial bagi si ikan.

Ada banyak warung makan di tepian danau yang menyediakan ikan bilih sebagai sajian utama. Ikan bilih biasanya digoreng kering sehingga menimbulkan citarasa gurih yang renyah. Ada pula yang mengeringkan ikan bilih seperti halnya membuat ikan asin dan dijual kiloan dalam kondisi mentah. Banyak pelancong yang sengaja datang jauh-jauh ke Singkarak hanya untuk mencicipi ikan bilih goreng. Keindahan panorama Singkarak hanya sebagai pelengkap.

Yang nikmat dan renyah dari Singkarak

Yang nikmat dan renyah dari Singkarak

Dengan kedalaman mencapai 268 meter, Singkarak bukan habitat ideal bagi makhluk hidup di danau itu. Kedalaman yang ekstrim ini mempengaruhi ekosistem dan keanekaragaman hayati danau. Tidak banyak makhluk hidup yang bisa bertahan di sana. Karena dasar danau sangat dalam dan tidak tembus cahaya, plankton tidak dapat berkembangbiak dengan optimal. Plankton berada dalam tingkat terendah rantai makanan. Terbatasnya ketersediaan plankton mempengaruhi perkembangan ikan-ikan kecil yang ada setingkat di atasnya dalam rantai makanan. Efek ini berlanjut ke tingkatan selanjutnya sehingga jenis makhluk hidup yang bertahan di Singkarak pun hanya sedikit.

Indonesia Power

Jika diperingkat berdasarkan luas, Singkarak menempati urutan kedua setelah Toba sebagai danau paling luas di Indonesia. Jutaan kubik air yang menggenang di Singkarak menyimpan energi yang luar biasa. Potensi ini dimanfaatkan melalui PLTA Ombilin yang mengalirkan air dari Singkarak untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik.

Aliran Singkarak tidak dialirkan melalui sungai, tetapi dialirkan melalui terowongan bawah tanah yang dibangun menembus Gunung Marapi menuju area pembangkitan listrik. Pembangunan terowongan bawah tanah sepanjang 19 kilometer ini memerlukan waktu hampir enam tahun. Proyek pembangunan terowongan Singkarak cukup berat karena harus menembus berbagai jenis batuan dengan kedalaman bervariasi. Ada batuan yang kokoh dan stabil, ada pula batuan yang lunak yang mudah longsor. Letak geografis Singkarak yang berada di jalur gempa juga cukup menyulitkan proses penggalian.

Pengeboran terowongan Singkarak menggunakan mesin Tunnel Boring Machine. Teknologi ini sama dengan yang digunakan untuk menembus Selat Dover. Terowongan yang dibuat sebagai penghubungung jalur rel kereta cepat dari Inggris ke Perancis. Begitu proyek terowongan Singkarak selesai pada tahun 1998, empat turbin raksasa yang dipasang di ujung terowongan mampu memenuhi kebutuhan energi listrik untuk wilayah Sumatera Barat.

Begitulah riak air Singkarak. Tak hanya elok dilihat, tetapi juga sarat manfaat.

Singkarak

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *