Belajar dari Desa-Desa di Raja Ampat

Dermaga Waisai berangsur sepi. Sopir taksi dan tukang ojek yang sedari tadi membujuk kami menggunakan jasa mereka juga tak tampak lagi. Matahari sudah lama terbenam tetapi Pak Hengky, local host kami selama berada di Raja Ampat, tak kunjung menghampiri. Pemilik warung tempat kami numpang ngemper pun sudah kehabisan bahan obrolan. Malam sudah benar-benar pekat ketika sebuah perahu merapat ke dermaga untuk menjemput kami.

Bermalam di Friwen

“Maaf, mas. Malam ini kita belum bisa menginap di homestay. Masih berantakan. Bagaimana kalau mas-mas menginap di kampung saya dulu?” tanya Pak Hengky. Sambil menahan kantuk dan lelah kami langsung mengiyakan tawaran itu. Sedianya kami langsung menyebarang ke Pulau Kordiris di mana homestay yang kami sewa berada. Namun karena malam itu hujan deras, agak riskan jika kami langsung menyeberang ke Kordiris yang letaknya memang jauh. Pak Hengky mengajak kami bermalam di kampungnya di Pulau Friwen.

Desa Friwen, begitulah desa yang berada di Distrik Waigeo Selatan ini diberi nama. Tak kurang dari 30 keluarga tinggal di sini. Sebagian besar dari mereka menggantungkan hidup dari kemurahan alam dalam menyediakan ikan. Nelayan menjadi pilihan utama di Friwen.

Pagi itu kami ikut bergabung di dermaga kayu bersama warga Friwen. Biasanya setiap pagi warga berkumpul di dermaga, ngobrol sambil memancing ikan. Saya berdiri di ujung dermaga mengedarkan pandangan ke dasar laut. Schooling ikan tampak begitu banyak hingga tampak pekat menutupi dasar laut. Ribuan ikan bergerak berputar seirama di antara tiang kayu dermaga. Dengan ikan sebanyak itu tentu mudah sekali menangkapnya dengan menggunakan jala. Sekali lempar jala, puluhan ikan pasti didapat.

Anak-anak Friwen begitu bangun pagi hiburannya bukan nonton film kartun di TV. Mereka langsung ke dermaga dan memancing ikan sambil bermain.

Berbagi keceriaan

“Di sini kami sepakat tidak boleh menjaring ikan. Hanya boleh memancing,” terang seorang warga kepada kami. Kesepakatan yang memiliki makna mendalam. Ikan memang melimpah. Namun itu bukan alasan untuk berbuat serakah, cukup ambil seperlunya. Warga juga melarang wisatawan untuk berenang atau snorkeling di sekitar dermaga. Ada tiga hiu langka yang berhabitat di sekitar dermaga. Hiu-hiu itu sangat sensitif akan keberadaan manusia. Warga khawatir keberadaan manusia yang berenang atau snorkeling di sekitar dermaga akan mengusik hiu-hiu itu.

Warga yang tinggal di kepulauan Raja Ampat masih memegang teguh tradisi sasi. Sasi adalah tradisi yang melarang warga untuk menangkap ikan dan aneka hewan laut dalam periode tertentu. Tak lain tradisi ini bertujuan menjaga keseimbangan alam sekaligus mempertahankan harmoni kehidupan manusia dengan bumi di mana mereka tinggal.

Arborek, Desa Wisata Paling Bersih

“Selamat Datang di Desa Wisata Arborek. Welcome to Arborek”. Demikian kalimat yang tertulis di gapura masuk desa yang dibangun di depan dermaga. Berbeda dengan warga Friwen yang mayoritas bekerja sebagai nelayan, warga Arborek memilih pariwisata sebagai lahan mencari nafkah. Arborek memang dikenal sebagai desa paling bersih di seantero Raja Ampat.

Tak sampai setengah jam berjalan kaki untuk berkeliling di Arborek. Rumah-rumah warga berderet rapi sejajar jalan desa, lengkap dengan pagar dan tempat sampah di tiap rumah. Pepohonan peneduh ditanam di sepanjang pantai. Di beberapa tempat dipasang papan informasi yang berisi keterangan tentang wisata dan slogan persuasif untuk bersama-sama menjaga kebersihan Arborek.

Selamat datang di Arborek

Sebagian warga Arborek terampil membuat beragam kerajinan tangan seperti gelang, tas anyaman, hingga topi keren bermotif ikan pari. Barang-barang handmade itu dijual di kios-kios di sekitar dermaga. Kami datang tepat di Hari Natal sehingga warga yang biasa berjualan souvenir memilih libur dan menutup kiosnya. Jika kami datang di saat yang tepat, selain berbelanja souvenir kami bisa melihat proses pembuatan kerajinan tangan khas Arborek. Saat perayaan Natal seperti ini, Gereja Eben Haezer tidak hanya dipadati penduduk setempat saja. Satu-satunya gereja di Arborek ini juga dikunjungi jemaat dari pulau-pulau lain.

Siapa yang tidak betah nongkrong di sini

Sambil menunggu mesin perahu diisi bahan bakar, kami berteduh di kerimbunan pohon di ujung desa. Beberapa bocah kecil tampak sedang asyik bermain ayunan. Kami mendekat.

“Aku Liz. Ini Ikke. Om siapa?” tanya salah seorang gadis mungil sambil menarik-narik tangan saya. Remah-remah jajanan mie instan belepotan menempel di pipinya. Sambil bercerita tentang sekolahnya yang sedang libur dia minta difoto. Ya, cukup minta difoto bersama. Samasekali tidak merajuk meminta permen apalagi uang. Rupanya kesadaran tentang pariwisata sudah ditumbuhkan sejak kanak-kanak.

Topi bermotif “bow”, nama lokal untuk ikan pari

Kesadaran ala Sawingrai

Dari kejauhan desa ini sudah tampak mencolok dengan adanya rumah panggung yang dibangun tepat di ujung dermaga. Homestay yang dikelola oleh warga lokal ini selain disewakan kepada wisatawan yang ingin menginap juga digunakan sebagai tempat untuk sandar perahu. Banyak wisatawan menyempatkan singgah di Sawingrai karena dermaga Sawingrai dikenal sebagai habitat ikan-ikan karang yang warna-warni.

Dermaga Desa Sawingrai

Gapura desa Sawingrai. Dulu tempat ini tidak sebagus sekarang

Di desa ini, tepat di bawah dermaga kayu tumbuh beragam karang lunak. Di sinilah ratusan ikan karang berkeliaran. Dengan arus yang cukup kencang, kami harus berhati-hati saat snorkeling di antara pilar-pilar kayu penyangga dermaga. Kami melingkarkan kaki di pilar dermaga agar tidak hanyut terbawa arus sekaligus menjaga agar gerakan kaki tidak merusak karang.

Dengan hamparan terumbu karang di sekitar pantainya, warga Sawingrai memiliki kesadaran untuk menjaga potensi itu. Mereka harus menjauh agak ke tengah laut jika ingin mencari ikan. Tentu agar karang-karang cantik itu tidak terinjak.

Low angle dermaga Sawingrai

Tidak hanya keindahan alam yang membuat kami kagum dengan Raja Ampat. Kearifan warga lokal dalam menjaga kelestarian lingkungan menjadi daya tarik tersendiri bagi kami. Di desa-desa yang tersebar di Raja Ampat kami bisa belajar bagaimana seharusnya berinteraksi dengan alam.

Desa Arborek, bersih tanpa sampah

Leyeh-leyeh sambil main poker

Menuju Desa Friwen

Cottage asri di tepi pantai

Merapat menuju Arborek

Senyum manis bocah Friwen.

Seorang penggemar sego pecel yang hobi jalan-jalan dan berbagi kisah

2 Comments

  1. mantap….indonesia memang indah :-)

    • luar biasa indah, mas :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *